
Reyhan menutup kembali laptop yang sejak tadi ditatapnya dengan serius. Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar mencari-cari keberadaan istrinya.
"Al!" panggil Reyhan dengan suara agak keras. Ia melangkah keluar kamar untuk mencari Nadhira yang sejak satu jam pergi dan tidak kembali ke kamar.
Reyhan berdiri didekat pembatas tangga. Mengedarkan pandangannya ke bawah yang menembus ruang keluarga. Disana tiada seorang pun yang dilihat. Sepi. Kemudian, tak lama ia lihat sosok Papa berjalan dengan tas kerja. Ia pastikan paruh baya itu baru saja pulang dari kantor.
Melihat lelaki bertubuh tinggi yang selalu bersikap lembut, penuh perhatian dan sabar itu membuat Reyhan tersenyum miris. Pasalnya, sikap-sikap itu tampak hanya di hadapannya. Tidak dengan adiknya, Farhan.
Bayang tubuh Farhan dengan luka memar yang membiru itu tak ayal membuat hati Reyhan terasa ngilu. Selama ini ia berpikir sikap keras Papa sudah tak lagi berlanjut pada adik lelakinya. Sehingga, kerap kali Reyhan ikut menyalahkan Farhan yang kadang membentak Papa jika terlalu memaksanya.
Sekarang ia paham. Kenapa sikap keras Farhan muncul secara tiba-tiba. Ia pastikan itu karena betapa lelahnya sang adik dengan cara Papa.
Perlakuan Papa yang membuat Reyhan kasihan pada Farhan adalah saat Papa dengan terang-terangan membandingkan keduanya. Disaat itu Reyhan selalu temukan wajah sedih sang adik. Kemudian, melihat Farhan melenggang pergi tanpa permisi.
Tetapi, hal yang sangat membuat Reyhan merasakan kepedihan luar biasa adalah tatkala Papa tanpa ampun melayangkan tamparan bahkan tinjuan keras pada tubuh Farhan. Beberapa kali ia melihat hal itu terjadi didepan matanya. Dan saat itu selalu bertepatan dengan ia yang terbaring lemah tanpa bisa membantu adiknya. Yang bisa ia lakukan hanya melerai dengan suara lemahnya. Dan itu terjadi beberapa tahun lalu. Setelah itu, tidak pernah lagi ia temukan hal semacam itu terjadi. Tentu saja itu membuat Reyhan berpikir bahwa perlakuan Papa sudah tidak lagi keras pada adiknya.
Namun, melihat kondisi Farhan kemarin membuatnya kembali sadar bahwa Papa masih tetap sama. Selalu keras dan kasar pada adik lelakinya. Dan Farhan tidak pernah menceritakan apapun padanya.
"Kak, kenapa berdiri disana?" tanya Papa menyadarkan anak sulungnya itu.
"Oh, Reyhan sedang mencari Aleea, Pa."
"Istrimu dibawah, di ruang tamu lagi nemenin adik main."
Reyhan mengangguk.
"Pa, Reyhan mau bicara. Papa ada waktu?"
"Iya, Kak. Tapi, Papa bersih-bersih dulu, ya. Setelah itu kita bicara."
Reyhan kembali menganggukkan kepalanya. "Reyhan tunggu di ruang kerja Papa."
...***...
Mata Reyhan menelisik setiap jengkal ruangan bercat putih bersih yang sudah di desain sedemikian rupa. Ruangan yang dijadikan tempat kerja oleh Papa.
Lama tak memasuki ruangan itu, pikir Reyhan. Tidak ada yang banyak berubah. Hanya beberapa penambahan perabotan saja didalamnya.
Tiba-tiba pandangan Reyhan mendarat pada sebuah potret dalam bingkai. Potret keluarga lengkap dengan senyum mengembang. Entah kenapa foto itu mengalihkan pikiran Reyhan kembali pada adiknya, Farhan.
Kembali ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Hingga pada akhirnya, sebuah kepingan kisah yang membuatnya bergidik melintasi otaknya.
"Kakak! Adik! Jangan bermain kejar-kejaran seperti itu. Nanti kalian jatuh," nasihat seorang lelaki dengan setelah pakaian santai.
__ADS_1
Reyhan kecil dan Farhan kecil tak mengindahkan nasihat Papa. Keduanya masih terus berlarian dengan tawa keras. Hingga secara tak sengaja tangan Farhan mendorong tubuh Reyhan dan terjatuh.
Reyhan mengaduh kesakitan. Ia memegangi dada bagian kirinya. "Pa, sakit," rintihnya.
"Astaga, Kak!" Papa panik bukan main.
Farhan hanya menggigit jari telunjuk ketakutan. Ditambah tatapan tajam yang menghujam membuat tubuhnya okut bergetar. "Adik tidak sengaja, Pa. Maaf."
Amarah yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun membuat Papa menatap nyalang Farhan. Papa mendekat dan menjewer telinganya.
