
Tatapannya menelisik dengan fokus wajah serius Reyhan yang sedang menyetir mobil. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Reyhan membuat aura ketampanannya meningkat beberapa persen. Hal itu membuatnya semakin terpaku pada pemandangan di hadapannya itu.
"Ada apa, Al ? Kenapa kamu menatapku seperti itu ?" tanya Reyhan tanpa menoleh ke arahnya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang menikmati keindahan karya tangan Tuhan."
Reyhan menatapnya bingung. "Maksud kamu apa ?"
"Aku ingin menikmati ketampanan suamiku yang luar biasa ini. Sebelum di nikmati oleh mata para mahasiswi yang tanpa malu memuji kakak di hadapanku."
Reyhan terkekeh dibuatnya. "Akhirnya, kamu mengakui juga ketampananku, ya, Sayang," ucap Reyhan seraya mengelus puncak kepalanya yang sudah tertutup rapi dengan hijabnya.
"Kak, aku mau bicara sesuatu pada kakak. Boleh ?" tanyanya ragu.
"Boleh, Sayang. Mau tanya apa ?"
"Jangan seperti itu pada Papa. Aku yang merasa tidak enak padanya."
"Ku harap kamu tidak lupa dengan ucapanku di Rumah Sakit waktu itu, Al."
"Iya. Aku paham. Tapi, Papa hanya bertanya dan ingin tahu saja perkembangannya. Lagipula, tidak ada sesuatu yang salah dengan pertanyaan Papa."
"Aku hanya tidak berminat membahas permasalahan donor, operasi dan semacamnya itu. Dengan siapapun itu."
"Kak ?"
"Harapanku sudah mulai tumbuh sekarang, Al. Jangan lagi ingatkan aku pada masa lalu dengan masalah ini. Ku mohon."
"Baiklah," ucapnya mengalah.
"Dan semoga harapanku kali ini berbuah sesuai dengan yang ku harapkan. Aku lelah berharap dan kemudian patah."
"Berdo'alah. Semoga semua berjalan sesuai harapan. Aku akan selalu menemani kakak."
Reyhan tersenyum.
"Aku mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara."
Reyhan mendaratkan ciuman singkat di keningnya.
_____
"Finza!" panggilnya dengan suara keras yang mampu menyita perhatian banyak orang yang sedang berdiri di parkiran kampus. Sifatnya yang tidak peduli dengan komentar dan tatapan orang membuatnya semakin kencang meneriakkan nama salah satu sahabatnya itu. "Finza!"
Sang empunya nama menoleh dengan cepat dan berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. Ia melambaikan tangan tanpa henti hingga Finza berjarak dua meter darinya.
"Sayang, jangan teriak seperti itu. Malu dilihat orang banyak," nasehat Reyhan padanya.
"Mereka tidak sedang memperhatikanku. Tapi, memperhatikan suamiku yang tampan," ucapnya kesal.
Ingin sekali Reyhan mentertawakannya. Namun, ia takut melihat istri kecilnya itu murka di depan umum.
"Aku sering bertanya-tanya sendiri. Kenapa suamiku harus terlahir setampan ini ? Mama dulu sewaktu mengandung kakak ngidam makan makanan jenis apa ?"
Sudah tak tahan lagi menahan tawanya. Reyhan akhirnya melepas bebas tawa yang mengudara. "Aleea. Aleea. Pertanyaanmu itu kenapa lucu sekali ?"
"Assalamualaikum, pengantin baru," sapa Finza yang sudah berada dihadapannya.
Tawa Reyhan seketika berhenti. "Wa'alaikumussalam," jawabnya bersamaan.
__ADS_1
"Rupanya pasangan pengantin baru ini sedang berbahagia sekali. Sedang mentertawakan apa ?"
"Aku sedang menertawakan sahabatmu ini, Finza. Dia begitu lucu dengan segala pertanyaan dan tingkah konyolnya." Reyhan kembali tertawa.
"Kenapa, Ra ?"
"Aku kesal saja. Setiap kali Kak Reyhan mengantarku ke kampus. Mata para mahasiswi itu selalu saja tak berkedip menatap suamiku. Apakah mereka tak pernah melihat manusia setampan Kak Reyhan ?" ucapnya dengan tingkat kekesalan yang semakin tinggi.
Finza yang awalnya hanya melempar tanya kini juga mau tidak mau harus ikut mentertawakannya. Pertanyaan yang ia lontarkan benar-benar mengundang tawa siapapun yang mendengarnya.
"Lho, kenapa kamu juga ikut menertawakanku, Finza ?"
"Sungguh. Pertanyaanmu benar-benar lucu, Ra. Astaga."
"Ah... Kalian sama saja," ucapnya dan menghentakkan kaki.
