
Hari-hari berganti begitu cepat. Bagai lesatan kereta api yang melintasi relnya.
Pernikahan Reyhan dan Nadhira hanya tinggal menghitung jam saja. Orang-orang terlihat sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Tak terkecuali Nadhira yang juga ikut andil membantu Bunda dan sanak saudaranya yang lain.
“Dik, istirahatlah. Jangan sampai kecapekan. Biar besok terlihat fresh.” Bara mendekati adik semata wayangnya yang sedang menata bunga-bunga plastik kedalam pot.
“Nggak apa-apa, Bang. Aku nggak bakalan capek kok. Kan cuma duduk doang kayak gini.” Jawab Nadhira sambil menampilkan gigi gingsulnya.
“Ya udah. Nanti kalo capek langsung istirahat aja dikamar.”
“Siiaap, Bos.”
“Abang pergi dulu, ya ?”
“Kemana, Bang ?” tanya Nadhira menghentikan aktifitasnya sejenak.
“Nyusul Reyhan. Mau lihat persiapan di hotel untuk acara kalian besok.”
“Baiklah. Hati-hati dijalan, Bang.” Nadhira tersenyum dan mencium tangan Bara.
Bara melangkahkan kaki menuju pintu. Sesekali ia berhenti ketika berpapasan dengan saudara-saudaranya yang datang dari luar kota guna menyaksikan acara sakral antara Nadhira dan Reyhan.
Bara memasuki mobilnya yang sudah terparkir didepan pintu. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang rawan dengan kemacetan itu.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Mobil yang dikendarai Bara berhenti disebuah hotel berbintang. Ia berjalan memasuki hotel tersebut. Banyak para kaum hawa yang memperhatikannya. Bahkan ada yang berbisik namun masih bisa dicerna dengan baik oleh indera pendengaran Bara. Bisikan-bisikan yang mengagumi kegantengannya. Siapa yang tak tertarik dengan seorang Bara ? Seorang CEO muda dengan talenta luar biasa. Dikaruniai tubuh atletis, kulit putih dan raut wajah yang tegas.
Bara sama sekali tak mempedulikan tatapan dan bisikan makhluk lawan jenisnya itu. Baginya itu hanya hal biasa yang ia sering jumpai.
Bara terus berjalan menyusuri koridor hotel menuju sebuah ballroom yang disiapkan untuk acara pernikahan adik dan sahabatnya.
Bara menelisik setiap jengkal ruangan yang sudah disulap sedemikian rupa dengan dekorasi bernuansa hijau toska dan dikombinasikan warna pink yang memanjakan mata.
Sudut bibir Bara tertarik membentuk lengkungan senyuman membayangkan adiknya duduk dipelaminan.
“Hei, Bara!” Reyhan menepuk bahu Bara dan merangkulnya.
“Hei!” Bara hanya menoleh sebentar lalu memfokuskan kembali tatapannya pada dekor ruangan yang akan dijadikan sebagai tempat untuk melangsungkan pernikahan Nadhira dan Reyhan.
“Gimana menurut lo, Bar ?”
“Apanya ?” tanya Bara dengan begitu polosnya.
“Ya dekor dan segala macemnya yang lo liat sekarang ?”
“Bagus kok, Han. Pasti Nadhira seneng banget lihat ini nanti.”
“Semoga saja.” Ucap Reyhan penuh harap.
Bara menatap lekat wajah Reyhan. Terlihat guratan kelelahan terpancar diwajahnya meski dibalut dengan mimik bahagia. Namun, hal itu tidak bisa menutupi mukanya yang nampak masih pucat karena kondisinya yang belum pulih total setelah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu.
“Han, muka lo pucat. Istirahat aja dulu.”
“Nggak, Bar. Bentar lagi kelar semuanya. Ayo ikut gue kesana. Disana ada Mama sama Raina.” Reyhan menunjuk ke arah dimana ada mama dan adik perempuannya.
Bara hanya mengikuti jejak langkah calon adik iparnya itu.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, Tante.”
Mama menoleh ke arah Bara. Bara mengambil tangan Mama lalu menciumnya sebagai rasa hormatnya. Itulah yang sejak dulu selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya.
“Wa’alaikumussalam. Eh, Nak Bara.”
“Hai, Raina.”
“Ayo salim dulu sama Kak Bara.” Ucap Reyhan seraya menuntun adiknya untuk bersalaman dengan Bara.
___
Nadhira mendekati Bundanya yang sedang asyik mengobrol dengan kaum hawa seusianya.
“Bun, adik masuk ke kamar dulu, ya ?”
“Iya, Dik. Adik istirahat aja. Kumpulkan tenaga untuk besok.”
Nadhira melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Nadhira berdiri didekat jendela yang terbuka lebar.
“Senja.” Ucapnya.
Nadhira menyukai senja. Setiap hari ia menantikannya. Menantikan hari yang setengah menggelap dimuka bumi ini.
Hari ini pun sama. Nadhira menopang wajahnya dengan kedua tangan. Menikmati senja melalui jendela kamarnya. Senja yang sama. Seperti senja sebelum-sebelumnya. Tetap berwarna jingga kemerah-merahan.
Nadhira memejamkan mata. Menikmati semilir angin yang meniupi wajahnya.
“Aku merindukan senja bersamamu, Kak.” Bisik Nadhira.
