
“Bagaimana kondisi kandungan menantu saya, Dokter ?”
“Ibu tidak perlu khawatir. Kandungan menantu ibu baik-baik saja. Ia hanya mengalami kram pada perutnya."
“Apakah itu berbahaya untuk kandungannya, Dok ?”
“Tidak, Bu. Kram perut saat hamil muda merupakan keluhan umum yang dialami ibu hamil. Tapi, meskipun begitu. Kram perut saat hamil juga perlu di waspadai karena bisa menjadi pertanda adanya gangguan serius.”
Mama mengangguk paham. “Jadi, apa boleh menantu saya pulang sekarang ?”
“Bisa, Bu. Tapi, jangan biarkan Ibu Nadhira berpikir keras. Karena, itu akan membuatnya stres dan berpengaruh pada kandungannya.”
“Iya, Dokter. Terimakasih.”
_____
Ia menatap nanar ke luar jendela Rumah Sakit. Melihat beberapa orang berlalu lalang di luar sana. Air matanya perlahan turun mengingat nama yang dilontarkan Reyhan.
“Elmeera. Seistimewa apa perempuan itu ? Hingga kamu menyebut namanya dalam kondisi tak sadarmu.” Ia berbisik lirih.
Kejadian Reyhan melupakannya saat berbincang dengan Elmeera di danau kala itu berputar seperti kaset film kuno di otaknya. Membuatnya semakin penasaran dengan hubungan suaminya dulu bersama perempuan bernama Elmeera.
“Beberapa tahun tak bertemu denganku. Apakah itu tahun-tahun yang kamu habiskan bersama perempuan itu, Kak ?” Ia seakan berbicara dengan Reyhan tengah duduk di hadapannya.
Dadanya sesak. Air mata semakin deras mengaliri pipinya.
“Nadhira ?” panggil Mama dan menyentuh pundaknya pelan.
Dengan cepat ia menyeka air matanya dengan ujung jilbab yang membungkus mahkotanya. Agar Mama tak melihatnya menangis. “Bagaimana, Ma ? Apakah kandungan Nadhira baik-baik saja ?”
“Iya, Sayang. Kamu tenang saja. tapi, kata dokter kamu tidak boleh berpikir keras dan stres. Karena, itu sangat berpengaruh pada kandunganmu. Paham ‘kan apa yang Mama katakan ?”
“Iya, Ma.”
“Kita pulang sekarang. Kasihan Reyhan dirumah tidak ada yang menemani.”
Ia mengangguk pelan.
_____
“Bunda ? Abang ?” ucapnya setengah berbisik namun masih bisa ddengar dengan jelas oleh Mama saat mobil yang membawanya berhenti di halaman rumah besar yang sekarang ia tempati.
Senyumnya mengembang. Seketika air matanya tergenang. Ia ingin segera memeluk Bunda dan meluapkan segala kesedihannya kali ini. Ia benar-benar butuh pundak lain untuk bersandar.
Tanpa mempedulikan Mama ia segera turun dan melangkahkan kakinya dengan lebar ke arah Bunda dan kakaknya. Juga ada Reyhan yang tengah duduk manis dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan pucat.
Kali ini bukan Reyhan yang pertama kali di temuinya. Tapi, Bunda. Bahkan, melirik Reyhan pun ia tak sempat. “Bunda ?” Ia memeluk tubuh Bunda dengan erat. Menumpahkan air mata yang baru saja menggenang di kelopak mata indahnya.
Reyhan menatapnya sayu. “Aleea ?” panggil Reyhan dengan lemas.
Ia sama sekali tak mempedulikan panggilan Reyhan. Ia memperat pelukannya pada Bunda dengan isak yang semakin jelas terdengar.
“Kenapa ? Hmmm ? Perutmu masih terasa sakit, ya, Sayang ?”
Ia menggeleng.
“Ceritakan pada Bunda. Apa yang tengah terjadi sehingga kamu menangis seperti ini ?”
“Tidak mungkin aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Bunda. Ini adalah masalah keluargaku,” ucapnya dalam hati.
“Dik ? Kenapa diam ? Kamu baik-baik saja ‘kan, Nak ?” tanya Bunda lagi seraya mengelus pundaknya dengan lembut.
