Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 100


__ADS_3

Perlahan sang angkara pamit pergi. Kembali ke peraduannya mengistirahatkan diri setelah seharian menyinari bumi dengan segala isinya yang terjerat emosi.


Perempuan dua puluh tahun dengan perut yang mulai membuncit itu menatap nanar sepiring nasi beserta sayur diatasnya. Dua butiran kecil yang biasa di konsumsi suaminya. Tak lupa jua dengan segelas air putih diatas nampan.


Pikirannya jauh melayang entah kemana. Sejak kejadian di kampus. Reyhan enggan menemuinya. Menemaninya hanya sekedar makan pun tidak.


"Nak ?"


Panggilan dan tepukan lembut tangan Mama sukses membangunkannya dari dunia lain yang ia ciptakan sendiri.


"Kenapa ?"


"Tidak apa-apa, Ma," jawabnya memaksa senyum terbit dibibirnya yang sedikit memucat.


"Benarkah ? Jika ada apa-apa katakanlah pada Mama, Nak. Barangkali Mama bisa membantumu."


"Sungguh. Tidak ada apa-apa. Mama tenang saja."


Mama mengangguk pelan. Ia paham perasaan menantunya yang tak karuan itu. "Mau dibawa kemana semua itu ?" tanya Mama seraya melirik nampan diatas meja makan.


"Nadhira menyiapkan ini untuk Kak Reyhan. Sejak siang tadi Nadhira belum melihatnya keluar dari ruang kerjanya. Itu pertanda ia belum makan sama sekali. Padahal, ia harus dengan rutin meminum obatnya."


"Ya sudah. Cepatlah bawakan Reyhan makanan dan obatnya. Jika tak meminum obat bisa-bisa ia anfal lagi."


"Tapi, Ma. Nadhira takut Kak Reyhan masih marah pada Nadhira," ucapnya dengan kepala tertunduk.


"Percayalah, Nak. Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu 'kan hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai istri, Sayang. Dan belajarlah menjadi peneduh saat suami dalam keadaan emosi. Kamu bisa 'kan, Nak ?"


Ia menatap Mama dengan air mata tergenang.


"Jangan takut," ucap Mama menguatkan dengan elusan lembut dipundaknya.


Ia menghelas napas panjang. Menghembuskan perlahan. Tangannya dengan pelan mengambil nampan yang ia letakkan diatas meja. Membawanya naik melewati tangga menuju ruang kerja Reyhan dipojok lantai dua.


Ia mengetuk pintu dengan pelan. "Kak ? Bolehkah aku masuk ?"


Hening. Suara deru napas pun tak jua terdengar.


"Kak, aku masuk, ya."


Tak lagi mendapat jawaban apapun. Dengan rasa takutnya ia membuka pintu dan melangkah pelan. Mendekati Reyhan yang sedang fokus berkutat dengan setumpuk berkas dan laptop dihadapannya.


"Kak ? Makan dulu, ya. Kakak belum makan dari siang tadi. Jua kakak harus meminum obat."


Sama sekali ia tak mendapatkan respond dari Reyhan. Diliriknya saja tidak.


"Kak ?" panggilnya lembut seraya memegang pundak Reyhan.


Reyhan menepis tangannya dengan keras. "Jangan dulu menggangguku. Aku sedang sibuk."

__ADS_1


"Tapi, kakak belum makan sejak siang tadi. Obat kakak belum juga kakak minum. Bagaimana jika kakak anfal lagi ?"


"Letakkan saja makanan dan obat itu diatas meja. Nanti, aku akan menghabiskannya."


"Kak ?"


"Aakkhhh..." Reyhan mengjambak rambutnya keras. Frustasi. Ia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya hanya untuk menghilangkan bayang-bayang kejadian di kampus antara istrinya dan Faris.


Ia terlonjak dan ketakutan melihat Reyhan. "Maaf. Maaf. Aku tak bermaksud mengganggumu."


Reyhan bangkit dari kursi dan berjalan membelakanginya. Dengan rasa takut yang semakin mengungkung ia berjalan mendekati Reyhan.


"Aku bisa jelaskan tentang kejadian siang tadi. Itu murni kesalahpahaman."


"Semuanya sudah jelas ku lihat sendiri. Jadi, kamu tidak perlu membuang tenaga untuk menjelaskanku."


"Tapi, kakak sudah menanggapinya dengan salah paham."


Reyhan tak bergeming.


"Demi Allah. Aku tidak ada apa-apa dengan Kak Faris. Tolong percayalah padaku."


