Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 85


__ADS_3

Tatapannya dari wajah cantik seorang gadis yang tengah tertidur lelap itu beralih pada benda pipih segi empat miliknya. Benda itu bergetar singkat diatas nakas. Pertanda ada sebuah pesan masuk.


Ia melepaskan pelukan tangan kecil itu dari pinggangnya. Juga kepala gadis itu ia pindahkan dari pangkuannya menuju bantal yang ada diatas tempat tidur. Selimut bermotif laut itu juga ia gunakan untuk menutupi tubuh kecil istrinya hingga ke dada.


"Tidur yang nyenyak dan mimpi indah, istri kecilku," ucapnya dan menghadiahi istrinya kecupan singkat di kening dan kedua pipi menggemaskan itu.


Ia meraih ponselnya. Membuka kunci dan mendapati sebuah kiriman pesan pada aplikasi dengan ikon amplop berwarna putih dilayar ponsel.


"Bara," bisiknya.


"Gue tunggu elo di taman belakang. Didekat kolam ikan hias milik Nadhira. Dan jangan berlarut. Gue tahu Nadhira sudah tertidur dengan pulas."


Keningnya mengkerut. Ia menatap kembali wajah teduh dengan mata yang sudah terpejam sempurna dan damai dalam tidurnya. Berlabuh dan mengarungi alam mimpinya.


"Tunggu sebentar, ya, Sayang. Aku akan menemui Bara dan segera kembali."


_____


"Ada apa meminta gue menemui elo disini ?" tanya Reyhan setelah sampai di taman belakang dan berdiri tepat di belakang Bara.


Tatapan Bara tajam dan nyalang padanya. Seakan siap menerkamnya kapan saja.


"Tanpa gue tanya. Sepertinya elo sudah paham alasan gue meminta elo menemui gue disini," ucap Bara dengan dingin dan datar.


Ia berjalan mendekat dan duduk disamping kakak iparnya itu tanpa ragu. "Maaf, Bar. Gue bukan peramal yang seketika paham maksud dan tujuan seseorang. Termasuk elo."


Bara tertawa sinis. "Gue baru tahu ternyata seorang Reyhan Akbar Oktara. CEO muda sebuah perusahaan yang sudah melanglang buana pun bisa juga berpura-pura bodoh seperti ini."


"Maksud elo apa sebenarnya, Bar ? Sungguh. Gue benar-benar tidak paham arah pembicaraan elo."


"Perihal Elmeera. Perempuan yang elo peluk di bandara siang tadi. Masih belum paham juga ?"


"Ada apa dengan Elmeera ?" tanyanya polos.


"Sial!" umpat Bara dengan keras.


"Kenapa elo harus berlaku sebodoh itu, Han ?" Bara sudah benar-benar tidak bisa mengontrol dengan baik emosinya. Ia berbicara dengan membentak dan memukul keras kursi panjang yang ia duduki bersama Reyhan.


Ia terlonjak dengan perlakuan Bara yang tak biasa. "Ada apa dengan elo, Bar ? Kenapa sampai marah-marah seperti itu sama gue ? Jika memang ada salah yang sudah gue lakukan. Bicaralah baik-baik, Bar."


"Jelas elo ada salah. Sudah gue katakan sejak awal. Elo memeluk Elmeera. Dan kesalahan elo adalah itu. Hal bodoh yang elo lakukan itu adalah kesalahan besar. Sekarang sudah paham 'kan maksud gue ?"

__ADS_1


Reyhan membungkam. Bibirnya terkatup rapat tak mampu mengucap kata. Ucapan Bara menuntun otaknya mengingat insiden di bandara saat ia bertemu dengan Elmeera. Teman seperjuangan yang ia anggap sebagai adik perempuannya.


"Kenapa elo diam saja, Han ?" Bara tersenyum sinis padanya.


"Perihal kejadian tadi siang dengan Elmeera. Iya. Gue mengaku salah. Tapi, demi apapun gue tidak ada perasaan apapun pada Elmeera. Gue hanya menganggapnya sebagai adik gue sendiri."


Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dan insiden di bandara itu murni karena gue ingin menyalurkan rasa rindu gue padanya sebagai adik. Rindu yang sudah lama sekali gue pendam. Maaf, Bar."


"Picik sekali! Elo lupa bahwa sekarang elo sudah memili istri ? Gue kasih tahu pada elo. Tak sepantasnya lelaki yang sudah beristri melakukan hal serendah itu."


