
“Farhan!” seru Reyhan seraya mengetuk perlahan pintu kamar adiknya, Farhan.
“Boleh kakak masuk ?”
Tak lama Reyhan mendengar suara derap kaki semakin mendekat.
“Masuklah, Kak!” Ucap Farhan dengan suara serak dari balik pintu yang terbuka setengah.
Reyhan memasuki kamar yang hampir seluruh dindingnya dipasangi berbagai macam poster. Terlihat sangat berantakan dan tak terurus. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kamar miliknya.
Tanpa menunggu perintah sang empunya kamar. Reyhan sudah memilih untuk duduk begitu saja di pinggiran ranjang kepunyaan Ibram.
“Kak, Farhan mau keluar dari rumah.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Farhan. Mata Reyhan membulat sempurna. Rasa tak percaya dengan apa yang ia dengar menari-nari begitu indah dalam pikirnya.
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu katakan tadi, Far ?”
“Farhan mau keluar dari rumah, Kak.” Farhan mengulang ucapannya dengan wajah tertunduk.
“Kamu yakin ?”
Farhan menegakkan kepalanya. Mengangguk tanpa ragu.
“Sangat yakin.”
“Atas dasar apa kamu memilih keluar dari rumah ? Memangnya setelah keluar kamu tau akan tinggal dimana ?”
“Farhan hanya tidak ingin terus menerus berdebat sama Papa. Farhan juga takut jika harus berbicara dengan cara membentak seperti pagi tadi.”
Farhan menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Untuk tempat tinggal Farhan belum pikirkan itu, Kak.”
Setetes demi setetes air mata Farhan runtuh dari pertahanannya. Ia mencoba menghapus butiran kristal yang kian tumpah tak terkontrol. Namun, sepertinya usahanya begitu sia-sia. Buktinya, butiran bening itu masih saja luruh dan membasahi pipinya.
Melihat adiknya menangis. Reyhan merasa iba. Perlahan ia menepuk pundak Farhan yang semakin bergetar hebat.
“Farhan merasa berdosa jika terus-terusan seperti ini, Kak.” Ucapnya disela isakan memilukan itu.
“Tapi, untuk mengikuti keinginan Papa juga Farhan tidak bisa. Farhan punya cita-cita sendiri dan akan Farhan wujudkan suatu hari nanti.” Lanjutnya.
“Memangnya kamu bisa jika harus keluar dari rumah ? Kamu masih bergantung pada keluarga, ‘kan ?”
Farhan merasa diremehkan. Ia menatap tajam kakaknya dengan mata sembabnya yang masih mengalirkan kristal-kristal bening itu.
“Kakak meremehkan Farhan ?” Tanyanya dengan senyum kecut.
“Oh... tidak, Far. Jangan salah paham dulu.”
“Farhan dan kakak itu berbeda. Jadi, kakak tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga untuk menyamakan diri kakak dengan Farhan.”
“Maksud kamu apa ?”
“Kakak tidak perlu berpikir bahwa Farhan akan sama seperti kakak yang sampai sekarang masih bergantung sama orang tua. Farhan bisa hidup sendiri.”
“Kakak tidak perlu berpikir bahwa Farhan akan sama seperti kakak yang sampai saat ini masih terus bergantung sama orang tua. Farhan bisa hidup sendiri.”
Kalimat Farhan yang terdengar menyombongkan diri itu membuat telinga Reyhan terasa memanas. Ucapan Farhan mampu memancing amarah yang sudah redam kembali memuncak. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Bicara apa kamu, Far ?”
“Loh, memangnya ada yang salah dengan ucapan Farhan ?”
“SALAH BESAR!” teriak Reyhan di depan wajah adiknya.
“Perlu kamu tau baik-baik, Far. Sejak memasuki perguruan tinggi kakak tidak pernah di biayai sama Papa. Melanjutkan study di luar negeri pun tidak. Kakak selalu mendapatkan beasiswa. Apa yang kakak gunakan saat ini pun hasil kerja keras kakak. Kecuali, rumah ini. Tapi, kakak juga sudah bangun rumah sendiri dengan uang yang tentu saja hasil jerih payah sendiri. Apartement pun demikian.” Jelasnya panjang lebar.
Reyhan menarik napas dan tersenyum sumbang sebelum melanjutkan lagi ucapannya.
“Dan, itu seharusnya tidak penting untuk kamu tau. Karena, yang terpenting itu kakak tidak menyombongkan diri seperti kamu.”
