
"Lihatlah anak Bunda itu. Ia begitu lahap memakan mangga muda yang kecutnya teramat sangat," bisik Ayah ditelinga Bunda agar tak terdengar oleh anak bungsunya itu.
"Persis seperti Bunda waktu hamil Abang," lanjut Ayah.
"Biarlah, Ayah. Semoga adik benar-benar sedang hamil. Dan itu tandanya sebentar lagi kita akan menimang cucu pertama," ucap Bunda penuh harap.
"Aamiin. Ayah juga berharap begitu, Bunda."
"Bunda, bukannya tadi Bunda juga membuatkan puding buah untuk adik, ya ?" tanyanya setelah melahap habis mangga muda yang dipetik Ayah dirumah Pak Danis untuknya.
"Lho, tadi 'kan kamu yang habiskan, Dik."
"Yaaahh, adik pikir Bunda masih menyisakan sedikit di kulkas," ucapnya lesu.
"Dik, jangan memaksakan diri untuk makan. Tidak baik untuk perutmu. Lagipula, apa kamu belum juga merasa kenyang, Nak ? Dari tadi mulut tak berhenti makan," cicit Ayah.
"Entahlah, Yah. Adik bahkan ingin makan terus menerus."
Bunda hanya tersenyum menatapnya. Bunda benar-benar yakin bahwa anak gadisnya itu tengah mengandung. Sebab, ia mengalami hal yang sama persis seperti Bunda.
"Tunggu sebentar, ya, Nak. Bunda buatkan puding dulu untukmu."
Ia mengangguk dan berpindah tempat duduk ke samping Ayah. "Adik ingin pulang ke rumah Mama, Yah. Tapi, pasti nanti tidak diizinkan Bunda jika Kak Reyhan belum pulang," adunya pada Ayah.
"Tunggu saja suamimu pulang, Nak."
"Tapi, adik ingin makan masakannya Mama, Ayah."
Ayah kalah telak dengan jawabannya. Bisa apa Ayah jika anak gadisnya sudah bersikukuh dengan keinginannya itu ?
"Ayah ?"
"Iya, Nak."
"Adik mau tidur di pangkuan Ayah. Boleh ?"
"Tentu boleh, Sayang."
Ia membaringkan tubuhnya diatas sofa dan berbantal pangkuan Ayah. "Lama tak seperti ini dengan Ayah."
"Iya. Karena, anak gadis Ayah yang manja sudah menjadi istri orang," balas Ayah diiringi tawa kecilnya.
"Jika adik minta diceritakan cerita Malaikat Kecil. Boleh juga kah, Ayah ?" tanyanya seraya mendongak menatap wajah Ayah.
"Kamu 'kan sudah bukan anak kecil lagi, Dik. Sudah tidak lagi diceritakan tentang cerita Malaikat Kecil."
"Tapi, adik ingin mendengar cerita itu lagi dari Ayah. Bagaimana ?"
Ayah hanya membuang napas dengan kasar. Berusaha sabar menghadapi sikap anaknya yang berubah tiga ratus enam puluh derajat itu. "Baiklah. Ayah akan menceritakan cerita tentang Malaikat Kecil untukmu."
Ia tersenyum senang.
Ayah mulai bercerita seperti sedang membacakan dongeng untun Nadhira kecilnya. Rambut yang tak tertutupi hijab itu dibelai lembut oleh Ayah.
Tak sampai setengah cerita, ia sudah tertidur dengan pulas. Napas yang teratur dan dengkuran halus mulai tercipta.
"Ah... Anak gadis Ayah sekarang sudah menjadi istri orang. Dan sebentar lagi akan menjadi orang tua," bisik Ayah.
__ADS_1
"Lho, kenapa tertidur seperti itu ?"
"Biarlah, Bunda. Perempuan hamil memang butuh istirahat banyak. Apalagi Nadhira sedang hamil muda."
Bunda meletakkan puding buah yang sudah ia buatkan untuk anaknya. Kemudian, duduk disamping Ayah. "Yah, kita belum tahu adik benar-benar sedang hamil atau tidak. Apa tidak sebaiknya kita belikan testpack dan memintanya untuk test ?"
"Wah... Ide bagus, Bunda. Ayah bahkan tidak sampai berpikir begitu."
_____
"Bunda, aroma parfum yang Bunda gunakan membuatku mual saja," keluhnya saat ia memasuki kamar Bunda dan mendapati Bunda tengah menyemprotkan parfum dibadan. Ia menutup hidungnya agar aroma parfum itu tak menyeruak lagi.
"Bagaimana bisa seperti itu, Nak ? Ini parfum yang sering Bunda gunakan sejak dulu. Kenapa baru sekarang kamu mengatakan bahwa aroma parfum Bunda membuatmu mual ?"
"Tapi, itu memang benar. Bunda ganti baju saja dan jangan gunakan parfum itu."
Keanehan kali ini membuat Bunda semakin yakin bahwa anaknya sedang hamil. Bunda hanya berpasrah dan mengikuti keinginan anak bungsunya itu.
