Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 151


__ADS_3

"Kak!" Panggil Farhan dengan raut wajah kaget menatap puding yang sudah berada diatas nakas


"Kenapa, Dik?"


"Kak Nadhira juga kasih Kak Reyhan puding ini?"


"Tentu saja," jawab Nadhira bangga.


Farhan benar-benar dan khawatir. Ia membanting berkas yang berada di pangkuannya. Kemudian, berlari meninggalkan Nadhira yang masih terpaku dengan tatapan bingung didalam kamarnya.


"Kakak!"


Teriakan Farhan sukses menghipnotis kaki Nadhira untuk beranjak menyusul. Ia bergegas menuju kamar.


"Astagfirullah," ucap Nadhira kaget melihat suaminya yang sudah mengerang kesakitan. Juga dadanya yang naik turun.


"Kita harus ke Rumah Sakit, Kak Nadhira."


Nadhira masih terdiam di tempat. Ia tengah sibuk mencerna dengan baik apa yang tengah ia saksikan di hadapannya. Reyhan yang tadinya baik-baik saja kini tengah mengaduh dengan lirih.


"Kak Nadhira!"


Panggilan itu mengembalikan Nadhira ke alam sadarnya. Ia melangkah perlahan.


"Aaarrggghh!" Reyhan meronta-ronta kesakitan dengan satu tangan berada tepat di dada kirinya. Sedangkan tangan yang lain meremas seprai yang membungkus tempat tidurnya.


"Kak Nadhira panggil Pak Amin, ya. Kita bawa Kak Reyhan ke Rumah Sakit sekarang."


Nadhira hanya menganggukkan kepalanya patuh. Ia benar-benar sulit mencerna apa yang tengah di hadapinya sekarang.


Hingga didepan pintu utama ia masih sibuk dengan pikirannya. Pandangannya mengabur seiring air mata yang bergumul di kelopak matanya.


"Pak Amin tolong Nadhira," ucapnya lirih.


"Kenapa, Neng?"


"Bantu Nadhira bawa Kak Reyhan ke Rumah Sakit."


"Mas Reyhan anfal lagi?"


Gadis itu hanya mengangguk dan menumpahkan seketika air matanya. Ia sedikit limbung. Tangannya berpegangan pada pintu.


"Neng Nadhira tidak apa-apa?"


Ia menggeleng. "Pak Amin ke atas saja. Bantu Farhan."

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Pak Amin bergegas menuju lantai atas.


...***...


"Ka...kak... baik-baik saja, Dik."


"Tidak. Kakak harus dibawa ke Rumah Sakit. Lagipula, jika sudah tahu kakak alergi dengan strawberry. Kenapa kakak memaksa diri untuk memakannya? Hah?"


"Kakak tidak ingin Aleea kecewa."


Perbincangan kakak beradik itu ternyata didengar oleh Nadhira. Tangis gadis itu pecah seketika.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu kakak alergi."


"Hei! Jangan nangis. Aku baik-baik saja," jawab Reyhan berusaha baik-baik saja ditengah sakit yang kian mendera. Nafasnya terasa berat. Pasokan udara terasa kian menipis.


"Arrggghh." Reyhan kembali mengerang kesakitan. Sedetik kemudian, matanya perlahan tertutup.


Tangis Nadhira semakin menjadi-jadi. Diguncangnya tubuh Reyhan. "Jangan tutup matamu. Bangun, Kak!"


"Kak Nadhira tenang dulu. Kita bawa Kak Reyhan ke Rumah Sakit sekarang, ya." Farhan berusaha menarik tubuh kakak iparnya menjauh. Kemudian, diangkatnya perlahan tubuh Reyhan dibantu Pak Amin.


...***...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Nadhira. Gadis itu tertegun. Untuk kali pertama dalam hidupnya ia ditampar. Tangisnya tertahan. Bukan karena sakit di pipinya yang sudah memerah. Tetapi, karena siapa yang sudah menamparnya.


Farhan menarik tubuh Nadhira dan berusaha menenangkan kakak iparnya itu. "Kak Nadhira?"


"Aku tidak apa-apa," jawabnya dengan suara bergetar.


"Istri macam apa kamu? Bagaimana bisa kamu tidak tahu bahwa suamimu alergi dengan makanan itu? Hah?" Wajah Mama sudah merah padam.


Nadhira kembali terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk meredam agar tangisnya tak terdengar.


"Kamu benar-benar tidak becus menjadi istri, Ra."


Reyhan. Lelaki itu hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa membantu istrinya. Bahkan, hanya untuk sekedar berbicara pun ia tak mampu. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Gara-gara dia, Nadhira harus menerima tamparan keras dari Mama.


