Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 49


__ADS_3

“Sayang, sehat-sehat selalu, ya.”


Nadhira menatap wajah pucat suaminya yang sedang terlelap dalam tidurnya. Ia membelai rambut hitam Reyhan dengan lembut. Menelisik setiap jengkal wajah Reyhan yang begitu dengan wajahnya.


Tanpa disadari, air matanya runtuh tak tertahan. “Melihatmu terlelap seperti ini membuatku tak menyangka kamu menanggung sakit seberat itu, Kak.”


Ia menatap dada Reyhan yang naik turun dengan napas teratur. Meletakkan tangan kirinya diatas dada Reyhan. “Tetap baik-baik saja, ya. Jangan membuatnya lelah dan merasa sakit secara berlebihan. Kasihanilah ia sedikit saja. Sebab, aku jua tak tega menatap wajah kesakitannya,” ucapnya pada jantung suaminya.


Ia kembali menatap wajah tegas suaminya. Dan memeluk tubuh Reyhan dengan erat. “Ku percayakan kau adalah lelaki kuat, Sayang. Jikapun sesekali kau rapuh. Usah khawatir. Aku ada untukmu. Menjadi penguatmu.”


Isakannya semakin menjadi-jadi. Hatinya ngilu mengingat rintihan menyedihkan Reyhan yang mengeluh kesakitan. Dan tanpa ia sengaja. Isakannya mampu membuat Reyhan terbangun.


“Sayang ?” Reyhan mengelus rambut Nadhira yang tertutup jilbab. “Kenapa belum tidur ?” lanjutnya.


Dengan cepat Nadhira menghapus sisa air matanya. “Aku masih ingin menikmati keteduhan yang terpancar dari wajah suamiku,” ucapnya dengan senyum yang mengembang. Namun, perhatian Reyhan dialihkan dengan mata sembabnya.


“Kamu habis menangis ? Kenapa ?” tanya Reyhan khawatir.


“Tidak. Aku tidak menangis. Mataku hanya kelilipan oleh debu.”


“Jangan membohongi suamimu, Al. Lagipula, debu darimana didalam kamar ? Kita selalu membersihkannya tiap hari. Aku juga tidak bisa melihat kamarku kotor.”


Nadhira terdiam. Ia menatap sebentar wajah netra Reyhan. Dan kembali memeluknya erat bersama isak tangis yang semakin pecah.


“Jangan sakit lagi. Aku tidak bisa melihat kakak seperti pagi tadi.”


“Hei, Al. Sudah jangan menangis lagi. lihatlah sekarang aku sudah baik-baik saja.”


Ia menggeleng kuat.


“Aku lemah jika melihatmu menangis seperti ini, Sayang.”


Ia bangkit dan duduk menghadap Reyhan. “Berjanjilah padaku untuk selalu menjaga kesehatan.”


Reyhan mengikuti Nadhira bangkit. Mereka duduk berhadapan.


“Iya aku janji padamu. Aku akan menjaga kesehatan dan selalu kuat untukmu. Tapi, kamu juga harus berjanji untuk tidak meninggalkanku. Karena, akan ku pastikan. Jika kamu pergi, hidupku tak akan pernah membaik.”


“Iya aku berjanji.”


“Sekarang, berhentilah menangis dan tidurlah. Aku akan menjagamu hingga terlelap nanti.”


“Kakak juga harus tidur.”


“Iya. Tapi, aku hanya ingin memastikan istriku tertlelap lebih dulu.”


Nadhira membaringkan tubuhnya. “Aku ingin tidur dalam pelukanmu.”


Reyhan dengan cepat memeluk istrinya. Menbiarkan lengannya menjadi bantal untuk Nadhira.


“Selamat malam dan istirahat, istri kecilku. Aku mencintaimu.” Reyhan mencium kening Nadhira lama. Ia mengelus rambut istrinya agar segera terlelap. Ditatapnya wajah cantik nan ayu itu dalam jarak dekat. Senyumnya mengembang.


“Aku berjanji akan selalu menjagamu, Al. Apapun yang terjadi. Kamu sudah terlanjur menjadi penguatku saat rapuh. Dan aku takkan pernah membiarkanmu pergi. Seperti kalimat yang pernah ku ucapkan padamu kala itu. Cukup sekali kau pergi. Setelahnya tidak akan pernah lagi.”


Reyhan kembali menatap wajah cantik Nadhira. “Syukurku amatlah besar. Karena, Tuhan masih sangat berbaik hati padaku dengan membawamu kembali dan menjadikanmu milikku seutuhnya, Al.”


Reyhan memeluk erat tubuh kecil istrinya yang nyenyak dalam tidurnya.