"Itu Kayla," teriaknya lagi ditengah kekesalan yang menderanya.
Reyhan menariknya dengan kuat hingga wajahnya membentur dada bidang yang terlapisi kemeja biru muja dan jas hitam pekat itu. "Kak, sakit," ucapnya kesal.
"Sudah ku bilang jangan teriak, Aleea."
"Maaf. Aku terlalu antusias bertemu dengan dua sahabatku."
"Nadhira! Aku rindu."
Suara nyaring Kayla menggema di telinganya. Ia melepaskan diri dari jeratan tangan Reyhan dan memeluk Kayla dengan gembira.
"Bagaimana kabar, pengantin baru ?"
"Tentu baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat sekarang."
"Alhamdulillah semakin membaik," jawab Reyhan dengan senyuman.
"Sayang, berhubung Kayla dan Finza sudah datang. Aku berangkat ke kantor sekarang saja, ya."
Ia mengangguk.
"Nanti jika ingin pulang. Kabari aku. Biar aku yang akan menjemputmu."
"Iya, Sayang. Hati-hati dijalan."
Ia meraih tangan kanan Reyhan dan menciumnya yang dibalas Reyhn dengan mencium keningnya.
"Tolonglah, wahai pengantin baru. Jangan membuatku iri dengan cara kalian itu," ucap Kayla yang berhasil mengundang tawa semuanya.
"Makanya kamu cepatlah menikah. Supaya tidak iri melihat kami seperti ini," balasnya seraya memeluk tubuh Reyhan.
"Bagaimana aku bisa menikah jika pasangan saja aku belum punya."
"Dengan Bang Bara kamu tidak mau, Kay ?" katanya menggoda Kayla dengan mata yang dikedipkan sebelah.
Pipi Kayla seketika memerah bak kepiting rebus. "Sudahlah. Jangan menggodaku seperti itu."
"Iya sudah aku berangkat sekarang, Al. Assalamualaikum semuanya."
"Wa'alaikumussalam," jawabnya beserta kedua sahabatnya.
Ia menatap punggung Reyhan yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Sayang!" panggilnya tiba-tiba dan berlari ke arah Reyhan. "Jangan lupa minum obat kakak tepat waktu. Aku tidak ingin melihat kakak seperti kemarin lagi."
"Iya, Sayang. Tentu saja aku akan selalu baik-baik saja. Terimakasih sudah mengingatkanku."
Ia mengangguk dan memeluk suaminya. Mencium kedua pipi Reyhan bergantian.
"Aku berangkat, ya. Kamu baik-baik bersama Kayla dan Finza."
Ia melambaikan tangan pada Reyhan.
Setelah mobil menyala yang di kendarai Reyhan tak lagi nampak di pandangannya. Ia berbalik arah dan kembali melangkah menuju Kayla dan Finza yang masih menunggunya.
"Mau kemana kita setelah ini ?" tanyanya girang.
"Ke tempat biasa. Bertemu Mamang dengan segala kelezatan mie goreng dan es campur buatannya," balas Kayla dengan suara emas miliknya yang nyaring dan menggelegar.
"Baiklah. Tunggu apalagi ?"
Ia tertawa lepas bersama kedua sahabatnya.
_____
"Wah... Tumben saya lihat Neng Nadhira kemari," ucap lelaki empat puluh tahun dengan kumis tebalnya yang biasa di panggil Mamang.
"Iya, Mang. Nadhira 'kan sudah jarang sekali ke kampus," jawabnya dengan sopan.
"Lho, kenapa, Neng ? Neng Finza dan Neng Kayla bahkan hampir setiap hari datang kesini."
"Mamang tidak tahu, ya ? Nadhira 'kan sudah menikah, Mang," celetuk Kayla.
"Benar, Neng ?"
"Alhamdulillah, Mang," balasnya tersenyum.
"Ya Allah Gusti. Selamat atas pernikahannya, ya, Neng. Semoga menjadi keluarga bahagia dan selalu dalam ridha Allah."
"Aamiin. Terimakasih, Mang."
"Ra, bagaimana ? Sudah hamil, belum ?"
"Belum, Za."
"Lho, bukannya kemarin sudah ada tanda-tanda ?"
"Iya. Tapi, saat aku testpack hasilnya negatif. Mungkin belum rezeki," jawabnya dengan senyum tipis.
"Sabar, ya. Semoga secepatnya bisa mendapatkan titipan."
Ia mengangguk dan tersenyum.
"Buatkan keponakan yang banyak untukku, Al," ucap Kayla menggodanya.
"Mau pesan berapa, Kay ?"
"Hah ? Kamu pikir seperti memesan mie gorengnya Mamang ?"
"Itu tahu sendiri."
Finza hanya tergelak melihat perdebatan tak bermanfaat kedua sahabatnya itu.
__ADS_1