Ia berjalan mendekat dan memeluk Reyhan dari belakang. Namun, dengan kasar Reyhan menepis tangan kecilnya dan mendorongnya dengan kuat. Sebab, tubuhnya yang kecil dan tenaga yang kurang. Ia terpental jauh hingga perutnya sempurna membentur sudut meja kerja di ruangan abu tua itu dengan keras.


"Akhhh..." rintihnya seraya memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Ia rasakan sesuatu yang menghangat mengalir dibalik gamisnya. Di tatapnya ke bawah dan melihat darah segar sudah menyentuh lantai.


"Darah," lirihnya di tengah isak dan rasa sakit yang teramat.


"Perutku sakit," ucapnya ditengah isakan kuat. Ia berusaha melangkah keluar ruangan. Tangannya tak sengaja menyenggol gelas yang ia letakkan diatas meja Reyhan hingga terjatuh ke lantai.


Reyhan sontak menatap ke arahnya. Terbelalak melihat darah yang mengalir di kaki Nadhira.


"Mama! Tolong Nadhira, Ma," teriaknya sekuat yang ia bisa. Ia menekan daerah perutnya yang teramat sakit. Tak hanya itu. Telapak kakinya jua berdarah akibat pecahan gelas yang ia injak tak sengaja.


"Mama!" teriaknya lagi.


"Al kakimu berdarah," ucap Reyhan yang dengan cepat meraih tubuhnya.


"Aku tidak butuh bantuanmu, Reyhan!" bentaknya dan menepis tangan Reyhan.


"Tapi, kakimu berdarah, Al."


"Peduli apa kamu ?"


Ia semakin terisak. "Mama!"


Dengan piyama yang membungkus tubuh tuanya. Mama berlari tergopoh-gopoh. "Apa yang terjadi ? Astaga!" Mama kaget melihat darah segar yang sudah mengenai gamis menantunya itu.


"Mama perut Nadhira sakit, Ma. Tolong Nadhira," lirihnya dan meraih tangan Mama.

__ADS_1


"Reyhan! Kenapa kamu diam saja ? Cepat bawa Nadhira ke Rumah Sakit."


"Nadhira tidak mau dengannya, Ma. Tidak."


"Kenapa, Ra ?"


Ia menggeleng. "Nadhira tidak mau, Ma."


"Al ? Maafkan aku."


"Mama, Nadhira tidak kuat, Ma."


Tanpa mengindahkan keinginannya. Reyhan dengan cepat membopong tubuh kecilnya yang sudah bersimbah darah. Dengan sisa tenaganya ia memberontak. "Turunkan aku! Aku tidak mau denganmu."


Reyhan sama sekali tak mempedulikan ucapannya. Langkahnya semakin lebar menuruni tangga dan membawa tubuh kecil itu ke dalam mobil.


"Mama sakit," keluhnya seraya mencengkeram kuat perutnya.


"Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit."


"Mama... Sakit..." ucapnya terbata-bata dan hilang kesadaran.


"Ra! Nadhira! Kamu dengar Mama, Nak ?" Mama mengguncang tubuhnya yang lemah tak berdaya.


"Reyhan! Cepatlah, Nak. Nadhira sudah tidak sadarkan diri."


Reyhan memacu kecepatan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali ia harus menekan pedal rem dengan mendadak untuk menghindari pengendara lain yang tiba-tiba berhenti atau menyeberang jalanan.


Mobil Reyhan berhenti didepan gedung dengan warna khas putih itu. Reyhan dengan cepat membopong kembali tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri.


"Tolong istri saya," ucapnya pada seorang perawat yang mendorong brankar ke arahnya. Perawat itu mengangguk dan segera membawanya ke ruang UGD.


"Bapak dan Ibu bisa tunggu diluar. Biarkan dokter yang akan memeriksa kondisi istri Bapak."


Pintu ruang UGD tertutup rapat. Reyhan mengacak rambutnya frustasi.


"Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Nadhira bisa sampai seperti itu ?" tanya Mama dengan tatapan menyelidik pada Reyhan.


Reyhan masih belum membuka suara.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Nadhira, Reyhan ?!" bentak Mama dengan amarah yang membeludak.


Reyhan menatap netra Mama yang sudah memancarkan kilatan amarah. Kemudian, tertunduk. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Maafkan Reyhan, Ma. Reyhan terlalu marah karena kejadian tadi siang di kampus."


"Itulah akibatnya jika kamu tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain."


Reyhan hanya terdiam.

__ADS_1


"Jika terjadi sesuatu pada menantu dan cucu Mama. Mama tidak akan memaafkanmu, Reyhan."


"Ma ?" panggil Reyhan lirih. Namun, Mama sama sekali tak mempedulikannya.


__ADS_2