
Mobil merah menyala milik Reyhan melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota yang tak pernah luput dari kemacetan. Terlebih di pagi hari, pada jam kerja seperti saat ini. Mobil tersebut melaju ke arah taman kota.
“Sayang, kamu mau sarapan apa dan dimana ?” tanya Reyhan seraya menatap sekilas istrinya yang sedang menikmati arus jalan dari jendela mobil.
Ia menatap balik suaminya yang sedang menyetir. “Aku ingin sarapan ditempat Bapak waktu itu, Kak. Entah kenapa aku merindukan Gado-gado buatannya. Tapi, tidak dengan es jeruknya.” Ia sedikit mencandai suaminya.
Reyhan tertawa kecil mendengar candaan istrinya. “Iya, Sayang. Maksudmu ditempat makan malam pertama kita, Al ?”
“Iya, Kak. Boleh ?” tanyanya ragu-ragu.
“Boleh, Sayang. Untukmu akan ku penuhi apapun yang kamu mau sebisaku.”
“Kakak sedang merayuku ?”
“Tentu saja tidak, Al. Aku hanya ingn membahagiakan istriku.”
“Terimakasih, suamiku.” Ia memeluk lengan suaminya dan mencium pipi kiri Reyhan.
“Sayang, kenapa sekarang kamu sering sekali menciumku tiba-tiba ?”
“Aku hanya menyukainya. Lagipula, yang aku cium adalah suamiku sendiri. Jadi, mau sesering apapun aku menciumnya, tidak ada masalah. Iya ‘kan ?”
“Iya, Sayangku.”
Reyhan menepikan mobilnya dan berhenti.
“Kenapa kakak berhenti disini ?”
“Kamu mau ke tempat Bapak waktu itu, bukan ?”
Ia mengangguk.
“Kita harus putar arah. Karena, tempat
makan Bapak itu berlawanan arah dari sini.”
“Oh iya.” Ia mengangguk paham.
_____
“Al, ayo turun!”
“Bukakan pintu mobil dulu untukku, Sayang,” ucapnya manja dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Reyhan.
“Siap, Nyonya Oktara.” Reyhan dengan sesegara turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Ia menggandeng tangan Nadhira dan berjalan memasuki tempat makan di pinggir jalan. Tatapannya menyapu sekitar tempat itu untuk mencari kursi kosong.
“Disana saja, Kak.” Nadhira menunjuk meja kosong di sudut tempat makan tersebut. Ia berjalan mendahului suaminya.
“Bukankah ini tempat duduk kita waktu pertama kali kesini, Al ?”
“Oh iya. Kebetulan sekali, ya, Kak.”
Ia mengedarkan pandangan dan berhenti pada sebuah pemandangan di meja samping tempat duduknya. Raut wajahnya seketika berubah.
“Aleea ?” panggil Reyhan setelah melihat perubahan istrinya yang diam secara tiba-tiba.
__ADS_1
Ia hanya menatap suaminya dan tersenyum rtipis.
“Kamu baik-baik saja, Sayang ?”
Jawabannya hanya menganggukkan kepala. Ia kembali membuang pandang ke arah meja disampingnya. Disana nampak seorang perempuan duduk sendiri dengan perut yang membesar. Sesekali ia menangkap perempuan itu tengah mengelus perut buncitnya dengan senyum merekah. Ia ikut tersenyum melihatnya. Tanpa di komandoi tangannya ikut pula mengelus perutnya yang masih rata. Tak lama senyum itu sirna dan berganti dengan tatapan sendunya.
Melihat raut wajah istrinya. Reyhan mengalihkan pandangan ke arah tatapan Nadhira.
“Sayang.” Reyhan menggenggam tangan istrinya yang tak juga bergeming menatap perempuan hamil itu. Ia menangkap kesedihan terpancar jelas dari wajah cantik Nadhira.
Reyhan bangkit dan duduk disampingnya. “Al, jangan sedih seperti itu, Sayang. Suatu hari nanti kamu juga pasti akan berada di posisi itu. Kita baru mencoba sekali saja. Dan kita akan berusaha lebih lebih lagi nantinya. Kita tidak boleh menyerah, Sayang.”
“Aku sudah terlalu berharap lebih. Hingga harapanku juga ku bagikan pada kakak. Tanpa pernah berpikir, bahwa harapanku akan mematahkan dan menyakiti kita. Seperti sekarang ini.”
“Hei! Kenapa berbicara seperti itu ? Berharap itu sudah menjadi hal lumrah siapa saja, Sayang. Pasangan pengantin baru mana yang tak berharap memiliki buah hati dengan cepat ? Ku pikir tidak ada. Mereka pasti akan berharap besar. Termasuk kita.”
Ia menunduk.
“Namun, apakah kita bisa memaksakan ? Tentu saja tidak. Karena, itu sudah menjadi ketetapan Yang Maha Memberi. Percayalah! Dengan usaha yang tiada henti dan do’a yang tak pernah putus. Kita akan segera dititipkan anugrah itu di suatu hari nanti. Kita hanya butuh waktu untuk bersabar.”
Air matanya tumpah tak tertahankan. Ia menunduk dan semakin terisak kuat. Tak lama ia rasakan sepasang tangan tengah memelukya erat. Memberikan kehangatan, kekuatan serta ketenangan untuknya. Ia menyandarkan kepala didada bidang Reyhan dan menangis sesuka hatinya.
“Sudah, ya, Sayang. Malu dilihat banyak orang. Nanti orang-orang berpikir aku sudah menyakitimu.”
