
Dikampus.
Nadhira menyodorkan masing-masing satu undangan pada kedua sahabatnya, Finza dan Kayla dengan senyum mengembang membungkus bibir mungilnya yang dipolesi sedikit lipstik.
Baik Kayla maupun Finza. Mereka menatap undangan yang masih berada ditangan Nadhira dengan tatapan yang susah diartikan.
“Ayo diambil. Ini undangan untuk kalian.”
Kayla dan Finza meraih undangan yang telah didesain sedemikian rupa dengan begitu apiknya sehingga terlihat sangat anggun. Mata mereka sibuk mengikuti deretan-deretan dari rangkaian huruf nan indah yang tertulis dengan tinta berwarna keemasan yang menghiasi undangan itu.
“Undangan pernikahan ?” Ucap Finza sedikit berbisik dengan satu alis terangkat.
“Reyhan Akbar Oktara dan Nadhira Aleeana Prayudha ?” Kayla menatap Nadhira yang tengah setia dengan senyum manisnya.
“Ra, kamu beneran mau nikah ?” Lanjut Kayla dengan ekspresi tak percaya.
Nadhira hanya mengangguk dan tersenyum lebar sebagai isyarat ia membenarkan pertanyaan Kayla.
Finza membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia tak percaya dengan kenyataan yang tengah terhidang dihadapannya. Bagaimana mungkin seorang Nadhira Aleeana Prayudha yang notabenenya adalah sesosok perempuan pendiam yang sejauh ini sama sekali tak pernah berbicara tentang pernikahan. Jangankan membahas perihal menikah. Mendengarnya bercerita atau bertanya tentang lawan jenis selain keluarganya pun tak pernah.
“Kamu seriusan, Ra ?” Ini nggak bohong kan ?” Finza mengangkat sedikit undangan yang tengah digenggamnya.
“Iya. Aku serius. Itu kalian lihat sendiri buktinya.”
“MasyaAllah, Ra. Nggak nyangka banget kamu bakal secepat ini melepas status lajangmu. Aku turut berbahagia.” Kayla memeluk erat tubuh Nadhira dari samping. Seolah memberi bukti bahwa ia juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Nadhira.
“Iya, Ra. Aku juga.” Sambung Finza dan ikut memeluk Nadhira.
“Iya, Kay, Za. Terimakasih.”
“Tapi, kok bisa-bisanya kamu nikah sih, Ra ? Setau aku, kamu nggak pernah deket sama cowok.” Tanya Kayla dengan tampang polos sembari melepas pelukannya pada tubuh Nadhira.
“Iya bisa dong. Buktinya beberapa hari lagi aku akan melangsungkan pernikahan, bukan ?” Ucap Nadhira dengan bangga.
“Iya. Iya.” Kayla berujar begitu pasrah.
“Kamu udah siap nikah muda, Ra ?” Finza bertanya dengan sangat hati-hati.
Nadhira tersenyum.
“Iya, Za. Memang aku tidak pernah merencanakan untuk nikah muda. Boro-boro merencanakan. Otakku saja tidak pernah menjangkau untuk berpikir menikah diusia muda. Tapi, skenario Allah siapa yang tau ?”
Nadgira mengambil napas sebentar lalu menghembuskan dengan pelan sebelum ia melanjutkan ucapannya.
“Allah mengirimkan jodohku secepat ini. Alhamdulillah.” Lanjutnya dengan senyum yang tertanggalkan.
“Terus gimana dengan Bang Bara ? Apa dia tidak keberatan kalau kamu lebih duluan menikah dari dia ?” tanya Finza.
Seperti biasa, mendengar nama itu terucap. Kayla merasakan ada sengatan berbeda yang mengalir disekujur tubuhnya. Ia seketika terdiam dan menunduk. Memainkan jemari-jemarinya.
“Tidak ada masalah apapun dengan Abang. Aku pernah menanyakan hal itu sebelumnya. Tapi, dia katakan bahwa jodoh itu datang kapan saja. Tak memandang umurnya berapa dan orangnya bagaimana.”
“Dan barangkali untuk saat ini Abang belum memikirkan juga untuk menikah. Kupikir hatinya masih belum sepenuhnya terbuka lagi untuk mencintai perempuan lain. Makanya dia mendukungku menikah lebih dulu.” Nadhira berucap tanpa sadar dengan perubahan ekspresi Kayla.
“Reyhan Akbar Oktara itu siapa, Ra ? Kamu sama sekali belum pernah menceritakannya padaku ?” Rasa ingin tahu Finza tentang Reyhan kini mulai tumbuh.
“Dia adalah calon suamiku.” Jawab Nadhira bercanda.
“Aku pun tau dia calon suamimu. Maksudku orangnya bagaimana ? Nggak mungkin kan kamu mau menikah dengan orang yang tidak kamu tau sama sekali ?”
