Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 73


__ADS_3

Ia meletakkan kembali tas yang sudah berisi kebutuhannya ke kampus. Gamis hitam pekat yang sudah ia gunakan tadi kembali digantungnya dengan rapi didalam lemari. Juga jilbab pashmina yang ia gunakan membungkus kepalanya dan sudah nampak kusut itu ia kembalikan ke tempat semula.


Bersama sisa tangisnya, ia membereskan kamar yang nampak berantakan. Meja riaa yang tertata rapi ia rapikan kembali. Ia melakukan itu hanya untuk menyibukkan diri agar hati dan pikirannya tersita penuh dari kejadian yang ia alami sejak kemarin. Tragedi kotak kuning keemasan disudut ruang.


"Huh!" Ia menghembuskan napas kasar. Menghempas pelan tubuh diatas kasur empuk.


Telinganya menangkap suara decit pintu yang terbuka. Ia tahu betul bahwa yang membuka pintu itu adalah Reyhan. Ia segera menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Berpura-pura tidur.


"Aleea, aku tahu kamu sedang tak tertidur," ucap Reyhan padanya.


Ia masih tak bergeming.


"Al, aku butuh bicara denganmu. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi."


Ia menyerah. Ia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga setengah badannya.


"Kakak mau bicara apa lagi ?" ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku ingin menjelaskan padamu."


Secepat kilat ia memotong kalimat Reyhan. "Kakak tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah mendengar semuanya tadi. Dan aku akan belajar untuk mengerti perasaan dan keinginan suamiku sendiri."


"Tapi, itu tentu saja bukan seperti yang kamu dengar, Al. Aku tidak mencintai Elmeera."


Ia tertawa sumbang. "Elmeera ? Ku pikir tadi telingaku salah menangkap nama seseorang yang kakak sebut. Jua harapku itu adalah sebuah kesalahan yang ku dengar. Nyatanya tidak. Itu adalah sebuah kenyataan yang menikamku."


Mata sembabnya menyipit seiring senyum miris yang tercetak jelas dari bibir merah merona nan mungilnya. "Bantu aku mencerna dengan baik bahwa suamiku jua merindukan perempuan lain selain aku sekarang. Perempuan di masa lalunya, yang pernah berjuang bersama melewati masa-masa sulit."


"Tapi, aku dulu tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan Epmera seperti yang kamu pikirkan itu."


"Memangnya kakak tahu apa yang sedang aku pikirkan ?"


Bibir Reyhan terkatup rapat dibuatnya.


"Tidak 'kan ?"


Ia bangkit dan merubah posisinya. Duduk bersandar bersama selimut yang berada dalam peluknya.


"Tidak ada hubungan persahabatan antara perempuan dan lelaki yang tidak melibatkan hati dan perasaan," ucap tegas dengan tatapan tajam.


"Aku tidak mencintai Elmeera, Al."


"Tapi, dia mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara," ucapnya menyambar dengan cepat kalimat Reyhan.


"Biarlah. Jika pun kakak juga memiliki rasa yang sama dengannya. Memangnya aku bisa apa ? Bukankah tiada seorangpun yang mampu mengendalikan hati dan perasaan orang lain ?" lanjutnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Dan juga senyum yang mengenaskan.


"Bagaimana aku harus menjelaskan padamu, Al ? Bahwa aku benar-benar tak menaruh perasaan apapun pada Elmeera."


"Usahlah bersusah payah menjelaskan apapun padaku, Kak. Lagipula, aku juga sudah tak tahu menanggapi apa hal ini."


"Aleea ?"


Dering ponselnya yang ia letakkan disampingnya mampu mengalihkan pikirannya sebentar saja. Ia menatap layar ponsel yang memperlihatkan sebuah panggilan dengan nama kontak Mikayla Sisilia. Tanpa berpikir panjang ia menyentuh ikon telepon berwarna hijau itu untuk menerima panggilan sahabatnya.


