
Ia menatap lekat-lekat kue pisang yang ada didalam kantong plastik hitam itu. "Melihat kue pisang ini membuatku rindu pada Bunda."
Reyhan mengelus puncak kepalanya. "Nanti kita ke rumah Bunda, ya, Sayang."
"Benarkah ?"
"Iya, istriku."
"Kak, berikan saja kue pisang ini pada karyawan kakak dikantor."
"Memangnya kamu tidak ingin memakannya, Al ?"
"Aku tidak mungkin menghabiskan kue sebanyak ini sendirian, Kak."
Reyhan tertawa kecil.
_____
Senyum Reyhan mengembang saat kakinya menapak di gedung perusahaan yang ia bangun mati-matian bersama Papa. Sesekali ia menundukkan kepala saat i berpapasan dengan karyawan yang lebih tua darinya.
"Rianti," panggilnya sesampai didepan ruangan.
Rianti segera mendekatinya. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu ?"
"Tidak. Tapi, saya membawa kue pisang banyak. Silahkan kamu cicipi bersama karyawan lainnya."
"Lho, Pak ?"
"Tak mengapa. Ambil saja. Tadi, istri saya membelinya di jalan."
Rianti menerima kantong plastik dari tangannya. Selepas itu ia berlalu memasuki ruangan.
Tak lama ia mendudukkan dirinya. Pintu ruangan sudah terketuk. "Masuk!"
Ia mendapatkan Tio melangkah ke arahnya dengan setumpuk map berupa warna.
"Pak, ini laporan perusahaan untuk bulan ini. Bapak bisa lihat."
"Terimakasih banyak, Tio. Saya akan periksa dulu."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi keluar."
Ia mengangguk.
Reyhan membongkar satu per satu berkas yang dibawa Tio. Menelaah setiap isinya.
Ia menghela napas panjang saat ia menutup map terakhir. Memeriksa berkas saja sudah membuatnya lelah.
"Ssshhh," ringisnya. Ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Obat. Obat," ucapnya. Ia bangkit dari kursi kebesarannya. Namun, rasa kian menderanya.
Dengan tertatih ia meraih obat yang diletakkan di atas meja.
"Astaghfirullah." Berulang kali ia beristigfar.
Tepat saat ia mampu meraih obatnya. Ia hilang keseimbangan. Ia jatuh bersama obat yang di genggamnya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia berusaha meraih obat yang jatuh ke bawah meja. Namun, bukannya berhasil didapat. Justru, obat tersebut semakin tergeser ke tengah.
Bersamaan dengan itu. Ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di saku celananya.
__ADS_1
"Aleeana," ucapnya berbisik dan menerima panggilan itu.
"Urusanku di kampus sudah aku selesaikan. Tapi, bolehkah aku bertemu dengan Finza dan Mikayla terlebih dulu ? Sementara aku menunggu kakak datang menjemputku."
"Aleea," panggilnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Kak ? Kakak tidak apa-apa 'kan ?"
"Dadaku sakit sekali, Al." Ponsel yang digenggamnya jatuh dan tergeletak sembarang diatas lantai. Ia mengaduh kesakitan.
"Kak! Kakak mendengarku tidak ?"
Suara decit pintu ruangan tak mengalihkan pandangannya. Ia masih berusaha obat yang jauh terjatuh dibawah meja didalam ruangannya.
"Astaga! Pak Reyhan kenapa ?" tanya Tio yang baru saja memasuki ruangan dan berlari mendekatinya yang sudah terkapar dilantai.
"Bolehkah saya meminta tolong untuk mengambilkan obat saya yang terjatuh dibawah meja sana ?" Ia menunjuk ke arah bawah meja.
Tio mengikuti arah jemari telunjuk bosnya itu. Mendapati botol kecil yang tergeletak bebas dibawah meja. Lantas bergegas mengambilnya.
"Ini, Pak," ucap Tio seraya menyodorkan botol kecil itu. "Mari saya bantu." Tio membantunya bangun dan duduk di sofa.
"Ponsel saya ?"
"Oh disana. Tunggu saya ambilkan sekarang, Pak Reyhan."
"Kak! Jawab aku!"
Ia mendengar dengan jelas suara istrinya di seberang telpin dengan nada khawatir. Sudah dapat ia pastikan bahwa istri kecilnya itu menangis tersedu.
"Aku baik-baik saja, Al," ucapnya setelah menerima ponsel yang diambilkan Tio untuknya.
"Usahlah, Al. Biar aku yang kesana menjemputmu."
"Assalamualaikum."
Sambungan terputus sebelum ia menjawab salam istrinya.