“Memangnya dengan keadaan kakak yang sering sakit-sakitan, bisa ?” sahut Farhan dengan kalimat meremehkan.
“Oh... betul. Kakak memang penyakitan. Tapi, kakak masih tau diri bagaimana cara berterimakasih sama orang tua. Bukannya berlaku sok bisa dan sok mandiri.”
Ucapan Reyhan terjeda. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menyingkirkan sejauh mungkin amarah yang semakin membuncah mencapai ubun-ubun.
“Seharusnya, kamu dengan segala kesempurnaanmu itu mampu melakukan hal
yang lebih dari orang penyakitan seperti kakak. Tidak merepotkan keluarga terus-terusan. Menghabiskan uang Papa untuk check up ke rumah sakit setiap bulan.”
Kata demi kata membentuk kalimat itu keluar begitu lirih dari mulut Reyhan. Bibirnya pun masih tersenyum. Bukan tersenyum manis. Tapi, tersenyum miris.
Hati Farhan terenyuh. Ada rasa penyesalan yang tiba-tiba muncul disana.
“Kak, Farhan minta maaf. Farhan tidak bermaksud membuat kakak meras...”
Tangan kanan Reyhan terangkat ke udara. Hal itu membuat mulut Farhan bungkam begitu saja tanpa mampu melanjutkan ucapannya.
“Tidak apa-apa. Kamu memang benar, Farhan. Kakak memang penyakitan. Dan sebuah kewajaran jika kamu meragukan kakak.”
“Tapi, niat Farhan bukan begitu, Kak.”
“Iya. Kakak tau. Kakak balik ke kamar dulu, ya.”
Reyhsn berdiri dan berjalan gontai dengan pikirannya yang cukup kacau.
“Kak!” seru Farhan menghentikan langkah kakaknya.
“Jangan sakit-sakit lagi. Terlebih jika Farhan sudah benar-benar keluar dari rumah.”
Manik mata hitam Reyhan beradu dengan manik mata Farhan. Reyhan menangkap keseriusan berkobar disana.
“Sekali lagi kakak tanya. Kamu yakin ingin keluar ?”
“Farhan yakin.”
Reyhan berbalik dan melangkah kembali mendekati Farhan.
__ADS_1
“Kamu mau dengarkan kakak, Farhan ?”
Farhan mengangkat kepalanya. Menatap Reyhan yang sudah berdiri dihadapannya. Lalu, ia menganggukkan kepala.
“Sshhh.”
Reyhan meringis saat rasa sakit kembali menyerang dadanya. Ingin sekali ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa sakitnya menghampiri disaat yang tidak tepat.
“Kak duduk dulu.”
“Sebaiknya kamu pikirkan dulu keputusan kamu itu, Farhan. Kamu bisa meraih cita-cita kamu tanpa harus keluar dari rumah.”
“Tapi, Farhan takut berhadapan dengan Papa. Takut dengan sikap dan perlakuan Farhan seperti tadi pagi.”
“Selama kamu mampu mengontrol emosi dengan baik. Itu tidak akan terjadi. Kamu paham maksud kakak ‘kan ?”
Farhan mengangguk.
“Jangan pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan yang lain juga. Mama terutama.”
Lagi-lagi kepalanya mengangguk.
“Jika sesekali kamu ingin pergi. Tak mengapa. Kamu bisa menggunakan apartement kakak. Daripada menginap dirumah temanmu.”
“Terimakasih, Kak.”
Reyhan tersenyum.
“Kakak baik-baik saja ‘kan ?”
“I’m okay!”
“Makanya jangan keluar dari rumah, ya. Biar ketika kakak sakit lagi. Ada yang bantu kakak ke rumah sakit.” Reyhan terkekeh sendiri mendengar ucapannya.
“Farhan pikirkan dulu, Kak.”
“Tentu kamu harus pikirkan matang-matang setiap keputusan yang akan kamu ambil. Biar ke depannya kamu tidak menyesal. Karena, tiada sesal yang hadir diawal cerita.”
Farhan mengangguk diiringi senyum yang membingkai bibirnya. Senyum yang sudah lama tidak terbit.
“Kamu sudah dewasa, Farhan. Kakak yakin kamu tau bagaimana cara menyikapi persoalan.”
“Untuk yang tadi pagi, Farhan benar-benar minta maaf. Gara-gara Farhan kakak sampai terluka begitu.“ sesal Farhan dan menunjuk luka disudut bibir Reyhan yang masih terlihat membengkak.
