Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 97


__ADS_3

Matanya yang basah nampak menyipit seiring bulan sabit yang terbit dari bibir merah meronanya. Tatapannya terarah pada sesosok lelaki yang tengah duduk bersandar dengan kepala di tengadahkan ke atas. Langkah kakinya lebar ke arah lelaki itu.


"Sayang ?" panggilnya berbisik ditelinga Reyhan yang masih menutup matanya.


"Hei! Kenapa kamu datang kemari ?" Reyhan menarik tubuhnya dan menenggelamkan wajah di perutnya yang mulai nampak.


Ia mengelus lembut rambut suaminya. "Aku khawatir dengan keadaanmu. Itulah kenapa aku datang."


"Aku baik-baik saja, Sayang."


Ia sadar bahwa ia datang bersama sahabatnya. "Sayang, aku kesini bersama Mikayla."


Sontak Reyhan mengangkat wajahnya. Menatapnya penuh tanda tanya.


"Dimana Mikayla ?"


Tatapannya mengarah pada seorang perempuan yang berdiri diambang pintu. Reyhan mengikuti arah tatapannya.


"Masuklah, Mikayla! Jangan berdiam diri disana," ucap Reyhan dengan sopan.


"Tidak. Aku akan langsung balik ke kampus sekarang."


Ia mendekati Mikayla yang tak jua beranjak dari ambang pintu. Tentu saja diikuti oleh Reyhan disampingnya.


"Terimakasih, Kay," ucapnya tulus.


"Iya. Untuk sahabatku, aku akan melakukan yang terbaik."


"Terimakasih sudah menemani istri saya, Mikayla."


"Sama-sama, Kak. Kayla khawatir jika membiarkan Nadhira pergi sendiri dalam keadaan kalut. Jua dia sedang hamil muda."


Ia tersenyum manis. Bangga sekaligus bahagia memiliki sahabat sebaik Mikayla.


"Tapi, aku hanya ingin mengingatkan satu hal padamu, Ra," lanjut Mikayla.


Alisnya terangkat sebelah. "Apa ? Tolong jangan aneh-aneh, Mikayla Sesilia."


"Jangan bermesraan di hadapanku yang belum memiliki pasangan ini. Aku takut terbawa perasaan. Memangnya kamu mau bertanggungjawab jika terjadi seperti itu ?"


Ia tergelak. Tak terkecuali Reyhan.


"Itulah kenapa aku sarankan kamu juga segera menikah."


"Memangnya aku bisa memaksa jodoh, Ra ?"

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan segera meminta Abang untuk segera menikahimu."


"Ah... Aku balik dulu," jawab Mikayla dengan pipi memerah.


"Menikah itu enak, Kay. Sungguh. Iya 'kan, Sayang ?" ucapnya dengan mesra dan mencari dukungan dari Reyhan.


Dengan semangat Reyhan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja."


"Ah... Saat bertemu Abang nanti. Akan ku berikan dia petuah bijakku agar segera mempersuntingmu, Kay."


"Jangan macam-macam, Nadhira."


"Aku sudah tak sabar untuk menjadi adik iparmu," ucapnya diiringi tawa.


"Terserah kamu sajalah berkata apa. Aku permisi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," balasnya bersamaan dengan Reyhan.


"Tunggu saja keluarga besar Prayudha segera ke rumahmu, Mikayla," ucapnya setengah berteriak dan mendapati Mikayla mengangkat sebelah tangannya ke udara.


Reyhan membawanya duduk di sofa yang ada didalam ruangan. Menyenderkan kepala pada pundaknya.


"Kak ?" panggilnya tiba-tiba dengan semangat.


"Hmmm."


"Tidak."


"Ayo pulang."


"Kenapa ?" tanya Reyhan bingung.


"Aku akan membuatkanmu masakan baru yang Mama ajarkan padaku."


"Baiklah. Tapi, aku akan menemui Tio dan Rianti terlebih dulu."


Ia mengangguk.


_____


Perlahan mobil milik Reyhan berhenti didepan rumah besar dan megah bercat putih itu. Reyhan turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu kemudi untuknya. Perempuan berjilbab hijau muda yang biasa dipanggil Istri Kecil.


"Silahkan, Tuan Putri!" ucap Reyhan seraya menundukkan setengah badannya.


Ia terkekeh geli mendengar ucapan suaminya. Iya. Reyhan selalu memperlakukannya dengan istimewa. Meskipun, di tengah perjalanan perdebatan kecil ataupun kecewa kadang menyapanya secara tak sengaja.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Sayang. Aku malu," ucapnya dengn senyum mengembang dan pipi bersemu merah.


Reyhan mengangkat badannya dan berdiri tegak. "Lho, kenapa pipimu merah seperti itu, Sayang ?" tanya Reyhan menggodanya.


"Sayang!" tegasnya dan berpura-pura marah.


"Baik. Baik. Aku tidak akan menggodamu. Ayo masuk!" Reyhan merangkulnya dengan mesra. Sesekali tangan nakal Reyhan bermain di perutnya yang mulai nampak terlihat buncit.


"Semoga anak kita sehat selalu dan tumbuh kembang dengan baik dalam rahimmu, ya, Aleea."


"Aamiin."


"Tapi, bayi kita tidak pernah menyusahkanmu, Sayang ?"


"Tentu saja tidak. Aku bahkan sangat menikmati masa-masa hamilku. Walaupun kadang ngidamku aneh dan rasa mual menyerangku tanpa ampun. Tapi, aku menyukainya. Karena, itu salah satu perjuangan perempuan hamil seperti yang dikatakan Bunda dan Mama."


"Iya, Sayang."


Keduanya melangkah pasti memasuki istananya. Meniti langkah demi langkah diiringi canda. Sesekali ia tergelak keras mendengar lelucon yang dilontarkan Reyhan.


"Nanti badanmu pasti akan terlihat gemuk, Al. Dengan tubuh pendekmu ini. Kamu akan nampak seperti bola berjalan," ucap Reyhan dan tertawa keras.


"Biarkan saja. Setelah aku melahirkan. Tubuhku akan kembali seperti semula." Ia membela diri.


"Kembali kurus maksudmu ?"


"Tidak! Kembali ideal," jawabnya tak mau kalah.


Mendengar ucapannya yang begitu percaya diri. Reyhan kembali mengeluarkan tawanya dengan sangat keras. Memegang perut yang terasa sakit karena lelah tertawa.


"Ideal macam apa maksudmu, Al ? Bahkan, tubuhmu jauh dari kata ideal. Dasar manusia penuh percaya diri."


"Oh tentu saja. Aku harus percaya diri. Tapi..." kalimatnya tergantung.


"Tapi apa ?"


"Tapi, aku sudah lapar," ucapnya dengan malu-malu.


Reyhan semakin tergelak melihat tingkahnya. "Astaga, Sayang. Kenapa harus malu-malu seperti itu ?"


"Aku tidak malu!" bantahnya cepat.


"Baiklah. Kamu mau makan apa ?"


"Aku mau makan mie instan buatanmu, Sayang," ucapnya dengan manja.

__ADS_1


Sejenak Reyhan terdiam. "Baiklah."


Tatapannya berbinar. Ia mendaratkan ciuman singkat di pipi suaminya. "Suami terbaik."


__ADS_2