
Payoda hitam menggumpal dan menggantung rapi diatas sana. Menutupi warna jingga dikaki nabastal sore. Netra yang masih nampak sayu itu menatap nanar ke ufuk Barat.
“Masuklah, Al! Sebentar lagi pasti akan turun hujan.”
Ia sama sekali tak bergeming. Tatapannya masih lurus ke depan. Menikmati kekosongan yang ia ciptakan sendiri.
“Aku tahu kamu marah atau bahkan membenciku, Al. Tapi, kali ini dengarkan aku.”
Tak ingin berlama-lama mendengar suara Reyhan. ia bangkit dari duduknya dan melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya.
“Aleeana!”
Suara teriakan Reyhan berhasil menghentikannya. Namun, untuk menatap barang sebentar lelaki yang membuat kecewa hatinya itu ia belum mampu. Menatap Reyhan sama dengan memutar kembali kejadian yang mengharuskannya melepas dengan paksa bayi yang belum sempat ia lihat. Apalagi timang.
Dirasakannya sepasang tangan memeluknya erat. Tangan yang selalu mendekapnya dan memberikan kehangatan.
“Maafkan aku,” ucap Reyhan dengan tulus. “Aku menyesal.”
Deru napas Reyhan yang teratur begitu terasa di telinganya. Matanya ia pejamkan menikmati kehangatan yang sudah beberapa hari ini tak didapatkannya. Jua menikmati aroma mint yang khas milik suaminya.
Ia melepaskan tangan Reyhan dengan paksa saat otaknya kembali memutar memori yang sama sekali tak diinginkannya itu. Ia menggeleng kuat. Menutup telinganya dengan kedua tangan. Napasnya tak beraturan. Degup jantungnya berdetak diluar batas normal.
“Kamu kenapa, Al ?” tanya Reyhan dengan panik.
Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Reyhan padanya. Ia melangkah dengan cepat meniti tangga yang terhubung ke kamarnya di lantai dua. Tangannya dengan kasar memutar knop pintu. Membanting dengan keras hingga menimbulkan suara bising.
Ia meringkuk diatas tempat tidur. Menangis tersedu. Mengelus perutnya yang sekarang merata dengan sempurna seperti semula.
Matanya ia pejamkan saat mendengar suara decit pintu yang terbuka. Yang ia tahu itu adalah suaminya.
Tempat tidur terasa bergerak. Benar saja. Reyhan tengah duduk disamping tubuhnya yang meringkuk.
Belaian lembut dirasakannya mendarat dari mata hingga ke bibirnya. Suara bisikan terdengar memilukan dan menyayat hatinya. Begitupula suara isak mulai terdengar jelas.
“Al ? Maafkan aku, Sayang. Aku menyesal.”
Sekuat tenaga ia menahan air mata agar tak tumpah sembarangan.
__ADS_1
“Aku bukan pembunuh, Al. Bukan. Kamu salah besar. Aku bukan manusia berhati iblis yang akan tega dengan sengaja membunuh darah dagingnya sendiri.”
Hatinya tercubit. Ucapan ykarena kungkungan amarahnya begitu membekas di hati Reyhan. Ia menyesal mengatakan itu. Namun, ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk meredam sendiri rasa kecewanya.
Telinganya menangkap dengan jelas suara ringisan Reyhan. Ia pastikan suaminya itu tengah menahan rasa sakit. Ia sudah begitu paham pada kondisi Reyhan yang semakin hari semakin tak terkontrol dengan baik.
Masih dengan mata yang enggan ia buka. Ia membiarkan Reyhan membelai lembut pipinya yang basah sisa-sisa jejak air matanya yang tumpah. Dadanya sesak saat ia berulang kali mendengar ringisan suaminya.
“Kenapa kamu masih disini, Kak ? Harusnya jika sakit seperti itu kamu meminum obatmu dulu,” kelakarnya dalam hati.
Belaian demi belaian yang diiringi ringisan terus ia dapati. Hingga ia mulai tak tahan dan tak tega mendengar ringisan suaminya.
Ia membuka mata dan menatap lekat netra suaminya. Melihat wajah yang sudah mulai memucat. Tanpa kata ia bangkit dari tempat tidur. Membuka laci meja dan mengambil botol kecil yang selalu ia letakkan didalam sana. Membukanya dan mengambil dua butir obat seperti biasa ia menyiapkan untuk suaminya. Tak lupa dengan air putih yang sengaja ia siapkan diatas nakas.
