Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 52


__ADS_3

“Aleeana ?” panggil Reyhan saat mobil yang membawanya dan Nadhira sudah membelah padatnya jalanan kota. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak Nadhira. Meresapi aroma lavender yang menyeruak dari tubuh istrinya.


“Iya, Sayangku. Kenapa ?” tanyanya dan membelai rambut suaminya yang sudah tersisir rapi.


“Apakah kamu merasa ada yang aneh denganku ?”


Alisnya terangkat sebelah. Ia sama sekali tak memahami maksud dari pertanyaan yang dilontarkan Reyhan padanya.


“Maksudku, sikapku akhir-akhir ini, Al.” Reyhan menjawab ketidakpahaman istrinya.


“Iya. Kakak semakin manja saja padaku sekarang.”


“Aku pikir itu hanya perasaanku semata. Tetapi, ternyata benar. Dan sungguh. Aku merasa berat untuk jauh darimu. Aku bukan sedang merayumu sekarang hanya karena dengan berkata seperti itu.”


Nadhira memeluk suaminya erat. “Tak mengapa, Sayang. Aku juga tentu saja tak ingin jauh-jauh dari kakak.”


Reyhan menggenggam tangan Nadhira. Memainkan jemari-jemari lentik nan mulus milik istrinya.


“Kak ?”


“Iya, Sayang ?”


“Mmmm... aku rindu menikmati senja di danan,” ucapnya malu dan ragu-ragu.


Netra dengan manik hitam pekat itu menatapnya lekat. “Jadi, kamu ingin pergi ke danau, Sayang ?”


Ia mengangguk perlahan.


“Baiklah. Sore nanti aku akan membawamu kesana. Kita nikmati si jingga di kaki langit bersama-sama lagi. mengantarkan dengan senang hati matahari menuju peristirahatannya.”


“Benarkah ?” tanyanya dengan cepat dan mata berbinar.


“Tentu saja, Sayang. Untukmu aku akan melakukan apapun hingga batas kemampuanku berakhir.”


“Tapi, kakak masih harus istirahat agar segera pulih,” ucapnya lesu.


“Tak mengapa, Aleea. Istirahat hanyalah sebuah tugas tambahan untukku. Karena, tugas utamaku adalah membahagiakanmu sejak tanganku menjabat tangan ayah, mengucapkan ijab qabul dan berjanji di hadapan Allah untuk menjadikanmu sebagai perempuan terakhir dan penyempurna separuh agamaku.”


Reyhan tersenyum menatap istrinya. “Aku akan berusaha melakukan apa saja yang aku bisa demi kebahagiaan istri kecilku ini.” Reyhan mencubit dengan gemas pipi istrinya.


“Kak, sakit,” keluhnya dengan mengerucutkan bibir.


“Iya, sayangku. Aku minta maaf. Jangan cemberut seperti itu. Nanti cantikmu hilang.”


“Jika aku sudah tak cantik lagi. Apakah kakak akan meninggalkanku ?”


“Tentu saja. Aku akan mencari stri lagi yang jauh lebih cantik darimu,” ucap Reyhan bercanda.


Ia menatap nyalang Reyhan. Kedua tangannya ia lipat didepan dada.


“Aku hanya bercanda, Aleeanaku. Hanya kamu dan tidak akan ada lagi perempuan lain di hatiku.”


Seketika ia meluluh dan tersipu. “Apakah kakak tahu apa yang membuatku bahagia ?”

__ADS_1


“Apa ?”


“Bahagiaku cukup sederhana. Melihat kakak dalam keadaan baik-baik saja dan tidak sakit seperti kemarin sudah mampu menciptakan bahagiaku.”


Reyhan menatap netra istrinya yang mulai berkaca-kaca. “Aku akan selalu baik-baik saja selama ada kamu di sampingku. Berjalan bersamaku dan memberi semangat untukku.”


Ia balik menatap manik hitam suaminya seraya mengangguk. “Aku berjanji tidak akan meninggalkan kakak dalam keadaan apapun. Aku akan menemani kakak melewati suka dan duka. Tapi, berjanjilah padaku untuk tak sakit lagi.”


Sejenak Reyhan terdiam dan menarik napas dalam-dalam. Membuangnya secara perlahan. “Sayang, maafkan aku. Untuk hal itu aku takut berjanji padamu, aku takut jika tak mampu memenuhinya.”


Reyhan menjeda kalimatnya. “Kesehatanku tak pernah stabil, Al. Kamu tahu dan sadari, bahwa suamimu ini hanya seorang lelaki penyakitan , yang kapan saja bisa anfal seperti kemarin. Atau bahkan lebih parah dari itu. Tapi, kamu tenang saja. Aku akan berusaha untuk selalu baik-baik saja untukmu.”


Air matanya meleleh bak gunung es yang sudah mencair. “Jangan berbicara bahwa kakak adalah lelaki penyakitan. Bagiku kakak adalah suami yang kuat. Jangan menyerah. Aku selalu bersamamu.”


Reyhan menarik tubuh mungilnya yang bergetar ke dalam pelukan. “Terimakasih, Aleea. Jangan menangis lagi, ya, Sayang. Aku tidak menyukai air matamu,.”


Ia hanya mengangguk menyahuti didalam pelukan suaminya. “Biarkan aku dalam pelukan kakak sampai kita tiba di kampus. Aku ingin menikmati lebih lama tempat ternyamanku.”


“Iya, istriku.” Reyhan mengecup puncak kepalanya berulang kali.


_____


“Bukankah itu lelaki yang beberapa waktu lalu juga menjemput Nadhira, ya ?”


