Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 12


__ADS_3

Seminggu berlalu begitu cepat. Itu berarti seminggu lagi pernikahan Nadhira dan Reyhan akan dilaksanakan.


Persiapan untuk menggelar pesta pernikahan pun sudah mencapai tujuh puluh persen. Mulai dari menyiapkan gedung, bentuk dekorasi dan undangan telah rampung. Reyhan menyiapkan semuanya begitu matang. Ia ingin pernikahannya dengan gadis pujaannya berlangsung sempurna. Pasalnya Reyhan merupakan tipekal orang yang perfeksionis.


“Kak, bagaimana persiapannya ?” Mama mendekati anaknya yang sedang fokus berkutat dengan laptop dihadapannya.


“Sudah rampung, Ma.” Reyndra menoleh kearah Mamanya sebentar kemudian kembali memfokuskan diri pada kerjaannya.


“Kakak udah cari cincin pernikahan ? Fitting baju pernikahan ?”


“Belum, Ma.”


“Kenapa belum ?” Mama menatap tak percaya pada anaknya yang menjawab dengan santai.


“Reyhan masih sibuk, Ma. Banyak kerjaan yang harus Reyhan selesaikan.”


“Tapi waktunya tinggal seminggu lagi, Kak. Kerjaan itu bisa kamu serahkan sama sekretarismu, kan ? "


“Ya nggak bisa gitu dong, Ma.”


“Besok fitting baju pengantin dan cari cincinnya. Biar semuanya cepet kelar, Kak.” Kekeh Mia.


“Ma...” Reyhan menggantung ucapannya dan menatap Mamanya.


“Kenapa ?”


“Besok Reyhan harus ke luar kota selama dua hari. Harus survey lokasi untuk pembangunan perusahaan cabang.”


Mama membulatkan mata tak percaya. Bisa-bisanya anak sulungnya itu masih mementingkan pekerjaan lain dibanding mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahannya.


“Kak, niatan nikah apa gimana sih ?”


“Iya dong, Ma. kalo nggak niat untuk apa juga Reyhan lamar anak gadis orang.”


“Terus kenapa masih mementingkan kerjaan daripada mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahanmu ?”


“Bukannya gitu, Ma. Reyhan pergi cuma dua hari kok. Dan perginya juga sama Bara. Bukan sendiri. Lagipula Reyhan nanti bisa kontrol dari sana.”


“Terserah kamu saja.” Mama melangkahkan kaki dengan kecewa meninggalkan Reyhan sendiri diruang kerja.


Reyhan menatap punggung wanita yang telah berjuang mati-matian melahirkannya itu semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu. Jelas terasa kekecewaan Mama padanya. Tapi, Reyhan tidak tau harus berbuat apa. Reyhan mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan napas pelan.


Reyhan mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja ruang kerjanya. Menscrol layar ponsel dan mencari nama kontak Bara. Setelah menemukan kontak, ia langsung menelpon. Namun, hasilnya nihil. Yang didengar hanya suara operator. Ia mencoba berulang kali. Dan hasilnya masih sama.


Reyhan merasa sedikit frustasi. Ia bingung jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini.


Pada akhirnya Reyhan memutuskan menghubungi Nadhira untuk menanyakan keberadaan kolega, teman sekaligus calon kakak iparnya itu.


“Assalamu’alaikum, Al.”

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam, Kak. Kenapa, ya ? Kok malam-malam begini telpon ?”


“Kangen suara calon istri.” ucap Reyhan sedikit menggoda Nadhira. Reyhan tidak tau jika godaannya sudah membuat Nadhira blushing.


“Apaan sih, Kak ?” Nadhira terdengar malu-malu.


“Al, Abang ada dirumah kah ? Aku telponin nomernya nggak aktif.” Reyhan berbicara tentang apa tujuannya menelpon malam-malam pada jam dimana seharusnya orang sudah beristirahat.


Oh iya, Reyhan akan memanggil Bara dengan sebutan Abang jika sedang bersama Nadhira saja. Karena bagi Reyhan, bagaimana pun juga sebentar lagi Bara akan menjadi kakak iparnya. Ia berusaha untuk berlaku hormat dan menghargai Bara sebagaimana Nadhira menghormati kakaknya.


“Abang dikamar, Kak. Apa kakak perlu bicara dengannya ? Biar aku bilangin sekarang. "


“Iya, Al. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Bisa bawakan ponselmu ke Abang ?”


“Boleh, Kak. Tunggu sebentar, ya ?”


