Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 39


__ADS_3

“Sayang, lain kali kamu jangan bersikap seperti itu pada Bang Bara. Tidak baik dan aku tidak suka,” tegas Reyhan pada istrinya.


“Aku hanya tidak menyukai caranya,” balas Nadhira.


“Tapi, tetap saja. Kamu tidak boleh Abangmu sendiri seperti tadi.”


“Jadi, kakak lebih membela Abang daripada aku ?” sungutnya kesal. Ia berdiri di hadapan suaminya dan melipat kedua tangannya didepan dada.


“Aku tidak membela siapapun, Al. Hanya saja aku tidak ingin kamu berlaku tidak sopan pada Abang. Biar bagamanapun, Abang itu kakak kandungmu dan dia lebih tua darimu. Jadi, sudah menjadi kewajibanmu untuk menghormatinya.”


Nadhira berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka lebar. Melepas pandang ke sembarang arah.


“Sayang ?” panggil Reyhan lembut.


Reyhan berdiri dibelakangnya. Dan memeluk tubuhnya erat.


“Dengarkan aku, Al. Mulai sekarang kamu menjadi perempuan dewasa. Sebab, kamu bukanlah gadis kecil lagi, Sayang. Kamu sekarang sudah menyandang status seorang istri. Belajarlah menjadi istri yang baik, yang mampu menghargai siapapun.”


Nadhira memutar tubuhnya menghadap Reyhan.


“Bantu aku menjadi istri yang untuk kakak, ya,” ucapnya lirih dengan menatap mata Reyhan.


“Iya, Sayang. Tentu saja. Kita akan belajar pelan-pelan.” Reyhan mengelus rambut panjang nan hitam pekat milik Nadhira.


Ia memeluk suaminya. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyhan.


“Sayang, baiknya kamu sebagai istri adalah suksesku sebagai seorang suami. Kamu adalah gambaranku, Al. Jadi, mari kita belajar memperbaiki didi bersama-sama, ya.”


Nadhira mengangguk didalam pelukan Reyhan.


Drrrtt. Drrrtt.


Ponsel yang Reyhan simpan disaku celana bergetar.


“Sebentar aku terima telepon dulu, Al.”


Nadhira melepaskan pelukannya ditubuh Reyhan. Memperhatikan gerak gerik Reyhan yang berdiri membelakanginya seraya berbicara melalui telepon entah dengan siapa.


Tangannya masih tergenggam erat oleh tangan kiri Reyhan. Ia rasakan kehangatan dari setiap sentuhan suaminya.


“Sayang, aku akan pergi ke kantor sekarang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan tidak dapat ditunda lagi.”


“Haruskah sekarang ? Bukankah kakak tadi pagi juga pergi ke kantor ?”


“Iya, Al. Atau kamu mau ikut ke kantor bersamaku ?” tawar Reyhan.


“Tidak. Aku takut mengganggu.”


“Tentu saja tidak, Sayang.”


Nadhira menggeleng. “Sebentar aku siapkan pakaian kantor dan tas kerja kakak.”


“Terimakasih, Istriku,” ucap Reyhan dan mencium kening Nadhira.


Nadhira membuka lemari besar tempat semua pakaian milik Reyhan disimpan. Memilih satu setelan pakaian kerja yang akan digunakan suaminya pergi ke kantor.


Sementara Reyhan membersihkan diri di kamar mandi. Nadhira juga mempersiapkan tas kerja yang biasa digunakan suaminya.


“Kak, pakaian kerja kakak sudah ku letakkan di tempat tidur,” ucapnya ketika didapati suaminya keluar dari kamar mandi.


“Terimakasih, ya, Al,” ucap Reyhan seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah.


“Iya, Sayang,” jawabnya dengan manis.

__ADS_1


“Benarkah kamu tidak mau ikut denganku ke kantor, Al ?” tanya Reyhan memastikan.


“Jika aku ikut, aku tidak enak pada Mama. Aku baru saja pulang.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Nanti aku yang akan bicara langsung pada Mama.”


“Tidak perlu, Kak. Aku dirumah saja.”


“Benarkah ? Kamu tak mengapa aku tinggal sendiri ?”


“Memangnya aku hanya tinggal sendiri dirumah ini ? Tidak, ‘kan ?”


“Baiklah. Aku menyerah. Aku tidak ingin mendebat istri kecilku.”


Ia hanya tertawa kecil.


“Aku temani sampai di depan pintu, ya, Sayang,” tawarnya setelah melihat Reyhan sudah rapi.


“Iya, Aleeanaku.” Reyhan tak henti-hentinya mencium kening Nadhira. Menyalurkan setiap rasa yang ia punya untuk istrinya.


Reyhan mengambil tas kerja yang sudah Nadhira siapkan untuknya.


“Biar aku saja, Kak.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku saja.”


“Tidak. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untuk Reyhanku. Dan aku akan memulainya dari hal sederhana seperti ini.”


Reyhan tersenyum. Ia kagum melihat kegigihan istrinya.