“Iya, Bunda. Adik baik-baik saja. Hanya saja adik begitu merindukan Bunda.”
“Sudahlah. Berhentilah menangis.”
“Han! Elo kenapa ?”
__ADS_1
Suara panik Bara membuatnya menoleh. Tak lagi menenggelamkan wajahnya yang sudah tersapu dengan air mata. Ia menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya tengah meringis kesakitan. Napasnya tak beraturan.
Seketika ia melepaskan pelukan Bunda. “Kak! Kakak kenapa ?” tanyanya lebih panik dari siapapun yang ada di tempat itu.
Reyhan masih terus meringis. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga darah segar keluar. Sebelah tangannya mencengkram kuat dadanya. Sebelah lainnya mencengkram pegangan kursi kayu yang ia duduki.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang,” tegas Bara yang melihat kondisi memprihatinkan adik iparnya itu.
“Tidak,” balas Reyhan dengan cepat.
“Sayang, kita ke Rumah Sakit sekarang, ya,” bujuknya dengan lembut. Menyingkirkan segala pikiran yang mengganggunya.
“Tidak, Al. Aku baik-baik saja.”
“Jangan seperti ini. Jika kondisimu seperti ini terus menerus. Siapa yang akan menemaniku menjaga buah hati kita ?” ucapnya seraya melirik ke arah perutnya yang masih rata.
“Aku akan tetap bersamamu. Tenang saja,” balas Reyhan lemas.
“Dan aku tidak butuh Rumah Sakit. Aku hanya butuh kamu. Karena, kamu adalah obat terampuh yang aku miliki. Ku mohon jangan memaksaku,” sambung Reyhan dengan kepala yang ia tengadahkan ke atas. Memandang langit-langit dengan tatapan yang mengabur.
“Kalimat macam apa ini ? Bahkan, kau lebih mengingat perempuan lain daripada aku saat kau tak sadarkan diri, Reyhan,” ucapnya kesal dalam hati.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu ke Rumah Sakit. Tapi, aku memaksamu untuk meminum obat dan istirahat saja di kamar. Bagaimana ?”
Reyhan mengangguk.
“Abang bisa bantu Kak Reyhan ke kamar ?” tanyanya dan mendongakkan kepala menatap Bara yang tengah berdiri di dekatnya.
Dengan segera Bara mengalungkan tangan Reyhan di lehernya. Membantunya untuk kembali ke kamar untuk beristirahat sesuai titah Nadhira.
“Aku akan mengambilkan obat untukmu,” ucapnya sesampai dikamar dan melihat Reyhan sudah terbaring dengan baik diatas tempat tidur.
“Biar Mama saja. Temanilah suamimu disini. Dan ingat pesan dokter tadi.”
Ia tak mampu mengelak jika Mama sudah menyinggung tentang kandungannya. “Baiklah, Ma. terimakasih,” ucapnya dengan tulus.
Bersama Bunda dan Bara. Ia menemani Reyhan. Tak ada pembicaraan apapun disana. Hanya keheningan. Sesekali diisi oleh ringisan Reyhan yang selalu sukses membuatnya khawatir.
“Aku bantu bangun dan minumlah obatmu.”
“Aku bisa sendiri, Al. Jangan membuatku menjadi manusia yang tak berguna. Jika hanya sekedar bangun saja kamu harus membantuku,” ucap Reyhan dengan dingin.
“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh.”
Reyhan bungkam. Ia berusaha untuk duduk tanpa bantuan istrinya.
“Ini,” ucapnya dan menyerahkan dua butiran kecil berwarna putih itu dan gelas yang sudah terisi penuh dengan air.
“Sekarang istirahatlah.”
Reyhan kembali membaringkan tubuhnya. Menatap mata istrinya yang masih basah bekas air mata yang entah berapa banyak menetes. “Maafkan aku, Al.”
Ia menautkan kedua alisnya. “Untuk apa ?”
“Maafkan belum mampu menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dengan keadaanku seperti ini. Dan maafkan aku selalu membuatmu menangis.”
