Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 27


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Saat mentari masih dengan malu-malu menampakkan diri menyapa semesta.


Bara sudah bergegas keluar dari kamarnya yang terletak dilantai dua rumah mewah yang ia tempati bersama keluarganya. Dengan setelan baju kaos oblong yang dipadukan dengan celana jins hitam pekat. Dan tak lupa kunci mobil kesayangannya yang ia main-mainkan ditangan kanannya.


“Mau kemana pagi-pagi begini ?” tanya Bunda yang tak biasa melihat puteranya sudah rapi dan bersiap-siap pergi dipagi buta.


“Eeee.. mau jemput adik, Bunda.” Jawab Bara gelagapan.


“Jemput adek ? Kan adek sudah sama suaminya. Buat apa dijemput segala ?”


“Iya. Soalnya adek lag...”


“Jangan bilang kalau Abang mau gangguin mereka.”


“Astagfirullah, Bun. Sama anak sendiri kok suudzon terus sih. Lagian nih ya, Abang belum selesai ngomong juga udah main potong-potong aja.”


“Loh terus ? Kan biasanya juga Abang sering gangguin adek. Wajar-wajar saja dong kalau Bunda bilang seperti itu.”


Bara menggenggam tangan wanita yang melahirkannya itu dengan selembut mungkin.


“Bundaku yang cantik dan baik hati. Yang tentu saja tidak ada duanya di dunia ini.”


Sebelum melanjutkan ucapannya, Bara sudah melihat Bunda memutar bola matanya jengah mendengar rayuan tak bermutunya itu. Membuat ia terkekeh geli.


“Dengarkan Abang, ya. Meskipun begini-begini Abang masih tau diri dan punya adab, Bunda. Adek sekarang sudah menjadi istri orang. Hal yang sangat tidak mungkin jika hanya untuk sekedar mengganggu adek, Abang harus pergi ke hotel tempat mereka menginap atau ke rumah mereka.”


“Iya kan Bunda hanya mengira saja, Bang.”


“Bunda, Abang mau jemput adek ke rumah sakit.” Ucap Bara ragu-ragu.


Mata Bunda membulat sempurna kemudian menatap lelaki tampan yang masih menggenggam tangannya itu. Bara yang mengerti maksud tatapan yang dilemparkan Bunda untuknya dengan tenang membawa tubuh bundanya itu duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu.


“Bunda duduk dulu disini.”


Bunda tidak punya pilihan lain selain mengikuti ajakan anak sulungnya itu.


“Abang minta maaf banget sama Bunda. Tadi malam Abang buru-buru pergi karena di telepon oleh Abraham untuk bawa adek ke rumah sakit. Sebab, Reyhan ke hotel tidak bawa mobil. Bukannya Abang tidak mau memberitahu Bunda. Tapi...”


Bara menghentikan ucapannya. Menghirup sedikit oksigen.


“Tapi Abang tidak ingin Bunda khawatir dan kepikiran.”


“Adikmu kenapa, Bang ?” tanya Bunda penuh rasa khawatir.


“Adek hanya alergi dan berefek muntah-muntah. Sebelumnya dia meminum jus jeruk yang diberikan Reyhan saat makan malam. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan Reyhan dalam hal ini, Bunda. Karena Reyhan tidak tau sama sekali kalau adek alergi dengan jeruk.”


“Sekarang bagaimana keadaan adek ?”


“Hari ini sudah langsung pulang, Bunda. Jadi, Bunda tenang saja. sekarang Abang yang akan jemput mereka ke rumah sakit. Sekaligus mengantarkan mereka ke rumah.”


“Bunda ikut.”


“Jangan, Bun. Nanti kalau Bunda ikut bagaimana dengan Ayah ? Ayah kan pergi ke kantor. Biar Abang saja yang pergi. Abang janji, nanti Abang ajak Bunda ke rumah Abraham untuk jenguk adek.”


Bunda hanya bisa pasrah dengan ucapan Bara. Karena, ia paham dengan sifat anaknya yang tidak suka dibantah.


“Ya sudah. Abang hati-hati dijalan.”


“Baik, Bunda. Abang berangkat sekarang, ya.”


“Apa tidak sarapan dulu, Bang ?”


“Nanti saja dijalan, Bunda. Sekalian Abang carikan pasangan pengantin baru kita sarapan.”


Senyum Bara tersungging mendengar kekehan Bundanya yang mendengar ucapan nyelenehnya.


“Abang jalan dulu, Bunda. Biar tidak terjebak macet dijalan. Assalamu’alaikum.” Pamit Bara lalu mencium tangan Sang Bunda.


Dengan cepat Bara melangkahkan kakinya menuju pintu kemudian mengambil mobilnya di garasi.


