Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 8


__ADS_3

"Bang, aku berangkatnya sama Abang, ya ?” Nadhira sedikit merayu pada Bara untuk ikut berangkat ke kampus. Karena Sang Ayah yang biasa mengantarnya sedang berada diluar kota untuk mengurus perusahaan cabang miliknya yang baru berjalan beberapa tahun terakhir ini.


“Tapi, Abang sudah ada janji dengan client, Dik. Nanti kalo Abang anterin kamu, bisa-bisa Abang telat. Mana kantor berlawanan arah lagi sama kampusmu. Dianter Pak Kosim aja, ya ?”


Bara yang sedang mematut diri didepan cermin berbicara tanpa melihat adiknya. Kebiasaan Bara setelah ditunjuk sebagai CEO oleh ayahnya. Sebelum berangkat ke kantor, ia akan menata penampilannya agar terlihat pantas layaknya seorang pimpinan perusahaan.


“Aku kan maunya sama Abang. Bukan sama Pak Kosim. Udah lama juga kan Abang nggak nganter aku ke kampus. Saking lamanya, aku sampai lupa kapan terakhir dianterin Abang. Sekali ini aja, ya ?” Nadhira memasang muka memelasnya. Berharap Bara luluh dan mau mengantarnya ke kampus.


Nadhira menatap tubuh tegas Bara yang penuh kharisma berjalan mendekatinya yang sudah duduk ditepi kasur king size milik Bara.


“Lain kali ya, Dek. Abang bener-bener nggak bisa.”


Bara menatap Nadhira yang sudah tertunduk lesu. Ada rasa tak tega jika harus menolak keinginan adik semata wayangnya itu. Tapi apa hendak dikata, saat ini Bara memanglah tidak bisa mengantarnya.


Bara sedikit membungkukkan badan dan meraih dagu Nadhira. Memposisikan agar Nadhira mendongakkan kepala dan menatapnya.


“Jangan gitu dong. Bentar lagi kan mau nikah. Masak iya masih ngambekkan gitu sih ? Hmmm.” Bara mencoba menggoda Nadhira berharap adiknya bisa luluh. Namun, usahanya sia-sia.


Nadhira sama sekali tidak merespond ucapan Bara dan melenggang pergi meninggalkan Bara dengan wajah frustasi melihat tingkahnya yang sangat manja dan kekanakkan itu.


“Dek!”


Nadhira tetap tak mengindahkan panggilan Bara. Bara mengusap wajahnya dengan kasar. Berada di situasi seperti ini membuatnya semakin frustasi. Antara harus memilih mengantar adiknya yang manja atau segera ke kantor menemui klien yang akan bertemu dengannya.


“Akkkhhhh.” Bara mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi. Lalu mengambil tas kerja yang tergeletak sembarangan dikasurnya.


___


Di kampus. Nadhira mendapati kedua sahabatnya, Finza dan Kayla sedang ngobrol didepan kelas.


“Eh itu muka pagi-pagi kok udah kusut aja sih. Belum di setrika, ya ?”


Finza yang mendengar ucapan Kayla yang terkesan konyol lantas tertawa. Sedang Nadhira tak menanggapi sama sekali candaan Kayla.


“Kenapa, Ra ? Ada masalah ?”


Finza mengubah posisinya menghadap Nadhira yang duduk tepat disampingnya.


“Nggak. Lagi kesel aja sama Abang."


“Kenapa sama Bang Bara ?”


Kayla yang mendengar nama Baea disebut merasa jantungnya berdetak tidak normal. Ada rasa berbeda setiap kali ia mendengar nama itu. Tanpa sadar Kayla memegang dadanya yang bergemuruh dan menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Finza yang menangkap gelagat aneh sahabatnya itu lantas menyenggol lengan Kayla.


“Kenapa senyum-senyum sendiri, Kay ? Masih sehat, kan ?” Finza meletakkan punggung tangannya tepat dikening Kayla.


Nadhira ikut menoleh ke arah Kayla setelah mendengar omongan Finza. Sedangkan Kayla menepis tangan Finza yang masih menempel dikeningnya.


“Ish..apa sih, Za ?”


“Kenapa tadi senyum sendiri nggak karuan gitu ?”


“Ahhh..mmm.. nggak apa-apa kok.” Kayla gelagapan dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal karena salah tingkah setelah kepergok oleh Finza.


“Za. Kay. Nanti ikut ke rumah, ya ?” Nadhira mengalihkan pembicaraan karena masih merasa badmood dan malas menanggapi celotehan kedua sahabatnya itu.


“Ah.. ke rumah kamu, Ra ? Ngapain ? Ada Abang kamu nggak ?” Kayla memburu dengan pertanyaan bertubi-tubi tanpa jeda dan tanpa sadar dengan pertanyaan terakhirnya. Nadhira dan Finza saling melempar tatapan tak mengerti atas pertanyaan Kayla.


