
Beberapa hari setelah Nadhira keluar dari rumah sakit. Reyhan berniat kembali ke rumah Nadhira untuk mengutarakan niatnya langsung pada orang tua Nadhira. Reyhan berpamitan pada kedua orang tuanya. Meminta do’a semoga niat baiknya dilancarkan.
“Pa. Ma. Reyhan pamit mau ke rumah Om Yudha. Do’ain ya.” Reyham tersenyum ke arah orang tuanya.
“Pasti, Nak.” Mama tersenyum dan mengelus pundak anak sulungnya.
“Selama niat kamu baik. InsyaAllah. Allah akan selalu lancarkan, Nak.” Papa menasehati juga anaknya.
Reyhan hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum pada orang tuanya.
“Reyhan jalan ya, Pa, Ma.”
“Hati-hati, sayang.”
Reyhan berangkat menuju rumah Nadhira dengan penuh harap. Berharap agar niatnya segera tercapai. Menjadikan Nadhira istrinya.
Senyum Reyhan kembali mengembang.
Ada rasa yang tak bisa tertuliskan dalam hati Reyhan saat mobil merahnya memasuki pekarangan rumah mewah yang ditempati keluarga Prayudha tersebut. Ia ingin segera masuk dan mengutarakan segala apa yang telah ia niatkan sebelumnya.
Reyhan mengetuk pintu rumah bercat biru muda itu dengan harap-harap cemas. Dan tak berselang lama pintu terbuka.
“Eh nak Reyhan.” Bunda yang membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum, Tante.” Reyhan meraih tangan Bubda dan menciumnya.
“Masuk, Nak. Mau nyari Bara, ya ?”
“Bukan, Tante. Reyhan mau ketemu Tante sama om Yudah. Ada hal penting yang mesti Reyhan bicarakan.”
“Oh gitu toh. Ya udah, nak. Masuk dulu.”
Reyhan mengikuti langkah Bunda menuju ruang tamu. Didapatinya anggota keluarga itu lengkap. Jelas saja ada Nadhira disana.
“Eh tumben banget lo kesini nggak hubungin gue dulu.” Bara nyeletuk dan menarik tangan Reyhan agar duduk didekatnya.
“Mesti izin lo dulu ? Lagian gue kesini bukan ketemu elo.” Reyhan sedikit berbisik.
“Lah terus ?”
“Ntar lo juga tau.”
“Jadi gimana, Han ? Tadi katanya mau ngomongin apa gitu sama om dan tante.”
“Hmmm gini tante, om. Kebetulan banget ada Nadhira dan Bara juga. Reyhan mau ngomong serius.”
“Iya, nak. Ngomong aja.”
“Jadi gini, niat Reyhan datang kesini ingin mengutarakan keinginan Reyhan untuk menjadikan Nadhira sebagai istri Reyhan, tante, om.” Reyhan menatap Ayah dan istrinya bergantian.
Semua isi ruangan tersebut terbelalak. Kaget. Kecuali Bara. Karena memang sebelumnya Reyhan sudah menceritakan tentang hal itu padanya.
__ADS_1
Nadhira menatap Reyhan tak percaya.
“Kamu yakin, Han ?”
“Reyhan yakin, Om. Reyhan kenal Nadhira sudah lama sekali. Jadi Reyhan sangat yakin.”
Nadhira hanya menunduk. Ada rasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan diruang tamu. Reyhan datang untuk memintanya pada orang tuanya secepat ini.
“Yang ngejalanin kan Nadhira. Bukan om, bukan tante. Bukan juga Bara. Dalam hal ini om serahkan keputusan sama Nadhira saja. Dia berhak memilih jalan hidupnya. Berhak memilih pendamping hidupnya kelak.”
“Dik, gimana menurut kamu, nak ?”
Nadhira masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Rasa tak percaya masih bergelayut dalam otaknya. Namun ada rasa bahagia tak terkira yang dirasakan. Dan tanpa disadari ia tersenyum.
“Dik ?”
“Iya, Bun. Kenapa ?”
“Ditanya ayah kok nggak jawab. Malah ngelamun.”
“Maaf, Yah.”
“Sekarang keputusan ayah serahkan ke adik. Gimana ?”
“Mmm...Bismillah. Iya adik siap nerima Kak Reyhan.”
Seisi ruangan tersenyum. Bahagia sekali. Terutama Reyhan. Satu langkah sudah dilewati.
“Terimakasih, Aleea.” Nadhira hanya tersenyum.
“Iya, nak. Semoga niat baikmu dilancarkan.”
Semua mengAAMIINkan.
