
"Bagaimana bisa orang-orang mengira bahwa kamu adalah istriku, Ra?" Gelak tawa Bara tak terbendung lagi. Gelak yang begitu keras dan mengudara. Mengisi keheningan mobilnya yang sempat tercipta.
"Apakah kita seperti pasangan suami istri yang begitu serasi?"
Gadis itu mengangkat bahunya. "Barangkali," jawabnya malas dengan mulut penuh berisi makanan.
"Jangan berbicara saat makan, Ra. Kamu sudah lupa pesan Ayah?"
Tatapannya tepat menghujam netra milik Bara. "Abang yang banyak bertanya padaku. Lantas, apa iya aku tidak menjawab salah satu pertanyaan Abang?"
Bara tertawa kecil. "Baiklah. Abang yang salah dalam hal ini."
"Tentu saja. Memang siapa lagi?"
Keduanya kembali diam. Hening.
...***...
"Abang," panggil Nadhira dengan sendu. Gadis itu memilin ujung jilbabnya hingga mengkerut sempurna.
"Kenapa? Kamu mau diam di mobil saja?" tanya Bara berpura-pura. Padahal, ia tahu betul bahwa adiknya itu enggan memasuki rumah karena tak ingin bertemu Reyhan.
"Adik tidak ingin bertemu dengan manusia yang satu itu," ucapnya sedih. Ada rasa kesal yang terdengar juga dari bibir mungil nan ranum itu.
"Seperti saran Abang, jika tak ingin bertemu Reyhan. Kamu bisa saja langsung naik ke lantai dua dan istirahat di kamarmu."
Gadis itu hanya berdiam. Enggan menggerakkan tubuhnya. Apalagi menuruni mobil sang kakak.
"Ayo cepatlah! Bunda juga pasti sudah menunggu. Jika kamu tidak ikut dengan Abang, akan Abang pastikan Bunda menyemprot Abang dengan sejuta pertanyaan tentangmu."
Dengan sangat terpaksa ia turun dari mobil. Melangkah dengan rasa malasnya.
Baru beberapa langkah. Matanya sudah menangkap lelaki tampan tengah berdiri di ambang pintu. Tentu saja menunggu kepulangannya.
Ditatapnya lelaki itu dengan air mata yang tergenang. Bukan karena ia mengingat kejadian di kantor tadi. Tetapi, ia sedih melihat wajah Reyhan yang sudah tampak memucat. Ia bisa pastikan suaminya itu dalam keadaan tidak baik.
Gengsi namanya. Nadhira mengalihkan pandangannya pada perempuan paruh baya di samping Reyhan. Bunda.
"Kenapa diam disitu? Ayo!" Bara menarik tangannya dengan paksa namun pelan. Takut saja jika terjadi sesuatu yang buruk pada adik dan calon keponakannya.
Ia mengikuti begitu saja langkah Bara mendekati Reyhan dan Bunda.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Bara dan mencium tangan Bunda. Tentu saja diikuti oleh gadis berperut buncit itu.
"Lho, sama suami tidak di salami, Nak?"
Sebentar ia menatap suaminya. Kemudian, menggamit tangan Reyhan dan mencium tangan lelaki itu. Persis seperti yang ia lakukan pada Bunda.
"Adik lelah. Boleh 'kan adik langsung ke kamar untuk istirahat?" ucapnya dengan kepala yang ia tundukkan. Namun, tatapannya masih tertuju pada sepasang kaki dengan sepatu pantofel yang tampak bergetar.
Iya. Gengsi tetaplah gengsi. Gadis itu masih bersikukuh dengan keinginannya untuk tidak berbicara dengan Reyhan. Meski jauh didalam hatinya ia begitu khawatir pada kondisi Reyhan yang ia yakini tak baik-baik saja.
"Suamimu disini, Nak. Kenapa mau langsung ke kamar?"
Ia bungkam.
"Al, aku ingin bicara denganmu. Aku tidak ingin ada salah paham lagi."
Bunda menatap keduanya bergantian dengan tatapan bingung. "Kalian sedang ada masalah?"
"Hanya salah paham saja, Bunda," jawab Reyhan.
Sedangkan, gadis itu masih enggan membuka suara. Kepalanya jua masih tertunduk dengan tatap mata yang tak beralih dari sepasang kaki yang tengah bergetar itu. Dalam hati ia menjerit keras. "Kenapa kamu begitu memaksakan diri, Kak? Padahal, jelas saja saat ini kamu sedang berusaha mati-matian menahan sakitmu."
