
"Sayaang!" teriaknya dan berlari ke arah Reyhan yang baru muncul dari mobil yang membawanya pulang.
Bunda yang melihatnya seperti itu kaget. "Jangan berlari seperti itu, Dik!"
Ia acuh dengan ucapan Bunda. Tangannya ia telentangkan dan memeluk tubuh suaminya erat.
"Al, aku baru saja pulang. Jangan memelukku dulu. Tubuhku masih kotor."
"Terserah! Dan aku sama sekali tak peduli. Karena, aku hanya ingin suamiku."
Reyhan tersenyum manis dibuatnya. "Aku merindukanmu, Aleea."
"Aku juga sangat merindukan suamiku."
"Jangan berpelukan di hadapanku, Nadhira. Aku sudah bosan melihat adegan seperti itu," ucap Bara seraya menatap tajam ke arah Reyhan.
"Kenapa Abang yang marah-marah ? Jika tidak suka, Abang masuklah segera," balasnya kesal.
"Abang juga tidak ingin melihat itu. Tapi, kalian berdua tanpa malu melakukannya di hadapan Abang. Bagaimana bisa Abang tak melihatnya ?"
"Abang iri melihat adik dan Kak Reyhan seperti ini ?" ledeknya melihat sikap Bara.
Bara berlalu dari hadapan keduanya. Ia tertawa lepas sebab merasa berhasil membuat jengkel abangnya.
Berbeda dengan Reyhan. Ia hanya terdiam tanpa membuka suara. Pun tak berkutik dengan wajah datarnya. Ia tahu bahwa ucapan Bara hanyalah sindiran untuknya.
"Kapan kita pulang ke rumah Mama ?" tanyanya dengan cepat.
"Besok saja, Al. Aku baru saja pulang. Dan ini juga sudah beranjak malam."
"Tapi, aku sudah merindukan Mama dan masakannya."
"Iya. Aku paham. Tapi, izinkan aku untuk mengistirahatkan badanku malam ini disini."
"Baiklah," ucapnya dengan lesu.
_____
Di ruang makan. Suasana begitu hening. Hanya denting suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar jelas. Tatapannya menelisik ke arah tatapan Bara yang tajam. Ia mencoba mencari kemana arah pandang yang menyemburkan aura kemarahan itu.
"Kak Reyhan ?" bisiknya dalam hati.
Ia mencoba sekali lagi menelisik itu. Tiada perubahan arah pandang Bara.
"Ada apa sebenarnya dengan Abang ? Kenapa ia nampak begitu marah pada Kak Reyhan ?"
"Dik, jangan melamun. Habiskan makananmu dulu," nasehat Ayah dan sukses menghancurkan pikiran-pikiran yang bergelayut diotaknya.
"Iya, Ayah."
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" bisik Reyhan saat mendengar ucapan Ayah.
Ia hanya mengangguk. "Aku sudah tak berselera makan." Ia meletakan sendok dan garpu diatas piring yang masih dipenuhi makanan.
__ADS_1
Ia bangkit dan beranjak pergi tanpa permisi.
"Mau kemana, Al ?"
"Ke kamar. Aku mual dan pusing. Aku butuh istirahat," jawabnya tanpa menoleh.
Reyhan melihat ada yang berubah dengannya. Reyhan ikut bangkit dan mengejarnya.
Ia merasakan pusing yang luar biasa. Tubuhnya lemas dan hampir saja terjatuh jika tak ada tangan kekar Reyhan yang menangkap tubuh kecilnya.
"Al, kamu kenapa, Sayang ?"
"Kepalaku benar-benar pusing, Kak."
Reyhan membawanya ke kamar. Membaringkan tubuhnya di tempat tidur. "Kita ke Rumah Sakit, ya, Al. Beberapa hari ini kamu mengalami mual dan pusing-pusing. Tidak mungkin jika ini hanya sekedar masuk angin saja."
"Tidak! Aku hanya butuh istirahat, Kak. Aku juga tidak ingin menginjakkan kaki di Rumah Sakit. Aroma obat-obatan itu selalu membuatku ingin mengeluarkan isi perutku," cicitnya.
"Tapi, kondisimu sudah seperti ini, Al. Aku tidak ingin membiarkanmu lebih lama lagi dan bertambah parah."
"Kakak! Ku bilang tidak, ya, tidak. Jangan memaksaku," bentaknya keras. Air matanya tumpah tak tertahankan.
"Lho, kenapa malah menangis ?" tanya Reyhan bingung melihat perubahan istrinya yang begitu tiba-tiba.
Ia semakin tersedu. Suara tangisnya terdengar hingga ke luar kamar.