"Bunda akan membawa adik kemana sore ini ?"
"Jangan banyak tanya, Dik. Ikut saja dengan Bunda."
Langkah Bunda mengalun menapaki satu per satu tangga rumah mewahnya. Ia mengikuti apa yang dilakukan Bunda hingga menapaki tangga terakhir.
"Ayah tidak ikut pergi bersama kita, Bunda ?"
"Ikut, Nak."
_____
Mobil yang ia tumpangi bersama kedua orang tuanya melaju pelan menemhus jalanan di malam hari. Lampu-lampu jalan yang menghias kota kelahirannya begitu tak ingin ia lewati untuk dinikmati.
"Kenapa Ayah berhenti disini ? Ayah ingin membeli obat ? Siapa yang sakit, Ayah ?" ucapnya melempar tanya bertubi-tubi.
"Nak, tak bisakah kamu bertanya satu demi satu ? Jadi, Ayah jelas menjawab pertanyaan yang mana terlebih dulu."
"Oh... Maafkan adik, Ayah."
"Adik tunggu saja disini bersama Ayah. Biar Bunda sendiri yang akan turun."
"Tidak, Bunda! Adik ingin ikut bersama bunda."
"Baiklah," jawab Bunda berpasrah diri.
Ia mengikuti langkah Bunda memasuki Apotek. Aroma obat-obatan seketika menyambut dengan sukarela. Ia menutupi hidungnya dengan tangan agar aroma itu tak lagi tercium.
"Permisi, Mbak," sapa Bunda dengan sopan.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu," jawab seorang perempuan dengan make up menor menghiasi wajahnya.
"Saya mau beli testpack, Mbak."
"Baik, Bu. Tunggu sebentar saya ambilkan dulu."
Selepas kepergian perempuan itu, ia menark tangan Bunda dan berbisik. "Bunda hamil lagi ?" tanyanya dengan polos.
Ingin sekali Bunda mentertawakannya. Namun, Bunda berusaha tak melakukan itu. Bunda takut anak gadisnya itu akan merasa kesal padanya.
__ADS_1
"Itu berarti adik dan Abang akan punya adik bayi. Iya 'kan, Bunda ?"
"Hush! Sudahlah, Dik. Jangan banyak tanya. Nanti juga adik akan tahu sendiri."
Perempuan yang berdiri didepan meja kasir itu kembali dengan benda kecil ditangannya. "Ini, Bu," ucap perempuan itu seraya menyerahkan benda berwarna putih pada Bunda.
Bunda menyerahkan selembar uang kertas dan berlalu keluar. Ia hanya mengikuti kemana saja langkah Bunda membawanya.
Tatapannya tiba-tiba terpaku pada sebuah gerobak di seberang jalan. Didekat gerobak itu banyak orang yang berdiri dan juga duduk menikmati makanan.
"Dik, ada apa ?" tanya Bunda.
"Sepertinya makanan disana enak, Bunda. Adik mau makan itu. Boleh, ya ?"
"Boleh, Sayang. Ayo Bunda temani."
Ia menggandeng tangan Bunda dan menyeberang jalan dengan hati-hati.
Aroma kuah bakso dari gerobak besar itu menyeruak. Selera makannya tiba-tiba datang entah darimana.
"Pak, saya pesan satu porsi baksonya, ya. Di bungkus saja, Pak," ucap Bunda.
Ia hanya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Menemukan orang-orang yang sedang asyik menyantap makan malamnya di pinggir jalan.
Tak butuh waktu lama. Bakso yang dipesankan Bunda untuknya sudah berada di tangan Bunda.
"Kita pulang. Ini sudah malam."
Ia mengangguk dan melangkah berama Bunda. Menemui Ayah yang masih setia menunggu didalam mobil.
"Kenapa lama sekali ?" tanya Ayah dengan kesal.
"Maaf, Yah. Tadi anak gadis Ayah ingin makan bakso di seberang sana."
"Oh," balas Ayah dengan singkat.
"Ayah!" panggilnya dari kursi belakang.
"Bunda hamil lagi ?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tidak. Kenapa bertanya seperti itu, Nak ?"
"Tadi adik melihat Bunda membeli testpack. Jika Bunda tidak hamil. Lalu untuk apa Bunda membeli testpack ?"
"Untuk kamu, Nak."
"Tapi, adik tidak sedang hamil, Yah."
"Kita 'kan belum tahu, Sayang. Makanya Bunda membelikan testpack untukmu. Sebab, Bunda merasa kamu sedang hamil. Sikapmu yang tiba-tiba aneh dan kamu juga menginginkan hal aneh. Persis seperti Bunda dulu saat hamil Abangmu."
"Oh ya ?"
"Iya, Sayang. Besok pagi kamu haris menggunakan testpack ini."
"Tapi, adik takut. Nanti hasilnya sama dengan waktu adik menggunakan testpack beberapa minggu lalu."
"Coba saja dulu, Sayang. Semoga kali ini hasilnya positif."
__ADS_1
"Aamiin."