Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 13


__ADS_3

"Dik."


Bunda mengetuk pintu kamar sembari memanggil putrinya.


“Masuk aja, Bunda. Pintunya nggak adik kunci.” Nadhira sedikit meninggikan suaranya agar terdengar dari luar oleh Bundanya.


Bunda memasuki kamar dan mendapati Nadhira sedang merias diri didepan cermin.


“Dik, tadi Tante Mia ngabarin Bunda. Katanya hari ini adek ada fitting baju pengantin dan cari cincin pernikahan.”


Nadhira menatap Bunda.


“Tapi, adik ada kuliah pagi hari ini, Bunda.”


“Iya tadi udah Bunda bilangin. Jadi bisa seusai adek kuliah.”


“Baik, Bunda.”


___


Nadhira mengedarkan pandangan. Menelisik setiap mahasiswi yang lewat di hadapannya. Berharap dua sosok insan Tuhan yang disebut sahabat itu segera muncul dihadapannya.


Setelah sepuluh menit berdiri di area parkir khusus mahasiswa. Nadhira melihat dua perempuan dengan gamis dan hijabnya berjalan dan melambaikan tangan. Mereka adalah Finza dan Kayla. Sesegera mungkin Nadhira mendekat ke arah kedua sahabat yang selalu menemaninya sejak duduk di bangku perkuliahan.


“Maaf, Ra. Jadi bikin kamu nunggu lama. Abis jemput calon kakak ipar kamu nih.”


Finza melirik Kayla dengan ekor matanya. Sedangkan yang dimaksud hanya membalas dengan cengirannya.


“Iya. Ayok masuk.”


Nadhira dan kedua sahabatnya meninggalkan area parkir. Mereka menyusuri koridor kampus menuju kelas.


Sesampai di kelas. Nadhira mengambil tempat duduk paling depan. Nadhira menatap lekat Kayla yang duduk disampingnya. Merasa diperhatikan, Kayla lantas bertanya.


“Kenapa, Ra ? Kok liatinnya gitu banget sih ?”


“Mmmm... nggak, Kay. Nggak apa-apa.” Nadhira mencoba tersenyum.


“Ya udah deh.” Kayla kembali fokus memainkan ponselnya.


Nadhira memainkan polpen ditangannya. Dan kembali menatap Kayla.


“Kay, aku mau nanya sesuatu. Boleh ? Tapi harus jujur.”


“Mau nanya apaan ? Serius bener mukanya.”


“Iya emang mau nanya serius juga.”


“Ya udah tanya aja.” Kayla menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Nadhira.


“Kamu beneran suka sama Abang, Kay ?”


Sontak Kayla menghentikan aktifitasnya dan menatap Nadhira bingung.


“Kok nanya gitu, Ra ?”


“Ditanya bukannya ngejawab. Eh malah balik nanya.”


Kayla terdiam. Tidak tau harus menjawab apa.


“Kay, nggak apa-apa. Jujur aja.”


Kayla menatap Nadhira dengan intens. Dan...

__ADS_1


“Iya aku suka sama Bang Bara. Entah sejak kapan dan atas alasan apa. Setauku aku selalu merasakan sesuatu yang berbeda jika berhadapan dengannya. Jangankan untuk bertatapan langsung. Mendengar namanya disebut aja bikin aku deg-degan.” Kayla menjawab mantap dengan senyum terukir dibibirnya.


Nadhira menatap sahabatnya dengan perasaan sedih. Mengingat bagaimana Bara memandang Kayla hanya sebagai seorang Prisil. Perempuan dimasa lalunya.


“Jika memang bener. Kamu hanya perlu berusaha. Jangan lupa libatkan Allah, Kay.” Nadhira tersenyum.


Hanya itu kalimat yang mampu ia rangkai lalu ucapkan pada sahabatnya. Karena sangat tidak mungkin jika dia harus menceritakan bagaimana pandangan Bara terhadap Kayla.


Kayla hanya mengangguk.


“Yang sabar, Kay. Aku akan membantumu untuk mendapatkan hati Abangku yang telah pergi bersama Mbak Prisil. Membawanya untuk memandang kamu sebagai Kayla. Bukan lagi sebagai wanita yang dulu pernah hadir dimasa lalunya.” Nadhira berbicara dalam hati.


