
“Sssshhhh,” ringisnya pelan seraya meletakkan tangan pada dada sebelah kirinya. Rasa sakit kembali menyapa.
“Tahan, Reyhan. Tahan. Kamu harus kuat. Sebentar lagi kamu akan sampai dirumah,” ucapnya menguatkan diri sendiri.
Ia semakin memacu kecepatan mobil yang di kendarainya agar segera sampai dirumah dengan cepat. Dengan begitu, ia dengan segera jua menemui istri yang tengah mengandung anak pertamanya itu dalam keadaan baik-baik saja. Kalimat-kalimat yang mengalir dari bibir Tasya membuat ketakutan luar biasa menyergapnya tanpa belas kasihan sedikitpun.
“Akan ku pastikan kamu selalu baik-baik saja, Al. Walau nyawaku akan jadi taruhannya.”
Dengan keras Reyhan membunyikan klakson mobilnya saat sampai didepan gerbang berwarna hitam dan tinggi itu. Ia tak sabar ingin segera masuk menemui istrinya.
Setelah gerbang terbuka lebar. Ia melajukan mobilnya dengan cepat dan berhenti di halaman rumah besarnya. Membuka pintu mobil dan membantingnya keras.
Ia berlari dengan cepat memasuki rumah. Tak peduli pada rasa yang semakin menjadi-jadi tanpa ampun. Jua pada peluh yang sudah mengucuri tubuh kekarnya yang mulai nampak kurus itu.
“Kak! Ada apa ?” tanya Farhan terheran-heran saat berpapasan di ruang tamu.
“Nadhira dimana ?”
Farhan melempar tatapannya ke segala penjuru yang bisa dijangkau netranya. “Sepertinya Kak Nadhira belum turun sejak pagi tadi. Farhan belum bertemu dengannya.”
Tanpa menanggapi apapun ucapan Farhan. Ia berlalu begitu saja. Membuat adik lelakinya itu melempar tatap bingung padanya.
Langkahnya terhenti di pertengahan tangga saat rasa sakit tak lagi mampu ditahannya. Ia mencengkram dengan kuat dadanya. Dengan langkah tertatih ia berusaha melanjutkan langkah menuju kamar. Berpegangan pada pembatas tangga agar ia tak terjatuh.
Ia memutar knop pintu yang tak terkunci. Mendapati istrinya tengah asyik dengan sebuah buku ditangan yang ia baca dalam posisi berbaring.
Hatinya terasa lega dan tenang. “Aleea ?” panggilnya lirih seraya berjalan tertatih ke arah tempat tidur dimana Nadhira membaringkan tubuhnya.
Nadhira kaget melihat kondisinya yang berantakan dan bangkit mendekatinya.
“Aku baik-baik saja, Al. Aku baik-baik saja,” ucapnya lirih.
Nadhira menggelengkan kepalanya. “Tidak! Kakak tidak baik-baik saja.” Ia menuntun tubuh Reyhan duduk di pinggi tempat tidur.
“Tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan air putih dan obat kakak dulu,” ucap Nadhira seraya bangkit dari duduknya.
Ia menarik tangan istrinya dengan pelan seraya menggelengkan kepala. “Tidak perlu, Al. Biar aku saja yang ambil sendiri. Kamu jangan terlalu banyak gerak.”
“Hanya sekedar mengambil air putih dan obat kakak tidak akan berpengaruh buruk pada kandunganku. Tenang saja.”
Tangan kekarnya menarik tubuh kecil Nadhira kedalam pelukan. “Jangan pergi,” bisiknya lirih dan menyayat hati. “Jangan pergi.”
“Ada apa ?” tanya Nadhira seraya mengelus punggung suaminya.
Ia menggeleng dan membisikkan kalimat yang sama. “Jangan pergi.” Pelukannya melonggar. Tangannya lemas tak berdaya.
“Sayang ?” panggil Nadhira dengan pelan.
Tak ada jawaban. Hanya hening.
Nadhira mengguncang tubuh kekarnya. Namun, tiada pergerakan apapun. Ia panik bukan main.
