
Ia merapikan segala keperluan Reyhan selama beberapa hari di Rumah Sakit. Memasukkan dalam tas jinjing yang sudah ia sediakan.
"Kak ?" panggilnya tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaannya.
"Iya, Sayang."
"Tadi Mama menelponku. Mama bilang Pak Amin tidak bisa menjemput kita ke Rumah Sakit. Karena, Pak Amin sedang mengantarkan Papa."
"Lalu ?"
"Farhan yang akan datang kesini untuk menjemput kita. Sebentar lagi Farhan akan tiba."
"Baiklah."
Ia menatap benda hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sayang, sudah waktunya minum obat, ya."
"Iya, Sayang."
Ia memberikan dua butiran kecil pada suaminya. Tak lupa dengan segelas air putih.
"Mulai sekarang kakak harus rutin mengonsumsi obat. Sementara menunggu informasi tentang adanya pendonor untuk kakak."
Reyhan hanya menanggapi dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia memang tak menyukai pembahasan tentang operasi ataupun donor. Meskipun dengan orang tuanya sekalipun.
Melihat perubahan yang nampak jelas diwajah suaminya. Ia mendekat, duduk di samping Reyhan dan menggenggam tangannya. "Kenapa ? Nampaknya kakak tidak suka jika aku menyinggung soal operasi itu."
"Tidak, Sayang. Aku tidak apa-apa," dustanya dan berusaha bersikap biasa-biasa saja dihadapan istrinya.
"Aku istrimu. Dan aku tahu kapan kakak baik-baik saja dan tidak."
"Sayang ?"
"Jangan pernah coba-coba untuk membohongiku tentang apapun, Kak."
"Al, aku tidak membohongimu, Sayang."
"Baiklah. Tak mengapa jika kakak tidak mau bercerita padaku. Barangkali aku bukanlah tempat yang baik untuk menuang cerita apapun."
Ia beranjak dari hadapan Reyhan. Kembali membereskan tas dan segala keperluannya.
"Aku tidak menyukai kegagalan, Al," ucap Reyhan tiba-tiba.
Ia menoleh ke belakang. "Apa maksudmu, Kak ?"
"Mungkin kamu berpikir ini adalah kali pertama Dokter Dharma menyarankan untuk aku melakukan operasi. Tidak, Al! Sudah terlalu sering. Dan semua hanya berakhir pada kegagalan karena tidak ada pendonor. Ada pula karena ketidakcocokan."
Perlahan ia melangkah. Kembali mendekati suaminya yang tengah bersedih. Tertunduk diatas tempat tidur Rumah Sakit.
__ADS_1
"Bahkan saat aku sudah benar-benar berharap. Dan dengan harapan yang sudah menggebu-gebu aku mendatangi Dokter Dharma. Kamu tahu jawaban apa yang aku dengar darinya ? Kalimat yang mematahkan segala harapanku, Al. Kalimat yang membunuh asaku untuk menjadi manusia normal."
Reyhan menarik napas dalam-dalam. Berusaha meredam emosi yang sudah mulai menyapanya perlahan. Mengingat semua harapan yang pernah ia rajut dengan indah. Namun, berakhir kegagalan selalu membuat emosinya memuncak tanpa ampun.
"Enggan aku untuk berharap lagi, Al. Biarlah seperti ini saja. Aku hidup menjadi manusia penyakitan dan pada akhirnya mati dalam waktu cepat. Dan aku lebih memilih mati karena penyakitku. Daripada harus mati karena harapanku hanya terjawab dengan kegagalan. Aku tidak mau, Al."
Ia menarik tubuh suaminya ke dalam pelukan. Mengelus lembut punggung Reyhan yang ia rasakan mulai bergetar.
"Jangan berkata seperti itu. Kakak akan sembuh. Dan kita hidup bersama selamanya."
"Aku hanya ingin mati dalam dekapmu, Al. Jadi, ku mohon padamu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Meninggalkan lelaki penyakitan ini. Aku mohon, Al."
"Sssttt!" Ia letakkan satu jemarinya di bibir Reyhan. "Aku tak menyukai kalimat-kalimat seperti itu, Sayang. Karena, kakak bukanlah lelaki penyakitan. Kakak adalah lelaki kuat. Adalah suami terbaikku."
Air mata yang berhasil mendarat di pipi suaminya berulang kali ia hapus. "Jangan menangis. Suamiku 'kan kuat."
Ia kembali memeluk tubuh kekar yang sekarang nampak kurus itu. Membisisikkan kalimat yang mampu menenangkan hati suaminya. "Allah itu Maha Baik, Sayang. Jadi, mari kita perbanyak munajat. Semoga segala harap dan cita yang kita rajut segala terijabah dan penuh berkah."
Anggukan kecil ia rasakan. "Jangan pernah lupa bahwa kakak hidup denganku. Seorang istri yang akan menjadi tempat pulangmu. Menjadi teduhmu jua, Sayangku."
"Kita akan berjalan bersama melewati masa-masa sulit yang akan menanti kita didepan sana. Bergenggaman tangan dalam segala keadaan," lanjutnya berusaha menenangkan Reyhan.