“Baiklah, Sayang.”


Nadhira menjinjing tas kerja milik Reyhan. Tangan lainnya menggandeng lengan suaminya.


Ia berjalan di samping Reyhan dengan senyum yang tak tumbang.


“Haruskah ?” tanya Nadhira bingung.


“Harus. Karena, aku akan memperkenalkan istri cantikku pada semua karyawan di kantor.”


Ia tersipu mendengar ucapan suaminya.


“Jadi, ketika kamu pergi ke kantor tanpa aku. Para karyawan akan memperlakukanmu sebagaimana memperlakukanku.”


“Terserah suamiku saja. Aku akan mengikuti.”


Reyhan membelai tangan istrinya dengan mesra.


“Lho, mau kemana lagi, Kak ?” tanya Mama yang sedang duduk di ruang tamu.


“Reyhan mau ke kantor, Ma. Ada pekerjaan mendadak.”


“Baru saja pulang. Sekarang sudah pergi lagi.”


“Ini tidak bisa ditunda, Ma.”


“Ingat! Sekarang kamu sudah punya istri. Jadi, kamu harus pandai membagi waktu.”


“Iya, Ma. Reyhan tahu.”


“Ingat juga pesan Mama. Jaga kesehatanmu. Mama tidak mau lagi jika jan...”


“Ma, Reyhan harus berangkat sekarang,” ucap Reyhan memotong ucapan Mama agar tak dilanjutkan dan diketahui oleh Nadhira. Hal itu membuat Mama membungkam tanpa berkutik.

__ADS_1


Nadhira menatap penasaran suaminya. “Sayang, Mama masih bicara jangan dipotong dulu.” Nadhira menasehati suaminya ditengah rasa penasaran yang membuncah. Ia yakin suaminya menyembunyikan sesuatu darinya.


“Iya, Sayang. Tapi, aku terburu-buru.”


Nadhira membuang napasnya kasar.


“Sebentar, Sayang.” Reyhan melepas tangan Nadhira yang melingkar dilengannya dan mendekati Mama.


“Ma, Reyhan berangkat ke kantor dulu, ya.”


Mama hanya mengangguk dengan raut wajah datar.


Reyhan menggenggam tangan keriput Mama. “Ma, Reyhan selalu mengingat segala pesan Mama. Reyhan tahu betul bagaimana khawatir dan takutnya Mama terhadap kesehatan Reyhan. Tapi, Mama tenang saja. Reyhan akan baik-baik saja. Percaya pada Reyhan.”


“Kak, demi apapun Mama tidak ingin lagi


terjadi apa-apa denganmu.”


Nadhira hanya menatap tak mengerti suami dan ibu mertuanya itu.


“Iya, Ma. Maafkan Reyhan, ya.”


Mama membelai rambut Reyhan dengan lembut.


“Reyhan berangkat, ya, Ma.” Reyhan mencium tangan kanan Mama dan pipinya.


“Ma, Reyhan sengaja memotong ucapan Mama tadi. Reyhan belum siap jika Nadhira secepat ini mengetahui kondisi Reyhan yang sebenarnya,” bisik Reyhan di telinga Mama.


Mama terdiam. Mama tak habis pikir jika sampai sampai saat ini Nadhira belum mengetahui semuanya. Mama menatap Nadhira dengan sendu.


Nadhira ?


Ia hanya berlaku selayaknya penonton yang tak mengerti dengan alur cerita. Tatapannya benar-benar mencerminkan tatapan orang bodoh.


“Apa yang sebenarnya di sembunyikan Kak Reyhan padaku ?” cicitnya dalam hati.


“Sayang ?” Reyhan menyentuh pundak Nadhira yang tengah melamun. Namun, yang dipanggil tak bergeming sama sekali.


“Hei, Aleea!” Reyhan sedikit mengguncang tubuh istrinya.


Nadhira terlonjak kaget. “Kak, kenapa mengagetkanku ?”


“Sayang, kamu kenapa ? Ada yang sedang kamu pikirkan ?”


“Oh tidak, Kak,” ucapnya berbohong.


“Lalu, kenapa kamu melamun seperti itu ?”


Nadhira membungkam.


“Jika kamu ada masalah. Cerita padaku, Sayang. Kita hadapi sama-sama.”


“Tapi, aku benar-benar tidak ada masalah, Kak.”


“Yakin ?”


“Iya, suamiku.”


“Baiklah. Aku akan berangkat sekarang, Sayang.”


Nadhira mengantarkan suaminya hingga di depan pintu.


“Hati-hati dijalan, Reyhanku,” ucapnya sungguh manis. Kemudian mencium tangan suaminya penuh hormat.

__ADS_1


“Iya, Aleeanaku. Baik-baik dirumah, Sayang.” Reyhan mencium kening istrinya (lagi).


Nadhira menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia tersenyum. "Semoga Tuhan selalu meridhai jalanmu, Reyhan Akbar Oktara."


__ADS_2