
“Mama,” panggil gadis itu dengan lesu. Raut wajahnya yang biasa ceria kini nampak sendu. Ia menyentuh lengan Mama yang sedang asyik berperang dengan alat dapur di depannya.
“Kenapa, Nak ?” tanya Mama beralih menatap Nadhira yang berada di sampingnya.
“Lho, kenapa matamu sembab seperti itu ? Apa kamu habis menangis ?” tanya Mama lagi dengan khawatir. Mama begitu menyayangi anak menantunya itu.
“Ma, bagaimana mungkin seorang suami menyembunyikan hal yang sangat serius pada istrinya ? Apakah Papa juga seperti itu pada Mama ?”
“Maksud kamu Reyhan ?”
Ia mengangguk polos.
Mama tersenyum tenang. Mama membawa tubuh Nadhira duduk di kursi yang tersedia di dapur.
“Nak, terkadang ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan seseorang untuk tidak berkata yang sesungguhnya pada kita. Bukan perihal ia ingin berbohong. Tapi, ia kadang hanya butuh waktu yang tepat. Sehingga, kita bisa menerima dengan baik keadaan itu.”
Ia hanya terdiam mendengar penuturan Mama.
“Mama mau tanya sesuatu pada kamu. Boleh ?”
Ia mengangguk.
“Kamu sudah mengetahui keadaan Reyhan yang sebenarnya. Apakah kamu masih mencintai Reyhan, Nak ?”
“Kenapa Mama bertanya seperti itu ?”
“Karena, Reyhan terlalu mencintaimu.”
“Ma, Kak Reyhan itu sudah menjadi suami Nadhira. Jadi, bagaimana pun keadaannya tentu saja tidak akan mempengaruhi perasaan Nadhira padanya. Demi apapun, Nadhira tulus mencintai Kak Reyhan, Ma. sungguh.”
“Reyhan tak menceritakanmu tentang keadaannya sejak awal itu semata-mata karena ia takut kehilanganmu. Takut kamu meninggalkannya saat ia sudah memilikimu seutuhnya. Ia selalu berkata pada Mama. Cukup sekali saja kamu pergi. Setelahnya jangan pernah ada lagi,” Mama berkata lirih dan tertunduk.
“Nadhira, Mama mohon padamu. Jangan pernah meninggalkan Reyhan. Mama tidak ingin terjadi keadaannya memburuk. Temani Reyhan melangkah,” pinta Mama memelas di hadapan menantunya.
“Ma, tanpa Mama meminta pun akan Nadhira lakukan. Bukankah itu juga sudah menjadi tugas Nadhira sebagai seorang istri ? Mendampingi suaminya dalam segala keadaan ?”
Mama menatap menantunya itu lekat. Ia tak menyangka menantu kecilnya itu mampu berpikir sejauh demikian.
“Mama jangan pernah khawatir. Nadhira tidak akan pernah meninggalkan Kak Reyhan. Nadhira akan selalu di sampingnya. Menjadi istri yang baik dan berbakti padanya. Bantu Nadhira, ya, Ma ? Jika Nadhira berbuat kesalahan sekecil apapun itu. Tegurlah Nadhira.”
“Iya, Sayang. Terimakasih sudah menerima Reyhan dengan segala kekurangannya.”
“Ma, Nadhira boleh tanya sesuatu pada Mama ?”
“Tentu saja boleh.”
“Apakah Kak Reyhan sering mengalami seperti yang tadi, Ma ?”
Mama tersenyum tipis. Kemudian, menunduk. “Terlalu sering, Nak. Terlebih ketika ia sudah memporsir diri dengan bekerja menyelesaikan segala pekerjaan kantor. Itulah alasan kenapa Mama melarangnya untuk bekerja lagi. Bahkan, Papa juga sempat memintanya berhenti dari kantor. Tapi, ia selalu bersikeras. Padahal, Mama lebih suka melihatnya dirumah saja. Sekiranya itu tidak memperburuk keadaannya.”
__ADS_1
Nadhira hanya termangu mendengar kalimat-kalimat yang menguntai dari bibir Mama.
“Mama memang senang dia bekerja. Jika dia bekerja bukan untuk memperburuk keadaannya.”
Mama mengatur napasnya. Ia merasa sesak jika sudah mengingat keadaan anak sulungnya itu.
“Tapi, ia adalah tipekal seorang pekerja keras dan susah dilarang selama itu menurutnya baik. Persis sekali seperti Papa. Alasannya selalu sama. Ia ingin menjadi lelaki yang suatu hari nanti mampu menafkahi keluarganya kelak.” Mama terkekeh. “Ah... Reyhan memang keras kepala.”
“Ra ?” panggil Mama mengalihkan fokus Nadhira.