"Sayang, jangan menangis seperti ini. Jika Ayah, Bunda dan Abang mendengarnya. Mereka berpikir aku telah melakukan sesuatu padamu."
"Ada apa, Reyhan ?" tanya Bunda berlari kecil memasuki kamar diikuti Ayah dan Abang di belakang.
"Reyhan juga tidak tahu, Bunda. Tiba-tiba saja Aleea menangis seperti ini."
Bunda hanya tersenyum tipis. Ia paham bagaimana anak gadisnya bisa seperti ini. Emosi anak gadisnya itu sedang tidak terkontrol.
"Biar Bunda yang bicara dengan Nadhira, Nak."
Reyhan berdiri di samping tempat tidur dan membiarkan Bunda duduk menggantikan posisinya. Ia menatap bingung istrinya yang masih menangis tersedu.
"Adik kenapa ? Ada yang sakit, Sayang ? Atau adik ingin makan sesuatu ? Katakanlah, Nak. Jangan seperti ini. Lihat suamimu. Ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa untukmu," terang Bunda dan mengelus lembut punggung tangannya.
Ia tak menjawab apapun. Hanya tangis saja yang ia tampakkan.
Sedetik kemudian tangis itu mereda. Bahkan, semua seakan membaik seperti biasa. Ia tersenyum lebar menatap suaminya yang berdiri bersama kebingungan yang merajalela di otak.
Tak hanya Reyhan. Ayah dan Abang pun bingung melihat keanehannya.
"Dik, kamu tidak sedang kerasukan setan, bukan ?" celetuk Bara yang berhasil mengundang tatapan tak bersahabat dari ke empat orang di kamar itu.
"Oh maaf," ucap Bara saat ia menyadari ucapannya tadi.
Ia menatap Bara dengan tatapan yang tak bisa diartikan Bara.
"Kenapa menatap Abang seperti itu ?"
__ADS_1
"Harusnya adik yang bertanya. Kenapa Abang berubah begitu semenjak pulang bersama Kak Reyhan ?"
Bara terdiam. Ia kembali menatap Reyhan dengan tatapan tajamnya.
"Abang seperti ingin marah-marah saja padaku. Pada Kak Reyhan, Abang seakan-akan ingin menerkamnya dengan tatapan itu," ucapnya polos.
"Tidak! Abang tidak marah padamu. Apalagi Reyhan. Sudahlah. Abang ke kamar dulu. Lekas sembuh dan jangan aneh-aneh."
Ditatapnya punggung Bara yang semakin menjauh. Menghilang dibalik pintu.
"Bunda mau tanya padamu. Kenapa menangis ?"
"Adik hanya ingin tidur di pangkuan Kak Reyhan," jawabnya malu-malu.
"Hah ?"
Sontak Reyhan, Ayah dan Bunda kaget mendengar penuturannya.
"Hanya menginginkan itu saja kamu harus menangis dulu, Al ? Kenapa tidak katakan saja langsung padaku ?"
"Entahlah, Kak. Aku juga tak tahu. Kenapa saat menginginkan sesuatu aku harus menangis dulu," tuturnya dengan polos.
"Baiklah. Bunda dan Ayah keluar dulu. Jika butuh sesuatu. Panggil saja ke kamar."
Setelah Ayah dan Bunda keluar dari kamar. Ia meminta Reyhan duduk di sampingnya.
"Aku ingin tidur di pangkuanmu. Boleh, ya ?" pintanya.
"Iya, Sayang."
Ia meletakkan kepalanya di pangkuan Reyhan. Belaian tangan Reyhan mendarat lembut di kepalanya.
"Aleea ?"
Ia mendongakkan kepala dan menatap wajah suaminya.
"Kenapa akhir-akhir ini tingkahmu begitu aneh ? Begitu juga dengan keinginanmu. Aku benar-benar heran."
Ia menggelengkan kepala. "Sudah ku bilang. Aku juga tak tahu."
Reyhan menghela napas panjang. "Baiklah, Al. Istirahat saja. Biar pusingmu mereda."
"Tapi, jangan pergi. Temani aku disini."
"Iya, Al. Aku akan menemanimu. Tidurlah!"
Matanya yang masih basah sisa air mata yang turun itu ia coba pejamkan. Melepas lelah dan rasa pusing yang menyergapnya.
Kecupan kecil dan belaian hangat masih ia rasakan di puncak kepalanya.
"Selamat malam dan tidur yang lelap, istri kecilku."
Ucapan Reyhan menjadi pengantar tidurnya malam ini hingga ia jauh terlelap.
__ADS_1