Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 57


__ADS_3

“Bukannya Prisil itu tunangannya Abang ya, Al ?” Reyhan membuka percakapan ditengah perjalanan pulang dari rumah Bunda.


“Iya, Kak. Sampai sekarang Abang belum bisa membuka hati untuk perempuan lain. Karena, bayang-bayang almarhumah Mbak Prisil belum mampu ia singkirkan. Kadang aku kasihan pada Abang. Ia sering mengurung diri didalam kamar. Kemudian, menangis sendirian.”


Reyhan menatap istrinya yang juga ikut bersedih mengingat keadaan kakak kandung satu-satunya itu. “Al, susah memang melupakan seseorang yang sangat kita cintai itu. Bahkan, mau seribu orang lain datang menghampiri pun tak akan mampu membuat tergoda.”


“Iya, Kak. Hanya saja aku kasihan pada Abang. Mau sampai kapan harus menjebak diri seperti itu ? Mbak Prisil sudah tiada. Dengan mengingatnya pun tak akan membuat ia kembali.”


“Abang butuh waktu untuk melupakan Prisil. Terlebih Prisil meninggal menjelang hari pernikahan mereka, bukan ?”


Ia menatap suaminya dengan kening mengkerut. “Darimana kakak tahu ?”


“Kamu lupa, Al. Abang ‘kan temanku juga.”


Ia mengangguk paham.


“Aleea ?”


“Iya ?”


“Kita ke danau, yuk! Dari kemarin ‘kan aku sudah berjanji untuk membawamu kesana.”


“Boleh. Tapi, apa tak mengapa jika kita pulang agak malam ? Kita pergi dari pagi, Kak. Aku merasa tidak enak pada Mama.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Mama pasti paham bahwa kita juga butuh waktu berdua.”


“Baiklah.”


Reyhan melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati senja sore ini bersama istri tercintanya.


Tak butuh waktu lama mobilnya berhenti di tepi danau. Danau yang menjadi saksi kisah lamanya bersama Reyhan.


“Tidak ada yang berubah dengan danau ini, ya, Kak ?”


“Iya, Al. Yang berubah hanya satu ?”


“Apa ?”


“Status kita. Sekarang bukan lagi pasangan tanpa status. Tapi, sepasang suami istri.”


Ia tersenyum dan memeluk tubuh Reyhan dari samping. “Kak ?”


“Iya, Sayang.”


“Di suatu hari nanti. Saat kita sudah memiliki anak. Aku ingin membawanya kesini juga. Melihat dan menyaksikan keindahan danau yang menjadi saksi bisu kisah cinta ayah dan ibunya.”


“Tentu saja, Sayang. Kita juga akan menceritakan bagaimana perjuangan kita hingga bertemu dan berakhir pada pernikahan.”


“Kak, aku ingin dipeluk,” ucapnya manja.


Tanpa berkata apapun. Reyhan memeluk istrinya. Membelai puncak kepalanya dengan begitu lembut.


“Sayang, rambutmu terlihat.” Reyhan memperbaiki letak hijab istrinya yang tertiup kencangnya angin danau.


“Sayang, lihatlah!” Reyhan melepas pelukan istrinya dan memutar tubuh kecilnya. Menunjukkan sebuah pemandangan indah yang tak pernah bosan dinikmati. Semburat warna jingga di kaki langit.


“Bagaimana ?” tanya Reyhan dan memeluk kembali tubuh kecil dihadapannya itu dari belakang. Agar istri tercintanya bisa menikmati dua hal sekaligus. Pelukan hangat suami dan keindahan senja di danau.


“Jangan tanya lagi. Kakak sudah jelas sangat tahu apa jawabanku.”


Reyhan tertawa dan menumpukan dagunya di kepala Nadhira. “Sayang ?”

__ADS_1


Ia mendongakkan kepalanya. Netranya bertemu dengan manik hitam milik Reyhan. Tenggelam beberapa saat sebelum suara anak kecil menyadarkan keduanya.


“Om. Om,” panggil anak kecil sepertinya berusia tak jauh berbeda dengan adik bungsu Reyhan, Latisha. Anak kecil tersebut menarik jins Reyhan berulang kali.


Reyhan berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan anak kecil yang memanggilnya. “Hei! Nama kamu siapa ?” tanya Reyhan dengan lembut.


Ia menatap suaminya. Dibalik raut wajahnya yang tegas. Ia menemukan satu kelembutan dari suaminya saat berhadapan dengan anak kecil.


“Namaku Kenzo, Om.”


“Oh.. nama yang bagus. Kenzo kenapa memanggil Om ? Ada yang bisa Om bantu ?”


“Bola kenzo tercebur disana, Om.” Kenzo menunjuk ke arah danau. Reyhan dan Nadhira mengikuti arah jemari mungil itu menunjuk. “Bisakah Om membantu mengambilnya untuk Kenzo ?”


“Tentu saja, Kenzo. Tunggu sebentar Om ambilkan, ya. Diam disini bersama tante cantik di belakang Om ini.”


Reyhan berlari ke arah danau dimana ia melihat bola Kenzo terapung dengan tenang. Ia menatap suaminya bangga.


“Kenapa bermain sendiri di tepi danau, Sayang ?” Nadhira dengan lembut bertanya dan membelai lembut rambut hitam milik bocah laki-laki itu.


“Kenzo tidak sendiri. Kenzo kemari bersama Tante.”


“Tantenya dimana, Ken ?” Ia mengedarkan pandangan mencari seorang perempuan di sekitarnya.


“Tante sedang pergi membelikan es krim dan meminta Kenzo bermain sendiri dulu.”