Kayla yang baru menyadari ucapannya barusan langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merutuki dirinya yang kadang bicara tidak bisa mengontrol ucapannya.


“Kamu kok nanyain Bang Bara sih, Kay ?” Nadhira bertanya masih dengan tampang tak mengerti.


“Jangan-jangan kamu naksir sama Bang Bara, yaa ? Ciyee.” Finza menyenggol lengan Kayla dan menggodanya.


“Ish.. apaan sih, Za ? Nggak jelas banget deh.” Pipi Kayla merona mendengar godaan sahabatnya, Finza.

__ADS_1


“Tuh kan pipinya merah kayak kepiting rebus. Hahaha.” Finza semakin menggoda Talita yang spechless.


“Kamu kalo suka nggak apa-apa kok, Kay. Abang kan juga masih jomblo. Nanti biar kamu jadi kakak ipar aku.” Nadhira mulai menjalankan aksinya menggoda Kayla.


“Ih apa-apaan sih kalian. Udah ah aku masuk duluan. Males kalo harus dengerin kalian mulu. Bye!” Kayla mengibaskan tangan kanannya lalu melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih menertawakannya.


___


Di rumah bercat biru. Kayla celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang.


“Nyari Bang Bara, ya ?” tanya Nadhira dengan senyum menggoda.


“Mmmm... nggak kok. Siapa juga yang nyari Bang Bara.” Kayla mengelak.


“Kok rumah kamu sepi, Ra ?”


Kayla merasa terselamatkan dari godaan Nadhira dengan pertanyaan Finza.


“Iya, Za. Ayah lagi diluar kota. Tapi hari ini sih balik. Bunda lagi dirumahnya Tante Indri. Kalo Abang lagi ke kantor. Biasalah semenjak jadi CEO dia menjelma dari manusia es menjadi manusia gila kerja.”


Finza hanya mengangguk mendengar penjelasan Nadhira.


Nadhira dan kedua sahabatnya berjalan menyusuri tangga satu per satu yang menghubungkan ke kamar Nadhira yang berada dilantai dua. Kamar yang sangat luas dengan nuansa biru muda. Warna favorit seorang Nadhira.


Nadhira membaringkan tubuhnya yang terasa lelah diatas kasur king size yang sangat empuk dan diikuti oleh Finza dan Kayla.


Tiba-tiba ponsel milik Nadhira berbunyi tanda ada notif pesan masuk. Nadhira meraih benda pipih yang ia letakkan diatas nakas samping tempat tidurnya dan melihat pesan.


“Assalamu’alaikum!”


Nadhira mengernyitkan dahi melihat pesan dari nomor yang tidak dikenal. Nadhira menjawab salam dalam hati dan mengabaikan pesan tersebut. Lalu meletakkan ponselnya sembarangan.


Baru saja Nadhira membaringkan tubuhnya, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan pesan. Tapi panggilan masuk. Nadhira meraih ponselnya malas dan melihat siapa yang menelpon.


“Kenapa, Ra ?” tanya Finza bersamaan dengan Kayla.


“Ah.. nggak. Aku angkat telpon bentar.”


Nadhiea meninggalkan kedua sahabatnya dan mengambil posisi duduk didepan meja riasnya untuk menjawab panggilan telepon.


“Hallo! Assalamu’alaikun!” ucap Nadhira.


“Wa’alaikumussalam.”


Nadhira sedikit kaget mendengar suara laki-laki yang menelponnya. Pasalnya Nadhira memang sangat jarang menerima telepon dari lawan jenis selain ayahnya, kakaknya dan saudara-saudaranya yang lain.


“Maaf dengan siapa, ya ?” Nadhira bertanya ragu-ragu.


“Calon suami kamu.” jawab suara di seberang telepon dengan bangganya.


Kali ini Nadhira benar-benar kaget sampai-sampai ia membekap mulutnya yang menganga dengan sebelah tangannya.


“Apa aku tidak salah dengar ?” Batinnya.


“Hallo! Apa kamu masih bisa dengar, Al ?”


“Oh...ii.iya. hallo.” Nadhira tergagap.


“Al, ini aku. Reyhan.”


“Ii..iya, kak. Kenapa ?” Nadhira mulai merasa gugup karena baru kali ini menerima telpon dari Reyhan. apalagi setelah mendengar Reyhan yang mengatakan bahwa dirinya adalah calon suaminya Nadhira. nadhira merasa hatinya ketar-ketir bahagia. Ingin ia jingkrak-jingkrak saking bahagianya. Namun ia masih ingat situasi. Dimana ia masih bersama Finza dan Kayla.


“Nggak usah gugup gitu dong, Al.”


“Hee. Iya, Kak.” Nadhira hanya nyengir menampilkan deretan gigi putihnya dengan gingsul yang menambah aura kecantikannya.