“Sedikit rumit jika kujelaskan secara rinci. Intinya dia adalah lelaki yang membawa hatiku pergi dan menghilang entah kemana. Lalu pulang dengan membawa kembali hatiku beserta janji-janji yang diutarakannya dulu.”
“Jadi, kamu udah lama kenal sama dia ?”
“Iya. Cukup lama. Tapi kami pernah terpisah. Dia yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di negera orang. Dan aku yang memutuskan untuk menunggunya.”
“Terus gimana ceritanya kamu bisa ketemu lagi dan akhirnya memutuskan untuk menikah ?”
Semakin lama pertanyaan Finza semakin jauh. Finza seperti bermetamorfosa dari seorang mahasiswa menjadi wartawan.
__ADS_1
“Pertemuan kami setelah kembali belum sampai satu bulan ini. Pertemuan yang berawal dari ketidaksengajaan. Sama halnya dengan pertemuan kami pertama kali. Waktu itu sepulang kuliah aku sakit. Terus dirumah yang pertama aku temui adalah dia. Kupikir itu hanya halusinasiku saja. Tapi ternyata beneran.”
“Lah, kok bisa dia tau rumah kamu dimana ?”
“Ternyata Kak Reyhan itu temennya Abang. Tapi aku nggak tau. Sama dengan Kak Reyhan juga. Dia nggak tau kalo aku adik dari Abang Bara.”
Nadhira menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Finza. Sesi tanya jawab diantara keduanya tak menyadarkan mereka bahwa disana tidak hanya ada mereka berdua. Tapi juga ada Kayla yang hanya diam seribu bahasa. Sibuk memainkan jari-jarinya yang lentik dengan pikiran yang entah bagaimana.
“Kay ?” Nadhira memanggil Kayla. Namun yang dipanggil tak bergeming.
“Kayla ?” Sekali lagi Nadhira mencoba. Dan hasilnya masih tetap sama. Kayla sibuk dengan pikiran yang entah sedang memikirkan apa.
“Kay ?” Kali ini Finza yang memanggil Talita dengan suara sedikit meninggi seraya menepuk bahunya.
Kayla terlonjak kaget. Ia menatap Nadhira dan Finza yang juga tengah menatapnya kebingungan.
“Kamu kenapa, Kay ? Ada masalah ?” Tanya Nadhira dengan khawatir. Karena tak biasanya Kayla menjadi pendiam seperti itu.
“Nggak. Aku nggak apa-apa kok, Ra.” Kayla melontarkan senyum ke arah Nadhira.
“Kalo ada apa-apa cerita aja sama kita, Kay. Kita siap bantuin kok.” Ucap Finza dengan tulus.
“Serius deh aku nggak apa-apa.” Kayla mencoba meyakinkan kedua sahabatnya.
“Maafin aku, Nadhira, Finza. Aku hanya belum siap menceritakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku saja bahkan tidak tau pasti dengan perasaanku sendiri. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menceritakan semuanya pada kalian.” Bisik Kayla dalam hati.
___
“Hari ini Pak Reyhan sudah boleh pulang. Tapi, jangan terlalu beraktifitas yang berat-berat dulu ya, Pak. Bapak harus banyak-banyak istirahat.” Ucap Dokter Fras. Dokter yang biasa menangani Reyhan.
“Terimakasih, Dokter Fras.”
“Baiklah kalo gitu saya permisi dulu, Pak. Mari Bu Mia.” Dokter Fras berpamitan lalu meninggalkan ruangan Reyhan.
“Dengerin kata Dokter Fras, Kak. Banyakin istirahat.” Ucap Mama sembari membereskan perlengkapan yang akan dibawa pulang.
"Iya, Ma.”
“Udah dong, Ma. nggak usah marah-marah gitu. Nanti cepet tua lho.” Reyhan mencoba membujuk mamanya.
“Memang udah tua, kan. Anak aja udah tiga.”
Pintu ruangan rumah sakit terbuka lebar. Memunculkan Farhan yang baru datang untuk menjemput Mama dan kakaknya.
“Jadi pulang sekarang, Ma ?”
“Iya, Nak. Tunggu Mama beresin ini dulu sebentar.”
Farhan mendekat ke arah Reyhan yang masih duduk diatas tempat tidur pasien sembari menyaksikan aktifitas Mama.
“Gimana keadaan kakak ?”
“Alhamdulillah udah baikan, Dek.” Jawab Reyhan seraya melontarkan senyuman pada adik laki-lakinya itu.
“Papa mana, Ma ?” Tanya Reyhan pada mamanya.
“Papa semalam berangkat mendadak ke luar kota. Katanya ada bertemu klien dari luar dan sekalian saja mau lihat lokasi untuk pembangunan perusahaan cabang yang kemarin kakak bilang.”
“Oh.” Reyhan hanya menjawab dengan ber-oh saja.
“Mama udah selesai. Ayo kita pulang. Farhan, bantu kakak ke mobil.” Titah Mama pada Farhan.
“Reyhan masih kuat jalan sendiri, Ma.”
“Yakin ?”
