Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 113


__ADS_3

"Sayang," panggilnya dengan suara manja. Ia mengguncang tubuh Reyhan yang sudah terbaring dalam lelap malamnya.


Sebentar ia melirik jam dinding dengan jarum jam yang tak berhenti bergerak. Pukul dua pagi.


"Sayang," panggilnya lagi. Kali ini dengan air mata yang sudah menggenangi kelopak matanya.


Tampak Reyhan menggeliat. Merasa terganggu dengan guncangan dari tangan lentiknya. Ia tatap suaminya yang tengah mengedipkan mata berulang kali.


"Lho, Al. Kenapa belum tidur, Sayang ?" tanya Reyhan seraya merubah posisi dengan duduk mengehadapnya yang tengah bersila.


"Ada yang sakit ?" Reyhan begitu khawatir melihatnya yang tak biasa terbangun di tengah malam seperti ini.


Ia hanya menggeleng dan menumpahkan begitu saja air yang menggenangi kelopak matanya.


"Lho, kenapa menangis ? Katakan saja, Al."


"Aku lapar," ucapnya terbata-bata ditengah isaknya yang semakin deras.


"Astaga, Al. Ku pikir tengah terjadi apa-apa denganmu hingga kamu menangis seperti ini, Sayang."


Reyhan menarik tubuhnya dan membawanya dalam dekapan. Mencium berulang kali puncak kepala yang tak tertutupi hijab.


"Kamu mau apa, Sayang ? Biar aku buatkan."


"Aku ingin makan buatan Mama," ucapnya malu-malu.


Mata Reyhan membulat sempurna. "Hah ? Yang benar saja, Al ?"


"Memangnya aku terlihat mencandaimu, Kak ?" teriaknya murka dengan tatapan nyalang.


"Tapi, ini sudah tengah malam, Al. Mama pasti sudah tertidur."


Ia mendengus kesal. "Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau makan makanan buatan Mama. Titik!"


Reyhan mengacak rambutnya frustasi.


"Al ? Sekarang kamu makan makanan yang aku buat saja, ya, Sayang. Besok pagi baru aku minta Mama buatkan makanan untukmu," bujuk Reyhan pelan.


"Aku mau sekarang. Kenapa kakak tidak bisa mengerti ?"


"Bukan begitu, Al. Tapi, kasihan Mama jika dibangunkan tengah malam seperti ini."


"Baiklah. Aku mau tidur saja jika begitu," ucapnya merajuk dan membaringkan tubuhnya. Menutupi dengan selimut tebal. Membelakangi Reyhan.


Reyhan benar-benar frustasi di buatnya. "Baiklah. Aku akan membangunkan Mama dan minta tolong membuatkanmu makanan. Tapi, berhentilah merajuk seperti itu."


Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar. Menatap Reyhan dengan tatapan berbinar. "Benarkah ?"


Reyhan mengangguk dan tersenyum. "Tentu. Demi istri dan calon anakku."


Ia bangkit dan memeluk Reyhan. "Terimakasih, suamiku," ucapnya dan mencium kedua pipi Reyhan bergantian.


"Mau ikut denganku atau menunggu di kamar ?"


"Aku ikut. Aku akan membantu Mama nanti."

__ADS_1


Ia ikut bangkit tatkala tubuh kekar Reyhan yang tampak kurus sudah berdiri tegap di hadapannya. Ia rangkul lengan Reyhan yang selalu setia memberikan kehangatan untuknya. Mengikuti dan mengimbangi langkah besar Reyhan menuju kamar Mama.


Dilihatnya Reyhan tampak ragu-ragu mengetuk pintu kamar Mama.


"Kak," panggilnya lirih.


Reyhan yang paham maksudnya lantas mengangguk pelan. "Iya, Sayang."


Perlahan Reyhan mengetuk pintu. "Mama," panggil Reyhan pelan.


Hening. Tiada yang menyahut.


"Ma, ini Reyhan."


"Sepertinya Mama sudah tertidur nyenyak, Kak," ucapnya dengan wajah tertunduk lesu. "Kita kembali saja ke kamar."


Ia memutar badan dan berjalan. Pada langkah ketiga telinga menangkap suara decit pintu terbuka. Lantas ia menengok kembali ke arah suaminya yang masih berdiri di depan kamar Mama.


"Kenapa, Nak ? Kamu dan Nadhira baik-baik saja, 'kan ?" tanya Mama dengan suara khasnya.


"Iya, Ma. Reyhan baik-baik saja. Tapi, Nadhira," ucap Reyhan seraya memandangnya yang sudah melangkah kembali mendekat.


"Nadhira kenapa ?" tanya Mama panik.


"Ma," panggilnya dan bergelayut manja dilengan Mama.


"Nadhira ngidam masakan Mama," terang Reyhan.


