
“Sayang!” teriak Reyhan dengan suara menggelegar dari lantai satu.
“Iya sebentar,” balasnya dengan teriakan lantang dan tak kalah kencang juga. Ia menyeret koper besar miliknya dengan sekuat tenaga yang sudah berisi segala perlengkapan pribadinya selama liburan. Tubuhnya yang terlampau kecil membuatnya begitu kesulitan. Juga dengan adanya tas jinjing yang akan selalu ia bawa saat bepergian.
Ia menyembulkan kepalanya dari pembatas tangga dan menatap Reyhan dengan tatapan memelasnya. “Sayang,” panggilnya mesra dengan alis yang ia naik turunkan.
“Kenapa ?” tanya Reyhan bingung.
“Bantu aku membawa koperku. Ini berat sekali.”
Reyhan menggelengkan kepala dan segera berlari melewati tangga. Melihat koper besar yang sudah diletakkan didekatnya membuat Reyhan seketika kaget. “Al, kamu serius mau bawa koper besar itu ?”
Ia menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
“Astaga, Al! Kita hanya liburan seminggu. Bukan pindah rumah. Bawa pakaianmu seperlunya saja. Jangan bawa seisi lemari begini,” dumel Reyhan seraya menyeret koper besar di hadapannya itu.
“Itu saja sudah banyak yang aku kurangi, Kak.”
“Huh! Dasar perempuan!”
“Itulah salah satu bukti bahwa aku bukan lagi seorang gadis kecil seperti yang kakak dan Abang katakan,” ucapnya bangga dengan mengikuti langkah Reyhan dari belakang.
“Dengan hal-hal seribet ini, Al ? Bangga sekali,” cibir Reyhan.
“Kakak jika tak ikhlas membantuku katakan saja. biar aku sendiri yang membawa koperku ke bawah,” ucapnya dengan nada marah.
“Memangnya kamu kuat ?”
Ia menggeleng cepat dan polos.
Merasa gemas dengan kepolosan istrinya. Reyhan mengacak jilbab yang sudah ia tata rapi nan anggun untuk membungkus mahkota indahnya.
“Sayang!” bentaknya. Namun, masih terdengar mesra dan manja di telinga Reyhan.
“Iya, Sayangku.”
“Jangan mengacak jilbabku. Aku sudah lelah-lelah merapikannya.”
Reyhan menatapnya dengan senyum merekah. “Cantikmu tak akan pernah hilang selama hijab itu tak kamu tanggalkan dari kepalamu, Sayang.”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa cantikku akan hilang jilbabku berantakan.”
“Tapi, aku tahu apa isi hatimu.”
__ADS_1
Ia mengangguk pasrah. “Iya. Kakak memang suami terbaik yang selalu mampu memahami pikiranku tanpa aku lisankan,” balasnya dan bergelayut manja pada lengan Reyhan.
“Kakak mau pergi kemana hingga membawa koper besar ?” tanya Farhan yang tiba-tiba muncul di hadapan pasangan yang tengah memadu keromantisan itu.
“Kakak iparmu ini selalu merajuk untuk liburan, Farhan. Jadi, kakak harus memenuhi permintaannya sebelum ia murka,” jawab Reyhan bercanda diiringi dengan tawa.
“Jangan merusak nama baikku di hadapan adik iparku, Kak. Dan liburan ini jelas saja kakak yang mengajakku,” bantahnya.
“Bulan madu ?” tanya Farhan lagi dengan tatapan menyelidik.
“Sebut saja begitu,” balasnya dan tertawa keras. Ia memeluk erat suaminya seakan-akan membuat adik iparnya itu iri.
“Baiklah. Manusia dibawah umur dan tak punya pasangan seperti Farhan bisa apa selain mengiyakan pasangan tukang pamer seperti kalian,” cibir Farhan dan berlalu menuju kamar.
“Menikah muda juga baik, Dik,” teriak Reyhan menggoda adik lelakinya itu.
“Sayang sudah. Jangan menggoda Farhan lagi.”
_____
Tepat siang hari. Saat sang bagaskara terasa memancarkan terik tepat diatas ubun-ubun. Ia menapak kaki bersama Reyhan di sebuah gedung hotel berbintang dalam rangka liburan dan bulan madu yang sempat tertunda.
“Huh! Akhirnya sampai juga,” ucapnya dengan membuang napas kasar.
Reyhan meraih tubuh kecilnya dan merangkulnya. Membawanya memasuki hotel yang sudah di pilih sebagai tempat melepas lelah selama liburan. Langkah keduanya pasti tanpa ada keraguan sedikitpun. Sesekali mereka berpapasan dengan para penghuni hotel lainnya yang menatap dengan tatapan yang susah di artikan. Ada pula yang sekedar menyunggingkan seutas senyum simpul.
