
kamarnya. Ia merasa bosan sendiri setelah ditinggal ke kantor oleh Reyhan.
Ia menatap ponselnya yang tergeletak diatas nakas samping tempat tidur.
“Aku bosan. Lebih baik aku menelepon Bunda saja untuk menemaniku,” ucapnya berbicara sendiri.
Nadhira menscroll layar ponselnya mencari nama Bunda dan menghubunginya. Namun, ia tak kunjung mendapat jawaban dari seberang. Ia melakukannya berulang kali. Dan mendapatkan hasil yang sama. Nihil.
“Huh!” Ia membuang napas kasarnya.
Pintu kamarnya dibuka. Berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu dan mendapati Mama sedang sibuk entah mengerjakan apa seorang diri.
“Ma ?” panggilnya lembut.
“Eh... Nadhira,” ucap Mama tanpa menoleh.
“Sedang apa, Ma ?” tanyanya berbasa-basi dan duduk disamping Mama tanpa ragu. Sebab, ia sudah mulai terbiasa dengan Mama mertuanya itu. Sama seperti Bunda.
“Mama sedang menyulam.”
“Raina dimana, Ma ?” Ia melempar pandang ke segala penjuru ruangan. Mencari keberadaan adik ipar perempuannya itu.
“Lagi keluar sama Papa. Kenapa, Nak ?”
“O... tidak apa-apa, Ma. Nadhira bosan dikamar sendirian.”
“Kamu mau jalan-jalan keluar juga ?”
“Tidak, Ma. Nadhira ‘kan juga belum lama pulang.”
“Lalu ?” Alis Mama terangkat sebelah.
“Mmm... Nadhira mau belajar memasak pada Mama saja. Boleh, tidak ?” ungkapnya malu-malu.
“Benarkah ?” tanya Mama balik dengan sumringah.
Nadhira mengangguk mantap.
“Baik. Ayo ke dapur. Kita masak untuk makan malam nanti.”
Mama melepas kain dan jarum yang ia gunakan untuk menyulam sembarangan diatas meja ruang tamu. Berjalan menuju dapur diikuti oleh Nadhira di belakang.
“Kita akan masak apa, Ma ?”
“Karena, kamu masih belajar. Kita akan memasak masakan yang sederhana dulu, ya, Nak. Kita masak makanan kesukaan Reyhan.”
“Baik, Ma,” jawabnya ceria.
Nadhira mulai berjibaku dengan alat-alat dan bahan dapur yang sebagian bahkan belum ia ketahui namanya. Dengan bersusah payah dan dengan usaha maksimal ia menyelesaikan setiap instruksi yang diberikan ibu mertuanya. Meski beberapa kali ia mengalami kegagalan. Namun, nampaknya hal itu tak membuatnya menyerah sama sekali.
“Ma, ternyata memasak itu sangatlah tidak mudah, ya.”
“Itu karena kamu belum terbiasa saja, Sayang.”
“Benarkah, Ma ?”
“Iya, Nak. Dulu Mama saat awal-awal menikah pun juga sama seperti kamu. Belum bisa memasak.”
__ADS_1
“Tapi, Nadhira menyukai pekerjaan ini, Ma.”
“Memang seharusnya begitu, Nak. Untuk bisa melakukannya dengan baik dan tanpa beban. Kamu harus terlebih dulu mencintai pekerjaan itu.”
Nadhira hanya mendengar ucapan Mama.
“Mama selalu mengajarkan hal itu pada anak-anak Mama. Terlebih Reyhan. Karena, dia adalah penerus Papa untuk memimpin perusahaan.”
Ia hanya mengangguk menanggapi kalimat-kalimat yang diucap mertuanya itu.
“Tapi, Reyhan terlalu menggilai pekerjaannya. Sampai dia lupa bahwa tubuh dan otaknya butuh di istirahatkan. Dia sering jatuh sakit karena kelelahan. Dan Mama selalu memarahinya.”
Mama terkekeh.
“Namun, bagaimana pun marahnya Mama. Dia selalu mempunyai cara untuk membuat amarah Mama mereda.”
“Sesekali dia berlaku layaknya anak kecil. Sepulang dari kantor, ia akan menceritakan setiap kegiatannya pada Mama. Termasuk bercerita tentang kamu,” lanjut Mama.
Nadhira menatap Mama.
“Ma, aku ingin bercerita sedikit tentang gadis kecilku. Aleeanaku,” ucap Mama menirukan Reyhan.
Nadhira sontak tertawa. Ia begitu menikmati suasana dapur bersama sang mertua. Memasak sesuatu meskipun lebih banyak campur tangan Mama.
“Reyhan sering sekali menceritakan Aleeananya pada Mama. Dan Mama selalu temukan senyum berbeda dari biasa saat ia bercerita tentang itu.”
“Benarkah, Ma ?” tanya Nadhira.
