Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 123


__ADS_3

"Kak, sepertinya tadi aku bertema Elmeera di toko kue," ucap Nadhira dengan membuka pintu ruangan Reyhan tanpa mengetuknya terlebih dulu.


Langkahnya seketika terhenti tatkala netra dengan manik hitam miliknya menangkap sebuah adegan yang tak pernah di bayangkan sedikitpun juga. Mulutnya sedikit terbuka. Ia kaget. Tentu saja.


Melihat Reyhan tengah memeluk perempuan lain. Lengkungan kecil di bibirnya tadi sirna tak bersisa. Tatapannya mulai memburam. Ada desir berbeda yang mengaliri sekujur tubuhnya.


Reyhan dengan cepat melepaskan pelukannya dengan perempuan itu. Perempuan yang ditemui Nadhira tanpa sengaja di toko kue.


"Maaf. Sepertinya aku sudah mengganggu kalian," ucapnya dengan suara bergetar.


"Sayang, kamu jangan salah paham dulu. Aku bisa jelaskan."


Ia menggeleng. Menundukkan wajahnya dan menangkap sepiring brownies cokelat sudah tersaji dengan rapi diatas meja dekat pintu. Kembali serasa ada yang mencabik-cabik ulu hatinya. Dadanya terasa sesak. Seperti pasokan oksigen didalam ruangan Reyhan benar-benar habis.


"Aku membawakan bekal makan siangmu. Dan untuk dessertnya mungkin sepiring brownies cokelat diatas meja itu sudah cukup. Jadi, aku akan memberikan brownies yang ku bawa ini untuk anak-anak jalanan diluar sana. Biar tidak mubazir." Ia meletakkan rantang yang sudah dibawanya diatas meja. Berdekatan dengan brownies yang sudah tersaji manis.


"Aku permisi," lanjutnya dan beranjak dari ruangan Reyhan.


"Al, tunggu!"


Nadhira sama sekali tak mengindahkan panggilan Reyhan. Hatinya sudah terasa sakit. Bahkan, saat berjalan pun kakinya juga terasa bergetar.


Reyhan menarik tangannya dengan paksa. Hingga tubuhnya terjebak dalam dekapan erat tubuh Reyhan.


"Dengarkan dulu penjelasanku!" ucap Reyhan dengan tegas dan tatapan tajam.


"Aku meminta izin menjenguk Bunda." Ia mencoba melepas dekapan Reyhan pada tubuhnya. Nihil. Dekapan Reyhan terlalu erat.


Reyhan memaksa tubuh kecil dalam pelukannya itu berjalan. Memasuki kembali ruangannya. Didalam masih berdiri Elmeera dengan wajah tertunduk. Malu dan penuh rasa bersalah.


"Duduk dan dengarkan aku menjelaskan kesalahpahaman ini, Al."


"Maaf."


Begitu kata pertama yang telinga gadis berjilbab itu tangkap dari bibir Elmeera. Ia menatap tajam perempuan yang masih berdiri dengan wajah tertunduk itu.


Hening.


Tidak ada satupun diantara mereka yang membuka mulut. Mengucap barang sepatah kata pun.


Nadhira menghela napas panjang. Ia menatap kantong plastik dengan motif label toko kue langganannya itu. Tersenyum sumbang.


"Jika tidak ada yang ingin berbicara. Aku akan pergi. Silahkan kalian menikmati waktu berdua saja."


Ia bangkit dari sofa. Kembali menenteng kantong plastik berisi brownies cokelat kesukaan Reyhan. Tentu saja dengan segala rasa kecewa dan hati yang sakit.


"Al, tunggu!"


Nadhira mengangkat tangannya ke udara. Seketika berhasil membuat Reyhan bungkam.

__ADS_1


"Selesaikan urusan kalian. Seperti yang aku katakan diluar tadi. Aku izin ke rumah Bunda," ucapnya dan beranjak pergi.


Tepat di ambang pintu. Nadhira berhenti. Menoleh ke belakang, ke arah dua insan yang menorehkan luka di hatunya itu. Dengan senyum terpaksa gadis dengan jilbab merah muda itu berkata, "Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Jangan lupa dimakan. Dan jangan lupa minum obatmu."


Langkahnya kembali mengayun perlahan. Hingga kembali terhenti karena tubuh kecilnya terpeluk erat dari belakang. Ia tahu betul siapa pemilik tangan kekar itu. Reyhan.


"Jangan pergi, Al. Ku mohon," ucap Reyhan memelas.


Nadhira bergeming. Ia sama sekali tak menanggapi apapun ucapan Reyhan. Genangan di kelopak matanya semakin bertambah.


