Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 74


__ADS_3

Ia menelisik setiap jengkal wajah putih nan tegas milik Reyhan. Mengelusnya lembut dari mata hingga dagu yang selalu bersih dari bulu-bulu kasar yang tumbuh. Sesekali ia mencium diam-diam pipi Reyhan yang sekarang nampak tirus semenjak ia sering jatuh sakit.


“Sayang, ini masih terlalu pagi. Jangan mengganggu tidurku.”


“Aku tidak mengganggumu. Aku hanya sedang menikmati ketampananmu, Sayang.”


Reyhan tersenyum dengan mata terpejam.


Ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi Reyhan. “Ah... aku sudah mulai mencium pipi kakak.”


Melihat Reyhan tak merespond. Ia mencubit perut Reyhan dengan gemas.


“Awww. Sakit, Al. Astaga.” Reyhan mengelus perutnya yang sudah memerah bekas cubitan istrinya itu.


“Sayang,” panggilnya manja dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menatap Reyhan yang kembali memejamkan matanya.


“Hmmm,” balas Reyhan tanpa membuka mata sedikit pun.


“Mikayla dan Finza mengajakku bertemu hari ini. Apakah boleh aku menemui mereka ?”


“Boleh, Sayang. Tapi, harus aku yang mengantarmu bertemu mereka.”


“Benarkah ?” tanyanya berbinar.


“Iya, Sayang. Hari ini aku juga harus ke kantor. Jadi, aku akan mengantarmu sekalian aku jalan.”


Ia merubah posisi dengan duduk dan melipat tangan didepan dada. “Tidak boleh! Kakak harus istirahat dulu.”


Reyhan menarik tubuh kecilnya hingga terjatuh tepat di dada. “Sudah ku bilang. Aku baik-baik saja jika sudah bersamamu,” ucap Reyhan seraya mencium bibirnya sekilas. “Morning kiss,” bisik Reyhan.


“Sayaaang.” Ia menenggelamkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.


Reyhan mengelus rambut panjang nan hitam pekatnya yang tergeraui tak terikat dengan lembut. Memeluk erat tubuh yang terlampau kecil itu.


Ia bangkit dan berdiri di hadapan Reyhan yang masih terbaring. “Aku akan mengizinkan kakak pergi ke kantor. Tapi, tentu saja ada syaratnya.”


“Apa ?”


“Kakak harus tetap menjaga kesehatan, meminum obat tepat waktu dan jangan memporsir diri untuk bekerja.”


Reyhan mengangguk paham.


“Satu lagi, jangan pulang telat. Jam lima sore kakak harus sudah ada dirumah. Dan aku tidak akan menerima penolakan atas alasan apapun. Paham ?”


“Baiklah, Nyonya Oktara.”


“Aku akan membersihkan diri terlebih dulu.”


Ia beranjak meninggalkan Reyhan ke kamar mandi.


_____


“Bangunlah, Kak! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Ia mengguncang tubuh Reyhan hingga terbangun.


“Sementara kakak mandi. Aku akan ke dpaur menyiapkan sarapan untuk kakak dan juga yang lainnya.”


Reyhan mengangguk dan segera mengambil handuk yang sudah disiapkan untuknya. “Jangan lupa buatkan bekal untuk makan siangku, Al.”


“Iya, Sayang.”

__ADS_1


_____


Di dapur ia sudah menemukan Mama berkutat dengan alat dapur seperti pagi-pagi sebelumnya. Jua sang asisten rumah tangga yang tengah membersihkan piring-piring kotor yang menumpuk di wastafel.


“Selamat pagi, Ma. Selamat pagi, Bibi.”


“Pagi, Sayang.”


“Selamat pagi, Non Nadhira.”


“Maaf, Ma. Nadhira terlambat turun.”


“Tak mengapa, Ra. Lagipula, Mama rasa luka di tanganmu juga masih sakit. Jadi, biarkan Mama saja yang akan memasak untuk sarapan.”


“Tidak, Ma. Tangan Nadhira sudah tidak apa-apa.”


“Benarkah ?”


“Iya, Mama.”


Ia mulai mengikuti Mama berperang dengan alat-alat dapur. Begitu juga bahan-bahan masakan yang dilimpahkan Mama untuk ia kerjakan.


Dengan teliti dan hati-hati ia mengerjakan segala titah Mama.


“Ma, hari ini Nadhira izin pergi, ya.”


“Mau pergi kemana ?”


“Ke kampus. Kemarin Nadhira urungkan ke kampus karena Nadhira tidak tega meninggalkan Kak Reyhan yang masih belum pulih. Jadi, hari ini Nadhira akan pergi ke kampus. Menyelesaikan tugas-tugas yang kemarin Nadhira belum sempat sentuh.”


“Oh iya, Nak. Kamu sudah izin pada suamimu ?”


“Sudah, Ma. Nadhira akan pergi juga bersama Kak Reyhan. Ia bersikukuh untuk masuk kantor hari ini.”