Terdengar suara seseorang dari belakang. Suara itu. Iya suara itu milik lelaki yang Nadhira panggil dengan sebutan Abang.
“Sudah. Nikmati saja senjanya. Karena senja ini adalah senja terakhir yang adek nikmati sendiri.”
Nadhira tersenyum ke arah Bara yang semakin mendekatinya.
“Bang, maafin aku yang belum bisa jadi adik yang baik untuk Abang, yang selalu ngerepotin dan manja sama Abang. Dan terimakasih juga udah jagain aku selama ini.”
“Bukankah itu sudah menjadi tugas Abang sebagai kakak ?”
Nadhira mengangguk. Lalu kembali pada posisi menatap matahari yang penuh hasrat menggelinding kembali ke peraduannya.
Begitupun dengan Bara. Ia berdiri disamping adiknya. Juga menatap langit sore yang tenang dengan semburat warna jingganya.
“Indah.” Satu kata yang Bata ungkapkan tentang senja kali ini. Senja pertama yang ia nikmati.
Nadhira menengok pada abangnya.
“Disetiap senja selalu ada keindahan. Senja selalu punya cara untuk menggoda rasa dan menggugah jiwa penikmatnya.” Ucap Nadhira pada Bara.
“Really ?” tanya Bara begitu antusias.
“Hmmm. Senja begitu bersahaja. Ia begitu indah dan menenangkan. Aku begitu takjub pada senja. Senja yang datang begitu singkat. Namun, kedatangannya selalu menggugah gairah. Ketika rindu bersentuhan dengan suasana mencipta kisah yang dramatis dalam pikir. Aahhh.. senja memang begitu.”
__ADS_1
“Apa kau sangat menyukai senja, Dik ?”
“Tentu.” Jawab Nadhira bangga.
“Jika Abang tau senja seindah ini. Tentu saja sejak dulu Abang tidak akan menyia-nyiakan untuk menikmatinya. Pantaslah Prisil dulu selalu meluangkan sedikit waktu untuk memanjakan matanya menatap langit sore.” Bara tersenyum. Bayang-bayang wanita masa lalunya bergelayut manja dalam otaknya.
“Mulai hari ini. Menikmati senja akan menjadi satu rutinitas tambahan Abang.” Sambung Bara. Nadhira hanya terkekeh mendengar ucapan abangnya.
Nadhira dan Bara memfokuskan mata pada langit sore itu. Membiarkan matanya menerima asupan keindahan yang disuguhkan senja. Membiarkan wajah mereka tertiup angin yang berhembus melewati kisi-kisi jendela kamar Nadhira.
___
Senja meredup. Mentari tenggelam sempurna. Langit jingga hilang berganti gelap. Suara adzan magrib berkumandang dari sebuah masjid dikomplek perumahan mewah dimana Reyhan dan keluarganya menetap.
Reyhan beringsut dari ruang kerjanya menuju kamar untuk bersiap-siap melaksanakn kewajibannya pada Sang Khalik. Ia melangkah pasti menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu sebelum mengambil air wudhu.
Reyhan menggelar sajadahnya menghadap kiblat. Dan melaksanakan shalat tiga rakaat seorang diri.
Usai melaksanakan shalat magrib. Reyhan kembali bermunajat pada Penciptanya. Mengadukan segala pintanya melalui do’a yang dipanjatkan.
Reyhan mengakhiri do’anya dengan ucapan AAMIIN. Kemudian ia berdiri lalu mengambil sebuah Al-Qur’an kecil seukuran telapak tangan orang dewasa yang ia simpan di rak khusus dalam kamarnya.
Perlahan Reyhan membuka mushafnya dan membacanya. Lantunan ayat-ayat suci Allah mengudara merdu diruangan itu.
“Shadaqallahul adzim.” Reyhan mengakhiri bacaan Al-Qur’annya.
Suara ketukan pintu membuat Reyhan spontan menoleh ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat.
“Masuk aja.” Ucap Reyhan sembari merapikan sajadah yang ia gunakan untuk shalat.
“Kak, makan malam dulu.”
Masih dengan sarung, baju koko putih dan peci hitam yang bertengger rapi dikepalanya. Reyhan mendekati mamanya yang berdiri diambang pintu kamar.
“Iya, Ma. Tapi Reyhan ganti baju dulu.”
“Mama tunggu dibawah, ya ?” Mam hendak berlalu meninggalkan kamar Reyhan. Akan tetapi langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya.
“Ma ?”
Mama menoleh ke belakang mendapati Reyhan dengan senyum manis menghias wajahnya yang nampak pucat.
“Kenapa, Kak ? Kakak sakit ?” tanya Mama sedikit khawatir.
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya.
“Reyhan gerogi.” Ucap Reyhan setengah berbisik namun masih bisa didengar oleh mamanya. Reyhan sedikit tertunduk malu.
Mama mendekati Reyhan.
“Itu perasaan biasa yang pasti dialami calon pengantin menjelang hari pernikahan, Kak. Mama Papa dulu juga begitu. Tapi kakak bawa santai saja, ya. InsyaAllah semua berjalan lancar kok. Serahkan semuanya pada Allah.” Kata Mama menepuk pelan pundak anaknya.
“Tentu, Ma.”
“Ya sudah. Ganti baju sana. Kita makan malam dulu. Mama tunggu diruang makan, ya.”
__ADS_1
“Baik, Ma. Sebentar lagi Reyhan susul.”
___TBC___