Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 93


__ADS_3

Reyhan menatap sendu wajah Bara yang juga tengah menatapnya. Keduanya masih berada didalam kamar setelah ditinggalkan Nadhira menemui Mama dan Bunda.


"Kenapa ?" tanya Bara dengan raut wajah penasarannya.


"Demi apapun, Bar. Gue benar-benar takut kali ini."


"Apa maksud elo bicara seperti itu, Han ?"


"Tasya," ucap Reyhan. Ia menjeda kalimatnya hanya untuk menghirup udara dalam-dalam. Memenuhi pasokan oksigen di paru-parunya yang terasa menyempit.


"Gue takut Tasya akan melakukan hal nekat pada Aleea. Terlebih keadaan gue yang sudah mulai melemah seperti ini."


Bara menatapnya lekat. "Urusan apa mantan tunangan elo itu dengan Nadhira ?"


"Maaf. Gue belum bertunangan sebelumnya sama dia," bantahnya.


"Terserah!"


Ia menghela napas panjang. "Gue takut kejadian yang menimpa Elmeera akan terjadi pada Aleea." Ia bergidik ngeri mengingat kejadian dimana Elmeera dengan sengaja ditabrak oleh Tasya.


Potongan-potongan kejadian beberapa tahun lalu itu kembali memutar di otaknya. Ia dengan cepat menggelengkan kepala kuat. Mencoba menepis setiap kepingan kejadian mengenaskan itu.


"Tidak. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi pada Aleea." Ia mulai histeris.


"Han! Elo baik-baik saja 'kan ?" tanya Bara panik melihat hal tak hiasa yang terjadi pada Reyhan sekarang.


"Bar, bantu gue menjag Aleea. Gue mohon. Gue tidak ingin apapun hal buruk menimpanya. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anak gue, Bar. Gue mohon."


"Elo kenapa jadi seperti ini, Han ? Kelas saja gie akan menjaga keselamatan adik kandung gue."


"Tasya bukan lawan yang bisa di sepelekan, Bar. Elo tahu sendiri bagaimana nekatnya perempuan jahannam itu."


Bara mengangguk paham. Ia sangat membenarkan apa yang Reyhan ucapkan tadi. Karena, ia juga sudah begitu lama mengenal perempuan yang dulu sempat ingin dijodohkan dengan Reyhan itu.


"Jangan khawatir. Siapapun yang memyentuh Nadhira. Maka, ia harus berhubungan dengan gue. Tidak peduli dia lelaki ataupun perempuan."


Sedikit ia bisa bernapas lega.


"Perihal perempuan yang elo peluk di airport kala itu. Tolong jangan lagi menjalin hubungan dengannya. Atas alasan apapun."


"Maksud elo Elmeera ?"


Bara mengangguk mengiyakan.


"Elmeera sudah gue anggap adik gue sendiri. Jadi, elo tidak perlu khawatir akan hal itu."


"Gue tidak khawatir dengan diri gue sendiri. Tapi, gue khawatir pada Nadhira. Gue khawatir dia tidak mampu mencerna dan memahami hal itu dengan baik."


"Katakan saja jika elo yang tidak menyukai gue bersama Elmeera. Jangan membawa nama Aleea," ucap Reyhan setengah bercanda.


"Sial!" Bara melempar guling ke arah sahabatnya itu.


Ia hanya tertawa lebar.

__ADS_1


"Gue sudah melabuhkan hati pada wanita lain. Dan sebentar lagi gue akan mengkhitbahnya," ucap Bara dengan senyum mengembang.


"Wah... Benarkah ? Gue tidak salah dengar, bukan ?"


"Tentu saja tidak," jawab Bara dengan bangga.


"Gue do'akan yang terbaik buat elo."


Bara mengangguk. "Perihal Elmeera. Gue tidak main-main, Han. Karena, sekarang elo adalah seorang suami. Elo harus menjaga komunikasi dengan siapapun. Gue harap elo paham."


Ia hanya menganggukkan kepala.


"Jadi, sekarang elo sudah benar-benar membuka hati untuk wanita lain, Bar ?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu saja. Mata gue kembali terbuka berkat petuah bijak istri manja elo itu."


Ia terkekeh. "Siapa perempuan itu ?"


"Nanti elo akan tahu dengan sendiri."


"Ah... Elo selalu saja begitu. Sama sahabat sendiri saja masih tertutup."


Ia merubah posisinya dengan duduk bersandar pada sandaran ranjang super besarnya. "Kali ini gue harus tahu. Dan gue memaksa elo!" tegasnya dengan tatapan tajam.


"Baiklah. Kali ini gue akan berbagi kebahagiaan dengan adik ipar gue."


"Harusnya sedari dulu seperti itu."


"Elo tahu Mikayla ? Sahabatnya Nadhira. Gue sudah jatuh hati padanya. Senyum dan tatapannya persis seperti Prisil."


"Awalnya begitu. Tapi, setelah mendengar petuah bijak Nadhira membuat gue membuka mata. Bahwa, Prisil sudah benar-benar harus gue lupakan."