Farhan yang sadar dengan ekspresi Reyhan segera menenangkan Mama. "Ma, sudahlah. Jelas-jelas Kak Nadhira tidak tahu bahwa Kakak alergi strawberry."


"Tapi, dia tidak becus jadi istri. Dia sudah membuat suaminya sendiri anfal dan hampir meregang nyawa."


"Kasihan Kak Nadhira, Ma. Lihatlah! Kak Nadhira tengah mengandung cucu Mama. Bagaimana jika nanti Kak Nadhira tertekan dan stress karena Mama? Tentu itu akan sangat berpengaruh pada kandungannya."


Mama membenarkan ucapan Farhan. Tetapi, ia masih merasa kecewa pada Nadhira yang masih membeku dengan air mata yang berhamburan jatuh.

__ADS_1


Erangan tertahan Reyhan kembali terdengar. Nadhira menatap suaminya pilu. Kini, ia begitu dibatasi oleh Mama. Padahal, ingin sekali gadis itu menggenggam tangan Reyhan dan membiarkan Reyhan menyalurkan rasa sakit padanya.


"Sa...kit..." Suara Reyhan yang mengeluh kesakitan semakin jelas terdengar meskipun diwajahnya sudah bertengger oxygen mask disana.


"Iya, Sayang. Kamu yang kuat, ya." Mama mengelus kepala Reyhan penuh sayang. Tergambar jelas raut kekhawatiran Mama pada wajahnya yang tampak mulai mengeriput.


Reyhan berusaha mengangkat tangan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Melambaikannya ke arah Nadhira yang berdiri di dampingi Farhan. "Al... ke...marilah."


"Dia tidak boleh mendekatimu, Kak. Dia yang sudah membuatmu seperti ini."


Reyhan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ii..zin..kan Aleea di samping Reyhan, Ma. Please." Ia mengemis pada Mama. Tangisnya sudah tak mampu terbendung lagi. Hal itu membuat napasnya semakin sesak.


"hhh...Mahhh...please..."


Hati Mama tersentuh. Dengan sanagt terpaksa ia memberikan jalan untuk Nadhira.


Gadis itu tentu saja dengan cepat berlari dan hampir saja terjatuh. Bersyukur masih ada tangan Mama dengan cepat menahannya. "Hati-hati," bisik Mama. Dalam hati, perempuan paruh baya itu menyesali perbuatannya. Ia benar-benar diliputi emosi yang memuncak. Hingga dengan kerasnya ia membentak bahkan menampar menantu kesayangannya itu.


"Al, jangan nangis, Sayang. Aku baik-baik saja." Reyhan berusaha tersenyum manis. Ia mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengalirir pipi Nadhira. Namun, gagal. Lemah fisiknya membuat ia tak mampu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi istrinya.


"Kakak jangan memaksakan diri. Maafkan aku."


Reyhan menggeleng. "Ini bukan salahmu, Al."


"Aku ingin bicara dengan malaikatku."


Nadhira menuntun tangan Reyhan hingga menyentuh perutnya.


Reyhan tersenyum. Ia rasakan gerakan aktif sang buah hati yang masih berkembang didalam perut istrinya. "Sehat-sehat, ya, Nak. Jaga Mama. Jangan merepotkannya, ya, Sayang."


Nadhira menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isaknya yang semakin kuat. Dadanya terasa sesak.


"Aku sayang kamu, Al. Jika aku pergi. Tolong ikhlaskan aku."


Gadis itu menggeleng cepat. Isak yang tahan pun kini berubah menjadi derai. "Tidak! Kakak harus tetap bersamaku. Aku tidak mengizinkan kakak pergi kemana-mana."


"Aku ingin menciummu, Sayang."


Nadhira mendekatkan wajahnya hingga ia rasakan bibir Reyhan menyentuh pipinya. Namun, hanya sebentar. Suara bising dari alat-alat yang berada di ruangan itu mengalihkan perhatian Nadhira. Ditatapnya monitor yang berada di samping Reyhan dengan garis lurus seiring mata Reyhan yang perlahan terpejam.


"Tidak mungkin." Nadhira menggeleng cepat dan mengguncang tubuh suaminya yang sudah tak bergerak. "Kakak jangan mencandaiku seperti ini. Buka matamu, Sayang!"


Tangis itu pecah seketika. Reyhannya kini tak mengindahkan panggilannya. Ia rasakan sepasang tangan kekar tengah memeluknya erat dan semua menggelap.


...-END-...

__ADS_1


__ADS_2