"Assalamualaikum, Kay," sapanya dengan sendu.


"Wa'alaikumussalam, Ra. Aku sudah menunggumu di kampus. Apakah kamu sudah berangkat dari rumah ?"


"Maaf, Kay. Hari ini aku tidak bisa pergi menemui di kampus. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku sendiri dirumah. Baru kemarin ia keluar dari Rumah Sakit. Dan sekarang keadaannya masih belum pulih total," balasnya dengan tatapan yang menembus netra Reyhan.


"Ah... Padahal aku sudah menunggumu sejak tadi. Tapi, tak mengapa, Ra. Aku paham. Semoga suamimu lekas membaik."


Ia tersenyum. "Aamiin. Terimakasih, Kay. Kita masih bisa bertemu di lain kesempatan."

__ADS_1


"Kenapa kamu harus membohongi sahabatmu seperti itu ?" tanya Reyhan setelah melihatnya memutuskan panggilan.


"Aku berbohong ? Berbohong seperti apa maksud kakak ?"


"Kamu tidak jadi pergi ke kampus karena aku tak mengizinkanmu. Bukan karena hal lain."


"Memangnya kakak mau dikatakan sebagai suami yang mengekang istrinya ? Dan apa aku harus mengatakan hal itu dan membiarkan orang menilai kakak jelek ? Tentu saja tidak! Aku tidak ingin siapapun memberi label yang tak seharusnya pada suamiku."


Reyhan membungkam. Ucapan istrinya mampu menusuk ulu hatinya. Saat ia sudah menoreh luka. Namun, gadisnya itu masih bisa memikirkannya dengan baik.


Ia menatap jam dinding sejenak. Kemudian beralih pada wajah Reyhan yang sudah mulai nampak memucat.


"Sudah waktunya kakak minum obat. Tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan air minum dibawah."


"Aku tidak butuh obat. Aku hanya butuh kamu mendengar penjelasanku."


"Sayangnya aku sama sekali tak berminat dengan penjelasan apapun itu. Dan kesehatan suamiku jauh lebih penting dari sekedar penjelasan yang tak akan mampu aku cerna dengan baik. Otakku belum bisa belajar dengan cepat perihal semacam itu. Maaf."


Ia beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Reyhan sendiri didalam kamar. Langkahnya mengayun menuruni tangga satu per satu.


"Mau kemana, Ra ?" tanya Mama yang sedang duduk menemani Raina belajar di ruang keluarga yang tak jauh dari tangga.


"Ke dapur, Ma. Mengambil air minum untuk Kak Reyhan minum obat."


Mama mengangguk paham. "Kenapa tidak jadi pergi, Nak ?"


"Bagaimana Nadhira tega meninggalkan suami yang masih belum pulih, Ma."


Mama tersenyum bangga padanya. "Terimakasih sudah peduli dan memperhatikan Reyhan sejauh itu, Sayang."


"Iya, Ma. Kak Reyhan 'kan suami Nadhira. Tentu saja Nadhira akan melakukan yang terbaik untuknya. Termasuk menyita waktu lain."


Mama hanya tersenyum menanggapi kalimat polosnya itu.


"Hai, Kak Nadhira. Kemarilah! Ikut belajar bersama Raina."


"Maafkan kakak, Sayang. Kakak tidak bisa menemani Raina sekarang. Karena, kakak tidak bisa meninggalkan Kak Reyhan."


"Kak Reyhan kenapa, Ma ?" tanya Raina polos seraya menatap Mama.


"Kak Reyhan masih sakit, Sayang. Jadi, dia harus istirahat dan Kak Nadhira harus menemaninya."


"Ma, Nadhira tinggal dulu, ya."


Setelah mendapat jawaban Mama. Ia kembali melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air minum untuk Reyhan.


Ia kembali ke kamar dengan langkah hambar. Raut wajah yang datar jua menemaninya.


