
"Al ?" panggil Reyhan padanya yang masih berdiri dengan memeluk bantal.
"Hmmm."
"Jadi malam ini kita harus tidur terpisah, Sayang ?" tanya Reyhan dengan tatapan sedih yang dibuat-buat.
"Harusnya tidak. Tapi, aku selalu merasakan mual jika berdekatan dan mencium aroma tubuh kakak. Sungguh."
"Kamu memang aneh jika sedang hamil, Al. Dan keanehanmu itu selalu menyiksaku."
Tatapannya tajam. "Memangnya kakak pikir aku juga tidak tersiksa ?" bentaknya.
"Lho kenapa kamu marah, Sayang ?"
Ia membelakangi Reyhan. Enggan menanggapi pertanyaan suaminya itu.
"Ini sudah larut. Sekarang istirahatlah. Aku akan tidur di sofa dan kamu tidur disini," ucap Reyhan seraya menepuk kasur empuknya. Bangkit dan berdiri dengan susah payah.
Tubuhnya berbalik. "Tidak perlu. Kakak diamlah istirahat di kasur. Biar aku yang tidur di sofa."
"Tidak! Aku akan melakukan apapun untukmu dan calon anak kita. Meski dengan bertaruh nyawa sekalipun. Aku akan selalu memastikan kalian tetap baik-baik saja."
Demi apa ? Kupu-kupu didalam perutnya beterbangan. Ucapan Reyhan membuatnya menjadi wanita terbahagia di dunia. Ingin sekali ia memeluk suaminya itu. Menciumnya berulang kali hingga lelah. Tapi, sesering apapun. Ia tentu tak akan pernah bosan.
Dan sekarang. Keinginannya itu hanya sebatas angan. Kehamilannya membuat ia berjarak dengan lelaki yang sangat di cintainya itu. Tapi, tentu hanya untuk sementara waktu.
"Tapi, aku juga ingin kakak selalu baik-baik saja. Dan tidur di sofa tentu akan membuat tidur kakak tidak nyaman."
"Tak mengapa, Sayang."
Ia terdiam. Berat ia rasakan jika harus membiarkan suaminya tidur di sofa dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Huh!" Ia membuang napas kasar.
"Maafkan aku, Kak. Sungguh aku tak mengada-ngada dengan rasa mualku jika berdekatan dengan kakak."
Reyhan tertawa. "Aku juga tak mengatakan hal itu padamu, Sayang. Aku paham bahwa itu hanyalah efek perubahan hormon dalam tububmu karena sedang hamil."
Bangga rasanya ia memiliki lelaki yang begitu pengertian. Meski sesekali perdebatan kecil dan konyol membuat ia merasa kesal pada Reyhan. Tapi, ia yakin bahwa itu hanyalah bumbu-bumbu dalam perjalanan rumah tangganya.
"Kamu tidurlah, Al. Jika membutuhkan sesuatu katakan saja padaku. Aku akan melakukannya untukmu." Reyhan beranjak menuju sofa didekat pintu.
"Kak!"
"Kenapa, Sayang ?" Reyhan menoleh.
"Lekas membaik. Kasihan anak kita sudah merindukan belaianmu," ucapnya tersenyum.
"Anak kita atau Mamanya, Al ?" goda Reyhan.
__ADS_1
Ia memberengut kesal dan melempar bantal yang dipegangnya ke arah Reyhan. "Kau sangat menyebalkan, Reyhan!" Ia menghentakkan kakinya. Melampiaskan kekesalan yang di buat Reyhan.
"Sayang, jangan seperti itu. Ingat kamu sedang hamil muda," nasihat Reyhan dengan sejuta rasa khawatirnya.
Ia tak peduli. Langkahnya ia ayunkan menuju tempat tidur. Mendaratkan tubuhnya disana.
"Lemparkan bantal itu padaku," titahnya dengan bibir yang ia manyunkan.
"Ambil saja sendiri. Siapa suruh kamu melemparkan bantal ini padaku." Reyhan semakin giat menggodanya. Dan perlahan Reyhan berjalan tertatih hingga sampai pada sofa dekat pintu kamar.
Semakin kesal ia dibuat oleh Reyhan. Tak mampu membendung kekesalan. Tangisnya pecah begitu saja. Suara tangisnya menggelegar mengisi kamar. Hal itu sontak menyita perhatian Reyhan.
"Al jangan menangis seperti itu!"
Ternyata tak hanya Reyhan. Mama tiba-tiba membuka pintu dan masuk begitu saja tanpa permisi. Terpancar jelas aura kekhawatiran diwajah keriput Mama. "Ada apa, Reyhan ? Kenapa Nadhira menangis seperti itu ?"
Setelah sadar dengan posisi keduanya. Mama kaget bukan main. "Apa yang tengah terjadi dengan kalian ? Sampai tidur terpisah seperti itu."