“Adiknya kenapa menangis, Mas ?” Tiba-tiba suara seseorang mengalihkan pandangan keduanya. Mereka menemukan perempuan hamil yang membuat Nadhira bersedih tengah berdiri di depan meja.
Ia menyeka air matanya dengan kasar dan tersenyum ke arah perempuan itu.
“Maaf, Mbak. Ini istri saya,” jawab Reyhan.
“Oh maaf, Mas. Saya kira adiknya. Kenapa menangis ?”
“Sabar, ya, Mbak. Saya saja harus menunggu empat tahun baru bisa hamil. Memangnya sudah berapa lama menikah ?”
“Usia pernikahan kami baru memasuki bulan kedua.”
“Wah... pengantin baru, ya, Mas. Saya do’akan semoga segera diberikan buah hati.”
“Aamiin,” ucapnya bersamaan.
“Mbak ? Bolehkah saya mengelus perut buncit, Mbak ?” tanyanya malu-malu. Sedang Reyhan menatap tak percaya kelakuan aneh istrinya.
“Sayang, jangan aneh-aneh.”
“Tidak apa-apa, Mas.”
Ia dengan segera mengelus lembut perut buncit perempuan hamil itu. Ia merasakan pergerakan yang dilakukan bayi didalam perut perempuan yang tak dikenalnya. Senyumnya mengembang.
“Terimakasih, ya, Mbak. Semoga selalu sehat hingga hari melahirkan.”
“Iya, Mbak. Semoga Mbak juga segera diberikan amanah. Saya permisi, ya.”
Ia hanya tersenyum. “Maafkan harapanku yang sudah berhasil menyakiti kita. Dan mulai sekarang aku akan berusaha sabar menanti kehadiran bayi di perutku.”
Reyhan menggeleng. “Tidak. Aku tidak merasa tersakiti sama sekali dengan hal itu. Aku tersakiti karena tangismu. Oleh sebab itu, jika kamu tak ingin aku tersakiti. Jangan pernah lagi menangis. Aku juga sangat tidak menyukai air matamu menetes hanya karena kesedihan, Al.”
__ADS_1
Ia tersenyum lebar meski sesekali ia sesenggukan.
“Selalu tersenyumlah seperti itu, Aleea. Sebab, aku selalu menemukan ketenangan saat menatapmu dengan senyuman manismu itu.”
Ia begitu tersipu mendengar pujian suaminya.
“Permisi, Mas, Mbak. Ini pesanannya. Dua porsi Gado-gado dan dua teh hangat, ya,” ucap seorang Bapak seraya meletakkan makanan di hadapan mereka.
“Terimakasih banyak, Pak,” balas Reyhan.
“Sama-sama, Mas. Selamat menikmati sarapan ditempat sederhana ini. Semoga Mas dan Mbak merasa nyaman dan bosan berkunjung kemari.”
“Iya, Pak.” Reyhan tersenyum dan sedikit menundukkan kepala guna menghormati Bapak yang lebih tua darinya itu.
“Al, kamu mau aku suapi saja atau tidak ?” tawar Reyhan setelah Bapak yang mengantarkan pesanan itu berlalu.
“Tidak perlu, Kak. Biar aku sendiri saja. Aku bukan anak kecil yang harus disuapi,” ucapnya dengan senyum manis.
Ia begitu menikmati makanan yang telah terhidang didepannya. Memakannya dengan sangat lahap. Tanpa ia sadari bumbu makanan yang dimakannya menempel disudut bibirnya yang mungil.
“Al, sudah ku bilang. Kalau makan pelan-pelan. Jangan seperti anak kecil. Lihat bumbu makanannya sampai menempel begitu dibibirmu.” Reyhan membersihkan bibir istrinya dengan tisu yang sudah tersedia diatas meja.
Reyhan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nadhira. Kemudian, berbisik. “Andai saja kita sedang dirumah. Sudah ku pastikan akan membersihkannya dengan bibirku langsung.”
Mendengar ucapan suaminya. Ia langsung tersedak.
“Minum dulu, Al.” Reyhan memberikan teh hangat yang sudah dipesankan untuk istrinya.
“Kak! Kenapa kakak berbicara seperti itu ? Kakak tidak lihat aku sedang makan ?” ucapnya kesal.
“Iya. Iya. Aku minta maaf. Aku juga hanya sedang menggodamu saja, Al.”
“Terserah,” ucapnya acuh.
“Lanjutkan lagi makanmu.”
Tangannya kembali menyendok makanan dihadapannya. Melahapnya perlahan hingga tak tersisa.
“Alhamdulillah.”
“Rupanya porsi makanmu semakin bertambah saja, ya, Al.”
“Entahlah. Barangkali memang begitu,” jawabnya dengan senyum lebar dan menampilkan deretan gigi putihnya.
“Setelah ini kamu mau kemana ?”
“Kemana saja suamiku mau.”
“Baiklah. Kita akan ke rumah Bunda.”
“Benarkah ?” tanyanya kegirangan.
“Iya, Aleeanaku. Tidak mungkin bukan suami tampanmu ini akan membohongimu ?”
“Kali ini aku mengakui ketampananmu, Sayang. Karena, sudah berbaik hati akan membawaku menemui Bunda.”
__ADS_1
Reyhan tertawa mendengar ucapan istri kecilnya itu.
“Terimakasih, Sayang,” ucapnya dan memeluk suaminya tanpa malu-malu.