"Lepas, Pa. Sakit."
Tak hanya itu. Tangan kekar Papa mendarat pada pipi dan beberapa anggota tubuh lainnya tanpa ampun. Tangis Farhan yang keras tak menyurutkan amarah Papa.
"Kamu selalu saja membuat anfal kakakmu!"
"Hentikan, Pa!" teriak Reyhan ditengah kesakitannya.
Reyhan kecil berusaha meraih tubuh Farhan yang terduduk di lantai dingin. Tubuh itu bergetar. Ia membawanya dalam pelukan. Ia merasakan bagaimana ketakutan itu menyerang adiknya. "Maafkan Kakak." Gelap. Reyhan kecil kembali tumbang.
Ruangan itu salah satu bukti kebrutalan Papa pada Farhan. Reyhan meringis mengingat hal itu. Ia semakin yakin bahwa Papa sering melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya dan Mama.
"Mau bicara apa?"
"Reyhan ingin melepas semua pekerjaan kantor pada Farhan."
Sejenak Papa terdiam. "Kamu yakin Farhan mampu mengelola perusahaan dengan baik seperti kamu?"
"Reyhan yakin, Pa."
"Belum seminggu memegang kendali saja dia sudah membawa perusahaan menuju ambang kebangkrutan," ucap Papa dingin.
"Farhan masih pemula, Pa. Dia butuh belajar. Reyhan yang akan mengajarinya nanti."
"Tapi, Papa lebih mempercayaimu," sela Papa dengan tegas.
"Reyhan sakit, Pa. Reyhan sakit. Sudah tidak ada lagi yang bisa Papa andalkan dari Reyhan. Dan satu-satunya orang yang bisa menggantikan Reyhan hanya Farhan."
Papa menatap putra sulungnya. "Kamu bisa sembuh!"
Reyhan tertawa miris. "Tingkat kesembuhan yang Reyhan punya hanya empat puluh persen saja, Pa. Dan semakin hari akan semakin menurun."
Papa bungkam. Lidahnya tercekat tak mampu berucap.
__ADS_1
"Pa, izinkan Reyhan menikmati sisa-sisa hidup dengan tenang. Urusan Farhan, Papa serahkan saja pada Reyhan. Reyhan yang akan mengajarinya."
Lelaki dua puluh enam tahun itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. "Dan bolehkah Reyhan meminta satu hal pada Papa?"
Papa menatap sedih Reyhan. Ia menganggukkan kepala lemah.
"Berhenti memukul Farhan. Papa tidak kasihan sama dia, Pa? Farhan juga anak Papa. Perlakukan dia sebaik Papa memperlakukan Reyhan dan Latisha."
Lelaki paruh baya itu membuang pandang.
Reyhan bangkit. Kemudian, bersimpuh di hadapan Papa dengan isak yang mulai terdengar. "Reyhan mohon, Pa. Anggap saja ini permintaan terakhir Reyhan sama Papa." Reyhan memeluk kaki Papa dengan tubuh bergetar.
Hati Papa terenyuh. "Bangun. Jangan berbicara seperti itu." Ia memegang pundak Reyhan dan membawanya kembali duduk diatas sofa.
"Pa."
Panggilan itu terdengar lirih, memilukan. Reyhan memegang erat lengan Papa. Mengguncang pelan seraya memohon. "Lakukan itu demi Reyhan, ya, Pa."
Papa masih bergeming. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Ia menatap nanar foto keluarga yang terpajang diatas meja kerjanya. Melihat senyum sumringah orang-orang dalam foto.
"Papa mau 'kan penuhi permintaan Reyhan?"
Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki tua itu. Ia masih belum membuka mulut untuk mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya masih kosong dan lurus ke depan.
"Reyhan akan melakukan apapun yang Papa minta asal Papa memenuhi permintaan Reyhan."
Papa menatap lekat netra Reyhan. "Kamu harus operasi dan kembali bekerja di kantor. Bagaimana?"
Tanpa berpikir panjang. Reyhan menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Iya, Pa. Apapun itu. Reyhan akan melakukannya. Mulai besok Reyhan akan kembali bekerja."
"Kembali bekerja setelah keadaanmu membaik."
"Reyhan sudah baik-baik saja, Pa. Sungguh." Begitu gigih Reyhan melakukan apapun untuk menjaga adik lelakinya itu.
"Terimakasih, Pa. Reyhan kembali ke kamar dulu, ya."
Papa mengangguk.
Setelah kepergian Reyhan. Papa masih bergeming dari tempat duduknya.
"Ayah macam apa aku ini? Harusnya aku sadar sendiri bahwa apa yang sudah ku lakukan adalah kesalahan besar dan tidak melakukanya lagi. Tetapi, dengan entengnya aku bahkan memberi syarat untuk tidak berlaku keras."
Papa bermonolog dengan dirinya sendiri. Lelaki paruh baya mulai disapa penyesalan.
__ADS_1