“Mama!” teriak Nadhira sekuat yang ia bisa.
“Sayang, bangun.” Nadhira kembali mengguncang tubuh Reyhan yang masih dalam pelukannya. Berusaha untuk membaringkannya di tempat tidur. Namun, karena tubuh Reyhan terlampau besar dan tenaga yang ia miliki masih lemah. Ia sama sekali tak mampu melakukan hal itu.
“Mama!” teriak Nadhira lagi. Air mata mulai runtuh.
“Bangun. Jangan seperti ini,” bisik Nadhira di telinga Reyhan bersama isak yang semakin kuat.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. “Ada apa, Kak ?” tanya Farhan yang baru saja memasuki kamarnya.
“Bantu aku untuk membaringkan tubuh Kak Reyhan. Dia sakit dan tak sadarkan diri.”
Dengan segera Reyhan membantu kakak iparnya itu. “Bagaimana bisa seperti ini, Kak ?”
__ADS_1
“Aku jua tak tahu,” ucap Nadhira disela tangisnya.
“Kak Nadhira tenanglah. Farhan akan menghubungi Dokter Dharma untuk segera memeriksa keadaan Kak Reyhan.”
Nadhira hanya mengangguk. Ia melihat Farhan berlalu dari kamarnya. “Sayang, bangunlah. Aku disini. Tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku berjanji.”
_____
Dua jam berjalan dirasakan teramat lama. Ia menatap kelopak mata yang belum jua ada tanda-tanda terbuka. Tangan yang selalu merangkulnya itu ia genggam dan elus pelan. Menyalurkan setiap perasaan yang ia miliki.
Perutnya kembali bergejolak setelah mencium aroma masakan yang entah darimana. Ia berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Mengeluarkan apa saja yang bisa ia keluarkan dari perutnya.
“Nak, kamu makan dulu, ya. Setelah itu minum vitamin yang dokter berikan padamu,” ucap Mama seraya memijat tengkuknya.
Ia membersihkan mulutnya dengan air yang mengalir deras dari keran. Tubuhnya terasa sangat lemah. Namun, membayangkan dirinya tak berdaya disaat suaminya belum terbangun dari pingsannya membuat ia berusaha kuat.
“Mama bantu, ya, Sayang.”
Mama merangkul tubuhnya. Membawanya kembali duduk di samping suaminya yang masih terbaring dengan wajah pucatnya. Tatapannya sendu.
“Kak Reyhan akan baik-baik saja ‘kan, Ma ?” tanyanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Mama.
“Iya, Nak. Reyhan pasti baik-baik saja. kamu berdo’alah semoga Reyhan segera siuman.”
Jemari dari telapak tangan yang di genggamnya bergerak pelan. Ia menatap wajah itu seketika. Melihat bibir yang bergerak dan melafalkan kalimat dengan suara kecil.
“Jangan! Jangan sentuh dia. Ku mohon.”
Suara kecil Reyhan masih bisa ia tangkap dengan jelas. Ia menautkan alisnya menjadi satu.
“Ma, Kak Reyhan,” ucapnya seraya menatap wajah Mama yang berdiri di belakangnya.
Mama dengan cepat duduk bersimpuh di samping ranjang. “Nak, bangun, Sayang. Mama disini bersama Nadhira.”
“Jangan sentuh dia. Ku mohon, Sya. Jangan.”
“Tasya ?” ucapnya mengulang ucapan Mama.
“Perempuan yang bertemu denganmu di kantor beberapa waktu lalu. Yang memperlakukanmu seperti pelayan. Ingat, Nak ?”
Ia mengangguk. “Lalu, kenapa Kak Reyhan menyebut namanya, Ma ?”
“Mama jua tak tahu.”
“Reyhan ? Bangunlah, Sayang. Kasihan istrimu begitu mengkhawatirkanmu.”
Masih dengan mata terpejam. Reyhan menggeleng kuat. Tangannya menggenggam kuat tangan kecil Nadhira. Peluh bercucuran tanpa henti membasahi kemeja yang belum sempat diganti.
