Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 141


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Reyhan masih berkutat dengan laptop di tempat tidur. Meskipun ia sudah sangat ke kantor. Lelaki itu masih terus memantau dan membantu adiknya, Farhan, dari rumah. Tentu saja dengan jadwal yang sangat dibatasi oleh istrinya yang semakin hari semakin posesif.


Di samping Reyhan. Terbaring seorang gadis berperut buncit masih dengan jilbab pashmina yang melilit di kepalanya. Gadis itu berkali-kali mengubah posisinya agar merasa nyaman. Namun, nihil.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reyhan dengan mengelus puncak kepala gadis itu.


"Punggungku terasa pegal-pegal," keluhnya. Ia kembali mengubah posisi dan duduk bersandar.


"Kemarilah! Biar aku pijitin."


Ia segera menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Kak. Aku tidak mau membuat kakak kecapekan nantinya."


Reyhan terkekeh. "Aku hanya sekedar memijatmu, Al. Tidak mungkin aku akan kecapekan dan anfal."


Ketukan pintu mengalihkan pandangannya. Menatap pintu yang kian terbuka.


"Ra, boleh bantu Mama dibawah sebentar?"


"Oh, iya, Ma."


"Mama tunggu dibawah, ya, Nak."


Gadis itu menganggukkan kepala. Kemudian, menatap suaminya yang masih fokus pada layar laptop. "Sebentar aku turun dulu. Jika butuh sesuatu panggil saja aku," ucapnya dengan meletakkan tangan pada pundak Reyhan.


Reyhan menatap gadisnya dengan senyum manis.


"Jangan sampai kecapekan," nasihat Nadhira dan mengecup lembut puncak kepala Reyhan.


"Iya, Sayangku. Kemarilah! Sebelum keluar peluk dulu." Reyhan bersikap manja pada Nadhira. Selain lelaki itu sekarang lebih bisa menjaga emosinya. Ia menjelma menjadi lelaki manja yang tak bisa jauh-jauh dari istrinya. Ia semakin lebih sensitif terhadap kesehatan Nadhira. Pun dengan kandungan gadis itu.


Gadis itu menatap suaminya dengan mata yang sedikit menyipit. Tersebab, senyum simpul yang sudah membingkai indah pada bibirnya yang ranum.


Nadhira mengalungkan tangannya pada leher lelaki di hadapannya. Menembus pandangan pada netra hitam pekat itu. "Yang kuat. Kita akan melaluinya bersama." Gadis itu memeluk erat suaminya.


Reyhan membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Nadhira. Menikmati aroma lavender yang menyeruak ke indera. Aroma yang tak pernah bosan ia nikmati.

__ADS_1


...***...


"Ma," panggil gadis itu seraya mendaratkan tangan kecilnya pada pundak Mama.


Mama hanya menoleh sebentar. Kemudian, kembali berkutat dengan aneka sayur di hadapannya. "Bantu Mama masak, ya, Nak. Semalam Reyhan bilang ke Mama. Katanya dia mau di masakkan sayur asam dan ayam goreng sambal balado."


"Wah... Tumben, ya, Ma, Kak Reyhan sampai merequest masakan. Biasanya Kak Reyhan akan memakan makanan apa saja yang terhidang di meja makan," ucap gadis itu seraya tangannya dengan gesit memotong sayur di hadapannya.


"Iya, Ra. Suamimu semakin aneh saja. Tingkah dan keinginannya juga sering aneh."


Gadis itu terkekeh mendengar penuturan Mama.


"Ma," panggil Nadhira dan menatap Mama dengan tatapan serius.


"Iya, Ra. Kenapa?" tanya Mama tanpa menoleh ke arah menantunya itu.


"Kalau seandainya cucu Mama perempuan. Bagaimana?" tanya gadis itu lagi masih dengan tatapan serius.


"Alhamdulillah," jawabnya singkat.


"Kalau laki-laki, Ma?"


"Tapi, Farhan mau keponakan Farhan nanti kembar."


Suara itu berasal dari meja makan didekat dapur. Kedua perempuan berbeda generasi itu menoleh ke belakang. Kemudian, mengulas senyum manis pada lelaki yang baru saja datang dengan setelan jas warna denim itu.


"Wah, CEO baru tampan juga, ya. Tidak kalah dengan kakaknya," puji Mama sekaligus menggoda anak keduanya.


