
"Nadhira ?"
Ia mengangkat wajahnya dan menatap seseorang yang baru saja memanggil namanya itu. Tatapannya sendu tak bergairah.
"Lebih baik kamu istirahat juga, Nak. Biar Mama yang akan menjaga Reyhan hingga siuman."
Ia menggeleng. "Tidak apa-apa, Ma. Jika Mama ingin istirahat. Istirahatlah! Nanti Nadhira bangunkan jika Kak Reyhan bangun."
"Yang butuh istirahat itu kamu, Ra. Mama tahu fisikmu memang tidak kuat. Bundamu yang bercerita pada Mama."
Masih dengan pendiriannya. Ia menggeleng seraya tersenyum. "Tapi, Nadhira benar tidak apa-apa, Ma. Nadhira ingin saat Kak Reyhan bangun. Yang pertama ia lihat adalah Nadhira."
Sejenak ia mengedarkan pandangan pada seisi ruangan bercat putih dan beraroma obat-obatan itu. "Papa dan Farhan sudah pulang, Ma ?"
"Papa masih berbicara dengan dokter tentang kondisi Reyhan. Sedangkan Farhan sudah pulang bersama Pak Amin. Dia yang akan menemani Latisha dirumah."
"Mama istirahat saja dulu."
"Nak, sabar, ya. Reyhan pasti baik-baik saja."
Ia berusaha tegar dengan menampilkan seutas senyum tipis yang sedikit dipaksakan.
"Iya, Ma."
Matanya yang sedikit membengkak karena tak berhenti menangis itu menatap sedih lelaki yang terbaring di hadapannya. Tubuh kekar dan tinggi yang biasanya nampak segar bugar itu kini hanyalah tubuh yang lemah dan tak berdaya dengan wajah yang pucat pasi.
Hatinya ngilu melihat tangan kekar yang biasa memeluknya sekarang terjerat selang infus. Ia menggenggam tangan itu dan mengelusnya pelan nan lembut.
"Hei! Bangunlah, suamiku. Aku sudah tak lagi marah padamu. Sungguh," ucapnya lirih dengan segaris senyum simpul.
Sesekali ia menatap lekat wajah suaminya dengan garis wajah tegas itu. "Kemana Reyhanku yang kuat ?"
Sebentar ia menatap Mama yang sudah terlelap disofa dekat pintu ruangan Reyhan. Rasa kantuk mulai menyapanya. Namun, ia takut terlelap sebelum suaminya terbangun.
Hendak beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka berharap kantuknya segera menjauh. Tangannya lebih dulu digenggam balik oleh tangan Reyhan.
"Sayang, jangan pergi," ucapnya dengan suara kecil dan lemah.
"Tidak! Aku tidak akan pergi, Sayang."
Reyhan tersenyum.
"Sebentar aku akan membangunkan Mama."
"Jangan! Biarlah Mama istirahat."
"Tapi, aku sudah mengatakan untuk membangunkan Mama jika kakak sudah bangun."
Reyhan menggeleng lemah. "Mama butuh istirahat, Sayang. Harusnya kamu juga."
"Aku tidak bisa istirahat dengan tenang jika suamiku belum terbangun."
__ADS_1
Air matanya luruh tak tertahan. Tubuhnya bergetar kuat.
Reyhan tidak kuat melihat tangis istrinya. Ia berusaha bangkit dari tidurnya namun gagal. Kondisinya yang terlalu lemah memaksanya untuk terus berbaring ditempat tidur pasien.
"Al, bantu aku untuk duduk. Aku lelah berbaring seperti ini."
"Jangan dulu memaksa diri. Keadaan kakak belum memungkinkan untuk duduk."
Ia melihat tatapan memelas suaminya yang dalam sekejap membuatnya luluh. "Baiklah," ucapnya berpasrah.
Dengan sekuat tenaga yang dimiliki ia membantu Reyhan untuk duduk dan bersandar.
"Ssshh," desis Reyhan.
"Sayang ?" panggilnya dan segera mendekat duduk disamping suaminya.
"Aku baik-baik saja, Al," balas Reyhan meyakinkan dengan senyum yang membuat mata sayunya menyipit.
"Kemarilah! Aku rindu memeluk istri cantikku."
Ia menghambur memeluk tubuh lemah suaminya yang sedang bersandar itu.
"Sudah ku bilang untuk tidak lagi menangis, Aleea. Kamu lupa bahwa aku tak menyukai air matamu itu ?" ucapnya tegas meski suaranya masih terdengar lemah.
Tatapannya tajam menembus netra Reyhan. "Jika kakak tidak ingin melihatku menangis seperti ini. Jangan pernah lagi jatuh sakit. Aku jua tak menyukai suamiku harus terbaring lemah ditempat yang membosankan ini."