__ADS_1


Pembicaraan Nadhira dengan Reyhan berlanjut sampai hampir satu jam lamanya. Berbicara dengan Reyhan membuat Nadhira tampak bahagia dan lupa akan waktu. Termasuk juga melupakan dua sahabat konyolnya, Finza dan Kayla.


“Waaah bahagia bener rupanya. Abis telponan sama siapa sih ?” Finza bertanya dengan gaya menggodanya.


“Sama calon suami.” Nadhira menjawab tanpa sadar dengan apa yang diucapkannya dan membuat kedua sahabatnya melotot tak percaya.


“Calon suami ?” Finza dan Kayla bertanya samaan.


“Ahh.. nggak kok. Itu tadi... mmm... keluarga aku dari Bogor. Iya keluarga.” Nadhira menjawab sembarangan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari pertanyaan sahabatnya. Nadhira merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol ucapannya.


“Nggak nggak. Tadi jelas-jelas lho kamu bilang calon suami. Iya kan, Za ? Kamu juga dengernya gitu, kan ?” Ucap Kayla tidak percaya dan mencari pembenaran pada Finza atas apa yang diucapkan Nadhira.


“Iya bener. Aku juga dengernya gitu kok.” Finza membenarkan.


“Nggak kok. Aku nggak bilang gitu. Kalian aja yang salah denger.” Nadhira masih membantah.


“Pokoknya kita nggak salah denger.” Kayla yang pada dasarnya memang anaknya keras kepala tetap bersikukuh pada pendiriannya.


“Kamu mau nikah, Ra ?” Finza bertanya dengan tatapan mengintimidasi.


Nadhira menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Berusaha mencari alasan yang tepat agar kedua sahabatnya percaya.


“Mmm.. aku... aku...”


“Dik!”


Tiba-tiba Bara muncul dibalik pintu kamar Nadhira yang tidak terkunci dari dalam. Nadhira, Finza dan Kayla sontak menoleh ke arah suara.


“Alhamdulillah. Thanks, God. Thanks, Abang. Udah nyelametin aku dari sahabatku yang super duper kepo ini.” Nadhira merasa lega setelah terselamatkan dari situasinya yang terpojokkan oleh kedua sahabatnya.


“Eh. Ada Finza dan Kayla. Maaf ya. Abang kira Nadhira sendirian. Jadinya Abang langsung masuk aja. Hee.” Bara menampilkan deretan gigi putihnya.


“Iya, Bang. Nggak apa-apa kok.” Jawab Finza.


Jangan tanya bagaimana reaksi Kayla seperti apa. Mendengar nama Finza saja hatinya sudah ketar-ketir tak menentu. Apalagi sekarang melihat siapa yang sudah berdiri diambang pintu kamar Nadhira. Kayla merasakan ada aliran berbeda yang menyengat seluruh organ dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya.


“Ya Allah, kenapa aku begini ?” Batin Kayla sembari memegang dadanya yang bergemuruh.


“Abang, bisa nggak sih kalo mau masuk itu ketuk pintu dulu ? Main nyelonong aja. Kebiasaan deh.” Nadhira memasang wajah cemberut melihat kebiasaan kakaknya yang satu ini.


“Iya. Iya. Lain kali ketuk pintu dulu deh. Lagian kan udah minta maaf juga tadi.”


Nadhira malas menanggapi kakaknya karena masih merasa kesal dengan kejadian paginya.


“Nggak usah cemberut gitu dong. Nggak malu apa diliatin temennya.” Bara mendekat ke arah Nadhira didepan meja riasnya.


Kayla yang melihat Bara semakin mendekat merasa tegang. Ia memilin ujung jilbabnya karena salah tingkah. Nadhira yang menyadari sikap Kayla tersenyum geli.


“Za, balik yuk! Aku belum izin ibu kalo mau kesini tadi. Nanti dicariin.” Kayla lebih memilih untuk mengajak Finza pulang daripada harus merasa tegang terus berada di dekat Bara.


“Eh.. nantian lah pulangnya,” kata Nadhira.


“Tapi, Ra. Aku belum izin. Lagian kan sekarang udah ada yang nemenin kamu. Bang Bara udah pulang.”


“Abang pulang sebentar aja kok, Kay. Cuma mau ngambil dokumen yang ketinggalan sekalian nengokin adik Abang yang tukang ngambek ini.” Bara mengacak jilbab Nadhira.


“Ih.. Abang.” Nadgira menepis tangan Bara.


“Nggak apa-apa, Bang. Kita balik aja. Yuk, Za!” Kayla menarik paksa tangan Finza yang tadinya hanya diam saja.


“Eh, ya udah, Ra, Bang. Kami pamit. Assalamu’alaikum!” Finza sedikit berteriak karena masih diseret keluar oleh Kayla.


“Wa’alaikumussalam!” jawab Nadhira dan Bara berbarengan.


___To Be Continued___

__ADS_1


__ADS_2