___
Dirumah megah bercat putih. Reyhan melangkahkan kaki penuh dengan rasa bahagia. Terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri dan senyum yang terlihat jelas.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Ma, papa mana ?”
“Diruang kerja tuh. Bahagia banget rupa anak Mama.”
“Kan emang selalu bahagia, Ma.”
“Beda ini mah. Mama penasaran ada apa ya ?”
“Nanti Reyhan ceritain sama papa sekalian ya. Abraham panggil papa dulu.”
__ADS_1
“Biar mama aja. Kamu bersih-bersih dulu sana.”
“Ya udah, ma. Reyhan ke kamar dulu.”
Reyhan berjalan menyusuri tangga menuju kamarnya dilantai dua. Siulannya menggema dirumah besar bercat putih itu. Menandakan bahagianya dia mendengar jawaban yang dilontarkan Nadhira padanya.
Reyhan membersihkan badannya dikamar mandi. Mengganti baju dan kembali ke ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya.
___
Ditempat berbeda. Nadhira duduk sendiri menikmati hembusan angin malam dibalkon kamarnya. Tersenyum sendiri atas bahagia yang menyapanya. Bagaimana tidak ? Laki-laki yang selama ini ia semogakan datang ke rumahnya untuk melamarnya. Sungguh bahagia yang tak terkira.
“Terimakasih, ya Allah. Telah memberikan jawaban atas do’a-do’a yang selama ini aku panjatkan. Menjawab semoga-semoga yang selalu ku tuntutkan pada-Mu.”
Nadhira kembali tersenyum. Tanpa disadari sang kakak sudah memperhatiaknnya dengan lekat sejak tadi.
“Dik ?” Bara melangkah mendekati adiknya yang tak beranjak dari duduknya.
“Iya, Bang. Sini duduk didekatku.” Nadhira tersenyum lalu menepuk tempat duduk disebelahnya untuk mempersilahkan Bara duduk tepat disampingnya.
“Ciyeee yang sebentar lagi mau dinikahin. Bahagia banget ya adiknya Abang.” Bara mengacak rambut hitam adiknya yang tergerai tanpa balutan jilbab. Karena jika Nadhira sedang berada didalam kamar,dia tidak mengenakan hijabnya.
“Alhamdulillah, Bang. Aku bahagia banget. Sempat aku berpikir bahwa Kak Reyhan benar-benar pergi dari hidupku. Tapi nyatanya, Allah mempunyai rencana lain. Allah menyuguhkan kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang aku pikirkan. Sungguh, Allah benar-benar baik padaku.”
“Alhamdulillah, Dik. One step closer, Dik.”
Bara ikut berbahagia atas kebahagiaan adiknya.
“Sebentar lagi kamu akan jadi istri, Dik. Sifat manja dan kekanakkanmu tolong diubah, ya. Kamu tidak bisa menyamakan perlakuan keluargamu sendiri dengan perlakuan keluarga barumu nanti. Belum tentu mereka mampu menerima segala sifatmu. Jadi, Abang minta diubah dari sekarang, ya. Sedikit demi sedikit.”
“Pasti, Bang. Aku akan belajar menjadi istri yang baik nantinya.”
Nadhira dan Bara memilih berdiam menikmati pemandangan langit tanpa rembulan. Menikmati hembusan angin malam yang sepoi.
“Bang ?”
Nadhira kembali memecah kesunyian yang tercipta.
“Hmmm.”
“Tapi, aku masih mikir nih. Kan Abang belum nikah. Masa iya aku bakal langkahin Abang.”
“Hahaha. Apaan sih kamu, Dik. Jodoh tuh nggak ada yang tau kapan datangnya. Kalo memang kamu yang duluan menikah. Itu tandanya Allah lebih dulu mendatangkan jodohmu.”
“Iya sih, Bang. Tapi kan...”
“Udah ah. Kamu tenang aja. Gini-gini Abang mu banyak yang suka kok. Banyak yang ngantri tau. Tapi Abang aja yang nggak mau. Belum ada yang cocok sih.” Bara memotong omongan Nadhira dan membanggakan dirinya sendiri.
“Idiihh bahasanya. Banyak yang mau tapi tetep aja jomblo. Awas lho ya, jangan jadi pemilih banget. Nanti jadi bujang lapuk. Hahaha.”
“Wah wah wah. Mentang-mentang udah ada yang ngajakin nikah jadi seenaknya ngeledek kamu ya.”
__ADS_1
Bara menggelitiki Nadhira. Akhirnya malam itu tawa mereka pecah.
___To Be Continued___