"Gue setuju dengan nasihat istri gue. Memang dialah penasihat terbaik. Walaupun manjanya melampaui batas." Ia tertawa lebar.


"Bukankah manjaku yang selalu kakak rindukan ?" tanya Nadhira yang tiba-tiba masuk dengan sepiring besar puding buatan Bunda.


"Segala tentangmu selalu aku rindukan, Sayang," balasnya dengan senyum mengembang.


"Aku bawakan puding terenak didunia. Kakak dan Abang akan ku pastikan ketagihan memakannya," Nadhira berkata dengan bangga dan mendaratkan tubuhnya pelan disamping Reyhan.


"Tidak! Abang tidak menyukai puding. Kamu sudah lupa, Dik ?"


"Harusnya adik memaksa Abang untuk menyukai ini. Tapi, karena adik adalah anak baik dan pengertian. Tentu adik tidak akan melakukan itu." Dengan penuh percaya diri Nadhira memuji dirinya.


"Jadi, adik hanya akan memberikan puding buatan Bunda ini pada Kak Reyhan. Abang duduk manislah menjadi penonton."


"Sungguh demi apapun. Abang benar-benar penasaran. Dulu saat Bunda mengandungmu. Entah makanan jenis apa yang Bunda idamkan sehingga melahirkan manusia semenyebalkan kamu, Nadhira Aleeana Prayudha," ucap Bara dengan kesal.


"Ini semua salah Abang."


"Kenapa ?"


"Abang yang mengajarkan adik menjadi manusia menyebalkan."

__ADS_1


Bara yang tak tahan dengan tingkah adiknya lantas mengancak-acak jilbab Nadhira hingga benar-benar berantakan. "Hadiah untuk manusia menyebalkan seperti kamu!"


"Kak, lihatlah! Apa yang dilakukan kakak iparmu ini pada istrimu. Tidakkah kakak membelaku ?"


Reyhan hanya tertawa menanggapi ucapan istrinya. "Bukankah kamu selalu merindukan hal-hal seperti itu, Sayang ? Jadi, lakukanlah! Aku akan menjadi penonton setia untuk kalian berdua."


"Ah... Kalian sama saja. Sama-sama menyebalkan!" Bibirnya mengerucut beberapa senti ke depan.


"Menyebalkan bagi Abang tak mengapa. Asal tidak menjadi buaya darat saja. Iya 'kan, Han ?"


"Betul. Kali ini gue setuju ucapan elo, Bar."


"Suka-suka kalian saja para lelaki menyebalkan."


Ia menarik tubuh istrinya. Mendekapnya dengan sayang. "Sudahlah. Jangan merajuk seperti itu. Nanti cantiknya hilang."


Nadhira tak bergeming.


"Sayang, Abang sedang jatuh cinta," bisiknya ditelinga Nadhira.


"Hah ? Benarkah ? Sama siapa, Kak ?"


"Mikayla."


Nadhira berteriak girang. "Ya Tuhan. Jadi, Abang tampanku ini sudah benar-benar jatuh cinta pada sahabatku," ucapnya dengan bahagia seraya mencubit kedua pipi kakaknya.


"Apa-apaan, Dik ? Jangan mencubit pipiku seperti anak kecil."


Ia kembali tergelak melihat kelakuan istri dan kakak iparnya itu.


"Benarkah apa yang sudah dikatakan Kak Reyhan itu, Bang ?"


"Abang tidak jatuh cinta pada Mikayla."


Alis Nadhira terangkat sebelah. "Lalu ?"


"Abang akan menikahinya dalam waktu dekat."


Pasangn suami istri itu terbelalak. "Benarkah ?" tanya keduanya bersamaan.


"Kalian usahlah kaget seberlebihan itu. Aku ingin menyempurnakan separuh agamaku dengan menikahi perempuan yang tanpa sengaja dengan melihatnya sudah mampu mengetuk pintu hatiku."


Nadhira sontak memeluk Bara. "Adik akan mendo'akan yang terbaik untuk Abang. Dan adik yakin, Mikayla adalah pilihan yang tepat. Dia adalah perempuan yang baik."


"Terimakasih sudah berusaha membuat Abang membuka mata dan hati. Bahwa, Abang harus berhenti menjerat diri dari kenangan bersama Mbak Prisil."


"Tolong hentikan drama kalian di hadapanku. Aku sedang tidak ingin melihat siapapun menangis."


Ucapan Reyhan mampu menghentikan drama adik kakak itu.


"Aku tidak akan menangis, Sayang. Tenanglah," balas Nadhira tersenyum girang.


"Sekarang cobalah cicipi puding buatan Bunda. Aku akan menyuapimu."

__ADS_1


"Aku keluar dulu. Malas sudah melihat keromantisan kalian. Bisa-bisa aku semakin ingin menikah dengan cepat."


Keduanya tertawa terbahak mengiringi langkah kaki Bara yang menjauh keluar kamar.


__ADS_2