
“Ra, kamu kenapa ?”
“Aku khawatir. Aku sudah menghubungi Kak Eeyhan berulang kali tapi tidak merespons,” jawab Nadhira dengan raut wajah gelisah.
“Mungkin sedang ada pekerjaan. Jadi tidak bisa menjawab panggilan telponmu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak,” Finza menenangkan.
“Tapi, aku benar-benar takut.” Air mata sudah sempurna menggenang di kelopak mata indahnya. Suaranya terdengar bergetar.
“Eh jangan sedih dong, Ra.” Kayla membawa Nadhira ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan dengan mengusap pelan punggung Nadhira.
“Hubungi saja Bang Bara. Barangkali mereka sedang bersama,” saran Finza.
Nadhira mencoba mencari kontak Bara di ponselnya. namun, sebelum ia menemukan nama kakaknya, matanya menangkap sebuah mobil yang tak asing baginya tengah melaju pelan di area parkir kampus.
“Itu mobil Abang. Sepertinya Kak Reyhan meminta Abang yang menjemputku,” pikirnya.
Namun, pemikirannya meleset jauh. Ia melihat suaminya keluar dari mobil Bara dengan kacamata hitam bertengger di hidung tengah tersenyum padanya. Berdiri dengan gagah menunggu kedatangannya.
Ia menangkap sebuah kalimat terucap dari bibir Reyhan.
"I love you."
Air matanya luruh bersama senyum yang terbit sempurna. Kekhawatiran yang tadinya menyelimuti hati dan pikirannya tak berujung nyata.
Ia berlari mendekati Reyhan yang masih setia berdiri di samping mobil.
"Sayang, jangan lari-lari dong," ucap Reyhan sedikit berteriak yang sukses menyita perhatian orang sekitar.
Ia memeluk erat tubuh kekar suaminya masih berbalut pakaian kantor tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya aneh.
“Lho, Sayang. Kok nangis ?” tanya Reyhan khawatir melihat istrinya.
Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya. Isakannya bahkan semakin jelas terdengar. Tubuhnya bergetar hebat.
“Sayang, kamu kenapa ? Cerita dong sama aku.”
Reyhan melihat kedua sahabat Nadhira berjalan mendekat ke arahnya.
“Nadhira kenapa ?” tanya Reyhan setengah berbisik. Tetapi, Reyhan tak mendapat jawaban apapun dari Finza dan Kayla.
“Aleea ?”
Ia semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Reyhan. Seperti tak mau ingin melepaskannya.
"Al, jangan seperti ini. Cerita sama aku, ya, Sayang, ya," bujuk Reyhan.
“Kak, sebaiknya langsung bawa Nadhira pulang saja. Nanti kakak bisa tanyakan permasalahannya dirumah. Tunggu Nadhira sedikit tenang dulu. Finza pikir dia masih belum bisa diajak bicara,” pungkas Finza.
“Baiklah. Terimakasih, ya, Finza, Kayla sudah menemani Nadhira sampai saya datang.”
Finza dan Kayla hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
“Al, kita pulang, ya, Sayang.”
Reyhan merangkul tubuh mungil istrinya menuju mobil. Membukakan pintu penumpang untuknya.
*****
__ADS_1
Didalam mobil. Reyhan menggenggam erat tangan Nadhira yang masih sedikit terisak.
“Sayang ?”
Nadhira menoleh. Memperlihatkan sisa jejak air mata yang mengaliri pipinya.
“Katakan padaku. Kamu kenapa menangis ?” tanya Reyhan dengan lembut.
“Aku khawatir. Aku takut.”
“Lho takut kenapa, Sayang ? Apakah ada yang mengganggumu ?”
“Aku takut terjadi apa-apa dengan kakak. Aku sudah mencoba menghubungi kakak berulang kali tapi tiada juga merespons.”
“Ya ampun, Sayang. Maafkan aku, ya, sudah membuatmu setakut itu,” sesal Reyhan membelai punggung tangan Nadhira.
“Tadi aku sedang menemani Abang bertemu koleganya. Dia sendiri yang menjemputku ke kantor. Jadi, aku sangat tidak enak hati untuk menolak. Kamu tahu sendiri, Sayang. Aku dan Abang itu sudah seperti apa. Dan ternyata kolega Abang itu adalah temanku saat masih di luar negeri,” sambung Reyhan dengan menceritakan kejadian yang membuatnya lupa dengan janjinya pada Nadhira.
“Lain kali jangan seperti ini. Aku benar-benar takut. Sekiranya kakak bisa menghubungiku terlebih dulu. Sehingga aku tidak berpikir yang tak seharusnya ku pikirkan” ucapnya terisak lagi.
