
Nadhira menatap arloji yang melingkar ditangannya dengan jam dinding yang menggantung di ruang tamu, yang tepat menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berjalan mondar mandir menunggu kepulangan Reyhan dengan perasaan harap-harap cemas.
Ia menatap ke arah pintu, berharap Reyhan akan segera menampakkan diri di hadapannya dari balik pintu yang akan terbuka.
Untuk ke sekian kali. Ia mencoba menghubungi suaminya melalui telepon. Akan tetapi, hasilnya masih tetap sama. Kontak Reyhan sama sekali tak bisa di hubungi.
Ceklek. Suara pintu terbuka.
Nadhira sontak membuang pandangannya ke arah pintu. Dan yang ia dapati hanyalah sosok adik iparnya yang melangkah semakin mendekat. Farhan. Bukan suaminya.
"Kak, kenapa masih disini ? Ini sudah larut malam," ucap Farhan.
"Aku tengah menunggu Kak Reyhan pulang dari kantor, Farhan," jawabnya lesu.
"Kak Reyhan belum pulang sampai jam segini ?" tanya Farhan seraya melirik arlojinya.
"Iya. Dan aku sudah menguhubunginya beberapa kali. Tapi, tidak bisa. Mungkin dia sangat sibuk dan tidak bisa diganggu."
"Kebiasaan Kak Reyhan memang begitu. Sering lupa jika sudah bekerja."
"Kak Reyhan belum pulang sampai jam segini ?"
"Iya."
"Kak Nadhira sudah menghubunginya ?"
"Sudah berulang-ulang aku menghubunginya. Tapi, tidak bisa. Barangkali Kak Reyhan sedang sangat sibuk dan tidak bis diganggu. Jadi, dia tidak mengaktifkan ponselnya."
"Ahh... kakak memang kebiasaan seperti itu. Selalu lupa dengan yang lain jika sudah bekerja. Bahkan, makan pun ia kadang lupa."
"Biarlah. Kamu baru pulang juga jam segini, Farhan ?"
"Iya, kak. Ada pekerjaan yang harus Farhan selesaikan setelah kuliah tadi siang."
"Kamu sudah makan malam atau belum ? Jika belum, biar ku sediakan makanan untukmu."
"Tidak perlu, Kak Nadhira. Farhan sudah makan malam diluar."
"Oh.. baiklah. Kamu istirahatlah langsung."
"Tapi, bagaimana dengan Kak Nadhira ?"
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu disini sampai Kak Reyhan pulang."
"Benarkah tak mengapa jika Farhan tinggalkan sendiri disini ?" tanya Reyhan meyakinkan.
"Iya, Farhan."
"Baiklah, Kak. Farhan ke kamar dulu, ya."
Nadhira kembali bergelut dengan aktivitasnya memperhatikan pintu utama dengan penuh harap. Harapan pintu akan terbuka kembali dan memunculkan sosok Reyhan di hadapannya.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat. Reyhan belum juga kunjung pulang. Rasa kantuk yang tak tertahan kian menyapa dengan hangat. Namun, dengan sesegera mungkin ia menepis rasa itu jauh-jauh.
Lama berjalan mondar mandir. Ia memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Tak butuh waktu lama ia sudah mulai terlelap. Tertidur begitu lelap dengan posisi duduk.
"Nadhira ?" ucap Mama membangunkannya.
"Iya, Ma."
"Tidurlah di kamar, Nak."
"Nadhira sedang menunggu Kak Reyhan, Ma. Jadi, tak mengapa Nadhira disini saja."
"Ah... anak itu. Kebiasaan."
"Mama istirahat saja. Nadhira tidak apa-apa."
__ADS_1
"Yakin, Sayang ?"
"Iya, Ma."
Mama meninggalkan Nadhira yang masih setia menunggu kepulangan suaminya di ruang tamu.
Gadis itu kembali duduk di sofa. Menyandarkan tubuhnya. Karena rasa kantuk yang tak bisa ditahan. Matanya perlahan terlelap.
_____
"Tio, ini sudah larut malam. Pekerjaannya besok saja kamu selesaikan," ucap Reyhan mengingatkan Tio. Sang sekretaris yang sudah lama bekerja dengannya.
"Baik, Pak."
"Maaf telah menyita banyak waktumu karena pekerjaan yang sudah saya tinggal sejak persiapan pernikahan saya. Sehingga, waktumu dengan keluarga sangat jarang," sesal Reyhan dengan sungguh-sungguh.
"Tak mengapa, Pak Reyhan. Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai sekretaris Bapak."
"Terimakasih banyak, ya, Tio."
"Saya yang seharusnya berterimakasih pada Bapak karena telah memberikan saya kesempatan menjadi sekretaris Bapak. Dan saya akan terus bekerja keras untuk Bapak."
"Baiklah. Sekarang pulanglah. Atau saya antarkan sekalian ?"