Tangannya perlahan melepaskan tangan Reyhan dari tubuhnya. "Izinkan aku pergi. Malu dilihat para karyawanmu dengan adegan seperti ini."


"Al!"


Kali ini langkahnya begitu cepat dan lebar. Bahkan, ia hampir menabrak karyawan yang tengah berlalu lalang. Panggilan Reyhan yang berulang sama sekali tak diindahkannya. Tak peduli pada apapun. Ia hanya ingin segera berlalu dan mengistirahatkan badan serta otaknya.


Hati. Hatinya tentu butuh istirahat juga.


...***...


Selepas kepergian Nadhira. Reyhan diam tanpa kata di ruangannya. Masih ada Elmeera disana.


"Aku harus bagaimana?" tanya Elmeera.


"Nadhira pasti berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Aku minta maaf," sesal Elmeera.


"Maafkan aku yang memelukmu begitu tiba-tiba. Aku terlalu bahagia."


"Iya. Aku paham."


Flashback On


**Dering ponsel diatas meja Reyhan terdengar nyaring. Ia menghentikan gerakan tangannya pada keyboard laptop di hadapannya. Matanya beralih pada benda pipih hitam miliknya.


"Elmeera," bisiknya tatkala matanya menangkap sebuah nama kontak yang ditampilkan benda hitam digenggamannya itu.


"Kenapa, Meer**?"


"Kamu dimana, Rey? Aku ingin menceritakan sesuatu padamu," **ucap Elmeera dari seberang telepon dengan perasaan bahagia, terdengar dari suaranya yang begitu riang.


"Aku masih di kantor. Kamu ingin menceritakan tentang apa padaku**?"


"Tidak afdhal rasanya jika ku ceritakan melalui telepon. Jadi, bolehkah aku menemui langsung ke kantor sekarang?"


"Tentu saja boleh."


"Baiklah aku akan segera datang. Kebetulan aku berada di lokasi yang tidak jauh dari kantormu."


"**Baiklah. Aku tunggu. Dan hati-hati dijalan."

__ADS_1


Sambungan terputus. Reyhan kembali berkutat pada pekerjaan yang sempat ditinggalkannya seraya menunggu kedatangan Elmeera.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar. Terbuka dan menampilkan Elmeera yang tengah berjalan dengan anggun.


"Aku bawakan brownies cokelat kesukaanmu," ucap Elmeera seraya meletakkan barang bawaannya.


"Kenapa harus repot-repot seperti itu?"


"Untuk kakak lelakiku yang tampan. Aku tak pernah merasa direpotkan. Lagipula, ini adalah keinginanku."


"Kamu bisa saja." Reyhan tertawa kecil.


"Apa yang ingin kau ceritakan padaku?"


"Aku akan menikah."


"Wah... Siapa lelaki yang akan mempersunting adik perempuanku ini?"


"Teman kuliahmu itu, Rey."


Mendengar jawaban Elmeera. Reyhan tak kuasa menahan tawanya.


"Tapi, aku bahagia," ucap Elmeera dan tanpa permisi memeluk Reyhan. "Demi apapun. Aku tak pernah sebahagia ini, Rey."


"Iya aku juga turun berbahagia, Meer."


Flashback Off


"Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini pada istrimu. Aku takut terjadi hal buruk dengan hubungan kalian karena sikapku tadi."


"Tidak perlu, Meer. Biar aku yang akan menyelesaikannya dengan Aleeana."


"Tapi, Rey..."


"Sudahlah, Meer. Aku akan menyusul Aleeana dulu ke rumah Bunda. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Terlebih dia sedang hamil sekarang. Apa aku perlu mengantarmu pulang?"


Elmeera menggeleng cepat. "Tidak perlu, Rey. Aku pulang sendiri saja. Kamu segeralah menyusul istrimu."


Reyhan mengangguk dan berjalan ke luar ruangan. Kemudian, disusul Elmeera.


"Rianti, jika ada yang mencariku. Katakan saja aku sedang tidak bisa diganggu. Dan tolong semua jadwal rapat hari ini kami batalkan."


"Baik, Pak."


Lelaki dua puluh enam tahun itu bergegas menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Dengan perasaan campur aduk ia keluar kantor.


Beberapa kali mencoba untuk menghubungi Nadhira. Namun, nihil. Tidak ada respons apapun dari istrinya. Puluhan chat yang ia kirimkan pun tidak ada tanda-tanda dibaca oleh Nadhira. Hal itu tentu saja membuatnya semakin tak karuan.


Reyhan melajukan mobil merah menyala miliknya membelah jalanan menuju rumah Bunda. Berharap istrinya ada disana.

__ADS_1


__ADS_2