“Persis seperti Papa,” ucapnya bersamaan dengan Mama.


Ia saling melempar tatap dengan Mama yang melahirkan tawa lepas di pagi hari.


_____


“Sayang, mau sarapan dibawah bersama atau aku bawakan ke kamar saja makanannya ?”


“Dibawah saja, Al.”


“Baiklah. Aku tunggu dibawah, ya.”


“Aku sudah selesai. Biar kita turun bersama.”


Ia menunggu Reyhan menyisir rapi rambutnya.


“Seorang pemimpin harus memberikan contoh yang baik untuk bawahannya. Pakaian harus rapi dan bersih,” ucapnya seraya merapikan kerah kemeja Reyhan.


“Itulah peranmu sebagai istri, Sayang. Membantuku menjadi pemimpin yang baik dan mampu menjadi teladan untuk para karyawannya.”


“Nah, sudah rapi. Suamiku terlihat semakin tampan saja,” pujinya dan memeluk tubuh Reyhan.


“Istriku jua selalu cantik.”


“Kita turun sekarang, ya. Mama dan Papa pasti sudah menunggu dibawah.”

__ADS_1


Ia menggandeng tangan suaminya. Menuruni tangga dengan senyum merekah.


“Pagi, Pa, Ma,” sapa Reyhan.


“Pagi, Kak. Bagaimana keadaanmu sekarang ?” tanya Papa.


“Alhamdulillah sudah semakin membaik, Pa.”


“Perihal donor. Bagaimana ? Sudah ada informasi dari Dokter Dharma ?”


Reyhan menghembuskan napas kasar. “Ada atau tidaknya nanti akan diberitahukan oleh Dokter Dharma minggu depan,” jawab Reyhan malas.


Melihat perubahan yang nampak jelas di wajah Reyhan. Ia menggenggam tangan Reyhan dengan erat.


“Sayang,” panggilnya dengan senyum manis.


“Sudah, ya. Jangan terlalu dipikirkan. Sayang sekali jika suasana hatimu rusak hanya karena pertanyaan yang dilontarkan Papa. Lagipula, Papa hanya ingin melihat kakak selalu baik-baik saja,” ucapnya menasehati dan memberi semangat untuk Reyhan.


Reyhan menatapnya sendu. Ia hanya membalas dengan gelengan dan senyum manisnya yang membuat Reyhan luluh dan candu.


“Sekarang kita sarapan. Biar kakak tidak telat ke kantor di hari pertama.”


Ia menikmati sarapan dengan khidmat. Tiada pembicaraan apapun di meja makan. Semua fokus pada makanan yang ada di hadapannya.


“Kenapa sarapannya tidak di habiskan, Kak ?” tanyanya setelah melihat Reyhan melepas sendok dan garpunya.


“Selera makanku sama sekali tidak ada, Al. Entah kenapa akhir-akhir ini aku bahkan malas untuk sekedar mencicipi makanan.”


Ia memberikan segelas susu coklat yang ia buatkan khusus untuk Reyhan. “Minum ini dulu.”


Reyhan meneguk susu tersebut hingga setengahnya. “Sebentar aku ke kamar. Ada berkas yang masih tertinggal.”


“Biar aku saja yang ambil.”


“Usahlah, Al. Kamu habiskan saja dulu sarapanmu.”


Ia mengangguk pelan dan membiarkan Reyhan pergi meninggalkan meja makan dengan wajah muram.


“Nadhira ?” panggil Papa dengan serius.


“Iya, Pa.”


“Kamu masih ingat pesan Papa untuk menjaga kesehatan Reyhan ?”


“Tentu saja Nadhira masih ingat itu, Pa. Papa tenang saja. Nadhira yang akan mengontrol semua kegiatan Kak Reyhan mulai sekarang.”


Papa tersenyum bangga pada menantunya itu. “Terimakasih, ya, Nak.”


“Papa tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban Nadhira sebagai istri Kak Reyhan.”


“Kita berangkat sekarang. Aku tunggu didepan, Al.” Suara Reyhan terdengar nyaring dari kejauhan. Ia menatap suaminya yang berbicara dari bawah tangga dan berlalu begitu saja.


“Sebentar, Kak. Aku akan membereskan ini dulu,” balasnya dengan setengah berteriak.


“Tidak perlu, Ra. Biar Mama saja dan Bibi. Kamu susul saja Reyhan dan berangkat. Supaya kalian tidak terlambat”


“Tapi, Ma...”


“Tidak apa-apa, Sayang.”

__ADS_1


“Baiklah. Nadhira berangkat dulu, ya, Pa, Ma. Assalamu’alaikum.”


Bergantian ia mencium tangan Papa dan Mama. Kemudian, beranjak dari meja makan dan setengah berlari menyusul Reyhan yang sudah menunggunya di depan.


__ADS_2