“Iya, Aleeanaku. Aku janji tidak seperti itu lagi.”
Nadhira tersenyum manis meski isakannya belum juga mereda.
“Nangisnya sudah dulu, ya, Sayang. Nanti cantiknya hilang.”
Ia tersipu malu.
“Al ?”
Ia menoleh.
“Maaf terlalu mengkhawatirkan kakak.”
Reyhan membelai lembut tangan Nadhira. “Tak mengapa, Sayang. Aku bahkan senang jika kamu mengkhawatirkanku seperti itu. Terimakasih, Aleeanaku."
“Kamu mau langsung kita pulang atau bagaimana, Sayang ?”
“Terserah sopirnya saja,” kata Nadhira bercanda.
“Oh jadi aku hanya kamu anggap sopir saja ?” Reyhan berpura-pura marah.
“Oh... tentu saja tidak. Kakak itu ‘kan suamiku. Imam untukku di dunia hingga akhirat kelak,” ucap Nadhira menenangkan. Membalas menggenggam erat pegangan tangan suaminya.
“Aamiin. Bantu aku, ya, Sayang.”
“Tentu,” balas Nadhira mantap.
Suasana kembali hening. Hanya suara deru dan bunyi klakson kendaraan berlalu lalang yang terdengar.
“Sayang, sebelum pulang ke rumah. Kita berkunjung dulu ke rumah Bunda, ya.”
Nadhira menatap suaminya. "Benarkah ?" tanyanya memastikan.
Reyhan mengangguk pasti.
“Aku tahu jika istriku ini sudah merindukan Ayah dan Bunda,” imbuh Reyhan kemudian membelai puncak kepala Nadhira.
__ADS_1
Nadhira hanya tersenyum. Kemudian, memeluk erat lengan suaminya.
“Terimakasih sudah mengertikan aku, Sayang.”
Reyhan menoleh dengan senyum mengembang. Ia merasa bahagia hanya karena panggilan sayang dari istrinya.
“Kenapa ?” tanya Nadhira dengan sebelah alis terangkat.
“Aku bahagia memilikimu. Sungguh."
“Aku juga sangat bahagia di miliki lelaki seperti kakak."
Ia tersenyum. Dan melanjutkan ucapannya. "Aku mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara."
Reyhan mencium tangan istrinya mesra. Dan kembali memfokuskan diri menyetir mobil. Melajukan mobil yang di kendarai menembus jalanan kota yang super macet di siang hari.
“Kak, mau itu!” Teriak Nadhira saat melihat pedagang asongan menjajakan jualannya di pinggir jalan.
“Astaga, Aleea. Kamu membuatku kaget saja,” ungkap Reyhan mengelus dadanya.
“Maaf. Tapi, aku mau itu.” Ia menunjuk ke arah pedagang asongan yang jauh tertinggal.
“Sayang, makanan di pinggir jalan itu tidak sehat. Kita beli di super market saja, ya.”
“Aku sudah biasa membeli jajanan di pinggir jalan, Kak.”
“Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kamu baru saja sembuh.”
“Tapi...”
“Sayang.”
Nadhira mengerucutkan bibirnya. Melipat tangan di depan dada. Merajuk seperti anak kecil.
“Hei! Jangan merajuk seperti itu," ucap Reyhan mencandai istrinya
Nadhira tak peduli. Ia membuang pandangannya ke luar jendela.
“Sayang ?” Reyhan meraih tangan Nadhira namun ditepisnya dengan kasar.
Reyhan membuang napas kasar. Ia tak percaya atas apa yang baru saja dilakukan Nadhira padanya.
“Jangan seperti anak kecil, Aleea. Aku hanya tidak ingin kamu sakit.”
Ia sama sekali tak menjawab.
“Kamu bisa mendengar aku bicara 'kan, Al ?”
Ia masih tetap sama. Tak bergeming sama sekali.
“Nadhira!”
Tepat saat bentakan Reyhan terdengar. Mobil yang di kendarai sampai didepan rumah orang tua Nadhira. Ia hanya menoleh sebentar dengan air mata yang sudah tergenang.
Reyhan yang melihat hal itu seketika menyesali tindakannya.
“Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu.”
__ADS_1
Nadhira membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Reyhan sendiri di dalam mobil. Sedangkan, Reyhan hanya mampu menatap istrinya pergi dalam keadaan hati yang tidak baik.
Reyhan membuang napas dan mengusap wajahnya kasar. Kemudian, dengan segera menyusul istrinya masuk di istana keluarga Prayudha.