"Apa saya perlu mengantarkan Bapak ke Rumah Sakit ?"
"Tidak perlu, Tio. Terimakasih. Saya sudah merasa membaik."
"Saya kira Bapak sudah benar-benar sembuh dari penyakit itu."
Ia tertawa sumbang. "Saya juga berpikir seperti itu. Tapi, nyatanya tidak."
Ia menghela napas dalam-dalam. "Saya juga tidak tahu sampai kapan saya mampu bertahan dengan penyakit ini."
"Bapak jangan bicara seperti itu. Saya yakin Bapak akan sembuh."
"Entahlah, Tio."
_____
Di gedung besar bertingkat tiga itu Nadhira dengan senyum mengembang melangkah ke luar dari ruangan tempat ia berkonsultasi. Hatinya tenang saat harapannya terpenuhi.
"Aku harus segera memberitahu Kak Reyhan berita gembira ini."
Ia merogoh tas jinjingnya. Mengambil ponsel yang ia simpan didalamnya. Mencari nama kontak Reyhan.
"Hei!" sapa seseorang dari belakang seraya menepuk pundaknya pelan.
__ADS_1
"Astaghfirullah," ucapnya dan menoleh. "Kayla ? Kamu sudah membuatku kaget."
"Maaf. Maaf," ucap Mikayla dengan tersenyum lebar.
"Ah... Lama tak bertemu denganmu membuatku rindu. Sunggu." Ia memeluk erat Mikayla.
"Aku jua merindukanmu." Mikayla membalas pelukannya tak kalah erat.
"Mari bersua dengan Finza. Mumpung kamu ke kampus."
"Ide yang bagus, Mikayla Sesilia. Tapi, aku harus meminta izin suamiku dulu."
"Tunggu apalagi ? Cepatlah hubungi suamimu."
Tanpa berpikir panjang ia menscroll layar ponselnya. Mencari kontak dan menghubungi Reyhan.
Ia tertegun saat panggilan tersambung. Bukan suara berat dan lembut yang ia dengar. Melainkan suara lemah penuh kesakitan.
Tubuhnya bergetar. Ia memilin ujung jilbabnya sembarang. Air mata tergenang sempurna. "Sayang," panggilnya lirih. Bukan balasan yang ia dapatkan. Hanya suara rintihan penuh kesakitan.
"Ra, kamu kenapa ?" Mikayla sedikit mengguncang tubuhnya yang masih tertegun.
"Suamiku..." kalimatnya tergantung. Bibirnya kelu hanya untuk sekedar berucap.
Ia menggigit bibir bawahnya mendengar rintihan suaminya. Otaknya seketika membayangkan bagaimana wajah kesakitan itu tengah berjuang. Bagaimana tangan kekar itu mencengkeram kuat dadanya yang.
"Aku harus ke kantor Kak Reyhan sekarang, Kay," ucapnya histeris.
"Iya. Iya. Tapi, kamu harus tenang dulu."
"Aku tidak bisa tenang, Kay. Suamiku sedang membutuhkan aku sekarang." Tangisnya pecah seketika. Air matanya luluh lantah tanpa ampun.
"Suamiku anfal lagi, Kay. Suamiku sakit," ucapnya terbata-bata disela isaknya.
Sebentar ia menatap Mikayla. "Aku harus menemui suamiku, Kay."
"Iya, Ra. Aku akan menemanimu sekarang."
Ia mengangguk dan menenggelamkan wajahnya pada ditubuh Mikayla.
"Tenang, Ra. Jangan menangis seperti ini."
Ia sedikit mendorong tubuh Mikayla dengan lembut. "Suamiku pasti akan baik-baik saja 'kan, Kay ?" tanyanya begitu lirih dan memilukan.
"Iya, Ra. Suamimu akan baik-baik saja. Percayalah."
Ia mengelus perutnya lembut dan berbicara. "Sayang, ikut berdo'a bersama Mama, ya, Nak. Semoga Papa baik-baik saja."
Mikayla merasa kasihan melihatnya.
"Aku ke kantor sekarang, ya, Kay."
"Aku akan menemanimu. Aku takut membiarkanmu pergi sendiri dalam keadaan kalut seperti ini. Lagipula, kamu sedang hamil muda. Aku takut terjadi apa-apa denganmu."
"Tenang saja, Kay. Aku akan baik-baik saja."
"Tidak! Aku harus menemanimu." Mikayla tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Ayo! Berangkatlah sekarang menggunakan mobilku."
"Kay, terimakasih," ucapnya dengan mata yang masih basah sempurna. Ia melihat Mikayla tersenyum manis padanya.
__ADS_1