Nadhira tersadar setelah merasakan ada getaran dalam tasnya. Nadhira mengambil benda pipih yang mana benda itu adalah sebagai sumber getaran yang dirasakan. Nadhira melihat ada pesan masuk dari Reyhan.


“Al, nanti pulang kuliah aku yang jemput. Kita akan fitting baju pengantin di butik milik temen Mama.”


Nadhira tersenyum mendapati pesan singkat dari calon suaminya.


___


Perkuliahan telah usai. Nadhira membereskan buku-buku miliknya dan memasukkan ke dalam tasnya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Reyhan lebih lama menunggunya.


“Aku duluan, Za, Kay.” Nadhira menepuk bahu kedua sahabatnya.


“Kok buru-buru gitu ?” tanya Finza yang melihat Nadhira tak sabaran untuk segera berlalu dari kelasnya.


“Ada urusan penting. Bye!” Nadhira tersenyum lebar kemudian meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terpaku menatapnya. Nadhira tak peduli itu. Toh nanti juga mereka akan segera tau dan mengerti pikir Nadhira.


Nadhira melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang dengan tumpukan buku-buku tebal ditangannya dan terjatuh.


“Maaf. Maaf. Saya tidak sengaja.” Ucap Nadhira dengan nada menyesal dan membantu orang tersebut untuk memungut bukunya.


“Kamu nggak apa-apa ?” tanya seorang lelaki yang ditabrak Nadhira.


Nadhira memberikan buku yang dipungutnya kemudian memberikan kepada pemiliknya. Dan berlalu begitu saja meninggalkan lelaki tersebut.


“Subhanallah. Cantik sekali.” Pujinya pada Nadhira.


Didepan gerbang kampus. Nadhira melihat Reyhan yang sudah berdiri menunggunya dengan bersandar di mobilnya. Leea berjalan mendekati Reyhan.


“Udah lama nunggu, Kak ?” ucapnya lembut.


“Nggak kok. Langsung jalan aja ya, Al ? Mama udah nungguin di butik.”


Reyhan menjalankan mobilnya membelah jalanan ibukota yang siapa saja sudah tau bagaimana macetnya.


Didalam mobil hanya tercipta keheningan. Baik Reyhan maupun Nadhira tak ada yang membuka suara. Mereka fokus dengan kegiatan masing-masing. Reyhan yang yang fokus menyetir dan Nadhira yang fokus menatap macetnya jalanan ibukota. Pemandangan yang sangat lumrah.


Nadhira menyenderkan kepalanya dikaca mobil dan memijat pelipisnya. Reyhan melirik Nadhira dengan ekor matanya.


“Al ?”


“Hmmm.” Nadhira menoleh ke arah Reyhan yang masih fokus ke depan.


“Kamu sakit kah ?”


“Nggak kok, Kak.” Nadhira tersenyum manis ke arah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


Reyhan menatap Nadhira yang masih tersenyum ke arahnya dan membalas dengan senyum yang tak kalah manisnya.


Hanya butuh 20 menit untuk Reyhan dan Nadhira sampai dibutik yang dimaksud Mama. Reyhan memarkirkan mobil dan berjalan ke arah Nadhira yang masih menunggunya didepan pintu butik.


“Kak, tau deket gini aku jalan sendiri aja tadi, ya ? Biar kakak nggak repot-repot bolak balik jemput aku, kan.” Ucap Nadhira seraya melangkahkan kaki memasuki butik.

__ADS_1


“Nggak kok. Aku nggak repot jemput kamu. Aku nggak mau aja calon istrku ini kenapa-napa kalo jalan sendiri.”


Mendengar ucapan Reyhan membuat Nadhira menunduk malu. Ia menyembunyikan pipinya yang terasa panas dan tentu saja sudah terlihat memerah bagai kepiting rebus.


“Ma!” Reyhan mengamit tangan kanan Mama dan menciumnya dan diikuti oleh Nadhira. Lalu bercipika-cipiki.