Ia menghela napas panjang. “Usahlah meminta maaf padaku. Aku melakukan itu karena sudah kewajibanku menjadi seorang istri,” balasnya dengan senyum manis.
“Harusnya aku yang menjagamu dan memenuhi kebutuhanmu saat hamil muda seperti ini.” Reyhan menggenggam erat tangannya dan menciumnya berulang kali.
Air matanya tiba-tiba runtuh. Membuat Reyhan sedikit panik.
“Kamu kenapa, Al ?”
Bunda, Bara dan Mama yang masih berada dalam satu ruangan dengannya sontak mendekatinya.
“Ada apa ?” tanya ketiganya hampir bersamaan.
__ADS_1
Ia terdiam. Namun, isak tangisnya masih jelas terdengar.
“Sayang ? Kamu kenapa ? Ada yang sakit ?” tanya Reyhan pelan.
“Tidak,” balasnya seraya menggelengkan kepala dan menyeka air mata yang belum jua berhenti turun itu.
“Lalu, apa yang membuatmu menangis seperti itu ?”
“Aku ingin makan puding buatan Bunda,” ucapnya tertunduk malu.
Seisi kamar saling melempar tatap. Lantas tertawa melihat tingkahnya. Tak terkecuali Reyhan.
“Sayaaang,” ucapnya manja dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyhan.
“Awww.” Reyhan mengaduh kesakitan saat kepala istrinya membentur dadanya sedikit keras.
“Oh... Maaf. Aku tidak sengaja,” ucapnya penuh sesal.
“Iya, istri kecilku.”
Reyhan kembali terkekeh. Mengelus puncak kepala istrinya yang terlapisi hijab besarnya. “Kamu menangis hanya karena menginginkan puding buatan Bunda, Al ?”
Ia mengangguk.
“Kenapa tidak kamu katakan saja tanpa harus menangis terlebih dulu ?”
“Entahlah,” jawabnya enteng.
Ia bangkit. “Tapi, Nadhira boleh memakan puding buatan Bunda ‘kan, Ma ?”
“Tentu saja boleh, Nak.”
Ia tersenyum girang.
“Nanti Bunda buatkan puding untungmu, Sayang.”
Bara mendekatinya dan mengacak jilbabnya. “Dasar gadis manja. Sudah bersuami masih saja seperti anak kecil,” ledek Bara.
“Ini bukan keinginan adik. Tapi, keinginan keponakan Abang.”
“Belum lahir saja kau sudah seenaknya menjual nama keponakanku. Apalagi nantinya saat ia sudah lahir dan tumbuh besar.”
“Sungguh. Ini benar-benar keinginannya,” ucapnya bersikukuh.
Perdebatan-perdebatan kecil mulai terjadi. Hingga tanpa sadar Bunda dan Mama sudah berlalu meninggalkannya. Sedangkan, Reyhan hanya melipat kedua tangan didepan dada dalam posisi berbaring seraya tertawa melihat kelakuan dua kakak beradik itu.
“Bunda saja tidak pernah keberatan jika adik meminta dibuatkan sesuatu. Iya ‘kan, Bunda ?”
Ia melempar tatapan ke sembarang arah. “Lho, Bunda dan Mama kemana ?”
Sontak Bara dan Reyhan mentertawakannya dengan keras.
Ia memberengut kesal. Lalu, menghentakkan kakinya dengan keras.
“Aleea...” panggil Reyhan.
“Jangan seperti itu, Sayang. Ingat kamu sedang hamil muda.”
Ia menghentikan kelakuan bocahnya itu.
“Mau dipeluk, tidak ?” tawar Reyhan.
Ia tersenyum lebar dan menghambur memeluk tubuh suaminya. Lalu, menatap Bara dengan tatapan mengejeknya.
“Abang boleh keluar jika tak ingin terbawa perasaan melihat keromantisan kami.” Ia menjulurkan lidahnya.
“Gue rasa ucapan Aleea ada benarnya, Bar,” sambung Reyhan.
__ADS_1
“Sial! Rupanya gue punya adik dan sahabat yang sama-sama tak berperasaan.”
Kini ia yang mentertawakan kakaknya dengan tawa penuh kemenangan.