“Bagaimana bisa bolanya tercebur ke danau ?”


“Kakak-kakak yang nakal disana tadi yang sudah melempar bola milik Kenzo hingga tercebur ke danau. Setelah itu mereka pergi entah kemana.”


“Kenzo!”


“Kenzo!”


“Tante Elmeera!”


Ia menatap seorang perempuan dengan postur tubuh yang tinggi tengah berjalan juga menuju ke arahnya. “Kenapa Kenzo disini ? Bukankah Tante sudah bilang untuk menunggu Tante dan jangan pergi kemana-mana.”


“Maaf, Tante. Bola Kenzo tercebur ke danau dan meminta tolong pada Om itu untuk membantu Kenzo mengambilnya.” Kenzo menunjuk ke arah Reyhan.


“Reyhan ?” ucap Elmeera menyebut nama Reyhan dengan senyum merekah.


“Kenzo, ini bolamu.”


“Terimakasih, Om.” Dengan manis bocah laki-laki itu mencium pipi Reyhan.


“Wah... kenapa kamu manis sekali, Ken ?” Reyhan begitu gemas melihat tingkah Kenzo. Ia belum sadar dengan kehadiran Elmeera di tengah-tengah mereka.


“Sayang, aku ingin anak kita nantinya semanis dan selucu Kenzo,” kata Reyhan tanpa menatap ke arah istrinya.


“Terserah suamiku saja,” jawabnya dengan tertawa kecil.


“Rey!”


Reyhan mendongakkan kepalanya setelah mendengar suara perempuan lain memanggil namanya. Ia tertegun menatap perempuan itu. “Elmeera ?”


“Terimakasih sudah membantu mengambilkan Kenzo bolanya.”


“Sama-sama, Meer. Kamu sedang apa disini ?”


“Aku sedang menemani Kenzo bermain. Tetapi, tadi aku sedang membelikannya es krim sebentar.”

__ADS_1


“Kenzo ?” ulang Reyhan.


“Iya. Kenzo keponakanku. Anak dari Mbak Shalu. Kamu masih ingat pada Mbak Shalu, Rey ?”


“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Mbak Shalu yang sudah berbaik hati padaku ? Selalu menitipkan bekal untukku.” Reyhan tertawa bahagia saat perbincangannya dengan Elmeera membahas tentang Shalu. Bahkan, ia sampai terlupa bahwa disampingnya masih berdiri istrinya.


“Bagaimana keadaan Mbak Shalu sekarang ? Lama sudah tak berjumpa dengannya. Terakhir aku bertemu saat ayahmu mengundangku makan malam.”


“Baik. Mbak Shalu sekarang menetap bersama Mami dirumah. Karena, Mas Farkash sedang bertugas diluar. Jika kamu punya waktu luang, datanglah ke rumah untuk bertemu dengannya. Pintu rumahku tentu saja akan terbuka lebar untuk Tuan Oktara.”


Reyhan tertawa lebar. “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Elmeera. Itu sangat formal untuk orang yang berteman dekat.”


“Aku hanya ingin menghormati temanku yang sekarang menjadi CEO muda.” Elmeera tersenyum.


Merasa tak dianggap dan diperhatikan sama sekali. Nadhira dengan kesal berlalu tanpa sepengetahuan Reyhan. Ia melangkahkan kakinya kembali menuju tempat Reyhan memarkirkan mobilnya.


Reyhan yang belum menyadari bahwa istrinya sudah pergi terus saja berbincang ria dengan Elmeera. Sesekali mereka tertawa bersama.


“Jika kamu tidak sibuk, sesekali mari kita menikmati kopi hitam di warteg pinggir jalan seperti dulu. Jangan lupa mengajak teman lelaki menyebalkanmu yang satu itu.”


“Bagas maksudmu ?”


“Memangnya siapa lagi ? Hanya dia temanmu yang aku kenal begitu menyebalkan.”


Reyhan hanya tertawa. “Sekalipun Bagas menyebalkan. Dia juga pernah menolongmu saat hampir tenggelam di pantai. Kamu berhutang nyawa padanya,” ucap Reyhan mengingatkan kejadian di masa lalu pada Elmeera.


“Dan dia juga tentu sangat jatuh hati padamu, Nona Anggaraksa,” lanjut Reyhan menggoda.


“Tapi, aku tidak mencintainya, Rey!”


“Sekarang kamu tak mencintainya. Di kemudian hari. Who know’s, Elmeera Sheika Anggaraksa ?”


“Sudahlah, Rey. Berhenti membahas itu.”


“Baiklah.”


“Tante, Kenzo mau pulang.”


“Iya, Sayang.”


“Aku pulang dulu, Rey.”


“Iya, Meer.”


“Ken, bilang terimakasih pada Om.”


“Om, terimakasih banyak. Sampaikan salam Kenzo pada Tante yang tadi. Kenzo menyukainya. Dia baik, cantik dan manis.”


Reyhan tertawa mendengar ucapan polos Kenzo. “Sayang, kamu dengar ‘kan apa yang dikatakan Kenzo tentangmu ?” tanya Reyhan tanpa menyadari keberadaan istrinya.


Merasa tak ditanggapi, Reyhan menoleh dan sudah tak menemukan Nadhira di sampingnya.


“Lho kemana Aleea ?” tanyanya pada diri sendiri.


“Tante cantik itu pergi kesana, Om.”


Reyhan mengikuti jari mungil Kenzo.


“Baiklah. Elmeera aku duluan. Aku harus mencari istriku.”


Tanpa berlama-lama Reyhan berlari meninggalkan Elmeera dan Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2