
Ia berdiri didekat jendela kamar yang terbuka lebar. Membiarkan angin malam menyapu wajahnya dan meniup rambut panjangnya yang tak terikat. Jua mempersilahkan angin malam menusuk persendiannya.
Tatapannya tajam ke arah rembulan yang belum sepenuhnya purnama. Tangannya terlipat di depan dada. Sesekali ia mengelus lengannya yang terasa dingin diterpa angin malam.
"Sayang," panggil Reyhan dan memeluknya dari belakang.
"Sedang apa ? Ini sudah malam. Tidak baik untuk kesehatanmu jika terkena angin malam seperti ini."
"Kak ?" Ia memanggil Reyhan tanpa menoleh.
"Hmmm." Reyhan menenggelamkan wajah di tengkuknya.
"Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan kakak keturunan ?"
Reyhan mengangkat wajahnya. "Kenapa kamu berbicara seperti itu, Al ?"
"Usia pernikahan kita sebentar lagi dua bulan. Tapi, aku belum ada tanda-tanda akan mengandung."
"Hei! Dengarkan aku, Sayang!" Reyhan memutar tubuh kecilnya hingga keduanya berdiri dengan berhadapan. "Jangan psimis. Kita akan terus berusaha. Lagipula, usia pernikahan kita ini masih terlalu dini, Sayang. Kamu sudah lupa ceritanya Mama ? Berapa lama Mama menunggu kehamilannya."
"Iya. Aku tahu. Tapi, aku takut jika itu memang benar terjadi padaku."
"Tidak, Sayang. Tidak. Pasti kamu akan hamil nantinya."
Ia menatap sendu mata Reyhan. "Jika aku tak mampu memberikan kakak keturunan. Apakah kakak akan meninggalkanku dan mencari perempuan lain untuk menggantikanku ?"
"Sayang, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan bersamamu. Apapun yang terjadi. Dan kita akan selalu melangkah bersama melalui suka dan dukanya perjalanan kita didepan sana."
Ia memeluk tubuh suaminya. Menumpahkan segala emosi yang mengungkungnya dengan ganas. Begitu pula dengan tangis yang tiba-tiba pecah tanpa ampun.
"Kenapa kamu menangis, Sayang ?" Reyhan mengelus rambut panjangnya. Mencium puncak kepalanya berulang kali.
"Aku takut."
"Takut kenapa ?"
"Aku takut tak bisa memberi keturunan untukmu. Aku takut jika suatu saat nanti kakak akan meninggalkanku."
"Sayang, aku mencintaimu. Aku tak menuntut banyak padamu. Cukup tetap disampingku, temani aku melangkah. Keturunan itu adalah garis tangan Tuhan. Yang terpenting kita sudah berusaha sekuat yang kita bisa."
"Bagaimana jika Mama membenciku karena hal itu ?"
"Jangan berpikir sejauh itu, Al. Kita masih bisa berusaha dengan kuat."
Ia menangis tersedu dalam dekapan Reyhan.
"Sudah, ya, Sayang. Jangan menangis lagi. Kita serahkan semuanya pada yang Maha Segalanya."
Tatapannya menyedihkan. "Bantu aku menjadi perempuan seutuhnya. Menjadi perempuan yang pantas disebut seorang istri."
Reyhan menangkup wajahnya dengan tangan. Menyeka air mata yang masih lolos mengalir dari pipinya. "Kita belajar bersama-sama dan pelan-pelan, ya, Sayang." Tubuh kecilnya tertarik sempurna ke dalam dekap hangat pelukan Reyhan.
"Jangan menangis lagi."
Ia mengangguk pelan dalam pelukan Reyhan. "Sayang," panggilnya dengan tersenyum malu. Ia tak lagi mempedulikan derai air mata yang masih menetes perlahan.
Tatapan aneh terlempar untuknya dari Reyhan. "Ada apa, Al ? Kenapa kamu berubah secepat ini ? Baru saja menangis tersedu. Sekarang sudah tersenyum tak jelas seperti itu."
__ADS_1
"Aku mau makan. Boleh ?"
"Oh... Tentu saja boleh, Sayang. Istri cantikku mau makan apa ?" tanya Reyhan penuh perhatian seraya menghapus jejak kristal-kristal bening yang melewati pipi putih nan mulusnya.
"Aku ingin makan di pinggir jalan dekat taman itu. Taman tempat kita bertemu kala itu."
Mata Reyhan membulat sempurna. "Hah ? Malam-malam seperti ini kamu mau makan disana, Al ? Jaraknya cukup jauh dari rumah."
Ia menatap tajam Reyhan. "Tapi, aku mau makan disana, Kak. Tidak mau ditempat lain."
"Lihatlah, Sayang. Itu sudah jam berapa ?" ucap Reyhan menunjuk jam dinding.
"Baiklah jika kakak tidak mau. Biar ku minta saja Abang untuk menemaniku," katanya merajuk.