Reyhan tersenyum manis padanya. “Iya, Sayang. Tapi, kita ke kamar untuk membersihka diri dulu. Aku tidak bisa keluar dengan tubuh lengket dan penuh keringat seperti ini.”
Ia mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.
Setelah Reyhan membuka pintu kamar hotel. Sebentar ia tertegun melihat isinya. Kamar yang sudah di dekorasi dengan apik nan indah. Dengan taburan bunga mawar merah. Jua dengan bunga mawar putih di setiap sudut kamar. Entah seberapa banyak jumlah mawar yang dibutuhkan untuk mendesain kamarnya saja.
Ia memasuki kamar hotel dengan mata tak berkedip.
“Bagaimana, Sayang ? Kamu suka ?”
“Kakak yang mendekorasi ini ?”
“Tidak! Tapi, aku yang meminta kamar kita di desain seperti ini. Persis seperti kamar hotel di hari pertama kita sah menjadi sepasang suami istri. Meskipun malam pertamanya di Rumah Sakit.” Reyhan terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
“Terimakasih sudah banyak berkorban sejauh ini.”
“Sudah ku katakan. Untuk istriku apapun akan aku lakukan.”
__ADS_1
Ia tersenyum dan memeluk Reyhan. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya. Meresapi aroma mint yang tak pernah bosan ia nikmati.
“Sayang jangan begini. Tubuhku kotor dan masih lengket.”
“Aku tak peduli. Aku hanya ingin memeluk suamiku.”
“Iya, Sayang. Tapi, setelah aku mandi. Terserah kamu memelukku dengan cara bagaimana dan selama apa.”
“Huh! Baiklah,” pasrahnya dan melepaskan pelukannya pada tubuh Reyhan dengan terpaksa.
Ia membiarkan Reyhan meninggalkannya menuju kamar mandi. Sementara ia membereskan barang dan segala keperluannya bersama Reyhan selama satu minggu tinggal di hotel.
Saat tangannya meletakkan tas jinjing diatas nakas. Benda pipih segiempat milik suaminya yang tergeletak diatas tempat tidur bergetar dan berbunyi dengan nyaring. Membuat kegiatannya terhenti seketika. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah nama kontak. Senyumnya mengembang dan menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikun, Han. Elo dirumah, bukan ?”
“Wa’alaikumussalam, Abang sayang,” jawabnya dengan senyum jail.
“Lho, Dik. Dimana Reyhan ?”
“Kak Reyhan sedang dikamar mandi. Dan kami sedang berbulan madu. Jadi, Abang jangan ganggu dulu, ya.”
“Dasar adik durhaka!” cibir Bara.
Ia tertawa lepas. “Abang akan tahu bagaimana rasanya nanti saat Abang sudah menikahi Mikayla.”
“Sudahlah. Katakan pada Reyhan untuk menghubungi Abang kembali. Ada hal penting yang ingin Abang beritahu.”
“Baik, calon penganti baru.”
Sambungan terputus tanpa pamit. Ia tahu Bara pasti sudah mrasa kesal dibuatnya.
Tatapannya beralih pada seseorang yang baru saja muncul dari balik kamar mandi. Masih dengan rambut basah dan tubuh bertelanjang dada.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu aku memang tampan,” ucap Reyhan seraya berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangan kanannya.
“Tampan ?” Ia tertawa. “Itu hanya kata pujian dari wanita-wanita di luaran sana yang tidak pernah melihatmu dalam jarak dekat, Kak.”
“Memangnya aku terlihat bagaimana dalam jerak dekat ?” tanya Reyhan bingung.
Ia melangkahkan kakinya perlahan dan berdiri di hadapan Reyhan. menjinjitkan kakinya agar bibirnya bisa menyentuh telinga suaminya. “Terlihat lebih tampan,” bisiknya dan mendaratkan ciuman singkat di pipi Reyhan.
Tak mau kalah dengan kecurangan yang ia lakukan. Reyhan menarik tubuhnya dan menguncinya dalam dekapan dengan erat. “Jangan pernah mencoba lagi untuk berbuat curang denganku.” Tatapan tajam Reyhan menembus netranya. Reyhan semakin mendekatkan wajah hingga ujung hidung Reyhan menyentuh pipinya.
__ADS_1
“Harusnya siang ini kita beristirahat, Sayang. Tapi, karena kamu sudah menggodaku. Kamu harus bertanggungjawab.”
Ia merasakan deru napas Reyhan di telinganya. Aroma mint itu menyeruak ke dalam indera penciumannya. Matanya terpejam dan entah apa yang terjadi setelahnya.