
Pagi-pagi sekali. Sebelum sang bagaskara menampakkan sinar dan menyapa bumi. Reyhan sudah bangun dari tidurnya dan bergegas pergi. Mencari apotek terdekat dan buka di pagi buta. Tak peduli padanya yang masih meringkuk di tempat tidur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Tak lama setelah Reyhan pergi tanpa pamit. Ia menggeliatkan tubuh kecilnya. "Sayang, aku lapar," cicitnya dengan suara serak dan tanpa membuka mata. Tangannya meraba samping dan tak ia temukan siapapun disana.
Cahaya lampu yang tak lagi temaram menmbus netranya. Yang membuatnya dengan terpaksa memicingkan mata. "Kak Reyhan dimana ?" Ia mengedarkan pandangan dan mempertajam pendengarannya. Berharap terdengar suara guyuran air dari kamar mandi.
"Apakah Kak Reyhan sudah berangkat ke kantor ?" Tatapannya beralih pada jam dinding yang selalu menempel dengan manis. "Tapi, ini masih terlalu pagi jika Kak Reyhan ke kantor. Lagipula, tidak mungkin ia tak membangunkanku jika berangkat."
Tak menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya sendiri. Ia memilih bangkit dari tempat tidur dan menyambar jilbab instant untuk menutupi mahkota yang belum sempat ia sisir dengan rapi. Melangkah keluar kamar dengan muka bantalnya.
Perlahan ia menuruni tangga satu per satu dan menemui Mama yang bergegas menuju dapur. "Mama!" panggilnya keras seraya mendekat.
"Kenapa, Nak ?"
"Mama lihat Kak Reyhan dimana ?"
"Tadi Reyhan keluar sendiri menggunakan mobil."
"Hah ? Pergi kemana pagi-pagi begini ?"
"Mama juga tak tahu, Nak. Reyhan nampak tergesa-gesa."
"Apa mungkin Kak Reyhan ke kantor ?"
"Sepertinya tidak. Mama lihat Reyhan masih mengenakan baju santainya."
"Mama!" teriakan Reyhan menggelegar di rumah mewah itu.
"Itu yang dicari-cari sudah datang," ucap Mama dan membawanya ke arah sumber suara.
"Lho, Sayang. Kamu sudah bangun ?"
"Kemana saja ? Pergi tak berpamitan dulu padaku."
Mama yang melihat ekspresi merajuk menantunya lantas tersenyum geli dan menggelengkan kepala. "Selesaikan saja dulu urusan kalian. Mama sudah mencium aroma seseorang yang akan merajuk," tukas Mama dan berlalu dari hadapan anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Maaf. Aku tergesa-gesa. Aku hanya keluar membeli ini." Reyhan mengangkat kanyong plastik kecil di hadapan istrinya.
"Apa itu ?"
"Test pack dan susu untuk ibu hamil."
Seketika tawanya pecah.
"Kenapa ?" tanya Reyhan bingung.
"Kita 'kan belum tahu bahwa aku sedang hamil atau tidak. Kenapa secepat itu membeli susu untuk ibu hamil. Kamu lucu, Kak. Astaga."
"Biarkan saja. Biarkan aku menjadi suami siaga untuk istrinya," ucap Reyhan bangga dengan memajukan dadanya.
"Sekarang ayo ke akamr. Dan gunakan test pack yang sudah ku beli ini."
Reyhan menyeret tubuhnya pelan. Membawanya menaiki tangga satu demi sayu untuk sampai di kamar mereka.
"Ini. Pakailah," ucap Reyhan menyodorkan benda kecil berwarna putih itu padanya.
"Sekarang ?" tanyanya dengan tatapan polos.
"Tapi, aku lapar. Makan saja dulu. Boleh ?"
"Nanti setelah ini. Kamu masuklah ke kamar mandi. Biar aku yang turun mengambilkan makanan untukmu."
Ia tersenyum lebar dan segera bergegas menuju kamar mandi. Ia menggunakan benda kecil itu sesuai aturan yang tertera pada bungkusnya.
Dengan degup jantung tak beraturan dan harap-harap cemas. Ia menunggu benda itu memunculkan dua garis. Ia memejamkan matanya beberapa detik. Membukanya dengan perlahan.
"Huh!" Ia membuang napas kasar. Kemudian, mengangkat test pack itu. Melihatnya dalam jarak dekat. Dan air mata seketika berlinang.
Tangannya bergetar membuka pintu kamar mandi. Menemukan Reyhan dengan ekspresi yang susah di gambarkan berdiri didepan pintu.
"Sayang ?" panggil Reyhan dengan khawatir melihat istrinya itu tengah menangis. "Kamu baik-baik saja, 'kan ?"
__ADS_1
Ia tak menjawab. Ia hanya memberikan benda kecil itu pada Reyhan masih dengan tangan yang bergetar hebat.
Begituoun dengan Reyhan. Jantungnya berdegup kencang. "Sayang," ucap Reyhan dengan genangan yang sudah terbentuk sempurna di kelopak matanya. "Kamu hamil, Sayang. Alhamdulillah."
Ia menganggukkan kepalanya. Memeluk suaminya tanpa ampun. "Aku hamil lagi, Kak."
"Iya, Sayangku. Alhamdulillah." Reyhan mendaratkan ciuman bertubi-tubi dari puncak kepala hingga wajahnya. "Terimakasih, ya, Sayang," ucap Reyhan dengan lirih. Ia terharu. Setelah kegagalan yang ia buat karena ulahnya. Kini penantian itu terjawab dengan dua garis merah itu.
"Aku berjanji akan selalu menjagamu dan calon anak kita, Sayang."
Ia hanya mengangguk pelan. Bibirnya sudah tak mampu berkata-kata. Rasa bahagia yang telah membungkam bibir ranumnya itu.
"Tapi, aku sedang tidak bermimpi 'kan, Sayang ? Aku benar-benar hamil, 'kan ?" tanyanya setelah rasa tak percaya menyapanya.
"Tatap mataku, Sayang. Adakah kamu temukan pancaran kebohongan disana ?"
Ia menatap lekat netra hitam Reyhan. Kemudian, menggeleng pelan.
"Dan ini adalah bukti bahwa kamu sedang hamil. Mengandung darah dagingku."
Ia mengangguk dalam isaknya.
"Di perutmu telah tumbuh Reyhan junior, Al."
Ia kembali memeluk erat tubuh Reyhan. Seolah tak ingin melepaskannya barang sebentar saja. Ia ingin selalu mendekap tubuh itu dalam suka dukanya. Sebab, disanalah ia temukan nyaman yang sesungguhnya.
Reyhan melangkah dengan pelan seraya merangkul tubuh kecilnya itu. Berdiri didekat jendela kamar. Membukanya dan membiarkan senyum hangat mentari pagi menyapa mereka.
Reyhan memutar tubuh kecil istrinya itu hingga membelakanginya. Dan memeluknya erat. Menciumi puncak kepalanya dari belakang.
"Lihatlah, Sayang! Mentari pagi ini adalah saksi kebahagiaan kita. Dan aku titipkan segala harapanku padanya. Ketika ia terik. Seterik itulah harapan yang akan menjadi nyata."
Ia mengelus lembut tangan kekar yang melingkari perutnya. "Terimakasih atas sabarmu. Terimakasih telah bersedia menjadi rumah untukku pulang dan berkeluh kesah."
"Aku mencintaimu, Nadhira Aleeana Prayudha."
__ADS_1
Ia memutar tubuhnya. "Aku mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara." Dan tatapannya tenggelam pada manik hitam di hadapannya.
-END-