"Berpikir pergi meninggalkanmu adalah satu hal yang tak akan pernah terlintas dalam otak dan tentu jua tak akan pernah ku lakukan, Sayang. Jadi, jangan sekali-kali takut akan hal itu. Aku milikmu seutuhnya dan selamanya."
Pelukannya ia lepas. Kemudian, menangkup wajah suaminya yang nampak pucat dan berlinang air mata. Ia menenggelamkan tatapannya pada netra dengan manik hitam dihadapannya itu.
Reyhan menatapnya bingung. Namun, akhirnya meniyakan meski hanya dengan anggukan pelan.
"Aku hanya meminta kakak untuk mau melakukan operasi. Demi Papa, Mama, aku dan keluarga kita. Kakak mau 'kan ?"
"Aleea ?"
"Tak mengapa jika kakak hanya meminta waktu dua minggu itu. Dan selama itu juga kita akan sama-sama berusaha untuk mencari pendonor yang cocok dengan kakak." Ia tersenyum menyemangati suaminya.
"Jika dalam waktu dua minggu itu tidak ada juga. Ku mohon jangan memintaku lagi, Al. Aku sudah lelah berharap lebih."
Ia hanya mengangguk ragu mendengar ucapan suaminya. Tentu ia sangat menginginkan suaminya sembuh total meskipun harus menunggu lama. Namun, memaksakan Reyhan dengan segala kehendaknya pun ia juga tak mampu. Ia tak ingin suaminya terbeban dengan segala harap yang kerap kali mematahkannya.
"Kita berdo'a dan optimis, ya, Kak. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam jalan kita ini."
"Aamiin."
Reyhan meletakkan kepalanya diatas pangkuan istrinya. Menenggelamkan wajahnya yang masih dialiri kristal-kristal bening yang belum jua terhenti.
"Aku selalu mampu memenangkan proyek-proyek besar untuk perusahaan. Memulihkan kembali keadaan kantor yang sempat terjebak diambang kebangkrutan. Dan aku tak pernah menemukan kegagalan dalam pekerjaan. Kenapa untuk harapan yang satu ini aku selalu gagal mewujudkannya ?"
Reyhan mendongak menatap wajah yang selalu teduh meski dalam sedihnya. "Al, apakah Tuhan membenciku ?"
__ADS_1
"Tidak. Tuhan tahu kakak mampu dan kuat. Oleh karenanya, Tuhan titipkan sesuatu yang kakak anggap sebagai derita. Ingatlah, Sayang. Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya."
Ia menangkup kembali wajah suaminya. "Jalani dengan sabar dan tabah. Di suatu hari nanti, didepan sana. Akan ada kejutan-kejutan tak terduga yang akan kita temukan. Bersamaan dengan itu, kita sadar betapa besar kasih sayang Tuhan pada kita."
Dengan lembut ia mendaratkan bibirnya di kening Reyhan. Memeluknya dengan sayang dan berbisik. "Jangan pernah menyerah. Jika kakak lelah, jangan lupa pulang dan istirahat saja sejenak. Pulanglah padaku. Karena, aku adalah rumah yang akan menunggu tuannya pulang. Dan tuan itu adalah kakak."
"Aleea ?"
"Iya, Sayangku," balasnya dengan lembut.
"Terimakasih sudah bersedia menjadi pelabuhan terakhirku. Menjadi rumahku. Dan ku mohon, jadilah tongkat saat aku mulai buta dan tak tahu arah melangkah."
"Tentu saja, Sayang. Untukmu aku bersedia menjadi apapun."
Ia melepas pelukannya dan kembali menatap mata suaminya. "Sebentar lagi kita akan pulang. Jangan bersedih. Nanti jika Mama melihat kakak seperti ini. Ku pastikan Mama akan menginterogasi kakak tanpa ampun."
"Sepertinya kamu sudah mulai mengenal sifat Mama, ya, Al," ucap Reyhan terkekeh.
"Sedikit demi sedikit, Kak. Memangnya jika kakak ke kantor, aku harus bersama siapa? Jelas saja bersama Mama. Jadi, aku tahu bagaimana Mama yang sebenarnya."
Reyhan tertawa kecil mendengar penuturan polos istrinya.
"Aku pernah dimarahi Mama."
"Hah ? Benarkah ?" tanya Reyhan tak percaya.
"Iya. Sudah ku duga pasti kakak akan terperanjat jika aku mengatakan itu."
"Kapan, Sayang ? Kenapa ?"
"Sepulang dari kantor waktu kakak sakit. Ingat ?"
"Iya. Lalu alasan Mama memarahimu apa, Al ?"
"Mama berpikir aku yang sudah membuat kakak seperti itu. Tapi, ku ceritakan saja semuanya hingga Mama paham dan meminta maaf lagi padaku."
"Oh," jawab Reyhan.
"Tasya ?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Dia adalah perempuan yang pernah dijodohkan denganku."
"Oh baiklah. Aku tak peduli persoalan itu. Karena, itu hanya masa lalu kakak. Dan sekarang aku adalah masa kini dan masa depanmu. Bukankah begitu, Sayang ?" ucapnya dan mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
"Kamu benar, Sayang. Kamu adalah masa depanku. Bersyukur aku mendapatkanmu."
Reyhan memeluknya dan ia balas dengan ciuman bertubi-tubi di pipi suaminya.
__ADS_1