
Mobil merah menyala milik Reyhan berhenti di halaman rumah besar itu saat matahari sudah terbenam dengan sempurna. Langit yang tadinya menjingga kini telah menggelap. Ia menatap suaminga yang tengah bersiap-siap keluar dari mobil terlebih dulu dan membukakan pintu kemudi untuknya.
"Sayang," panggilnya dengan cepat seraya mencekal tangan Reyhan. Membuat Reyhan mengurungkan niatnya turun.
"Kenapa rumah nampak sepi ? Dan didalam juga gelap seperti itu ? Apakah listrik dirumah sedang bermasalah ?" lanjutnya bertanya dan melempar tatap ke arah rumah yang gelap.
"Oh iya. Apa Papa dan Mama sedang tidak dirumah, ya, Al."
"Lalu, Papa dan Mama kemana, Kak ?"
"Aku jua tak tahu, Sayang. Papa dan Mama sama sekali tak memberi kabar padaku sejak semalam. Begitu pula dengan Farhan."
Ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita masuk saja, ya, Al."
Dengan patuh ia mengikuti ucapan suaminya. Ia menggandeng tangan Reyhan dan berjalan menuju pintu utama rumah besar keluarga Oktara itu.
Tepat saat pintu Reyhan buka dengan lebar. Suara sorak ucapan selamat ulang tahun menggema di telinga keduanya.
"Selamat ulang tahun, Kakak!"
Suara emas Mama terdengar lantang dan berhasil mengagetkannya yang masih berdiri di ambang pintu bersama suaminya.
Jua Reyhan. Ia tak kalah kagetnya sama seperti istrinya. "Astaghfirullah, Mama. Mama membuat Reyhan kaget saja." Reyhan mengelus dadanya pelan.
"Kak ?" panggilnya dengan nada khawatir. Ia takut suaminya akan anfal lagi karena kaget.
"Aku baik-baik saja, Sayang," ucap Reyhan menjawab kekhawatiran yang ditunjukkan istrinya itu.
Ia tersenyum dan seketika merasa tenang.
"Tiup lilin dulu, Nak. Jangan lupa langitkan harapan-harapan yang kamu ingin gapai." Mama nampak antusias.
Reyhan memejamkan matanya. Melafalkan do'a-do'a didalam hati. Kemudian, meniup lilin yang sudah berjejer rapi diatas kue yang sudah bertuliskan kalimat "Selamat Ulang Tahun, Reyhan Akbar".
"Terimakasih, ya, Ma. Sudah memberikan kejutan seperti ini untuk Reyhan. Padahal, usia Reyhan sudah tak muda lagi." Reyhan mencium kedua pipi Mama.
"Pa, terimakasih juga atas semua ini. Terimakasih pula untuk segala pelajaran hidup yang Papa ajarkan hingga Reyhan menginjak usia dua puluh lima." Reyhan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Mama.
"Kak, selamat ulang tahun," ucap Farhan dan memeluk tubuh Reyhan.
"Terimakasih, Farhan."
"Apa tidak ada yang ingat bahwa disini masih ada Nadhira ?" ucapnya menghentikan drama yang dibuat suami dan keluarganya itu.
Sontak semua tertawa mendengar pertanyaan polosnya.
"Sayang, tidak ada yang melupakanmu," ucap Reyhan menenangkan agar ia tak kembali pada mode merajuknya.
"Papa dan Mama punya hadiah untuk Reyhan," ucap Papa dengan antusiasme yang tinggi.
"Reyhan pun juga punya hadiah untuk Papa dan Mama. Iya 'kan, Sayang ?"
Ia mengangguk.
"Hadiah apa, Kak ? Papa dan Mama 'kan belum saatnya merayakan ulang tahun pernikahan."
"Ini hadiah spesial untuk Papa dan Mama."
__ADS_1
"Baiklah. Coba tunjukkan," perintah Papa.
"Yang ulang tahun 'kan Reyhan, Pa. Jadi, Reyhan yang lebih dulu menerima hadiahnya."
"Oh baiklah." Papa merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda kecil berwarna hitam. Menyerahkannya langsung ke tangan Reyhan.
Reyhan menatap benda tersebut. "Pa, ini kunci mobil. Reyhan 'kan sudah ada mobil. Untuk apa memberikannya lagi pada Reyhan ?"
"Itu hadiah dari Papa dan Mama, Nak. Kamu harus menerimanya."
Reyhan menatap istrinya yang masih setia menggandeng tangannya itu. Reyhan hanya mendapati senyuman manis dan anggukan kecil.
"Baiklah, Pa. Terimakasih."
"Sayang, aku merasa mual lagi," bisiknya agar tak terdengar oleh kedua mertuanya. Juga Farhan.
Reyhan mengelus tangannya dengan lembut. "Sabar, ya, Sayang."
"Reyhan dan Aleea punya hadiah untuk Papa dan Mama. Tapi, ini hanya sebuah hadiah sederhana," ucap Reyhan. Ia memberikan kotak kecil yang Nadhira berikan untuknya pada Mama.