Ia menyodorkan obat dan segelas air putih itu pada Reyhan tanpa mengucap sepatah kata pun. Dilihatnya lelaki yang ada duduk di atas tempat tidur itu tersenyum dan menggeleng.
“Aku sudah tidak membutuhkan itu lagi, Al,” ucap Reyhan lirih. “Kembalikan saja obat-obatan itu pada tempatnya. Atau kamu bisa membuangnya sekalian.”
Bibirnya terkatup rapat mendengar ucapan Reyhan.
“Kata Mama kamu sudah merasakan sakit fisik dan aku hanya bisa merasakan rasa sakitmu itu dengan cara ini. Meskipun mungkin tak mampu menyamai rasa sakitnya.”
Reyhan tertawa sumbang. “Tidak, Al.”
“Jangan membuatku semakin membencimu, Reyhan!” bentaknya keras. “Minumlah obatmu.” Ia memberikan Reyhan obat yang sedari tadi di pegangnya. Dan meninggalkan Reyhan menuju jendela kamar.
Air matanya kembali jatuh seiring rinai hujan yang juga berlomba-lomba berjatuhan menyentuh kulit bumi. Matanya menatap langit yang semakin gelap terkungkung malam. Membiarkan angin yang berhembus kencang menyapu wajah dan menerbangkan ujung jilbabnya.
“Jangan membiarkanku menjadi istri yang tak mempunyai rasa peduli, Reyhan,” ucapnya dengan keras namun terdengar lirih.
“Menyandang istri yang tak mampu menjaga dengan baik anaknya sendiri pun sudah sangat berat bagiku. Aku tidak hanya mematahkan harapanku sendiri. Tapi, aku sudah mematahkan harapan banyak orang. Kamu, Papa dan Mama. Begitupun dengan keluargaku.” Isakannya semakin kuat.
“Maafkan aku, Al. Itu semua akibat perbuatanku.”
Ia tertawa sumbang ditengah isaknya yang semakin kuat. Badannya ia balik dan kembali ke tempat tidur. Meringkuk di dalam selimut tebal. Melampiaskan tangisnya.
“Aku akan melakukan apapun yang kamu mau asal kamu memaafkanku.”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu melakukan apapun untukku. Namun, beri aku waktu untuk sendiri. Meredam segala apa yang menjadi bebanku.”
“Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian terus menerus. Aku sukar jauh darimu, Al.”
“Kamu pikir aku bisa jauh darimu, Reyhan ? Tidak! Tapi, ingatan yang tak ku inginkan inilah yang memaksaku. Jadi kumohon. Beri aku waktu agar aku dengan cepat mengikhlaskan semuanya.”
Reyhan membungkam. Ia telah kehabisan kata. “Baiklah,” ucap Reyhan dengan pasrah dan melenggang keluar kamar.
Tangisnya pecah seketika saat pintu tertutup rapat. Menumpahkan air mata yang sempat ia tahan.
“Kenapa susah sekali membencimu, Reyhan ?” pekiknya histeris. Melempar ke sembarang arah guling yang ada di sampingnya.
“Rupanya membencimu jauh lebih sukar daripada melupakanmu.”
“Akkkhhh!” teriaknya lagi.
Pintu kamarnya terbuka lebar. Papa dan Mama berlari dengan kepanikan luar biasa ke arahnya.
“Nadhira! Kamu kenapa, Nak ?” tanya Mama panik dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Ia semakin terisak kuat.
“Ada apa, Ra ? Cerita pada Mama.”
“Kenapa Nadhira susah melupakan kejadian itu, Ma ? Nadhira benci mengingatnya.”
Mama mengelus pundaknya pelan. “Kamu butuh waktu, Nak. Sabar, ya, Sayang.”
“Nadhira tidak bisa jauh dari Kak Reyhan. tapi, melihatnya dengan wajah dan mendengar ucapannya yang penuh penyesalan membuat Nadhira kembali mengingat kejadian itu. Nadhira harus bagaimana, Ma ?”
Papa duduk di sampingnya. “Kamu butuh berdamai dengan keadaan. Dengan belajar mengikhlaskan. Ingatlah, Nak. Tak semua apa yang kita harapkan dapat kita genggam.”
Ia mengangguk didalam pelukan Mama. “Bantu Nadhira, ya, Pa, Ma.”
Kedua mertuanya itu mengangguk bersamaan.
“Sekarang kamu istirahatlah. Tenangkan diri dan jangan berpikir yang tidak-tidak. Percayalah! Tuhan akan segera memberikan amanah baru untukmu dan Reyhan.”
__ADS_1
“Terimakasih, Ma,” ucapnya dan memeluk tubuh Mama dengan erat.