“Maaf harus membuat Mama menunggu lama. Tadi Nadhira ada kuliah.” Nadhira meminta maaf dengan tampang menyesal. Padahal jelas saja itu bukan salahnya. Hanya saja Nadhira merasa tidak enak membuat wanita yang akan menjadi ibu mertuanya itu menunggunya lama.


“Nggak apa-apa, Sayang.”


“Bu, apakah ini calon pengantin yang akan melakukan fitting baju ?” Seorang perempuan dengan tubuh proporsional nan cantik dengan polesan make up tebal diwajah mendekati Mama.


“Iya, Mbak.” Jawab Mama.


“Mari Mbak ikut saya untuk mencoba beberapa gaun koleksi kami.” Perempuan tersebut menggandeng tangan Nadhira dengan akrab untuk mengikutinya menuju sebuah ruangan yang dikhususkan untuk mencoba gaun.


“Ii..iya, Mbak.” Nadhira sedikit canggung diperlakukan seperti itu. Apalagi ini kali pertama mereka bertemu. Tapi dia hanya mampu mengikuti titah perempuan yang menjadi salah satu karyawan butik yang ia datangi bersama calon suami dan calon ibu mertuanya itu.


“Kak, duduk sini. Tunggu Nadhira nyoba gaunnya dulu.”


Reyhan yang sedari tadi fokus dengan ponselnya hanya mengikuti apa yang dikatakan Mama.


“Lagi ngapain sih, Kak ? Sibuk bener sama ponselnya.”


“Oh ini, Ma. Ada E-mail dari sekretaris Reyhan yang harus dibaca. Aleea mana, Ma ?” Reyhan celingak celinguk mencari keberadaan Nadhira.


“Itu lagi nyoba gaun pengantinnya didalem.”


Reyhan hanya mengangguk dan kembali fokus pada ponselnya.


“Kak, kalo kerja jangan terlalu memporsir diri. Tubuhmu juga butuh istirahat. Mama nggak mau ya kalo sampai kakak jatuh sakit kayak tadi malam. Ini sudah mendekati hari H lho, kak.”


“Iya, Ma. Tenang aja. Ini Cuma diperiksa aja kok.”


Tanpa Mama dan Reyhan sadari Nadhira keluar dari ruangan yang sedari tadi tempatnya memilih dan mencoba gaun. Nadhira keluar dengan gaun pengantin berwarna putih dengan jilbab senada. Sederhana namun terkesan mewah dengan banyaknya payet-payet yang melengkapi gaun tersebut.


“Ma ?” Nadhira memanggil Mama dengan nada berhati-hati. Entah karena malu atau apa.


Mama dan Reyhan menoleh ke arah sumber suara dengan kompak. Mata Reyhan tak berkedip barang sedikit pun melihat penampilan gadis yang sekarang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Begitu pun dengan Mama. Ia begitu terpesona melihat calon menantunya.


“Ya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu.” Batin Reyhan dan tersenyum.


“MasyaAllah. Kamu cantik banget, Nak.” Mama memuji dan mendekati Nadhira.


“Gimana, Ma ?”


“Kalo Mama sih suka. Nggak tau gimana dengan calon suami. Gimana, Kak ?” Mama mengedipkan mata pada anaknya.


“Bagus, Ma. Cocok sama Aleea.”


Setelah mendengar persetujuan dari Reyhan dan Mama. Nadhira kembali memasuki ruangan untuk mencoba gaun yang lain untuk acara resepsinya. Karena Nadhira baru mencoba gaun untuk akad nikahnya saja.


Nadhira keluar dengan gaun yang lain berwarna biru muda dipadukan dengan warna pink.


“Ma, ini gimana ?”


“Ya Allah. Kenapa sih kamu cantik banget, Nak ? Pantes aja Reyhan suka sama kamu.”


Nadhira tersipu malu mendengar pujian Mama.


Setelah mencoba dua gaun untuk akad nikah dan resepsi. Nadhira dan Reyhan memutuskan untuk berlalu dari butik dan melanjutkan perjalanan mencari cincin pernikahan. Sedangkan Mama kembali ke rumah dijemput oleh sopir.


___TBC___

__ADS_1


__ADS_2