Tanpa berpikir panjang Mama membuka kotak itu dan sontak membekap mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Kamu benar-benar sedang hamil, Nadhira ?" tanya Mama setengah percaya.
Papa yang mendengar ucapan istrinya lantas mengambil alih tanpa permisi benda putih berukuran kecil itu.
"Wah... Jadi, sebentar lagi Papa akan segera menimang cucu pertama ?" Papa begitu antusias dan bahagia.
Ia dan Reyhan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah, ya Allah," ucap Papa dan Mama secara bersamaan.
"Iya, Ma. Terimakasih, ya, Nak."
Mama memeluk erat tubuhnya yang terasa lemas. "Jaga kesehatanmu dan juga calon cucu Mama, ya, Sayang."
"Tentu, Ma."
Pandangannya berkunang. Bumi seakan berputar dengan cepat. Perutnya bergejolak.
"Ma, kepala Nadhi..." sebelum ia sempat berucap. Ia lebih dulu tumbang. Tubuhnya melemah dan hampir saja terjatuh jika tak ada tangan Reyhan dengan cepat menangkapnya.
"Aleea!"
"Nadhira!"
Semua isi ruang depan begitu panik melihatnya yang tiba-tiba lemas dan tak sadarkan diri. Terlebih Reyhan yang baru saja melihatnya baik-baik saja.
"Sayang, bangun." Reyhan menepuk pelan pipi istrinya dengan pelan.
"Kita bawa saja ke Rumah Sakit, Kak. Mama takut terjadi sesuatu pada Nadhira dan bayinya. Dia sedang hamil muda," ucap Mama panik.
Tanpa berpikir panjang lagi. Reyhan dengan enteng mengangkat tubuh kecilnya dan membawanya ke mobil.
"Biar Papa yang akan menyetir mobilnya."
Reyhan hanya mengangguk.
_____
__ADS_1
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya, Dokter ?"
"Pak Reyhan jangan khawatir. Ibu Nadhira hanya butuh istirahat yang banyak karena mengingat kondisinya yang sedang hamil muda. Usia janin di rahim Ibu Nadhira baru memasuki minggu ke empat."
Reyhan mengangguk paham.
"Ibu Nadhira juga kondisinya lemah. Jadi, tolong istirahatnya di jaga dengan teratur. Begitu juga dengan pola makannya. Karena, usia seperti itu masih rentan."
"Iya, Dokter."
Reyhan segera berlalu setelah menerima catatan resep yang diberikan dokter padanya. Menemui istrinya yang terbaring di brankar ditemani Mama.
"Aleea belum bangun, Ma."
"Belum, Nak. Dokter bilang apa ?"
"Aleea hanya butuh istirahat yang cukup dan pola makan yang teratur. Karena, usia kandungannya baru memasuki usia minggu ke empat."
"Baiklah. Kamu tunggu sampai Nadhira bangun. Sebentar Mama keluar menemui Papa. Raina sedang rewel."
"Iya, Ma."
Selepas Mama keluar dari ruang rawat Nadhira. Reyhan duduk disamping brankar. Ditatapnya wajah Nadhira yang terlihat pucat. Ia menyunggingkan senyum tatkala tatapan mata tajamnya tepat berhenti pada perut Nadhira yang masih rata. Namun, didalamnya sedang tumbuh benih yang selama ia nanti-nantikan.
Reyhan mengelus lembut perut rata Nadhira penuh sayang. Melantunkan shalawat dengan merdu.
Ia sedikit menggeliatkan tubuhnya setelah berhasil menangkap suara merdu milik suaminya. Aroma obat-obatan menyeruak ke hidungnya. Ia bergidik ngeri.
"Hei!" sapa Reyhan dengan senyum mengembang.
"Aku ingin pulang. Aku tidak menyukai aroma obat-obatan ini. Perutku terasa semakin mual," keluhnya dengan manja.
"Kita bisa pulang sekarang, Sayang. Tapi, tunggu sebentar dulu, ya. Tunggu sampai kamu sudah tidak pusing lagi."
"Huh!" Ia membuang napas kasar.
"Al ? Kamu harus menjaga kesehatan. Istirahat yang cukup dan makan yang teratur, Sayang. Disini." Reyhan meletakkan tangan kanannya diatas perut istrinya. "Ada nyawa yang harus kita jaga bersama-sama."
Ia mengangguk paham.
"Dan aku dengan terpaksa harus membatasi aktivitasmu di luar rumah. Termasuk jadwalmu ke kampus. Tak mengapa kamu menunda dulu untuk sementara waktu."
"Jika aku sudah merasa lebih baik. Bolehkah aku melanjutkan lagi kegiatanku di kampus, Kak ?"
"Tentu boleh. Tapi, harus taat aturan, ya, Sayang."
"Iya, suamiku."
Reyhan melempar senyum padanya.
"Kakak."
"Hmmm."
"Bayi kita ingin di peluk papanya," ucapnya tersenyum lebar.
"Bayi kita atau kamu yang ingin di peluk, Al ?"
"Aku juga."
__ADS_1
Keduanya tertawa bersama.