"Farhan bukan CEO, Ma. Farhan hanya menggantikan Kak Reyhan untuk sementara waktu. Sampai kondisi Kak Reyhan membaik dan bisa kembali ke kantor lagi."


"Iya sama saja 'kan, Nak," balas Mama dan menatap lekat wajah putranya. Ada yang janggal dari wajah Farhan. Lelaki itu tampak lebih pucat dari biasanya. Mama membersihkan tangannya di wastafel dan perlahan melangkahkan kaki mendekati Farhan yang masih terduduk sendiri.


Nadhira mengikuti kemana arah langkah Mama. Hingga ia temukan perempuan paruh baya itu sudah duduk di depan putra keduanya. Nadhira tidak tahu apa yang tengah di perbincangkan ibu dan anak itu. Ia kembali berfokus pada alat dan bahan dapur.


Tidak dengan Mama. Perempuan itu menatap lekat wajah Farhan. Hal itu tentu saja membuat Farhan menatapnya kembali dengan tatapan bingung dan tak mengerti. Alis lelaki itu terangkat sebelah.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?"


"Kamu sakit, Nak? Kenapa wajahmu terlihat pucat seperti itu? Tidak seperti biasanya."


"Tidak, Ma. Farhan baik-baik saja. Farhan hanya kecapekan. Mungkin karena Farhan belum terbiasa dengan beratnya pekerjaan kantor. Tidak seperti Kakak," jawab Farhan berusaha menenangkan dan meyakinkan Mama yang sudah tercetak jelas raut khawatir pada wajah tuanya yang mulai tampak keriput.


"Kamu yakin, Nak? Kamu sedang tidak membohongi Mama 'kan?" tanya Mama curiga. Memang, darah lebih kental dari air. Perempuan paruh baya itu benar-benar merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi anak keduanya itu. Entah kenapa tiba-tiba pikiran buruk menyergapnya. Mama ketakukan.


Farhan menggenggam erat tangan Mama. "Tidak, Ma. Farhan benar baik-baik saja."


"Kalau memang kamu sakit. Tidak perlu memaksa diri, ya, Nak. Mama tidak mau anak-anak Mama kelelahan dan kemudian sakit."


Lelaki itu mengangguk.


"Sekarang kamu ke kamar saja. Mandi dan ganti pakaianmu. Kemudian, istirahat. Nanti Mama yang akan membawa makanan ke kamarmu."


"Tidak perlu, Ma. Nanti Farhan makan siang bersama saja."


"Baiklah." Mama menatap punggung Farhan yang kian menjauh. Entah kenapa perempuan paruh baya itu benar-benar takut melihat raut wajah Farhan yang tak biasa. Ada ketakutan luar biasa yang mengaliri sekujur tubuhnya.


"Ma." Panggilan Nadhira berhasil membuat Mama tersentak hebat.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menatap Farhan seperti itu? Farhan baik-baik saja 'kan, Ma?" ucap Nadhira melayangkan beberapa pertanyaan.


Perempuan itu menggelengkan kepala tanpa mengalihkan tatapan dari Farhan yang masih memijak tangga satu per satu. "Mama tidak yakin Farhan baik-baik saja. Wajahnya tampak pucat. Tapi, dia hanya bilang bahwa dia kelelahan dengan pekerjaan kantor yang tak biasa di kerjakannya."


Tatapan Nadhira ikut terlempar ke arah tatapan Mama. Hingga lelaki yang menjadi fokus keduanya hilang dibalik pintu kamar yang tertutup rapat.


"Sudah, ya, Ma. Percayalag bahwa Farhan baik-baik saja."


Mama mengembuskan napas kasar. "Huh! Semoga saja."


"Mama istirahat saja. Tenangkan pikiran Mama. Biar Nadhira yang akan melanjutkan memasak."


Kepala perempuan itu hanya menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak. Mama akan melanjutkan pekerjaan ini dulu. Mama mau memasak makanan yang ingin dimakan suamimu. Pasti nanti makannya sangat lahap." Perempuan itu tersenyum lebar membayangkan bagaimana anak sulungnya akan kembali makan dengan lahap setelah akhir-akhir ini tak berselera makan.

__ADS_1


"Iya sudah, Ma. Tapi, nanti kalau Mama mau istirahat. Tak mengapa. Istirahat saja. Nadhira bisa memasak sendiri."


Mama tersenyum manis menatap anak menantunya. "Terimakasih ya, Nak."


__ADS_2