Reyhan menghembuskan napas kasar. "Baiklah. Aku akan menemanimu. Sekarang ganti bajumu. Aku tunggu dibawah."
Tanpa berpikir panjang lagi ia bergegas ke kamar mandi. Membasuh wajahnya agar nampak lebih segar.
"Jangan lama-lama, Al," kata Reyhan setengah berteriak.
Tak butuh lama ia didalam kamar mandi. Selepas itu ia mengenakan gamis biasa dengan motif bunga-bunga. Ia memadukan gamisnya dengan hijab instan polos.
Ia menyambar tas selempangnya dan segera menyusul Reyhan yang sudah menunggunya di bawah.
"Kita berangkat sekarang, Sayang."
Tangan kecilnya menggenggam tangan Reyhan dengan eratnya. Ia bergelayut manja pada suaminya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Aleeana ? Kenapa tiba-tiba dia menjadi manusia aneh dan lebih manja dari sebelumnya ?" pikir Reyhan.
"Mari, Mas Reyhan."
Bersama Reyhan, ia mengikuti langkah Pak Amin menuju mobil yang sudah terparkir rapi di garasi.
"Pak Amin," panggilnya malu dan penuh ragu.
"Iya, Mbak Nadhira."
"Kita pergi menggunakan mobil Kak Reyhan saja. Boleh ?"
"Terserah Mas Reyhan saja, Mbak. Jika Mas Reyhan mengizinkan."
"Boleh, Pak. Ini kunci mobil Reyhan." Reyhan menyerahkan kunci mobil yang ia rogoh dari saku celananya pada Pak Amin.
_____
Mobil mewah dengan warna merah menyala itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota malam hari. Warna warni lampu di pinggir jalan menghiasi dengan indah.
Ia menyenderkan kepalanya di pundak Reyhan. "Sayang ?"
Reyhan menoleh.
Ia menatap wajah suaminya dengan berkaca-kaca.
"Kenapa, Aleea ?"
Air matanya luruh tanpa permisi. Ia menangis tersedu.
__ADS_1
Reyhan yang melihat itu menatapnya bingung. Rasa panik juga seketika menghampiri Reyhan.
"Kenapa kamu menangis seperti itu, Al ? Ada apa ?"
Ia menggelengkan kepala dan terus saja menangis.
"Sayang ?"
Ia tak menjawab apapun panggilan Reyhan. Kepalanya ia sandarkan kembali dan tangannya memeluk tubuh Reyhan.
Tak butuh waktu lama. Tangisnya sirna dan berubah menjadi dengkuran halus.
Reyhan semakin bingung dengan keanehan yang ia ciptakan. Menangis tanpa sebab. Manja yang semakin menjadi-jadi. Menginginkan sesuatu secara tiba-tiba.
"Pak Amin ?" panggil Reyhan pelan agar suaranya tak membangunkan istrinya.
"Iya, Mas. Kenapa ?" jawab Pak Amin dan menatap Reyhan melalui spion mobil.
"Kenapa Reyhan merasa Nadhira begitu aneh akhir-akhir ini. Seperti tadi misalnya. Ingin pergi makan malam saja ia menginginkan tempat sejauh ini. Juga kita harus pergi menggunakan mobil Reyhan. Dan sekarang, ia tiba-tiba menangis tanpa sebab dan tertidur. Apakah istri Pak Amin pernah mengalami hal semacam ini ?" ucap Reyhan panjang lebar.
Pak Amin tersenyum. "Barangkali Mbak Nadhira sedang hamil, Mas. Istri Baoak jua dulu pernah mengalami hal semacam itu."
"Benarkah, Pak ?" tanya Reyhan dengan wajah berbinar.
"Iya, Mas."
"Ya Allah semoga saja, ya, Pak."
"Aamiin."
Reyhan tersenyum sumringah.
"Tapi, jika benar Mbak Nadhira hamil. Mas Reyhan jua harus sabar menghadapinya nanti. Emosinya pasti susah terkontrol dengan baik."
_____
"Sayang, kita sudah sampai di Taman. Bangunlah!"
Ia menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan mata berulang kali. Tatapannya menyapu ke luar jendela. Senyumnya timbul saat ia tangkap gemerlap lampu taman yang indah di malam hari.
"Kamu mau makan malam dimana, Aleea ?"
"Aku tidak ingin makan malam."
"Lalu ?"
"Temani aku saja berkeliling di taman ini."
Mengingat ucapan Pak Amin. Reyhan hanya bisa memaklumi tingkah aneh istrinya. "Barangkali memang benar apa yang diucapkan Pak Amin bahwa Aleea sedang hamil," pikirnya dengan senyum merekah.
"Sayang! Kenapa diam saja ?"
Teriakannya mampu membuat Reyhan terlonjak dari lamunannya.
"Ayo cepatlah!"
Reyhan dengan langkah lebar menyusulnya yang sudah berada di seberang jalan.
__ADS_1