Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 134


__ADS_3

Gadis itu masih setia terlelap dalam hangat peluk Reyhan. Dengkuran halusnya menciptakan irama teratur.


Reyhan menatap lekat wajah istrinya dalam jarak dekat. Ia menyelipkan anak rambut yang jatuh di wajah putih mulus itu. Sebelah tangannya masih setia mengelus lembut rambut panjang Nadhira. Sebelahnya lagi dijadikan banyal oleh gadis yang sebentar lagi menyandang predikat Mama itu.


Tangan Reyhan beralih pada perut buncit Nadhira. Ia tak ingin melewati barang sedetikpun waktunya untuk tak merasakan gerakan-gerakan kecil sang buah hati.


"Sayang, bangun. Katanya mau cek kandungan," bisik Reyhan tepat di telinga istrinya.


Alih-alih membuka mata. Gadis itu bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Reyhan. Menenggelamkan lagi wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Lho, Aleeana. Semalam kamu katakan mau lihat perkembangan si kecil. Bangun, Sayang. Kita ke dokter kandungan sekarang," kata Reyhan dengan tangan yang tak henti mengelus lembut pipi Nadhira.


Masih sama. Gadis itu terus saja memeluk erat tubuh Reyhan tanpa berniat melepaskannya meskipun hanya sedetik. Ia ingin menikmati kenyamanannya di pagi hari.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Reyhan. Ia menoleh ke arah pintu kamar. Sayup-sayup ia mendengar suara Farhan yang memanggil namanya.


"Kak Reyhan!"


"Tunggu sebentar, Dik!" teriak Reyhan.


"Al, jika masih ingin tidur. Tak mengapa. Lanjutkan saja tidurmu. Sebentar aku menemui Farhan diluar," ucap Reyhan seraya meletakkan kepala istrinya di bantal guna untuk membebaskan lengannya.


Gadis itu masih bergeming. Ia semakin tertidur pulas.


Sebelum beranjak. Reyhan lebih dulu mengelus lembut perut buncit Nadhira dan mencium keningnya dengan sayang. "Tunggu sebentar. Aku akan membuatkan sarapan juga untukmu dan si kecil."


Pintu kamar terbuka dengan lebar. Reyhan menemukan Farhan masih berdiri disana. Bersandar pada tembok kokoh dengan tangan yang terlipat didepan dada.


"Ada apa, Farhan?"


"Bolehkah kita bicara di ruangan kakak?"


"Tentu saja."


Kedua lelaki kakak beradik itu segera beranjak dari pintu kamar menuju ruang kerja Reyhan. Ruangan yang terletak paling ujung di lantai dua rumah mewah yang mereka huni.


...***...


"Ada apa, Farhan? Tampaknya kamu begitu serius," ucap Reyhan membuka percakapan.


"Farhan sudah memutuskan untuk membantu Papa mengelola perusahaan," ucap lelaki yang seumuran dengan Nadhira itu tanpa basa-basi.


Hal itu tak urung membuat Reyhan tersenyum lebar. "Benarkah?" tanya Reyhan memastikan.


Farhan mengangguk pasti.


"Dan ini," Farhan menyerahkan sebuah kunci. "Farhan tidak akan tidur diluar lagi mulai sekarang."


"Simpan saja, Dik. Siapa tahu kamu butuh suatu hari nanti."


Farhan tertawa kecil. "Tidak, Kak. Alhamdulillah Farhan sudah punya apartemen sendiri. Yah, walaupun Farhan masih cicil," ucap Farhan malu-malu.

__ADS_1


Berbeda dengan Farhan. Lelaki bermanik hitam pekat itu terharu sekaligus bangsa pada adik lelakinya itu. "Kakak bangga padamu, Dik." Reyhan menarik tubuh Farhan dan mendekapnya erat. "Kakak harap nanti kamu bisa menggantikan posisi kakak."


"Kenapa bicara seperti itu? Farhan 'kan mau bantu Papa. Bukan bantu kakak."


Reyhan terkekeh. "Iya terserah kamu saja."


"Perut Kak Nadhira semakin membesar. Kapan meledaknya, Kak?" tanya Farhan mencairkan suasana dengan kalimat candaannya.


"Dua bulan lagi, Farhan. Kakak semakin tak sabar ingin segera menimang si kecil."


Tatapan Farhan berbinar. "Wah, benarkah?"


Reyhan mengangguk dengan senyum mengembang yang terbingkai pada bibir pucatnya.


"Si kecil berjenis kelamin perempuan atau laki-laki, Kak?"


Reyhan mengedikkan bahu. "Entahlah. Laki-laki ataupun perempuan tak jadi masalah, Dik. Asal Si kecil lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan apapun."


"Semoga kembar, ya, Kak."


Tak menjawab. Reyhan memejamkan mata. Dadanya terasa sedikit sesak. Ia menghirup udara dalam-dalam.