“Bukankah itu sudah menjadi tugas kakak untuk melindungi adik kecilnya ?” Reyhan mengacak rambut Farhan yang memang pada awalnya sudah terlihat berantakan dan tak terurus.
“Oh No, Brother! Farhan bukanlah adik kecil kakak lagi. Umur sudah dua puluh tahun masih saja dibkatakan adik kecil. No. No. No.” Bantah Farhan bercanda.
"Hei! Lihatlah, Farhan Aksa Oktara! Banyak sekali perubahanmu. Dari gaya bahasa pun sudah tak lagi sama, Bro.”
Gelak tawa kakak beradik itu menggelegar mengisi kamar ukuran besar namun berantakan itu.
“Aww...”
Reyhan mengaduh saat ia rasakan nyeri dibagian dada dan bibirnya dalam waktu bersamaan. Refleks kedua tangannya memgangi kedua bagian yang yang sakit tersebut sambil tertunduk.
“Kak, kenapa ?” nampak jelas dari suara yang keluar Farhan begitu khawatir.
“Kakak istirahat saja dulu. Ayo Farhan temani ke kamar.”
“Tidak. Kakak tidak apa-apa. Bibir kakak sedikit nyeri. Mungkin karena terlalu tertawa lebar.”
“Maaf.”
Hanya kata itu yang mampu Farhan lontarkan dari mulutnya sebagai tanda penyesalan atas masalah yang terjadi. Yang menyebabkan kakaknya menjadi sasaran empuk tinjuan maut Sang Papa.
“Ah... Kakak bosan mendengar kata maafmu. Andai saja maaf itu kamu ucapkan sama Papa dan Mama. Kakak jauh lebih bangga.”
Reyhan berbicara begitu entengnya. Ia menelentangkan tubuhnya dikasur empuk milik adiknya.
Mulut Farhan terkatup rapat. Otaknya berpacu hebat memikirkan ucapan singkat kakaknya yang menjurus pada kalimat sindiran. Hati Farhan tertohok. Apa iya kelakuannya sudah keterlaluan selama ini ?
“Kak ?” panggilnya dengan ikut membaringkan tubuhnya di samping Reyhan.
“Em ?”
Reyhan menjawab tanpa menoleh dan tanpa pula menanggalkan tangannya dari dada yang masih terasa sakit. Sedikit.
“Apa selama ini Farhan sudah keterlaluan dalam bersikap ?”
“Menurutmu ? Bagaimana ?”
Alih-alih menjawab. Reyhan bahkan balik melempar tanya pada Farhan.
Untuk kedua kalinya mulut Farhan terbungkam dengan ucapan yang keluar dari mulut kakaknya.
Lama mereka terdiam. Sibuk berkelana dengan pikiran dan jiwa masing-masing tanpa ada yang saling mengganggu.
Tatapan sendu Farhan menyapu langit-langit kamarnya. Menghirup mapas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
“Farhan akan meminta maaf sama Papa setelah ini.” Kelakar Farhan tanpa mengalihkan pandang dari langit kamarnya.
Reyhan menoleh.
“tapi, bukan berarti Farhan akan mengikuti semua keinginan Papa.”
“Kakak tidak memaksamu untuk itu. Kakak hanya ingin kamu mengakui bahwa selama ini sikap yang kamu tunjukkan pada Papa itu salah.”
Baik Farhan maupun Reyhan tidak lagi ada yang berbicara. Mereka kembali pada pikiran masing-masing yang tentu saja hanya mereka yang tau.
“Farhan!”
“Iya ?”
“Kamu yakin tidak mau mengikuti Papa untuk kerja di perusahaan ?”
Ibram berusaha menimbang-nimbang pertanyaan kakaknya.
__ADS_1
“Kamu sendiri tau ‘kan, Far. Selain kakak, kamu adalah penerus untuk melanjutkan usaha Papa. Dan kamu tau betul. Papa akan semakin menua. Kakak sendiri keadaannya seperti ini. Jika kakak kenapa-kenapa, siapa yang akan diandalkan Papa selain kamu ? Lucu sekali bukan jika mengandalkan anak sekecil Raina ?”
“Kakak bicara apa sih ? Kakak tidak akan kenapa-kenapa. Kakak akan tetap baik-baik saja.”
“Who knows ?” balas Reyhan santai.
“Dan Farhan tidak mau tau. Kakak harus tetap baik-baik saja.”