Bara memacu kendaraan kesayangan yang selalu menemani kemana saja ia kehendaki. Mobil hitam pekat itu melaju menembus jalanan yang sebentar lagi pasti akan dipadati dengan kendaran-kendaraan yang berlalu lalang. Kendaraan-kendaraan yang ditumpangi oleh para pengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan yang selalu menjadi tuntutan hidup mereka.


Tepat di sebuah bangunan bertingkat dengan cat yang didominasi dengan warna putih dan bertuliskan Rumah Sakit itu Bara menghentikan laju mobilnya. Memarkirkan di tempat yang memang dikhususkan untuk kendaraan roda empat.


Kaki Bara kembali melangkah. Menjejaki setiap jengkal tanah yang dipijak memasuki bangunan rumah sakit itu. Kemudian menyusuri setiap lorong yang terhubung ke ruang inap adik perempuan semata wayangnya.


Didepan sebuah ruangan yang Bara tau adalah ruangan dimana adiknya dirawat. Dengan penuh percaya diri ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dan...


“Astaga...”

__ADS_1


Bara kaget dengan pemandangan yang ia temukan. Ia melihat pasangan pengantin baru itu masih tertidur pulas dengan posisi Reyhan yang memeluk tubuh mungil istrinya.


Ingin sekali Bara mengutuk dirinya karena kebiasaannya yang selalu masuk tanpa permisi sebagaimana ia memasuki kamar adiknya sesuka hati.


Baru saja hendak membalikkan badan dan melangkah keluar. Langkahnya terhenti oleh suara khas bangun tidur milik adik iparnya.


“Bara!” Panggil Reyhan seraya mengucek matanya.


Bara menoleh dan tersenyum malu-malu.


“Sejak kapan disini ?”


“Baru saja datang.”


“Terus mau mau balik lagi ?”


“Mmmm..eee itu.”


“Kenapa, Bar ? Masih pagi kok sudah aneh begitu.”


“Elo yang aneh, Han. Malam pertama kok di rumah sakit. Tidak pilih-pilih tempat sekali.”


Seketika Reyhan sadar dengan posisinya. Ia berusaha bangun dari tidurnya. Namun, lengan kirinya masih setia dijadikan bantal oleh gadis yang masih damai dalam tidurnya itu. Siapa lagi kalau bukan Nadhira.


Merasa ada pergerakan lain. Nadhira pun menggeliat dan perlahan membuka mata untuk menyesuaikan cahaya yang bisa ditangkap retinanya.


“Abang ?” ucapnya dengan suara serak.


“Bagaimana keadaan adek sekarang ?” Tanya Bara sambil berjalan mendekati Nadhira.


Lengan Reyhan yang tadinya di sandera oleh kepala Nadhira kini telah bebas dan terasa kebas. Dengan leluasa Reyhan bisa mengubah posisinya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur pasien.


“Alhamdulillah. Sudah baikan, Bang.”


“Abang ngapain pagi-pagi sudah ada disini ?” Sambungnya.


“Pertanyaan macam apa ini ?” Bara balik bertanya dengan ketus.


Melihat Bara yang tampak jengkel dengan pertanyaan Nadhira, Reyhan dengan sekuat tenaga menahan tawanya agar tak terdengar.


“Tapi, adek yakin mau tau alasan Abang ada disini pagi-pagi ?”


“Mau lihat pengantin baru kalau habis malam pertama di rumah sakit itu seperti apa.”


Jawaban yang diberikan Bara sontak mendapatkan tatapan tajam dari Nadhira dan Reyhan.


“Apa-apaan sih, Abang ? omongannya kok begitu.” Kata Nadhira tak terima.


“Beneran kok, Dek. Tadi pas baru masuk Abang lihat kalian sedang...”


“Sedang apa ?” potong Reyhan.


“Lagi... itu tuh.” Goda Bara.


“Kalian tidak lupa ‘kan habis melakukan apa ?” Lanjutnya.


Nadhira dan Reyhan saling melempar tatapan tak percaya. Pasalnya, seingat mereka. Mereka tidak melakukan hal apapun. Selain Nahdira yang tertidur dengan pulas dalam pelukan Reyhan.


“Jangan mengarang cerita, Bara. Gue masih tau diri harus melakukan apa dalam keadaan bagaimana dan dimana.”


“Loh, kenapa lo tidak percaya seperti itu ? Gue ‘kan bicara apa yang gue lihat saja, Han.”


“Abang hanya melihat yang tadi saja. sebelum-sebelumnya apa tidak tau ‘kan ? jadi, Abang tidak boleh menyimpulkan begitu saja.” Nadhira semakin merasa kesal dengan ulah Abangnya.


“Hahaha... jangan emosi begitu dong, Dek. Elo juga, Ham. Kenapa tegang ?” Bara merasa menang aksinya yang membuat kesal dua sejoli dihadapannya itu.


“Bercandaan Abang tidak lucu sama sekali.”