Titik-titik butiran bening itu akhirnya tumpah. Menjelma menjadi derai yang berhasil membuatnya sesenggukan. Sekuat apapun ia menahan, ia tak akan bisa. Dan pada akhirnya, gadis itu menyerah untuk menyembunyikan tangisnya.
"Al!" panggilan Reyhan terdengar begitu lirih. Pun bergetar.
"Kamu masuklah dulu bersama Abang. Biar Bunda yang akan menyusul istrimu."
Reyhan menatap punggung gadis itu dengan sendu hingga menghilang dibalik tangga.
...***...
"Dik! Bunda masuk, ya."
Tanpa menunggu jawaban dari dalam. Bunda memasuki kamar bernuansa biru muda itu. Ia melihat seorang gadis berperut buncit itu tengah meringkuk diatas tempat tidur dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Bunda duduk di pinggiran tempat tidur putrinya. Membelai lembut pundak yang masih bergetar kuat. "Ada apa? Kamu bisa ceritakan pada Bunda?"
Ia bangkit dan memeluk Bunda dengan erat. Rasanya sudah lama sekali ia tak memeluk tubuh yang mulai beranjak tua itu. "Tidak apa-apa, Bunda. Adik baik-baik saja."
"Jika baik-baik saja. Tidak mungkin kamu akan menangis tersedu seperti itu, Nak. Bicaralah pada Bunda."
__ADS_1
Nadhira menyeka air mata yang deras. Kepalanya menggeleng mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi, naluri Bunda memang kuat. Bunda tak secepat itu mempercayai ucapan putri satu-satunya itu. Namun, Bunda pun tak ingin memaksa untuk anak gadisnya itu bercerita. Barangkali berat menceritakan sesuatu yang begitu menyayat hati, begitu pikir Bunda.
"Sebelum kamu datang bersama Abang. Nak Reyhan sudah dua kali datang mencarimu kesini. Dihubungi pun ponselmu sepertinya mati. Habis darimana, Nak?" tanya Bunda lembut.
"Dari rumah Mikayla. Dan adik tak sengaja bertemu Abang disana. Karena itulah adik bisa pulang kesini bersama Abang."
"Kenapa tidak izin dulu pada suamimu, Sayang?"
Ia menghela napas panjang. "Sebelumnya adik meminta izin untuk ke rumah Bunda. Tetapi, adik butuh tempat yang sekiranya bisa membuat adik merasa tenang. Pergilah adik ke danau. Dan setelahnya ke rumah Mikayla."
"Kamu tidak memberitahu Reyhan akan ke danau dan ke rumah Mikayla?"
Ia menggeleng.
"Kenapa?"
"Adik malas berbicara dengannya. Biarkan saja ia menikmati pelukannya bersama perempuan lain."
Mata Bunda melebar. "Apa maksudmu, Dik?"
"Di kantor tadi adik menemukannya tengah memeluk perempuan lain."
"Benarkah?" tanya Bunda kaget. Tapi, dengan segera Bunda bersikap biasa saja.
Ia menganggukkan kepalanya dengan kuat.
"Apakah Reyhan sudah menjelaskan kenapa sampai melakukan hal itu?"
Nadhira terdiam. Dan menggeleng pelan. "Belum. Adik yang tidak ingin mendengar penjelasan apapun darinya. Semuanya sudah jelas."
Bunda tertawa kecil. "Tanpa menedengar penjelasan kamu tidak bisa menyimpulkan apapun, Nak. Apa gunanya telinga jika kamu hanya mengandalkan netramu saja? Apapun yang kamu lihat belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan. Sebab itulah, kamu fungsikan telingamu untuk mendengar penjelasan itu."
"Bisa saja itu hanyalah sebuah kesalahpahaman seperti yang Reyhan katakan tadi," lanjut Bunda.
"Kenapa sepertinya Bunda begitu membela Kak Reyhan?"
"Oh, tentu saja tidak. Bunda tidak sedang membela siapapun. Bunda hanya mengajarimu bagaimana menyikapi masalah dengan baik. Ingatlah! Kamu bukan anak kecil lagi."
Nadhira mengbungkam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Bunda. Kenapa tidak mendengar penjelasan? Bisa saja itu sebuah kesalahpahaman.
__ADS_1
"Sekarang ayo kita turun. Temui suamimu dan dengarkan penjelasannya. Selesaikan masalahmu dengan baik-baik. Jangan menghindar seperti ini."
Bunda merangkul tubuh kecilnya. Menuntunnya turun menemui Reyhan.