"Maafkan aku, ya, Sayang."
Serangan telak untuk Reyhan. Ucapannya tepat menghantam suaminya dan berhasil membungkam mulut Reyhan.
"Terlalu sering mengucap maaf membuatku bosan, Kak. Sungguh. Maaf jika kalimatku ini membuat kakak meras kecewa padaku."
"Sayang, aku yang salah. Bukankah sewajarnya aku harus meminta maaf padamu ?"
"Sering meminta maaf namun masih melakukan hal yang sama. Bagaimana menurut kakak ? Wajar pula 'kan aku bosan ?"
Ia mengalihkan tatapannya yang tajam dari Reyhan. Menunduk dan menghapus air mata yang tak kunjung mau berhenti mengaliri pipinya.
"Sudahlah, Kak. Aku tidak ingin berdebat apapun lagi denganmu. Aku juga tak ingin marah padamu," ucapnya dan memeluk kembali suaminya. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Reyhan.
Reyhan membalas pelukannya tak kalah erat.
"Sayang, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, ya. Meskipun aku tahu. Aku belum mampu menjadi suami yang baik. Sejauh perjalanan pernikahan kita aku terlalu sering membuatmu kecewa dan menangis. Aku yang terlalu banyak merepotkanmu karena penyakitku ini."
"Ssttt!" Ia meletakkan jari telunjuknya pada bibir merona Reyhan yang tak pernah tersentuh barang bernama rokok itu. Ia menatap Reyhan dengan manis andalannya dan menggeleng.
"Jangan berbicara seperti itu. Aku istrimu, Kak. Jadi, bagaimanapun kakak, baik dan buruk. Bahkan, dalam keadaan lemah dan terpuruk pun aku adalah tetap istrimu. Tugasku mendampingi dan selalu berada disamping suamiku."
Reyhan terharu mendengar kalimat+kalimat manis yang dilontarkan bibir mungilnya. Genangan nampak jelas ia lihat dibalik kelopak mata dengan manik hitam pekat itu.
"Aleea ? Terimakasih sudah bersedia menjadi pilihanku. Menjadi tempat pencarian terakhirku dan menjadi rumah untukku pulang. Aku mencintaimu, Aleeanaku."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Suamiku," bisiknya ditelinga Reyhan dengan manja.
"Lekas sembuh. Aku rindu diajak menikmati senja seperti dulu," lanjutnya.
"Setelah aku keluar dari Rumah Sakit. Aku janji akan membawamu pergi menikmati senja. Tidak lagi didanau. Tapi, disuatu tempat yang akan membuatmu tak pernah lupa."
"Benarkah ?" ucapnya berbinar.
"Iya, Sayang."
"Sekarang istirahatlah. Supaya kakak segera membaik dan cepat keluar dari Rumah Sakit. Aku tak menyukai aroma obat-obatan ini, Kak."
"Kamu yang butuh istirahat, Al. Jelas saja aku sudah mengganggu tidurmu tadi."
"Baiklah." Ia melepas pelukannya dan beranjak.
"Lho, mau kemana, Sayang ?" tanya Reyhan bingung.
"Aku mau istirahat. Disana." Ia menunjuk sofa dimana Mama masih tertidur pulas disana. "Tidur didekat Mama."
Reyhan terkekeh. "Siapa yang memintamu tidur disana, Istri kecilku ?"
Alisnya saling bertautan. "Lalu aku tidur dimana ?"
Reyhan menggeser tubuhnya perlahan. Sesekali ia mendesis ketika sakit di dadanya kembali terasa. "Tidurlah disini. Disampngku."
"Tapi, bagaimana kakak bisa istirahat nanti ?"
"Denganmu aku rela berbagi apapun. Tak hanya sekedar tempat tidur. Nyawa pun akan aku berikan untukmu."
"Jangan membual seperti itu, Tuan Oktara!"
"Cepatlah! Aku ingin tidur dengan memeluk tubuh kecilmu itu."
"Tidak! Sekarang tubuhku sudah mulai berisi dan nampak gemuk. Bukan kecil lagi seperti yang kakak dan Abang bilang," bantahnya keras.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah dengan membenarkan ucapanmu itu, Sayangku."
Ia menaiki brankar itu dan tidur disamping Reyhan.
"Sayang ?" panggilnya dengan nada manja.
Reyhan hanya menjawab dengan tatapannya.
"Peluk," ucapnya dengan senyum lebar.
Melihat kelakuannya yang manja, Reyhan menjadi gemas sendiri dan langsung memeluknya.
"Selamat malam dan tidur yang nyenyak, istri kecilku."
Ia tersenyum dan mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1