“Iya. Iya. Abang minta maaf. Lagipula, jika kalian melakukan apapun. Ya itu terserah kalian. Karena status kalian sekarang sudah sah sebagai suami istri dimata agama dan negara. Jadi, tidak akan ada yang mempermasalahkan.”


“Tapi, elo bercandanya kelewatan banget tau, Bar.”


“Baik. Baik. Sekali lagi gue minta maaf.”


“Terus bagaimana ini ? Adek kapan bisa pulang ?”


Nadhira menatap Reyhan. Lelaki tu mengerti arti tatapan istrinya. Kemudian ia mulai angkat bicara.


“Tinggal menunggu Dokter untuk memeriksa keadaan Nadhira saja, Bar. Jika kondisi Nadhira sudah membaik. Hari ini sudah bisa pulang ke rumah.”

__ADS_1


“Yaahh, semoga saja ya, Dek.”


“iya, Bang. Adek bosan dengan bau obat-obatan seperti ini.”


“Makanya adek jangan sakit-sakit kagi, ya.”


“Tentu, Abang. Mulai sekarang adek akan terus jaga kesehatan.”


Bara tersenyum mendengar ucapan adiknya yang begitu polos.


“Dek, aku telepon Farhan sebentar. Minta tolong untuk mengambil barang-barang kita di hotel. Supaya pulangnya nanti langsung ke rumah sama Abang. Tidak apa-apa ‘kan ?”


“Tidak apa-apa. Lagipula, jika harus ke hotel dulu. Nanti Abang capek bolak balik.”


“Tidak kok, Dek. Untuk adik kesayangan Abang. Abang akan melakukan apa saja.”


Nadhira memutar bola matanya malas.


“Tidak perlu, Bar. Nanti gue telepon Farhan saja.”


Reyhan mengambil ponselnya kemudian menghubungi adiknya, Farhan.


Telepon tersambung.


“Hallo, Dek. Kamu di rum...”


Sontak ucapan Reyhan menggantung begitu saja mendengar suara-suara yang beradu diseberang sana.


“Kak, kenapa ?” Tanya Nadhira setelah melihat perubahan dari raut wajah suaminya.


Reyhan mengangkat kelima jemarinya ke udara. Memberi isyarat diam pada Nadhira.


“Wah... Sangat kebetulan sekali. Lihatlah, Pa. Anak kesayangan Papa menelepon. Banggakan saja dia. Supaya dia bisa dengar dan tau. Bahwa, sampai detik ini pun Papa masih memandangnya sebagai seorang Super Hero di keluarga kita.”


Mulut Reyhan terkatup. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun. Lagi-lagi dan pagi-pagi. Ia harus mendengar perdebatan dua lelaki lain di keluarganya selain dia. Tiada lain dan tiada bukan, kedua lelaki itu adalah Papa dan adiknya.


“Kak ? Kenapa ?” Nadhira kembali bertanya seraya menggenggam lembut tangan suaminya tanpa malu-malu di hadapan Sang Abang.


Reyhan memutuskan sambung telepon tanpa berkata apa-apa.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku tinggal pergi sebentar, ya ?”


Dahi Nadhira mengkerut.


“Kemana ?”


“Ada urusan mendadak yang harus kakak urus.” Ucap Reyhan tersenyum sumbang.


“Bae, gue pinjam mobil. Tolong jaga Nadhira sementara gue pergi.”


“Lo mau kemana ?”


“Setelah masalah ini selesai. Gue pasti cerita sama lo.”


“Kamu sama Abang sebentar, ya.” Reyhan membelai lembut pundak tangan istrinya dan mencium kening Nadhira sebelum ia pergi.


Tubuh kekar Reyhan perlahan menjauh diiringi tatapan sendu milik Nadhira.


Sejujurnya, ingin sekali Nadhira menanyakan secara detail kenapa suaminya itu tiba-tiba saja berpamitan pergi tanpa meninggalkan jejak penjelasan yang jelas. Namun, Nadhira hanya mengubur dalam-dalam keinginannya itu untuk sementara waktu. Sebelum ia sempat menanyakan segala hal yang ingin ia tanyakan.


“Kakak!”


“Han!”


Panggil Nadhira dan Reyhan berbarengan setelah melihat Reyhan meringis seraya memegangi dadanya.


Sesegera mungkin Bara mendekati adik iparnya itu.


“I’m okay, Bar.” Kata Reyhan karena ia tau apa yang akan pertama kali ditanyakan Bara.


“Tapi, gue tidak yakin kalau elo baik-baik saja, Han. Istirahatlah. Jangan kemana-mana.”


“Gue harus pergi, Bar. Titip istri gue sebentar.”


Bersama sakit yang ia rasakan. Reyhan berjalan meninggalkan begitu saja kakak beradik itu. Ia berjalan secepat mungkin tanpa mengindahkan rasa sakit yang tengah menderanya.


Sakit yang ia rasakan seperti kalah oleh amarah yang sudah membumbung tinggi menguasai dirinya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2