“Awww...” Reyhan mengaduh. Jantungnya yang tak baik-baik saja kembali terasa sakit. Ia melepas pelukannya ditubuh Nadhira.

__ADS_1


“Aleea tidak boleh tahu jantungku kembali sakit lagi. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Hari ini ia sudah terlampau lelah menangis karenaku.”


Reyhan mencengkram kuat dadanya yang teramat sakit. “Astagfirullah.” Ia beristigfar berulang kali. Ditatapnya kembali wajah damai istrinya. “Sayang, aku akan tetap baik-baik saja untukmu, untuk kita dan anak-anak kita nantinya.”


Lagi-lagi Reyhan mengaduh. Menahan jua sakit yang tak kunjung mereda. Ia memindahkan kepala Nadhira dari lengannya. Kemudian, bangkit dan tertatih mencari obat yang biasa ia konsumsi untuk meredakan sakitnya.


Tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas air minum diatas meja dan membuatnya terjatuh. Hal itu membuat suara bising dikamar. Serpihan pecahan gelas yang berserakan berhasil menyentuh kaki kanannya hingga mengeluarkan darah segar.


Tak hanya itu, suara gelas yang jatuh sukses membuat Nadhira terbangun dari tidur nyenyaknya.


“Astaghfirullah, Kak.” Ia kaget dan mendapati suaminya sudah berjongkok dengan tangan yang masih mencengkram kuat dadanya. Ia pun mendapati Reyhan tengah membersihkan pecahan gelas dilantai yang sudah ternodai dengan darahnya yang mengalir.


Ia menyibak selimut tebalnya dengan kasar dan bangkit mendekati Reyhan. “Kakak tidak apa-apa ?” tanyanya dengan perasaan panik.


Reyhan menggeleng. “Tidak apa-apa, Sayang. Aku tak sengaja menyenggol gelas dengan tanganku hingga terjatuh seperti ini.”


“Memangnya kakak mau apa ?”


Reyhan terdiam. Ia berusaha mencari alasan yang tepat dan bisa diterima dengan baik oleh Nadhira. Jua ia berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rasa sakit yang menghampirinya. Sehingga, tidak akan diketahui oleh istrinya.


Suara ketukan pintu dari luar menita perhatian keduanya. Reyhan pun merasa terselamatkan dari pertanyaan Nadhira.


“Kak ? Nadhira ? Ada apa ?” Terdengar suara Mama berteriak dari luar.


“Sayang, kamu buka pintu saja. Mama diluar. Aku yakin Mama mengira terjadi apa-apa disini.”


“Iya. Kakak kembali ke tempat tidur. Biar aku yang membereskan ini nanti.”


Ia beranjak membuka pintu. Dan ditemukan kedua mertuanya sudah berdiri dengan wajah kantuknya. Tak lama juga ia melihat Farhan tengah mendekat.


“Ada apa Nadhira ? Tadi kata Papa seperti ada yang terjatuh.”


“Kak Reyhan!” teriak Farhan tiba-tiba.


Semua mata tertuju pada Reyhan. Semua terkaget dan berlari ke arah Reyhan yang sudah terbaring diatas pecahan gelas diatas lantai.


“Sakit, Al. Sakit. Aku tidak kuat lagi,” ucap Reyhan.


“Hei! Jangan seperti ini. Kakak pasti kuat.” Ia mencoba menenangkan suaminya. Padahal, ia sendiri ingin menjerit melihat kondisi suaminya.


“Pa, telepon Dokter Dharma,” ucap Mama panik.


“Ma, Reyhan sudah tidak kuat lagi. Reyhan menyerah, Ma. Ini terlalu menyakitkan untuk Reyhan.” Reyhan menggenggam erat tangan Mama.


Mama sudah tak kuat lagi menahan tangisnya. “Tidak, Nak. Kamu kuat. Kamu pasti bisa. Lihatlah disampingmu ada Nadhira. Kamu harus sembuh untuknya, ya, Sayang.”


“Ayo Farhan bantu naik ke tempat tidur dulu.” Farhan dengan bersusah payah dibantu Papa jua menuntun Reyhan ke tempat tidur.


Nadhira masih terdiam menatap lantai yang sudah bersimbah darah. Ia menggigit jemarinya menahan tangisnya agar tak pecah.


“Ma, kaki dan lengan Kak Reyhan, Ma,” ucapnya lirih.


Mama menatap kedua bagian tubuh anak sulungnya yang baru saja disebutkan Nadhira. “Astaga.” Mama kaget melihat luka yang masih mengeluarkan darah itu. “Farhan ambilkan Mama kotak obat dibawah.” Tanpa berpikir panjang Farhan berlari memenuhi titah Mama.