Setelah Reyhan mendengar suara Bara diseberang telpon. Reyhan berbicara ke inti pembahasannya bahwa ia akan mengundurkan waktu untuk survey lokasi pembangunan perusahaan cabangnya. Karena ia ingin fokus dulu pada persiapan pernikahannya. Ia tak ingin melihat mamanya yang begitu antusias dengan pernikahannya merasa kecewa hanya karena merasa bahwa dia lebih mementingkan pekerjaan saja. Bara sangat mengerti dengan posisi calon suami dari adik semata wayangnya itu.


___


Nadhira berjalan menuju kamar Bara setelah mendapat telpon dari Reyhan. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Merasa tak ada yang merespond, Nadhira memasuki kamar kakaknya tanpa permisi.


“Bang ?” Nadhira memanggil Bara. Namun, tak ada yang menyahut.


Nadhira mengedarkan pandangan ke setiap sisi kamar Bara. Tapi, yang dicari tak jua menampakkan batang hidungnya.


Nadhira mendengar ada suara dari kamar mandi. Dan...


Bara muncul dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Tanpa babibu Nadhira menyodorkan ponselnya pada Bara. Bara yang melihat perlakuan adiknya sedikit bingung.


“Kak Reyhan telpon nyariin Abang tuh. Di telponin malah enggak di angkat.”


"Kan Abang di kamar mandi, Dik. Mana tau kalau ada yang telpon."


Bara mengambil ponsel milik adiknya. Lalu berbicara dengan Reyhan. Tak lama Bara menyerahkan kembali ponsel milik Nadhira dalam keadaan telpon telah terputus.


“Makasih, Dik.”


“Iya, Bang. Aku ke kamar dulu ya.”


___


Setelah memutuskan panggilan dengan Bara melalui perantara Nadhira. Reyhan kembali menatap layar laptop yang menyajikan pemandangan berupa deretan-deretan huruf, angka dan kurve-kurve tersusun rapi yang hanya dimengerti oleh orang-orang sejenis Reyhan.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Karena terlalu fokus, Reyhan sampai lupa waktu.


Reyhan menatap pintu ruang kerjanya yang terbuka. Melihat mamanya kembali masuk dengan segelas susu coklat. Kali ini Reyhan langsung menghampiri Sang Mama yang masih terlihat cuek padanya. Memanglah, wanita ini selalu perhatian pada anaknya meski dalam keadaan kecewa sekalipun.


“Minum ini dulu, Kak.” Mama menyodorkan segelas susu coklat yang dibawa pada anaknya. Dengan senyum mengembang Reyhan meraih gelas dari tangan mama dan meminumnya.

__ADS_1


“Makasih, Ma.” Mama hanya membalas dengan tersenyum.


“Kak, sebaiknya istirahat dulu. Kerjaannya dilanjutin besok aja. Ini udah larut malam.”


“Iya, Ma. Sedikit lagi selesai kok.”


“Jangan memaksakan diri. Tubuhmu juga butuh istirahat. Ingat juga kondisimu, Kak.”


Reyhan menatap mamanya. Terlihat pancaran kekhawatiran dari manik matanya. Betapa beruntungnya ia bisa memiliki seorang ibu seperti wanita yang ada dihadapannya itu. Yang selalu memperhatikan kesehatannya disaat Reyhan sendiri kadang tidak memikirkan hal itu karena tuntutan pekerjaannya.


“Baik, Ma. Sekarang Mama juga istirahat.”


"Kak ?"


"Iya, Ma."


"Jangan terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, ya. Karena, kesehatanmu adalah yang paling utama. Mama tidak ingin melihatmu merasakan sakit lagi, Nak."


"Iya, Ma. Maafin Reyhan sering membuat Mama khawatir."


Mama tersenyum. "Obatmu selalu di konsumsi dengan rutin, ya, Nak."


"Tentu, Ma."


Reyhan menggandeng lengan Mia. Membawanya meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bagaimana perjuangan Reyhan untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya.


Ia berhenti tiba-tiba.


"Ma, dada Reyhan sakit banget, Ma. Awww." Rintihnya memegang dada.


"Kak, Mama bilang juga apa," ucap Mama penuh khawatir.


"Ma sakit, Ma."


"Ke rumah sakit, ya, Nak, ya."


"Enggak, Ma."


"Obatmu, Nak."


"Di kamar, Ma."


"Ayo, Nak. Mama temenin ke kamar."


Reyhan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sedang Mama mengambil obat dalam botol kecil yang ia letakkan di laci meja samping tempat tidurnya.


"Minum dulu obatmu, Nak."


Abraham mengambil sebiji pil berukuran kecil dan segelas air putih dari tangan Mama.

__ADS_1


___TBC___


__ADS_2