“Iya, Nadhira. Ia bercerita dengan bangga tentang kecantikan Aleeana. Dan ternyata benar, Aleeana milik Reyhan memang cantik. Sama seperti namanya, Nadhira Aleeana Prayudha.”
Nadhira tersipu. Pipinya terasa panas mendengar pujian Mama.
“Ma, jangan memujiku berlebihan seperti itu.”
“Itu memang benar adanya, Sayang.”
Nadhira memeluk Mama. Kini ia bukan lagi hanya merasa tersipu. Ia sedikit terharu dengan pujian-pujian Mama.
“Ajari Nadhira menjadi istri yang baik untuk Kak Reyhan, ya, Ma.”
Mama membalas pelukan Nadhira. “Iya, Nak. Kalian berdua masih sama-sama belajar. Karena, kalian adalah pasangan muda. Menikah di usia seperti kamu memang tidak mudah, Nak. Kamu perlu kesiapan mental.”
Ia melepas pelukannya ditubuh Mama. “Apakah Nadhira bisa menjadi istri yang baik, Ma ?” tanyanya ragu.
“Tentu saja bisa, Sayang. Dan perempuan manapun bisa menjadi istri yang baik. Asal ia mau berusaha.”
“Iya, Ma. Nadhira akan berusaha sebisa Nadhira. Tetap ajari Nadhira, ya, Ma. jika Nadhira salah, jangan pernah sungkan untuk menegur Nadhira. Agar Nadhira tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari.”
“Ya Allah, menantu Mama. Tentu Mama akan membantumu, Nak. Mama tahu betul bagaimana rasanya. Karena, Mama juga menikah dengan Papa di usia yang masih muda. Bahkan lebih muda dari kamu.”
Nadhira menatap Mama dengan eksperesi yang susah diartikan sebelum ia angkat bicara lagi. “Benarkah, Ma ?”
Mama mengangguk. “Mama menikah di usia delapan belas tahun. Menikah saat Mama belum bisa melakukan apa-apa, masih sedang ingin-inginnya bermain dan menikmati masa muda.”
Mama tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya. “Bahkan, Mama sama sekali tidak mencintai Papa.”
“Lalu ? Bagaimana bisa Mama bisa menikah dengan Papa ?”
__ADS_1
“Tentu saja karena perjodohan. Karena, orang tua kami adalah sahabat yang sudah seperti keluarga.”
“Mama tidak melakukan penolakan sama sekali ?” tanya Nadhira semakin penasaran.
“Jelas saja Mama menolak. Karena, Mama belum siap menikah. Dan Mama tidak tahu sama sekali dengan siapa Mama akan dinikahkan. Mama belum pernah bertemu Papa barang sekalipun.”
Mama hanya tersenyum mengingat kisahnya dengan Papa.
“Terus, Ma ?” tanya Nadhira lagi dengan semangat yang membara.
“Lho, menantu Mama kok semangat begini ?”
“Ma, Nadhira penasaran,” ucapnya polos.
“Orang tua Mama selalu memaksa. Dengan sangat terpaksa Mama menerima perjodohan itu dan menikah dengan Papa.”
“Meskipun Mama tidak mencintai Papa ?”
“Iya. Tapi, Allah memang Maha membolak-balikkan hati manusia, Nak.”
“Maksud Mama ?”
“Setelah Papa menggenggam tangan orang tua Mama dan mengucapkan ijab qabul dengan lancar. Entah darimana rasa itu datang. Seketika, Mama jatuh hati pada Papa. Dan semakin hari, Mama semakin jatuh cinta. Terlebih Papa selalu memperlakukan Mama dengan istimewa.”
“Wah... Papa romantis, ya, Ma.”
“Iya, Sayang. Sampai sekarang Papa selalu romantis.”
“Semoga Kak Reyhan sama seperti Papa, ya, Ma.”
“Mama yakin Reyhan akan melebihi Papa.”
Nadhira tersenyum. “Ma, kapan kita akan selesai memasak jika kita bercerita terus menerus seperti ini ?”
“Oh iya. Mama bahkan sampai lupa bahwa kita sedang memasak.”
Kedua wanita berbeda generasi itu tertawa bersama. Melanjutkan kembali kegiatan memasaknya.
Keduanya sibuk bermain dengan alat memasak yang ada di dapur.
“Alhamdulillah. Akhirnya, selesai juga,” ucap Mama setelah menyelesaikan masakannya.
Nadhira membuang napas lega.
“Ma, Nadhira takut.”
“Takut kenapa ?”
“Takut masakan Nadhira tidak enak dan Papa dengan yang lainnya tidak au memakannya.”
“Tak mengapa, Sayang. Mama yakin, Papa dan yang lain pasti menyukai masakan pertama kamu. Percaya sama Mama.”
“Semoga, ya, Ma.”
Mama tersenyum.
“Lain kali ajari Nadhira memasak lagi, Ma.”
__ADS_1
“Pasti, Sayang.” Mama melempar senyum untuk menantunya.