"Kak? Are you good?"


Kepalanya mengangguk pelan. "Iya. Kakak baik-baik saja."


"Yakin?"


"Iya."


Farhan menatap lekat wajah pucat di hadapannya. Sayu dan tampak banyak pikiran. Ia berusaha kembali menghidupkan atmosfer ruangan yang hening. "Farhan ingin punya keponakan kembar, Kak."


"Jika keponakanmu kembar. Kamu ingin menamai mereka siapa?"


Farhan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada kening. Berusaha memikirkan nama yang tepat untuk disematkan jika nantinya Nadhira melahirkan bayi kembar. "Kembarnya laki-laki dan perempuan, ya, Kak. Jadi, nanti Farhan punya keponakan lengkap."


"Terserah kamu saja berimajinasi seperti apa."


"Farhan akan memberikan nama untuk laki-laki, Zafran. Dan yang perempuan..."


"Zebra," celetuk Reyhan tiba-tiba. Hal itu sontak membuat keduanya tertawa keras.


"Tentu saja tidak. Farhan akan menamainya Zulaikha. Zafran dan Zulaikha. Bagaimana? Bagus, 'kan?"


"Bagus. Tapi, bagus menurut kita belum tentu bagus menurut kakak iparmu itu."


Farhan terkekeh. "Nanti biar Farhan yang akan membujuk Kak Nadhira agar dia mau."


"Silahkan saja. Membujuk manusia seperti kakak iparmu sama saja dengan kamu membujuk Latisha, Farhan. Butuh waktu lama dan akan kakak pastikan ada adegan merajuk terlebih dulu."


Kedua kakak beradik itu kembali tertawa lebar.

__ADS_1


"Kak, Farhan ingin nikah muda saja," ucap Farhan masih dengan tawanya.


Reyhan menatap adik lelakinya itu intens. Tatapannya adalah tatapan menyelidik. Menyelidiki apakah adiknya itu tengah serius atau sebaliknya. Serius dengan keinginan nikah mudanya.


"Kamu serius, Farhan?"


Farhan mengangguk pasti. "Tentu saja. Farhan sudah bicara dengan Papa," ucapnya ceria.


"Lantas?"


"Disetujui dong, Kak. Yah, meskipun sebelumnya Farhan harus menjelaskan seperti kuliah umum."


Reyhan menepuk pelan pundak adiknya. "Kakak akan mendukung keputusanmu, Dik. Tapi, ingat! Kamu harus bisa bertanggung jawab atas pilihanmu."


"Iya, Kak. Dan mulai sekarang Farhan akan bekerja keras meskipun masih bekerja di perusahaan Papa."


"Tapi, kamu akan menikahi perempuan yang mana?"


Alis Farhan tertaut menjadi satu. "Kenapa pertanyaan kakak seperti Farhan memiliki banyak perempuan saja?"


Gelak tawa Reyhan tak mampu terbendung. Suara tawanya kembali mengudara mengisi ruangan. Pagi ini, ia benar-benar merasakan kehangatan yang sudah sangat jarang ia temukan bersama adik lelakinya.


"Baiklah. Kamu mau menikahi siapa?"


"Namanya Finza, Kak."


"Finza?"


"Iya. Finza sahabatnya Kak Nadhira itu. Pasti kakak tahu."


"Yang benar saja kamu, Dik?"


"Untuk apa juga Farhan membohongi kakak."


"Wah. Kok bisa kebetulan seperti ini, ya. Kakak menikah dengan Aleeana. Bara akan menikahi Mikayla. Dan kamu, sudah mempunyai rencana juga untuk menikahi Finza," ucap Reyhan dengan tawa kecilnya.


"Kak Bara mau menikah juga, Kak?"


"Iya, Dik. Jika tak ada halangan. Minggu depan sudah dimulai prosesi lamarannya."


Farhan mengangguk paham. Ia menatap dengan intens wajah pucat lelaki didekatnya itu. Ujung bibirnya terangkat sedikit. Membentuk tipis yang hampir tak terlihat.


"Kenapa kamu menatap Kakak seperti itu, Farhan?"


"Oh, tidak. Tidak apa-apa."


"Kakak menyedihkan, ya?"


"Tuh, mulai lagi, 'kan. Tidak mungkinlah, Kak. Kakak tetaplah Reyhan Akbar Oktara. Kakakku yang tampan dan digilai banyak perempuan, yang selalu sukses membuat kakak iparku mendumel."


Reyhan menatap adiknya aneh. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


Farhan tergelak. "Kak Nadhira pernah menceritakan hal itu pada Farhan. Ia tidak suka jika kakak dijadikan bahan perhatian mahasiswi-mahasiswi di kampus saat kakak menemaninya."


Tak ayal cerita Farhan membuat keduanya tergelak.


__ADS_2