“Iya, Ma ?”
“Bantu Reyhan untuk tetap kuat, ya, Nak. Mama yakin, bersamamu dia pasti bisa melewati segalanya.”
“Tentu saja, Ma. Nadhira akan selalu mendampingi Kak Reyhan,” ucapnya bangga.
Sejenak ia memilih diam. Begitupun Mama.
“Tapi, Nadhira masih kecewa atas sikap Kak Reyhan yang tidak mau terbuka pada Nadhira, Ma.”
“Ingat Mama bilang apa diawal ? Bukannya tidak mau, Sayang. Tapi, belum siap saja. Paham, tidak ?”
Ia hanya mengangguk polos.
“Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Usah lagi kamu perdebatkan masalah itu, ya, Nak. Kamu pun sudah tahu betul alasan Reyhan bersikap seperti itu. Jadi, sudahlah, Ra. Jangan berlarut pada kecewa yang menyergapmu itu. Karena, itu hanya kan menyakiti dirimu sendiri dan tentu saja tidak akan mampu membuat keadaan menjadi lebih baik. Justru akan sebaliknya.”
“Belajarlah untuk meredam emosi. Jangan dimanjakan.”
“Iya, Ma. Terimakasih sudah berkenan menasehati Nadhira.”
“Sama-sama menantu kesayangan Mama.”
Ia tersipu. Dan menghambur memeluk tubuh Mama.
“Nadhira sayang sama Mama.”
Mama mengelus lembut puncak kepala Nadhira yang masih memeluknya erat.
“Mau ikut memasak lagi sama Mama, tidak ?”
Dengan cepat ia melepas pelukannya. “Tentu saja, Ma. Nadhira kemari dengan niat membantu Mama memasak.”
“Eh, maksud Nadhira belajar memasak lagi, Ma,” ucapnya cepat meralat perkataannya dan terkekeh geli pada dirimya sendiri.
Begitu jua dengan Mama. Ia melempar tawanya melihat tingkah polos menantunya itu.
“Ya sudah. Ayo bantu Mama menyelesaikan masakan yang sempat tertunda tadi. Setelah itu, barulah kamu antarkan makanan untuk suamimu.”
“Siap, Komandan,” jawab Nadhira bercanda dan sukses membuat Mama tertawa lagi.
__ADS_1
“Sepolos inikah menantuku ?” tanya Mama dalam hati.
“Ma, kenapa Mama malah diam seperti itu ? Mama bilang mau melanjtukan memasak.”
“Oh iya, Nak. Iya.”
Kini, ia sudah mulai terbiasa dengan alat-alat dapur. Meski tak secekatan Mama. Namun, ia sudah mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Mama untuknya.
“Selesai!” teriaknya kegirangan seperti anak kecil.
“Astaga, Nadhira. Mama kira ada apa. Kamu mengagetkan Mama saja.”
“Maaf, Ma. Maaf. Nadhira tidak bermaksud membuat Mama kaget.”
“Iya. Tidak apa-apa.”
“Ma, kata Kak Reyhan masakan pertama yang Nadhira buatkan untuknya itu enak,” cicitnya pada Mama.
“Benarkah ?”
Ia mengangguk. “Tapi, jangan-jangan Kak Reyhan hanya membohongi Nadhira, Ma. Karena, merasa tidak tega untuk berkata masakan Nadhira tidak enak,” ucapnya dan tertunduk lesu.
“Tidak boleh berpikir negatif sama suami sendiri, ya, Sayang. Tidak baik.”
“Astaghfirullah,” ucapnya cepat. Tingkahnya yang begitu polos selalu berhasil membuat Mama tertawa.
“Sekarang temui Reyhan dikamar ya, Nak. Bawakan makanan dan jangan lupa memintanya untuk meminum obat.”
“Iya, Ma.”
“Tapi, kamu harus sedikit sabar saat menghadapinya. Ia cukup susah dalam mengonsumsi obatnya.”
“Hah ?” Nadhira sedikit terheran.
“Iya. Dia memang seperti itu. Susah sekali jika Mama memintanya meminum obat. Padahal jelas saja itu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi, tetap saja. Makanya, ia sering anfal begitu.”
“Mama tenang saja, ya. Mulai sekarang sudah ada Nadhira yang akan mengurus soal itu.”
“Iya, Nak. Ingat, Reyhan tidak boleh absen untuk mengonsumsi obatnya.”
“Iya, Ma. Nadhira mengerti.”
Ia tersenyum. Bahagia memiliki mertua sebaik Mama.
“Nadhira ke kamar dulu, ya, Ma.”
Mama mengangguk.
Ia melenggang pergi dengan makanan yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
__ADS_1