
”Pa, ini tehnya.”
Mama meletakkan secangkir teh hangat yang ia buatkan untuk suaminya diatas meja ruang tamu sebagai jamuan wajib pagi hari.
“Terimakasih, Ma.” Kata Papa tanpa mengalihkan pandangan dari koran yang sedang bacanya.
“Diminum dulu, Pa.” Mama memegang lembut lengan suaminya.
Papa meletakkan koran yang baru saja ia baca disofa, disamping ia duduk dan melepas kacamata baca yang bertengger rapi dihidungnya. Kemudian menyeruput sedikit demi sedikit teh hangat buatan istrinya.
“Hari ini Reyhan dan Nadhira akan pulang ‘kan, Ma ?”
“Iya, Pa. Jadi, Papa jangan ke kantor dulu hari ini. Sambutlah anak dan menantu Papa.”
“Tentu saja, Ma.” Balasnya penuh semangat.
Ditengah perbincangan dua sejoli yang terbilang sudah tidak muda itu. Suara derap langkah kaki tertangkap oleh indera pendengaran mereka semakin mendekat. Suara itu spontan membuat kepala pasangan suami isteri menoleh ke arah pintu utama rumah besar bak istana.
Pemandangan yang Mama dan suaminya tangkap adalah seorang anak muda seumuran menantu mereka berjalan mendekat ke arah ruang tamu. Dengan tampang acak-acakan, baju kaos oblong dan celana jins yang sengaja dirobek tepat di bagian lutut. Membuatnya nampak seperti anak-anak jalanan yang tak terurus.
Papa yang sama sekali tak menyukai sikap dan tingkah laku anak keduanya itu merasa murka. Amarahnya kian menumpuk.
“Darimana saja, Farhan ?” Tanya Papa pelan dengan berusaha mati-matian menahan emosinya.
“Dari rumah temen, Pa.” Jawabnya malas.
“Sudah punya rumah. Tapi, masih saja kelayapan dirumah orang. Nggak malu ?” Geram Sang Papa.
“Pa, udah dong, Pa.” Mama mengelus lembut lengan suaminya mencoba menenangkan.
“Jika dirumah orang lain Ibra lebih dilihat, dianggap dan dihargai sebagaimana mestinya. Kenapa tidak ?”
“Kamu juga, Far. Udah dong.” Kali ini Mama menenangkan Farhan dengan tatapan lembutnya.
Tanpa memperdulikan ucapan Sang Mama. Farhan melanjutkan ucapannya yang sempat terhentikan.
“Bukankah dirumah sendiri Ibram tak lebih hanya sebatas butiran-butiran debu yang tidak berguna ? Dan tinggal menunggu waktu saja untuk segera di singkirkan. Bahkan bisa lebih dari itu. Dimusnahkan.” Lanjut Farhan dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.
Farhan kembali melangkahkan kaki hendak meninggalkan ruang tamu yang atmosfernya mulai terasa panas menuju kamarnya dilantai dua rumah megah mereka.
“Mau kemana kamu ? Papa belum selesai bicara.”
“Farhan lelah, Pa. Farhan butuh istirahat.”
“Papa belum selesai bicara. Tapi, kamu sudah main tinggal begitu saja. Dimana letak sopan santun yang Papa dan Mama tanamkan sejak dulu ?”
Farhan menggeram dalam hati.
“Bicaralah, Pa.” Ucapnya selembut mungkin.
“Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu lakukan ? Kelayapan tiap hati tiap malam.”
“Sangat sadar, Pa. Dan Farhan menyukai itu. Lagipula, untuk apa Farhan berdiam diri dirumah jika dipandang sebelah mata sama orang tua sendiri ? Dan hanya dijadikan bahan perbandingan saja.” Farhan tersenyum miris. Hatinya terasa tercubit mengatakan hal demikian.
“Bicara apa kamu, Farhan ?”
“Tanpa Farhan katakan pun. Farhan yakin Papa tau betul apa yang Ibram maksud. Jika Papa sudah tidak ada berbicara apa-apa lagi. Biarkan Farhan ke kamar.”