"Tidak perlu, Pak. Terimakasih. Saya ke kantor juga bawa sepeda motor."
"Oh... saya pulang duluan, ya, Tio."
"Iya, Pak. Pasti istri Bapak juga sudah menunggu."
"Iya, Tio."
"Baiklah, Pak. Hati-hati dijalan."
Reyhan berjalan meninggalkan sekretarisnya yang masih sibuk membereskan berkas-berkas miliknya diatas meja.
Reyhan terkekeh. "Kamu bisa saja, Yo."
Ia menatap jam dinding kantor yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Astaghfirullah. Aku lupa mengabari Aleea. Dia pasti khawatir. Terlebih ini adalah kali pertama aku meninggalkannya pergi ke kantor."
Reyhan mempercepat langkahnya. Sehingga, ia dengan cepat tiba ditemoat dimana mobilnya terparkir dengan rapi.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalan raya sudah mulai menyepi di malam hari.
Mobil merah menyala itu berhenti tepat di sebuah rumah mewah bak istana mini.
Reyhan dengan cepat berlari memasuki rumahnya. Membuka pintu yang sama sekali tak terkunci dengan kasar.
Langkahnya terhenti. Matanya terbelalak. Hatinya tercubit menemukan istrinya yang tengah terlelap di sofa ruang tamu dengan posisi duduk. Ia mendekat dan duduk di hadapan Nadhira yang nampak damai dalam tidur nyenyaknya.
"Sayang ?" Reyhan berusaha membangunkan Nadhira. Namun, istrinya itu sama sekali tak bergeming.
"Al, bangun, Sayang. Tidurnya dikamar saja," usaha Reyhan lagi.
Ia menatap istrinya dengan kasihan.
"Maafkan aku, Al. Kamu sampai ketiduran disini hanya karena menungguiku."
Reyhan mengelus dengan lembut pipi gadisnya itu. Dan sukses membuat Nadhira menggeliatkan tubuh mungilnya. Membuka mata dengan pelan.
"Sayang," ucap Reyhan dengan senyum sumringah yang belum mampu menutupi wajah lelahnya.
"Kakak, sejak kapan pulang ?" tanya Nadhira dengan suara serak.
"Beberapa menit yang lalu, Sayang." Reyhan membantu Nadhira merapikan hijabnya yang digunakan untuk menutupi mahkota indahnya.
__ADS_1
"Maaf aku tertidur," ucap Nadhira dengan penuh rasa bersalah.
"Tak mengapa, Sayang. Aku yang meminta maaf telah membuatmu menunggu lama dan tak mengabarimu sama sekali."
"Kakak sudah makan malam ?"
"Sudah, Sayang."
"Yaahh..." Nadhira tertunduk lesu.
"Kenapa, Sayang ?" tanya Reyhan bingung.
"Aku kira kakak belum makan malam. Aku sudah memasakkan sesuatu untuk kakak."
"Benarkah ?" tanya Reyhan dengan cepat.
Nadhira menganggukkan kepala.
"Ayo, Sayang. Kita makan," ajak Reyhan.
Nadhira menatap suaminya tak percaya.
"Aku ingin mencicipi masakan pertama istriku," ucap Reyhan dengan riang.
"Bersih-bersih dulu, Sayang. Setelah itu makan malam."
"Baiklah, Aleeanaku."
Reyhan menyerahkan tas kerja dan jasnya kepada sang istri. Kemudian, memasuki kamar dan membersihkan diri.
Sementara Nadhira kembali ke dapur untuk menghangatkan makanan yang sudah dibuatkan untuk Reyhan. Menyediakannya di meja makan dengan penuh cinta.
"Semoga Kak Reyhan menyukai masakanku," ucapnya dengan senyum mengembang.
"Sayang ?"
"Sudah selesai bersih-bersihnya ?"
Reyhan mengangguk untuk menyahuti pertanyaan istrinya.
"Makanlah. Aku hanya bisa memasak ini untuk kakak. Dan inipun masih dibantu sama Mama."
"Iya, Sayang. Tak mengapa. Kamu 'kan masih belajar."
Reyhan memakan masakan yang dibuatkan istrinya dengan lahap. Dan Nadhira hanya bisa menatap bahagia Reyhan.
"Kamu tidak makan juga, Al ? Makanan enak, Sayang."
"Oh... benarkah ?" tanya Nadhira tak percaya.
"Iya, Sayang. Sungguh."
Nadhira tersenyum puas.
"Jika begini terus. Aku pasti akan lebih merindukan rumah saat berada diluar."
"Sayang, makan dulu. Bicaranya nanti saja," nasihat Nadhira.
Reyhan melahap sisa makanannya hingga tandas.
"Alhamdulillah," ucapnya setelah menghabiskan makanan yang disediakan Nadhira.
"Terimakasih, ya, Sayang."
Nadhira tersenyum.
"Aku mencintaimu, Nadhira Aleeana Prayudha."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara."