
Setelah melakukan rutinitas pagi. Mulai dari sarapan, bersih-bersih dan tidak lupa drama merajuk yang dilakoni gadis yang belum genap berusia dua puluh satu tahun itu. Ia beranjak dari kamar dan meminta izin pada kedua mertuanya yang masih berbincang ria di meja makan.
"Ma, Pa, Nadhira izin ke Rumah Sakit untuk cek kandungan dulu, ya."
"Pergi sendiri, Ra?" tanya Mama.
"Tidak, Ma. Nadhira ditemani Kak Reyhan. Katanya biar sekalian Kak Reyhan juga ketemu dengan Dokter Dharma.
Mama mengangguk paham. "Reyhan dimana, Nak?"
"Sudah menunggu didepan, Ma."
"Hati-hati, ya, Nak. Semoga cucu Mama tumbuh kembangnya baik. Jaga kesehatan, Sayang."
"Iya, Ma. Tentu saja. Do'akan Nadhira semoga dilancarkan sampai nanti Si Kecil lahir, ya, Ma, Pa."
Sepasang paruh baya itu mengangguk bersamaan.
"Nadhira jalan dulu. Assalamu'alaikum," ucapnya dan mencium dengan hormat tangan Papa dan Mama. Kemudian, melangkah perlahan.
"Nadhira!" panggil Papa yang tiba-tiba dan berhasil menghentikan langkah gadis berperut buncit itu.
Nadhira menoleh. "Iya, Pa."
"Jangan lupa kontrol kesehatan Reyhan, ya, Nak. Papa lihat semakin hari kondisinya semakin tak stabil saja."
Sebentar gadis itu tertunduk lesu. Kemudian, mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Pasti, Pa. Papa jangan khawatir."
...***...
Ia menatap ragu-ragu ke arah Reyhan.
"Ada apa, Al?" tanya Reyhan bingung.
Gadis itu segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Namun, masih terlihat manis. "Tidak. Tidak ada apa-apa," balasnya dan memasuki mobil.
Sementara itu, Reyhan masih berdiri disamping mobil. Menerima telepon entah dari siapa. Tetapi, dari raut wajahnya. Nadhira bisa memastikan bahwa suaminya tengah menerima kabar baik. Tanpa sengaja Nadhira ikut menyunggingkan senyum pada bibir merah merona yang berlapis gincu.
Tak berapa lama Reyhan berjalan memutari mobil dan masuk. Memposisikan diri dengan nyaman di kursi kemudi.
"Kak." Tangan Nadhira menyentuh tangan Reyhan yang sudah berada di setir mobil. Tatapannya sayu.
__ADS_1
"Kenapa, Al?"
"Kakak yakin akan menyetir mobil sendiri?" tanya Nadhira dengan ragu. Ia takut menyinggung perasaan suaminya.
Reyhan tersenyum. Lelaki itu memegang bahu istrinya dengan lembut. "Kamu percayalah padaku, Sayang. Aku baik-baik saja."
"Tapi, aku khawatir dengan kondisi kakak."
"Iya, Sayang. Aku tahu. Tapi, tolong, ya. Percayalah bahwa tidak akan terjadi apa-apa denganku. Trust me, Al." Reyhan berusaha meyakinkan Nadhira.
Nadhira mengembuskan napas panjang. "I trust you." Senyumnya mengembang. Tetapi, hatinya tak tenang.
Reyhan mendaratkan kecupan sayang pada kening Nadhira. Menarik tubuh kecil istrinya dan memeluknya singkat.
"Kita berangkat sekarang, ya, Sayang. Tidak sabar ingin segera menengok si kecil."
...***...
Senyum Reyhan melebar mendengar detak jantung sang buah hati yang sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya. Manusia kecil yang sangat di nantikan selama ini.
Tak hanya Reyhan. Tentu saja gadis berjilbab biru tua yabg terbaring itu juga sangat bahagia. Apalagi ia sendiri seringkali merasakan gerakan makhluk yang berkembang dalam rahimnya dengan begitu aktif. Tangannya tak henti menggenggam tangan Reyhan.
"Ibu Nadhira selalu jaga kesehatan, ya. Pola makan juga harus tetap teratur," nasihat perempuan dengan jaket snelli dan name tag yang bertuliskan "Faiha" itu.
"Tumbuh kembang bayinya bagus, Pak. Gerakannya juga sangat aktif. Pasti dirasakan terus sama Mamanya. Iya 'kan, Bu Nadhira?"
Nadhira mengangguk menimpali.
"Sebentar lagi Bapak dan Ibu sudah menimang si kecil, ya."
Pasangan suami istri itu saling melempar tatap dan tertawa kecil. Tercetak dengan jelas gurat kebahagiaan di wajah keduanya.
"Yakin Bapak dan Ibu tidak ingin mengetahui jenis kelamin si kecil?" tanya Dokter Faiha dengan senyum manis yang terbingkai pada bibir berpoles gincu merah menyala.
"Yakin, Dok. Biar nanti jadi kejutan saja untuk kami saat lahiran nanti," jawab Reyhan.
"Yah, biarkan saja, Dok. Terserah Papanya saja. Padahal, Opa dan Oma si kecil sudah sangat tak sabar ingin mengetahui jenis kelamin cucu mereka," sambung Nadhira.
"Mamanya juga, ya, Sayang?" goda Reyhan dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Nadhira.
Gadis itu hanya tertawa kecil menanggapi godaan suaminya. Ia bangkit dari pembaringan dan berdiri di samping Reyhan. Tangannya ia kaitkan pada lengan lelaki disampingnya itu.
__ADS_1
"Sepertinya kami harus pamit dulu, Dok. Terimakasih atas pelayanan yang memuaskan ini. Semoga kebaikan Dokter Faiha dibalas dengan beribu kebaikan lainnya, ya."
"Aamiin. Terimakasih banyak atas do'anya, Pak Reyhan. Terimakasih juga sudah mempercayakan saya."
Setelah itu, keduanya keluar dari ruangan. Menelusuri koridor rumah sakit.
Niat awalnya setelah memeriksa kandungan, Nadhira dan Reyhan akan mengunjungi Dokter Dharma. Seorang dokter yang selalu menangani Reyhan. Namun, gagal. Gadis itu mengelus lembut perutnya. Ia merasakan gerakan aktif sang buah hati didalam sana.
"Kak, aku lapar."
"Mau makan apa? Biar aku carikan."
"Tapi, kakak mau bertemu Dokter Dharma, bukan? Aku temani dulu, ya. Setelahnya barulah kita cari makan."
"Makan dulu. Bertemu Dokter Dharma nanti saja. Yang terpenting kamu dan si kecil kenyang," ucap Reyhan dengan sikap tak acuhnya pada ucapan Nadhira. Tangannya menggenggam erat jemari lembut milik istrinya, seakan tak ingin melepaskannya barang sedetikpun.
Tentu saja hal itu juga dijadikan kesempatan gadis berperut buncit itu untuk membalas genggaman erat suaminya. Ia mendongakkan kepala untuk menatap rahang tegas itu. Yah, meskipun sudah terlihat kurus dan tampak memucat.
"Aku tahu aku tampan, Al. Jangan menatapku dengan tatapan kagum seperti itu," ucap Reyhan penuh percaya diri tanpa menoleh ke arah Nadhira.
Nadhira mendengus kesal. "Memangnya tidak boleh aku menatap suamiku sendiri?"
"Tentu saja boleh. Mau memelukku juga disini? Boleh," goda Reyhan.
"Tidak!" tolak Nadhira dengan cepat. "Aku tidak mau menjadi tontonan orang-orang disini."
"Tak mengapa. Toh kamu 'kan memeluk suamimu, Al. Bukan laki-laki lain."
"Aku tidak mau, Kak. Jangan memaksaku," balas Nadhira dengan mengehentak-hentakkan kakinya.
Langkah Reyhan berhenti. Ia menatap serius netra hitam milik gadis dihadapannya itu. "Jangan biasakan dirimu seperti itu, Al. Aku tidak suka. Bagaimana jika itu berpengaruh buruk pada kandunganmu?"
Gadis itu tertunduk. Ia takut menatap Reyhan yang begitu serius. "Maaf," cicitnya.
"Dan jangan karena aku menasihatimu seperti membuat kamu menangis. Jangan biasakan diri seperti itu, Al."
"Iya," jawab Nadhira singkat.
Reyhan menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. "Sudah, ya. Lain kali jangan diulangi seperti itu. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi padamu dan anak kita. Paham maksudku, Sayang?"
Reyhan merasakan kepala gadis itu mengangguk dalam dekapannya.
__ADS_1
"Ayo aku carikan makanan dulu untukmu. Setelah itu kita kembali lagi kesini."
Reyhan melangkah membawa gadis itu dalam dekapannya. Tak peduli tatapan pengunjung lainnya menatap seperti apa.