“Iya, Ma. Atau Mama juga mau biar Reyhan yang nyetir sendiri mobilnya ?”
Mama melotot ke arah Reyham yang hanya dibalas dengan cengiran.
__ADS_1
Reyhan, mama dan adiknya berjalan meninggalkan ruang VVIP yang sebelumnya ia tempati untuk mengistirahatkan tubuhnya beberapa hari terakhir ini. Mereka berjalan menuju area dimana mobil diparkirkan.
Mobil yang dikendarai Reyhan, mama dan adiknya melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju kediaman mereka.
“Ma, abis ini Farhan langsung ke kampus, ya ? Pulangnya mungkin agak telat. Farhan ada janji sama temen.” Farhan menoleh sebentar ke arah Mamanya yang duduk disamping kursi kemudi sebelum akhirnya ia memfokuskan pandangan kedepan.
“Mau kemana ?” tanya Mama.
“Mau ketemu sama temen, Ma.” jawab Farhan dengan nada dingin. Sejak ia dengan terang-terangan mulai dibanding-bandingkan dengan Reyhan sifatnya yang ramah, sopan berubah menjadi sangat dingin. Berbicara seperlunya saja.
“Ketemu temen kok sampai malem terus.” Ketus Mama pada anak keduanya itu.
“Kapan sih Farhan kamu bisa diem dirumah kayak kakakmu ? Pantesan aja Papa lebih...”
“Lebih bangga sama kakak daripada Farhan ? Gitu maksud Mama ?” Farhan memotong ucapan mamanya.
“Mama nggak perlu ngomong gitu pun Farhan juga udah tau, Ma. Jadi Mama tidak perlu repot-repot buang tenaga buat ngulangin kalimat yang sama ke Farhan.” Farhan tersenyum sinis dan mencengkeram kuat stang mobil yang ia kemudikan.
“Farhan!”
“Cukup, Ma. Farhan bukan anak kecil lagi. Farhan tau harus bagaimana. Mama jangan ikut-ikutan kayak Papa dong yang maunya dituruti terus.”
Farhan semakin hilang kendali terhadap Mamanya. Sedang Reyhan masih tak bergeming menyaksikan adu mulut antara Mama dan adiknya itu.
“Jadi, ini hasil pertemuan kamu selama ini dengan teman-temanmu ? Cuma buat ngelawan orang tua ?”
“Akkhhh!” Farhan mengacak rambutnya frustasi dengan sebelah tangan. Sedang tagan yang satunya masih fokus memegang setir.
Farhan memukul setir dengan sangat keras untuk menyalurkan emosinya yang sudah meluap hingga ke ubun-ubunnya.
Didepan rumah megah bercat putih sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh Farhan berhenti tepat di depannya.
Mama keluar terlebih dulu dengan tampang kusut tanpa menghiraukan kedua putranya. Hatinya terlanjur kecewa atas sikap Farhan yang sangat berubah.
Reyhan menyusul mamanya keluar dari mobil. Tapi sebelum kakinya melangkah memasuki rumah. Reyhan menengok ke arah Farhan yang masih didalam mobil.
“Temui kakak dikamar!”
“Tapi...”
“Kakak tidak menerima penolakan.” Reyhan berjalan meninggalkan Ibram yang mau tidak mau juga mengikutinya ke kamar.
Farhan mengekori langkah Reyhan menuju lantai dua dimana letak kamarnya.
Dikamar Reyhan langsung menduduki ranjang besarnya.
“Duduk sini.” Reyhan menepuk ranjang mengisyaratkan agar Ibram duduk disampingnya. Ibram hanya mengikuti apa yang diperintahkan kakaknya.
“Kenapa kamu berubah kayak gini sekarang ?” Reyhan mulai membuka percakapan.
“Farhan pikir kakak udah tau kok jawabannya apa.” Farhan tersenyum sinis seraya menatap langit-langit kamar Reyhan.
“Mama sama Papa kayak gitu ke kamu juga demi kebaikan kamu, Far.”
“Dengan dibanding-bandingkan sama kakak apa itu demi kebaikan Farhan ?”
Reyhan terdiam.
“Kakak aja nggak bisa jawab kan ?”
“Mama Papa sayang sama kamu. mereka nggak mau kamu terjebak dalam pergaulan yang tidak-tidak. Mengertilah, Farhan.”
“Farhan tau itu, Kak. Tapi Farhan lebih tau apa yang terbaik untuk Farhan. Apa kakak masih ingin bicara ? Kalau tidak, Farhan mau pergi.”
“Terserah kamu sajalah. Kamu memang keras kepala, Farhan.”
“Farhan tidak ingin mengorbankan cita-cita Ibram hanya untuk mengikuti semua keinginan Papa. Cukuplah kakak yang seperti itu. Farhan tidak.”
Farhan melenggang pergi meninggalkan Reyhan seorang diri didalam kamar dengan pikiran yang tak menentu.
__ADS_1
___TBC___