“Elmeera!” teriak Reyhan dengan mata yang sempurna terbuka.
Genggaman terlepas seketika mendengar nama yang diucapkan suaminya itu. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Dadanya sesak.
“Ada apa ini ?” bisiknya dalam hati.
Tatapannya mulai mengabur. Pertanda sudah ada genangan yang tercipta di kelopak matanya.
“Elmeera ?” ucapnya lirih dengan senyum tipis.
Mama menatapnya kasihan.
“Sayang ?”
Panggilan Reyhan sama sekali tak di pedulikannya. Ia berlalu pergi meski tangannya sempat di cekal oleh Reyhan.
“Al ? Mau kemana ?"
__ADS_1
“Aku hanya ingin turun sebentar. Tinggallah sebentar bersama Mama,” ucapnya dengan suara bergetar.
Dadanya benar-benar terasa. Ia tak tahu. Entah itu sesak karena Asmanya yang kambuh atau sesak mendengar nama yang sempat disebut suaminya.
Ia memukul pelan dadanya dengan tangan yang terkepal. Menundukkan badannya. Lalu terisak pelan.
“Kamu kenapa, Nak ?” tanya Mama penuh perhatian.
Ia menggeleng dan tersenyum ke arah Mama. “Nadhira baik-baik saja, Ma.”
Dengan punggung tangan ia menyeka air matanya. “Titip Kak Reyhan sebentar, ya, Ma. Nadhira turun untuk mengambil air putih untuknya dulu.”
“Biar Mama saja. Kamu sedang hamil muda. Kandunganmu tentu saja masih sangat rentan.”
“Tidak apa-apa, Ma.”
“Tidak. Diamlah disini. Mama paham bagaimana perasaanmu.”
Ia terdiam.
“Temani suamimu. Bicarakan nanti jika keadaannya sudah membaik.”
Tatapannya sendu ke arah Mama. Air matanya luruh.
“Jangan menangis,” ucap Mama seraya menghapus jejak air mata yang melewati pipinya.
Ia berjalan pelan mendekati Reyhan yang masih setia di pembaringan. Duduk di bibir ranjang dengan dada yang masih terasa sesak.
Wajahnya tertunduk. Sesekali ia membuang napas kasar.
“Sayang ?” panggil Reyhan memegang tangannya. “Kamu kenapa ?
Ia menggeleng dan mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
“Aku melihat ada sesuatu yang terjadi denganmu. Aku benar, ‘kan ?”
Ia membuang tatapannya.
“Jika tidak ada sesuatu yang terjadi. Lalu, untuk apa kamu menangis seperti itu, Sayang ? Ceritalah padaku.”
Bibir bawahnya digigit kuat. Dadanya semakin terasa sesak. Napasnya mulai tak beraturan.
“Awww,” rintihnya dan memegang perutnya yang terasa keram.
“Aleea ?” Reyhan bangkit dengan susah payah karena kepanikannya melihat istrinya kesakitan.
“Kenapa dengan perutmu, Al ?” tanya Reyhan seraya menyentuh pundaknya.
“Perutku sakit, Kak.” Ia mencengkram seprai yang melapisi tempat tidurnya.
Reyhan panik bukan main. Namun, ia tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya masih sangat lemah.
“Kak, sakit,” rintihnya lagi.
Mama yang baru saja memasuki kamarnya segera berlari. “Ada apa ?”
“Mama perut Aleea sakit. Bagaimana ini ? Apakah terjadi sesuatu dengan kandungannya ?”
“Kita ke Rumah Sakit sekarang,” ucap Mama dengan rasa panik yang berusaha ia sembunyikan dari kedua anaknya itu.
“Reyhan ? Istirahatlah! Biar Mama yang menemani Nadhira.”
“Tapi, Ma...”
“Jangan membantah! Jika kamu terus-terusan sakit seperti itu. Siapa yang akan menjaga istrimu nantinya ?”
__ADS_1
Reyhan hanya berdiam mendengar ucapan Mama. Ia merutuki dirinya sebagai suami yang tak berguna.