Farhan segera membalik badan (lagi) dan berjalan meninggalkan orang tuanya.
“Apa itu yang kamu dapatkan selama berkeliaran diluaran sana ? Bisanya melawan orang tua saja.”
Langkah Farhan terhenti tepat saat kakinya menginjak tangga pertama.
“Papa menyekolahkan kamu bukan untuk itu, Far. Coba kamu lihat kakakmu, sekarang dia sukses diusia mudanya. Karena, dia selalu mendengar setiap ucapan orang tuanya. Tidak seperti kamu!”
Emosi Papa kian memuncak. Begitupun dengan Farhan. Ia merasa, keberadaannya dirumah sudah berarti apa-apa lagi dihadapan papanya.
Dengan emosi yang masih membara. Farhan berjalan mendekati Papa.
“Nah, itulah satu alasan kenapa Farhan enggan berada dirumah ini.” Farhan mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
“Kehadiran Farhan hanya untuk dibanding-bandingkan,” sambungnya.
Ucapan Farhan terhenti ketika ponsel disaku celananya bergetar. Ia mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera dilayar.
Farhan tersenyum sumbang dan menjawab telepon. Dan sengaja membiarkan Si Penelepon mendengar perdebatan yang terjadi antara dia dengan Sang Papa.
“Lihatlah, Pa!” Farhan menunjukkan poselnya pada Papa.
“Wah... Sangat kebetulan sekali. Lihatlah, Pa. Anak kesayangan Papa menelepon. Banggakan saja dia. Supaya dia bisa dengar dan tau. Bahwa, sampai detik ini pun Papa masih memandangnya sebagai seorang Super Hero di keluarga kita.”
Mama membekap mulutnya sendiri. Sama sekali tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Ibram.
“Kenapa semakin hari kelakuanmu semakin menjadi-jadi saja, Farhan ? Kenapa ?”
Air mata Mama luruh lantah menyaksikan perdebatan antara anak dan suaminya itu. Ingin bicarapun tak dapat merubah suasana menjadi lebih tenang.
__ADS_1
“Apa Papa tidak pernah berpikir kenapa Farhan seperti ini ?”
Farhan menatap papanya tajam dengan mata elangnya.
“Itu semua karena Papa. Papa yang tidak bisa melihat dan mengerti apa yang Ibram mau. Papa yang selalu membandingkan Farhan dengan kakak yang jelas-jelas Farhan tidak menyukai itu.”
Amarah Farhan memuncak dan mengendalikan dirinya sepenuhnya. Hingga berbicara dengan orang tuanya sekalipun ia sudah tak mampu lagi untuk tidak meninggikan suaranya.
“Itu juga karena kamu yang tidak mau mendengar ucapan Papa. Papa seperti demi kamu kebaikan kamu.”
Farhan tersenyum sumbang mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Papa.
“Demi kebaikan Farhan atau kebaikan Papa ?”
Papa terdiam dan menatap tajam anak keduanya itu. Dua pasang mata pun beradu pandang dengan pancaran kilatan emosi yang menyala-nyala.
“Kakak!”
Mama yang tadinya hanya bisa berdiam diri tanpa aksi kecuali menangis menyaksikan perdebatan hebat suami dan puteranya itu berlari menuju Reyhan yang baru saja datang.
“Tolong lerai mereka, Kak. Mama mohon.”
“Mama tenang ya.” Reyhan mengelus lembut pundak Mamanya.
“Ah... Anak kesayangan Papa akhirnya datang juga. Jadi, bolehkah Farhan ke kamar ? Farhan capek dan butuh istirahat.” Kata Farhan dengan senyuman mengejek.
Perlakuan Farhan nyatanya mampu membuat amarah Reyhan terpancing.
“Apa-apaan kamu, Far ? Begitu cara kamu bicara dengan orang tua ? Dimana kamu letakkan adabmu hah ?” ucap Reyhan tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Ah... cukuplah, Kak. Usahlah kakak ikut-ikutan menyalahkan Farhan seperti itu.”