Keduanya terdiam. Saling melempar tatap satu sama lain.
"Reyhan! Nadhira!" bentak Mama.
Tangis yang tadinya mengisi kamarnya kini sirna seketika setelah mendengar bentakan Mama.
"Jelaskan pada Mama apa yang terjadi?!" Mama berdiri di antara mereka dengan berkacak pinggang.
"Mama duduk dulu."
"Iya, Ma. Reyhan akan jelaskan. Tapi, duduk dulu."
Mama duduk di pinggiran ranjang. Didekat Nadhira yang masih tertunduk bersama isak yang sesekali tercipta.
"Mama jangan salah paham dulu. Kami baik-baik saja."
"Lalu ?"
"Hanya saja Nadhira tidak suka mencium aroma tubuh Reyhan. Barangkali karena Nadhira tengah hamil muda. Berada di dekat Reyhan membuatnya mual parah. Kasihan Reyhan melihatnya, Ma. Sebab itulah Reyhan memilih tidur di sofa."
"Oh," balas Mama paham. Mama beralih menatapnya yang duduk diam dengan memeluk lututnya.
"Nah, ini menantu Mama kenapa menangis ?"
Kali ini Reyhan terkekeh. "Kayak Mama tidak tahu saja. Menantu Mama itu 'kan gadis cengeng," ejek Reyhan yang mendapat tatapan tajam.
"Reyhan! Jangan seperti itu. Harusnya kau merayu istrimu. Jangan membiarkannya menangis seperti ini."
Reyhan hanya menggeleng diiringi tawa kecilnya. "Temani saja menantu kesayangan Mama itu tidur disana. Reyhan ingin istirahat terlebih dulu," ucap Reyhan dab membaringkan tubuhnya di sofa.
"Dasar suami durhaka," cibirnya.
__ADS_1
"Sudah, Nak. Sudah. Sekarang kamu juga istirahat, ya, Ra. Supaya kamu selalu sehat terus."
Ia mengangguk.
"Mama tinggal ke kamar, ya, Sayang. Jika ada apa-apa. Jangan sungkan membangunkan Mama."
"Iya, Ma. Terimakasih."
Ia menatap punggung Mama yang kian menjauh. Setelah Mama tenggelam dibalik pintu kamar. Tatapannya beralih pada lelaki yang tengah terbaring di sofa dengan mata terpejam itu. Damai ia melihat suaminya.
"Segeralah membaik, suamiku. Aku dan anak kita sangat membutuhkanmu dalam setiap detik dan hembusan napas. Kau adalah segalanya untuk kami. I love you, Papa."
Tubuhnya ia baringkan. Sesekali ia melihat ke arah Reyhan. Memastikan suaminya tertidur dengan pulas dan dalam posisi nyaman.
Susah sekali ia terlelap. Ia sudah terbiasa tertidur dalam pelukan Reyhan setiap malamnya.
Ia kembali tersentak. Saat Reyhan terbatuk-batuk hingga berulang kali.
"Kak," panggilnya. "Kakak kenapa ?"
Ia bangkit dan melangkah membawa segelas air putih yang selalu ia sediakan diatas meja samping tempat tidur. Ia tak peduli dengan rasa mual yang akab menyerangnya jika berdekatan dengan Reyhan.
"Bangunlah! Minum dulu," ucapnya dengan hidung yang ia tutupi.
Reyhan mengambil alih gelas berisi air dari tangannya. Meminumnya hingga menyisakan setengah dari gelas tersebut.
"Kembalilah ke tempat tidur, Al. Kasihan kamu haris menahan rasa mual seperti itu."
"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku bisa menahannya," jawabnya dengan tersenyum.
"Jangan memaksakan diri, Sayang."
Ia menggeleng. "Sayang," panggilnya lirih.
"Hmmm."
"Tidur bersamaku. Aku tidak bisa tidur jika tidak dipeluk kakak."
"Bagaimana dengan rasa mualmu itu, Al ?"
"Aku baik-baik saja. Kakak jangan khawatir."
Ia membantu Reyhan berdiri. Menuntunnya hingga terbaring kembali diatas tempat tidur. Tak lama ia pun menyusul.
"Al, dadaku terasa tertekan jika terbaring seperti ini. Sesak rasanya," keluh Reyhan.
Air matanya tiba-tiba tergenang. "Kakak ingin posisi bagaimana ? Ayo aku bantu," ucapnya penuh perhatian.
"Aku bersandar saja, ya, Sayang."
__ADS_1
Ia mengangguk. "Ya Allah. Beri kesembuhan pada suamiku. Aku tak kuasa melihatnya seperti ini terus menerus."
Ditatapnya dada Reyhan yang naik turun tak beraturan. "Tidurlah. Aku akan menemanimu disini." Ia menggenggam erat tangan suaminya. Mengelusnya hingga Reyhan terlelap dalam posisi bersandar.