Ia bangkit dan berjalan dengan gontai. Tak peduli pada serpihan beling yang masih berserakan di lantai. Duduk disamping suaminya yang merintih kesakitan.


“Kakak kuat. Aku percaya itu,” bisiknya di telinga Reyhan.


Reyhan menggeleng kuat. Ia menggenggam jemari Reyhan. Meski kadang tangan Reyhan menggenggam tangan teramat kuat untuk menahan rasa sakit.

__ADS_1


“Genggam erat tanganku, Sayang. Salurkan rasa sakit itu.”


“Al, aku tidak kuat. Sungguh.”


Reyhan mengangkat wajahnya untuk menghalau air matanya yang memaksa untuk jatuh.


“Aku tidak kuat. Sakit,” rintih Reyhan.


“Kamu pasti kuat, Reyhan!” bentak Nadhira. Kemudian, tangisnya pecah tak terkendali.


“Kakak kuat,” ucapnya ditengah isakannya. Mama mengelus lembut pundaknya yang bergetar.


“Sabar, ya, Nadhira.”


Reyhan tak berani berkutik. Ia hanya mampu menggigit bibirnya menahan sakit.


Nadhira menggila dengan berbicara pada jantung Reyhan. “Hei! Sudah kukatakan padamu untuk merasa kasihan pada suamiku. Sudah ku pesankan padamu untuk selalu baik-baik saja. Tapi, sekarang malah kau buat dia sesakit ini. Apa kau sudah lupa dengan ucapanku ?”ungkapnya dengan menyedihkan. Ia kemudian mengelus dada suaminya dengan seraya membiarkan kepalanya tertidur disana. “Jangan sakiti suamiku. Tolong kasihani dia barang sedikit,” ucapnya dengan isakan kuat.


Reyhan menatap kasihan istrinya. Begitu jua dengan Mama. Ia menatap iba menantunya itu.


“Sayang, kau pasti kuat. Aku percaya itu,” ucapnya semakin lirih.


Melihat hal itu. Reyhan tak kuasa menahan tangisnya. “Aku baik-baik saja, Sayang. Iya aku kuat. Aku kuat untuk kamu.”


Ia memeluk erat tubuh suaminya yang sedang berusaha mati-matian menahan sakit yang menyerangnya. Ia terus menerus mengelus lembut dada Reyhan seraya berbisik. “Kakak kuat. Aku percaya itu.” Berulang kali ia membisikkan kalimat yang sama.


“Nak, sudah, ya, Sayang. Biarkan Reyhan istirahat dulu seraya menunggu Dokter Dharma untuk memeriksa keadaannya.”


“Biarkan posisi Aleea seperti itu, Ma,” ucap Reyhan lemah.


Mama hanya bisa berpasrah.


“Ini kotak obatnya, Ma.” Farhan menyerahkan kotak berwarna putih itu ke tangan Mama. Tanpa menunggu lama, Mama dengan cepat membersihkan dan mengobati luka pada kaki dan lengan anak sulungnya.


Ringisan-ringisan kecil sesekali keluar dari mulut Reyhan disebabkan Mama memegang lukanya. Namun, hal itu tak mengalahkan rasa sakitnya ketika melihat istrinya menangis karenanya.


Papa memasuki kamar Reyhan bersama seorang lelaki lainnya dengan setelan jas putih. “Dokter Dharma sudah datang. Biarkan beliau memeriksa keadaan Reyhan terlebih dulu.”


Nadhira mengubah posisinya dengan duduk disamping Reyhan. Namun, tangannya tak berhenti menggenggam tangan suaminya untuk memberi kekuatan.


“Apa Pak Reyhan mengonsumsi obat yang saya berikan setiap hari ?”


Tak ada yang membuka suara. Bahkan, Reyhan pun enggan untuk menjawab.


“Pak Reyhan ?”


“Saya hanya mengonsumsi obat ketika saya sudah merasakan nyeri saja, Dok,” ungkapnya jujur.


“Wah... Pantas saja. Pak Reyhan harus mengonsumsi obat setiap hari. Jika tidak, itu hanya akan memperburuk keadaan Bapak. Saya tawarkan untuk melakukan operasi waktu itu, Bapak menolak.”


“Iya lain kali saya akan meminum obat tiap hari,” jawab Reyhan malas.


“Baiklah, Pak. Perbanyak istirahat, ya.”


Sepeninggal Dokter Dharma. Nadhira menatap suaminya dengan iba.


“Istirahatlah. Aku akan menjaga kakak disini.”


Reyhan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2