“Oh... Farhan lupa. Kakak dan Papa ‘kan sama. Hidup dilingkaran yang sama pula. Wajar saja jika perbuatan kakak pada Farhan tak ada bedanya. Cih.. anak dan Bapak sama saja.” Lanjutnya setelah sebentar menjeda ucapannya.
Reyhan dan Mama melotot tak percaya dengan sikap Farhan.
Berbeda dengan Papa. Melihat kelakuan Farhan yang dianggap melampaui batas. Emosi Papa benar-benar tak mampu lagi terbendung. Ia mendekati Farhan dan melayangkan satu tinjuan penuh amarah.
Sebelum tinjuan itu mendarat di wajah Farhan. Reyhan dengan refleks mendorong adiknya. Dan...
Bugh!
Tinjuan Papa tepat mengenai Reyhan yang menyebabkan dirinya tersungkur. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
“Kakak!” teriak Mama dan Farhan bersamaan.
Reyhan menyeka darah yang keluar dari bibir dengan punggung tangannya. Kemudian, ia tersenyum miris. Miris sekali.
Bukanlah ia miris pada kondisinya yang menyedihkan. Namun, miris dengan kenyataan yang disuguhkan dimana Sang Papa dan adiknya selalu terjebak dalam perdebatan tanpa solusi. Yang menurutnya topik perdebatan di antara mereka bukanlah hal yang besar. Tapi, kenyataannya selalu menjadi besar karena sering melibatkan amarah.
“Kakak nggak apa-apa ?” Tanya Mama penuh rasa khawatir ditengah isakannya yang belum kunjung berhenti.
Reyhan hanya mengangguk. Hatinya ngilu melihat air mata itu mengalir dengan derasnya dipipi mamanya.
“Ma, jangan nangis lagi.” Reyhan mengusap lembut jejak-jejak air mata Sang Mama.
“Maafin Papa, Nak.” Sesal Papa seraya duduk didekat Reyhan.
“Sudahlah, Pa. Reyhan tidak apa-apa.” Jawabnya tersenyum.
“Ma, boleh Reyhan minta tolong untuk membersihkan luka Reyhan ?”
“Ayo, Nak. Ikut Mama.”
“Disini saja, Ma.”
“Iya sudah. Duduklah diatas. Tunggu Mama ambilkan kotak obat sebentar.”
Mama berjalan meninggalkan tiga lelakinya itu diruang tamu. Sementara ia bergegas mengambil kotak obat untuk mengobati luka dibibir anak sulungnya.
Reyhan berusaha berdiri untuk duduk lagi disofa.
“Farhan bantu, ya, Kak.” Tawar Farhan.
“Kakak bisa sendiri.” Jawabnya dingin.
Suasana ruang tamu terasa mencekam. Atmosfer ruangan pagi ini begitu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
“Pa, Reyhan mau ngomong. Boleh ?”
“Bicaralah, Kak.”
Reyhan mengatur napasnya sebelum angkat bicara.
“Pa, Reyhan dan Farhan itu dua orang yang berbeda. Bisakah Papa untuk tidak lagi membanding-bandingkan kami berdua ? Dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Farhan bukan lagi anak kecil, Pa. Reyhan yakin Farhan mampu menentukan jalan terbaik untuk dirinya sendiri.”
“Papa melakukan itu demi kebaikan Farhan, Kak. Sebagai orang tua, Papa tidak ingin anak-anak Papa terjerumus dengan hal-hal yang salah.”
__ADS_1
“Reyhan tau, Pa. Reyhan paham betul kekhawatiran Papa. Tapi, apa Papa sadar ? Sejauh ini Papa terlal mengekang Farhan.”
Papa membungkam. Mulutnya kelu untuk sekedar berucap meski hanya satu kata saja.