“Itu siapa ? Kenapa tampan sekali ?”


“Tuhan, kirimkan satu lelaki setampan lelaki itu.”


Bisik-bisik yang ditangkap inderanya tentang pujian para mahasiswi yang melihatnya berjalan menyusuri koridor kampus bersama Reyhan membuat telinganya memanas. Ia begitu kesal dengan perempuan-perempuan yang dianggapnya tak tahu malu itu.


Reyhan yang menangkap tingkah yang berubah drastis istrinya hanya tersenyum geli.


“Sayang, sudahlah. Jangan dengarkan kata mereka.”


“Kenapa kakak harus setampan itu ? Harusnya kakak terlahir menjadi lelaki yang kadar ketampanannya standar-standar saja. sehingga, tidak ada lagi perempuan yang mengagumi kakak selain aku.” Ia berucap dengan kesal.


“Memangnya aku bisa memilih harus terlahir seperti apa, Sayang ? Tidak ‘kan ?”


Ia menatap kesal suaminya.


“Lagipula, hal ini mengajarkan kamu untuk menjadi istri yang sabar dan siap menerima kenyataan bahwa suamimu memang tampan.”


“Kakak!” bentaknya semakin kesal.


Tiba-tiba perbincangan mengesalkannya terhenti. Di hadapannya telah berdiri seorang mahasiswi cantik dengan rambut diikat rapi.


“Hai, adik kecilku! Lama sekali sudah tak bersua denganmu.”


“Hai, Kak Ayu.” Ia berhambur memeluk mahasiswi bernama Ayu itu.


“Bagaimana kabar kakak cantikku ini sekarang ?” tanyanya dengan girang.


“Seperti yang kamu lihat sekarang, Dik. Kakak dalam keadaan baik tentunya.” Ayu tersenyum manis dan sedikit melirik ke arah Reyhan.

__ADS_1


“Inikah abangmu yang selalu kamu ceritakan dan banggakan pada kakak itu, Nadhira ?” lanjut Ayu bertanya.


“Bukan, Kak Ayu. Ini bukan Abang. Tapi, suami Nadhira,” ucapnya dengan bangga.


“Hah ? Kamu kapan menikah, Dik ?”


Ia tertawa kecil. “Kurang lebih satu bulan yang lalu, Kak.”


“Berani-beraninya kamu melangkahiku, ya.”


“Maafkan adikmu ini, kakakku.”


“Ah... kamu memang adik yang durhaka. Kamu bahkan tak mengundangku dan selalu saja melupakan kakakmu yang satu ini.”


“Maaf, Kak Ayu. Pernikahan kami mendadak dilaksanakan. Suami Nadhira tidak mau dan tak sanggup jika harus menunggu Nadhira menyelesaikan studi terlebih dulu. Ia takut jika ada orang lain yang lebih dulu meminangku. Iya ‘kan, Sayang ?” Ia mengedipkan sebelah matanya dan menggoda Reyhan.


Reyhan hanya tersenyum menanggapi kelakuan istri kecilnya itu.


“Oh iya, Kak. Nadhira lupa. Kenalan dulu dengan suami Nadhira. Sayang kenalan sama Kak Ayu, ya.”


“Reyhan,” ucap Reyhan memperkenalkan diri seraya menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


“Masayu. Tapi, biasa dipanggil Ayu oleh Nadhira. Dia selalu memanggilku dengan panggilan berbeda dari yang lainnya.” Ayu memperkenalkan diri balik dan melakukan hal yang sama seperti Reyhan.


“Tolong jaga adik kecil dan manjaku ini, ya, Reyhan. Dan pesanku untukmu, latih selalu kesabaran yang kamu miliki. Karena, untuk menghadapi manusia sejenis Nadhira butuh kesabaran yang teramat sangat besar,” ucap Ayu pada Reyhan.


Reyhan terkekeh.


“Jangan membuka aib Nadhira didepan suami, Kak Ayu.”


Ayu hanya tertawa kecil melihat tingkah adik kecilnya. “Kakak duluan, ya, Dik. Kakak ada acara diluar kampus. Di lain kesempatan kakak akan mengajakmu bertemu dan sekedar menikmati camilan Si Mamang di kantin kampus.”


“Baik, kakak cantikku. Hati-hati dijalan.”


Ayu mengangguk.


Dengan cepat ia memeluk tubuh Ayu. Mencium pipi Ayu bergantian. “Nadhira sayang kakak,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Kakak juga sayang sama Nadhira. Tapi, jangan sedih seperti itu. Malu dilihat suami.”


Ia tersenyum. Kemudian, melepaskan pelukannya dan membiarkan Ayu melenggang pergi. Ia menatap punggung Ayu yang semakin menjauh dari hadapannya hingga menghilang dibalik kerumunan mahasiswa lainnya.


“Dia siapa, Aleea ? Sepertinya kalian begitu dekat.”


“Iya. Kak Ayu itu seniorku. Perempuan yang selalu memberikan motivasi untukku. Jua yang selalu menguatkanku saat aku ingin menyerah dan rapuh. Aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri,” ucapnya sedih.


“Jangan sedih, Sayang. Nanti kamu masih bisa bertemu lagi dengannya.”


Ia memeluk manja suaminya. Tak peduli dengan tatapan aneh para mahasiswa yang menatapnya.


“Al, jangan seperti ini. Malu dilihat orang lain.”


“Terserah! Aku tak peduli. Aku hanya sedang ingin memeluk suamiku,” ucapnya acuh.

__ADS_1


Reyhan hanya bisa pasrah melihat istrinya.


__ADS_2