"Kenapa elo harus semarah itu, Bar ?"


"Pertanyaan bodoh macam apalagi yang elo lontarkan kali ini, Reyhan ? Tentu saja gue akan marah. Karena, gue tidak ingin adik gue disakiti oleh sahabat gue sendiri." Bara mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang semakin mengungkung.


"Atau elo menyukai Elmeera, Bara ?"


Tawa Bara menggelegar. "Astaga, Reyhan. Reyhan. Bodoh sekali. Ini bukan perihal gue menyukai Elmeera atau tidak. Tapi, ini menyangkut perasaan adik kandung gue."


Bara menatapnya intens dan tajam. "Siapapun yang melukai hati Nadhira. Dia akan berurusan dengan gue. Termasuk elo. Suami yang tidak tahu malu memeluk perempuan yang bukan istrinya di tempat umum."


"Gue sudah katakan bahwa Elmeera sudah hue anggap sebagai adik gue sendiri," sanggahnya keras.


"Apakah Elmeera menganggap elo kakaknya juga ? Gue rasa tidak, Han. Bagaimana jika sikap elo yang seperti itu membuatnya merasa di istimewakan ? Kemudian, dia akan terbawa pada perasaannya sendiri."


"Sekali lagi gue melihat elo seperti siang tadi. Gue tidak bisa pastikan bahwa gue tidak membuka mulut didepan Nadhira. Untuk kali ini, posisi elo masih aman. Karena, gue masih bisa berbaik hati sama elo."


"Maaf, Bar. Gue janji tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Gue pegang janji elo."


Ia mengangguk. Kemudian, tersenyum jail.


"Kenapa ?" tanya Bara.


"Elo menyukai Elmeera ?"


"Tidak!" bantah Bara dengan cepat.


"Usahlah berbohong pada gue, Bar."


"Gue tidak sedang membohongi elo, Han. Sungguh. Tapi, memang gue sedang jatuh hati pada seorang gadis."

__ADS_1


Reyhan tersenyum. "Siapa ?"


"Nanti juga elo akan tahu sendiri. Gue masuk dulu."


Bara meninggalkannya yang masih duduk dengan rasa kesalnya.


"Elo juga masuk segera. Angin malam tidak baik untuk kesehatan elo," teriak Bara.


"Baiklah, kakak ipar!"


Ia menatap punggung Bara hingga hilang dibalik lorong yang menghubungkan taman dengan ruang belakang rumah itu.


Dinginnya angin malam menusuk persendiannya. Ia mengelus lengannya untuk memberi kehangatan pada dirinya sendiri.


"Reyhan!"


Ia tersentak saat suara panggilan dan tepukan pelan ia rasakan di pundaknya.


"Ini sudah larut malam. Kenapa masih berada diluar ?"


"Iya, Ayah. Tadi Reyhan bersama Abang disini."


"Masuklah, Nak. Sore tadi kamu sampai di rumah dari perjalanan menyelesaikan pekerjaan. Sekarang istirahatlah. Tubuhmu butuh jeda untuk beraktifitas."


"Iya, Ayah. Sebentar lagi Reyhan akan masuk ke kamar."


"Baiklah. Jangan lama-lama, ya, Nak."


Ia mengangguk dan membiarkan Ayah pergi.


"Ayah!" panggilnya sebelum Ayah benar-benar menjauh dari hadapannya. Ia berlari kecil ke arah Ayah.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Aleea ? Dia baik-baik 'kan, Yah ?"


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri, Nak. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," jawab Ayah dengan santai.


"Reyhan benar-benar khawatir, Yah. Beberapa hari ini Aleea sering mengeluh bahwa ia merasa mual dan pusing secara berlebihan."


"Besok kamu bisa mengajaknya ke dokter jika kamu takut terjadi apa-apa dengannya. Tapi, menurut Ayah Nadhira akan baik-baik saja." Ingin sekali Ayah memberitahunya bahwa Nadhira tengah mengandung anaknya. Namun, Ayah mengurungkan niatnya karena Nadhira sudah meminta untuk tak memberitahu Reyhan. Karena, Nadhira ingin memberi kejutan padanya.


"Iya, Yah. Besok Reyhan akan memaksanya untuk ke Rumah Sakit."

__ADS_1


Ayah mengangguk dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah.


Tak lama ia menyusul Ayah dan bergegas ke kamar yg untuk menemui istrinya yang sudah ia tinggal.


__ADS_2