“Dan kamu, Far. Kamu memang berhak mencari jalanmu sendiri. Tapi, tidak begini caranya. Tak bisakah kamu menggunakan cara yang lebih baik dari ini ? Lihatlah penampilanmu sekarang! Seperti orang tak terurus saja. kamu bangga dengan rupa seperti itu ?”
“Papa yang sudah membuat Farhan seperti ini.”
“Kenapa harus Papa yang kamu salahkan ? Bukankah yang menginginkan seperti itu kamu sendiri ? Seharusnya kamu bisa membuktikan dengan cara yang lebih baik ke Papap. Kakak yakin Papa akan mengerti juga.”
“Tapi, Kak...”
“Tak perlu tapi-tapian. Kamu sudah besar. Kakak percaya kamu masih bisa berpikir dengan baik.”
“Pa, Reyhan ke kamar dulu ya. Mau ganti baju. Bilang ke Mama Reyhan tunggu dikamar saja.”
Tanpa menunggu jawaban apapun. Reyhan melenggang begitu saja meninggalkan ruang tamu .
Didalam kamar Reyhan duduk dipinggiran ranjang dan mengusap kasar wajahnya. Menjambak rambutnya frustasi. Melampiaskan amarah yang sejak tadi mengungkung dirinya.
Tok. Tok. Tok.
“Kak, ini Mama.”
“Masuk, Ma. pintunya tidak dikunci.”
Pintu kamar Reyhan terbuka dan masuklah Mama dengan kotak obat ditangannya.
“Sini biar lukanya Mama bersihkan dulu.”
Mama memulai kegiatannya membersihkan luka dibibir anaknya bekas tinjuan Sang suami. Ringisan demi ringisan yang ia dengar dari Reyhan membuatnya semakin merasa kasihan.
“Ssshhh... pelan-pelan, Ma.”
Mama meletakkan kotak obat dimeja samping tempat tidur Reyhan. kemudian, ia mengambil tempat duduk kembali disamping anaknya. Saat itulah Mama tersadar bahwa baju yang dikenakan Reyhan sudah dipenuhi dengan darah yang sudah mengering.
“Dibaju kakak kok banyak darah. Darah siapa ?”
“Ini bekas darahnya Nadhira, Ma.”
“Nadhira ? Dia kenapa ?”
“Nadhira semalam alergi. Muntah-muntah parah. Dan akhirnya muntah darah pula.”
“Bagaimana bisa itu terjadi ?”
Belum sempat Reyhan menjawab pertanyaan Mia. Ponselnya lebih dulu berdering.
“Sebentar, Ma. Reyhan angkat telepon Bara dulu.” Izinnya pada perempuan disampingnya.
“Iya, Bar. Kenapa ?”
“...”
“Oh iya, Dek. Maaf. Aku kira tadi Abang.”
Bibirnya tersenyum manis setelah mendengar suara dari Si Penelpon. Rasa sakit karena luka disudut bibirnya pun sama sekali tak ia rasakan.
Mama ikut tersenyum melihat sikap anak sulungnya.
“Aku dirumah, Sayang. Tunggu sebentar, ya. Aku ganti baju terus langsung kesana.”
“...”
“Iya, Sayang. Baik-baik disana.”
Telepon terputus.
“Ma, Reyhan bersih-bersih dulu. Setelah itu, Reyhan langsung ke Rumah Sakit lagi.”
“Nadhira di Rumah Sakit, Kak ?”
“Iya, Ma.”
“Sendirian ?”
“Sama Bara kok, Ma.”
“Iya sudah sana gih cepetan bersih-bersihnya. Jangan biarkan istrimu menunggu terlalu lama. Lagipula, dia sedang sakit.”
“Baik, Ma.”
Mama pergi meninggalkan Reyhan yang hendak membersihkan dirinya.
Sebelum Reyhan benar-benar bergegas ke kamar mandi. Memori otaknya kembali memutar kejadian-kejadian perdebatan Papa dan Farhan.
“Sampai kapan akan terus begini ?” Bisiknya lirih pada diri sendiri.
__ADS_1
___To Be Continued___