Didalam laci meja ia mengambil botol kecil berisi obat-obatan yang harus di konsumsi Reyhan. Ia mengambil hanya dua butir obat dan mengembalikan botol tersebut ke dalam lagi.


"Minum obat dulu. Setelah itu kakak istirahat."


"Aleea ?" panggil Reyhan pelan.


"Jangan banyak berkelut. Minum saja dulu obat kakak. Aku tidak mau melihatmu sampai terbaring lagi di Rumah Sakit. Cepatlah!"


"Aku tidak butuh obat itu, Al!" bentak Reyhan.


"Dan aku juga tidak butuh penjelasanmu!" Ia balik membentak Reyhan dengan tatapan nyalang.


"Minum obatmu atau tidak ?" ucapnya dengan nada penuh ancaman.


"Tidak!"

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Jika kakak anfal lagi. Jangan mencariku. Cari saja Elmeera atau Mbak Shalumu itu."


Ia meletakkan obat dan gelas air minum itu diatas meja. Tanpa berbicara apapun ia beranjak menuju pintu.


"Kamu mau kemana ?"


"Kemana saja aku inginkan," balasnya tanpa meoleh.


"Jangan pergi! Tinggallah dikamar."


"Maaf aku tidak bisa bersama suami yang merindukan perempuan lain."


"Dengarkan aku, Al! Jangan membantah ucapan suamimu! Jangan keluar kamar."


Ia membalik badannya dan berjalan kembali ke arah Reyhan.


"Apa yang kakak inginkan lagi ?"


"Dengarkan penjelasanku. Itu saja."


"Baiklah," ucapnya dan duduk disamping Reyhan.


Reyhan menatapnya intens.


"Elmeera adalah sahabatku, Al. Selebihnya aku hanya menganggapnya sebagai adik saja. Karena, waktu itu Raina belum lahir. Aku yang begitu menginginkan adik perempuan begitu bahagia saat bertemu dengannya yang ceria dan polos."


Reyhan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Rasa sayangku padanya tidak lebih sebatas adik. Terlebih saat Mbak Shalu datang dengan segala perhatian yang diberikan padaku tak berbeda pada Elmeera. Sejak itulah aku merasa menemukan keluarga baru disana."


"Perasaan Elmeera padamu. Bagaimana ?"


"Aku tak pernah menanggapi apapun tentang hal itu. Lagipula, Elmeera jua sudah tahu bahwa sekarang aku sudah memiliki istri."


Ia terdiam.


"Aku hanya merindukan adik perempuanku, Al. Jua merindukan Mbak Shalu dengan segala kebaikannya. Sungguh tidak ada perasaan atau niat apapun."


"Jika itu memang benar. Berikan aku waktu belajar untuk menerima hal itu dengan baik. Sehingga, kedepannya aku tak lagi merasa perasaan suamiku terbagi dengan perempuan lain selain aku."


"Aku mencintaimu, Aleea. Sulit bagiku untuk membagi perasaan ini dengan siapapun. Percayalah."


"Aku sudah menerima penjelasan kakak. Sekarang minumlah obatmu."


"Tapi, aku sudah merasa membaik, Al."


"Jangan keras kepala!"


"Baiklah. Aku sudah mulai takut jika melihatmu marah seperti itu."


Ia memberikan dua butiran kecil berwarna putih dan segelas air pada Reyhan.


"Kamu tidak jadi ke kampus, Al ?"


"Tidak. Aku tidak ingin menjadi istri pembangkang yang tidak mendengar ucapan suaminya."


"Bagus. Jadi, hari ini kamu harus melaksanakan tugasmu sebagai istri."


Alisnya terangkat sebelah. "Maksud kakak apa ?"


"Kita akan membuat cucu untuk Mama," bisik Reyhan tepat di telinganya.


"Kakaaaakk!" teriaknya.


Reyhan tergelak dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2