Reyhan hanya bisa tersenyum melihat perhatian adiknya lelakinya itu.
“Pikirkan Mama. Kakak tidak kasihan lihat Mama terus-terusan bersedih jika kakak sakit ?”
Kali ini Reyhan yang membungkam tak tau harus menjawab apa perkataan adiknya.
“Baiklah. Mulai sekarang kita punya tugas masing-masing yang harus kita tuntaskan. Kakak akan berusaha untuk selalu menjaga kesehatan. Dan kamu harus berusaha untuk memahami keinginan Papa. Bagaimana ?”
Farhan mengangguk pelan.
“Kita harus berusaha bersama-sama untuk membuat Papa dan Mama bangga.”
“Bagus, adik kecilku.” Cicitan Reyhan dan kekehannya mampu mengundang tatapan tak terima Farhan.
“Ok. Ok. Sorry.”
Reyhan tertawa kecil. Akhirnya, ia bisa membawa kembali jiwa adik kecilnya yang kini tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemuda gagah.
“Anyway, usiamu sama dengan Nadhira, Far.”
“Lalu, Farhan harus memanggil kakak ipar dengan panggilan apa ?”
Reyhan mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Berpikir panggilan yang tepat untuk istrinya.
“Apakah Farhan harus memanggilnya kakak ? Nadhira ? Atau Mbak ?”
Reyhan tak menjawab.
“Ah... entahlah,” pasrah Farhan.
“Kamu tanyakan saja nanti pada Nadhira. Biar kalian nyaman.”
“Baiklah. Di lain waktu, akan Ibram tanyakan langsung pada kakak ipar.”
“Jadi, kapan kamu akan menemui Papa ?” tanya Abraham mengalihkan topik.
“Setelah ini.”
“Dengan tampang rapi,” celetuk Reyhan. Satu ucapan seperti perintah yang tentu saja tak bisa di bantah.
“Demi kakak.”
“Tidak! Demi kamu dan masa depanmu.”
“Baiklah, Tuan.”
Reyhan tersenyum penuh kemenangan.
“Kakak balik ke kamar. Disana ada Raina.”
“Ngapain ?”
“Main.”
“Tumben.”
“Kakak yang paksa. Sekalian nemenin Nadhira.”
Farhan mengangguk paham.
“Waktunya Nadhira minum obat dan istirahat.” Reyhan mengubah posisinya. Bersiap-siap meninggalkan kamar adiknya yang menurut Reyhan tak pantas disebut kamar itu.
“Sepertinya bukan hanya kakak ipar saja yang perlu minum obat dan istirahat dengan baik. Tapi...” sindir Farhan.
“Kakak mengerti maksudmu, Farhan Aksa Oktara.”
“Farhan tidak ingin melihat Mama sedih lagi.”
“Kita punya keinginan yang sama. Bisa kita wujudkan bersama hal itu, Dek ?”
“Tentu!” balas Farhan penuh semangat.
Telah Reyhan temukan kembali sosok adiknya yang telah lama hilang. Membuat Reyhan mengulum senyum dibibirnya yang masih terlihat membengkak.
“Yaahh malah senyum-senyum sendiri. Sana temenin istri yang ditinggal dari tadi.”
Reyhan tersadar dan tertawa kecil. Hatinya menghangat setelah mampu mengembalikan adik yang sesungguhnya.
“Bikinin Farhan ponaan yang banyak. Tapi, jangan yang kayak adek. Cerewet.”
“Gampang.” Reyhan mengacungkan jempol dan berbalik ke arah pintu.
“Kak!”
Reyhan menoleh.
“Tawaran kakak Farhan terima. Sesekali akan Farhan gunakan apartement kakak untuk menginap.”
“Asal jangan bawa perempuan.”
“Siap, Bos.”
Reyhan kini benar-benar meninggalkan Farhan yang sudah berubah posisi dengan duduk di bibir ranjang king sizenya. Bersama senyuman hangat yang lama tak ia perlihatkan pada siapapun.
“Nih!” Reyhan menyembulkan kepalanya dan melemparkan kunci apartementnya. Dan kunci tersebut tepat mendarat di kening Ibram.
“Aww.” Ringisnya.
“Sakit tau,” Farhan mengelus keningnya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
“Maaf. Kakak tidak sengaja,” balas Reyhan cengengesan dengan tampang tanpa dosa.
“Untung saja kakak sendiri. Kalau tidak, sudah ku lempar balik dengan kunci ini hingga mendarat di kepalanya,” dumel Farhan.