Mata Mama membulat sempurna. "Hah ? Ngidam ? Nadhira hamil lagi ?"


Seketika rasa kantuk musnah tak bersisa. Tatapannya berbinar. "Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya. Kamu mau makan apa, Sayang ? Biar Mama buatkan untukmu."


"Nadhira ingin makan sup sayur, Ma. Boleh, ya ?" tawarnya.


"Apapun, Sayang. Mama akan membuatnya untukmu dan calon cucu Mama," balas Mama dengan tangan yang mengelus perut ratanya.


"Kakak jika ingin melanjutkan tidur tak mengapa. Kembali saja ke kamar."


Alis Reyhan terangkat mendengar pernyataannya. "Kamu mengusirku, Al ?"


"Bukan begitu, Kak. Aku hanya menawarkan. Aku tahu kakak mengantuk. Iya 'kan ?"


"Kantukku hilang akibat ulah anehmu itu, Al," kesal Reyhan.


"Aneh kakak bilang ? Aku ngidam, Kak," bentaknya.


"Lho kenapa kamu malah membentakku seperti itu ?"


Ia mendengus kesal. "Terserah! Aku ingin tidur saja," ucapnya dan berlalu bersama air mata yang mulai menetes.


"Astaga, Reyhan! Kenapa kamu tidak bisa menjaga emosimu ? Nadhira itu tengah hamil muda, Nak."


"Mama juga menyalahkanku ?"


Mama bingung dibuat dengan tingkah anak dan menantunya itu. "Tidak, Nak. Hanya saja kamu harus paham. Perempuan hamil memang sikapnya kadang aneh. Seperti kamu tidak pernah menghadapi perempuan hamil saja," cibir Mama.

__ADS_1


"Mama. Mama," panggil Reyhan dengan tangan yang diletakkan di dada.


"Nak, kamu kenapa ?" tanya Mama panik.


"Dada Reyhan sakit, Ma."


"Astaga, Nak. Ayo Mama bantu ke kamar. Kamu istirahatlah."


Mama membantu menuntun Reyhan menuju kamar. Mendapatinya tengah meringkuk diatas tempat tidur dengan tubuh bergetar. Pertanda tangisnya masih deras.


"Ra, obat Reyhan dimana, Nak ?"


Sontak ia menoleh tanpa sempat menghapus air matanya. "Kak Reyhan kenapa ?" tanyanya panik dan bangkit dengan cepat. Ia menatap suaminya yang sudah berhasil duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur dengan mata terpejam.


"Seperti biasa," jawab Mama.


"Sayang," panggilnya. "Jantung kakak anfal lagi ?" tanyanya penuh perhatian. Emosi yang tadinya mengungkung kini telah mencair. Ia hanya melihat anggukan pelan dari Reyhan. Ia yakin lelaki di hadapannya itu tengah berjuang melawan rasa sakit.


"Dimana kamu letakkan obat Reyhan, Ra ?"


"Di laci meja, Ma. Minta tolong ambilkan Kak Reyhan," ucapnya dengan sopan.


Ia meraih botol kecil yang sudah tak asing lagi baginya. Mengambil dua butir obat berwarna putih itu lalu memberikannya pada Reyhan. "Minum obat dulu, ya. Setelah itu istirahat."


Reyhan mengangguk. Ia membantu suaminya untuk berbaring.


"Ra, tadi katanya lapar, Nak. Ayo Mama buatkan makanan untukmu. Biarkan Reyhan istirahat dulu."


Ia tersenyum ke arah Mama. "Tidak perlu, Ma. Nadhira disini saja menemani Kak Reyhan. Nadhira tidak ingin meninggalkannya sendirian," ucapnya lirih.


"Tak mengapa, Al. Makan saja bersama Mama. Aku baik-baik saja." Reyhan menimpali.


"Tidak. Aku sudah tidak lapar lagi sekarang."


"Kasihan anak kita, Al."


Ia terdiam.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja Nadhira menemanimu disini. Nanti Mama yang akan turun untuk membuat makanan untuknya."


"Tapi, Ma..."


"Sudah, Sayang. Tak mengapa. Demi cucu Mama."


"Maaf telah mengganggu istirahat Mama. Dan sekarang malah merepotkan lagi."


Mama tertawa kecil. "Jangan bicara seperti itu, Nak."


"Terimakasih, Ma," ucapnya hampir bersamaan dengan Reyhan.


"Baiklah. Mama turun dulu, ya, Nak."


Ia mengangguk.


Ia menatap tubuh Mama hingga tenggelam dibalik pintu kamar. Dan beralih pada wajah pucat dengan mata sayu yang tengah terbaring disampingnya itu.

__ADS_1


"Lekas membaik, Sayang," ucapnya dan memeluk tubuh Reyhan. Menenggelamkan wajahnya dan meresapi aroma tubuh suaminya.


__ADS_2