
Rahang Reyhan mengeras. Tangan kirinya mengepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Tatapannya nyalang pada ponsel yang berada ditangan kanannya.
"Sial!" umpatnya dengan keras hingga Nadhira yang duduk manis dibibir tempat tidur terlonjak kaget.
"Kakak kenapa ?" tanya Nadhira khawatir.
"Aku akan ke kantor sekarang. Kamu bisa 'kan berangkat diantar Pak Amin ?"
"Tapi..."
"Aku tidak bisa menunda lagi, Al. Ini urusan genting. Pahamlah!"
"Oh baiklah."
"Pulang nanti barulah aku yang akan menjemputmu."
"Iya. Hati-hati dijalan."
"Iya, Sayang."
Ia menatap punggung Reyhan yang semakin menjauh dan tenggelam dibalik pintu kamar. Tatapannya sendu.
_____
"Bagaimana ini bisa terjadi, Tio ?" tanya Reyhan dengan suara keras.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Tapi, dari laporan karyawan itu dilakukan dengan sengaja oleh perempuan yang pernah datang mencari Bapak."
"Perempuan yang pernah mencari saya ?"
"Iya, Pak."
"Tidak mungkin istri saya, Tio."
Ia berusaha memikirkan siapa perempuan yang dimaksud oleh Tio. Perempuan yang sudah merusak rancangan proyek yang ia rancang sedemikian rupa dalam waktu lama.
"Tasya ?" ucapnya setelah sekian menit mengingat.
"Aku yakin yang melakukan ini adalah Tasya, Tio. Dia beberapa kali ingin bertemu denganku. Tapi, aku tolak mentah-mentah."
"Kita bisa lihat CCTV kantor, Pak."
"Baik. Cepatlah!"
Reyhan mengepalkan tangannya penuh amarah. Dan meninju meja kerjanya dengan keras.
"Sial! Dasar perempuan jahannam!" umpatnya.
Ia beranja dari kursi dan melenggang keluar. Berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Rianti!" panggilnya dengan suara kencang.
Ia melihat Rianti berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Rianti bahkan tak berani menatapnya wajahnya yang sudah merah padam.
"Instruksikan pada security untuk memperketat semua akses keluar masuk kantor. Saya tidak mau ada orang yang tidak memiliki kepentingan baik memasuki kantor saya. Paham ?"
"Iya, Pak. Saya akan segera memberitahu security."
"Cepatlah!" Ia kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. Membanting dirinya diatas sofa.
Hari ini ia benar-benar tertekan dengan masalah yang begitu tiba-tiba. Tak hanya itu, beban fisik dengan penyakit yang bersarang ditubuhnya membuatnya semakin frustasi.
"Akkkhhh!" teriaknya dengan sekeancang yang ia bisa untuk melampiaskan amarahnya yang menggunung.
Tangannya merogoh ponsel yang ia letakkan disaku jas yang membalut tubuhnya. Mencari kontak yang akan di hubunginya.
"Assalamualaikum, Al," sapanya saat telepon tersambung.
"..."
"Baiklah. Kabari aku jika kamu udah menyelesaikan pekerjaanmu. Aku akan menjemputmu kesana."
"..."
"Tidak! Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, Sayang."
"..."
"..."
"Aku pasti akan menyelesaikan semua masalah ini dengan segera. Asal kamu selalu mendukungku." Ia tersenyum.
"..."
"Terimakasih, ya, Sayang." Ia mendengar suara ketukan pintu dan memunculkan Tio. "Kabari saja aku jika kamu sudah ingin pulang. Sebentar aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu."
Reyhan segera memutuskan panggilan telepon dengan istrinya. Kemudian, mempersilahkan Tio duduk di sebelahnya.
"Bagaimana, Tio ?"
"Videonya sudah disalin kesini, Pak. Bapak bisa cek sendiri," ucap Tio seray menyerahkan flashdisk berwarna biru tua kepada Reyhan.
Dengan cepat Reyhan mengambil flashdisk ini itu dan mencoloknya pada laptop yang ada dimeja kerjanya.
"Yang mana videonya, Yo ?"
Tio mencoba mencari video yang sudah ia salin. "Yang ini, Pak."
Ia memperhatikan isi video itu dengan seksama. Setiap detiknya ia tak ingin lewati.
__ADS_1
"Itu, Pak!" ucap Tio setengah berteriak.
Seketika ia menghentikan video tersebut saat didalmnya nampak seorang perempuan memasuki ruangan dengan cara mengendap-endap seperti pencuri.
"Tasya," ucapnya geram dengan rahang mengeras.
"Dia Tasya. Penerus perusahaan Pak Diman."
"Hah ? Benarkah ?"
Ia mengangguk.
"Bagaimana bisa dia melakukan hala ini, Pak ?"
"Saya yakin dia ingin membalas dendam karena saya selalu menolak tawarannya untuk bekerjasama dengan perusahaan."
"Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan setelah ini ?"
"Kumpulkan semua bukti-bukti. Kita laporkan ke polisi. Saya sudah tidak tahan dengan semua kelakuan gadis tidak punya hati itu. Kali ini saya tidak akan membiarkan dia lolos dari jeratan hukum. Bagaimana pun caranya."
"Baik, Pak."
"Simpanlah bukti video ini dengan baik. Jangan berikan siapapun. Saya percayakan semuanya padamu, Yo."
"Iya, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik."
Reyhan tersenyum. "Terimakasih sudah banyak membantu saya sejauh ini."
"Ah... Banyak selalu saja begitu. Saya yang harus berterimakasih pada Bapak. Sudah memberikan saya kesempatan untuk nekerja disini. Padahal dulu saya tidak punya skill apapun."
Ia tertawa kecil. "Saya tahu kamu bisa. Oleh sebab itulah saya berani memasukkanmu di perusahaan ini. Dan kamu bisa membuktikan itu."
"Semua itu atas bimbingan dan kepercayaan Bapak tentunya."
Keduanya tergelak meski terjerat dalam emosi yang masih memuncak.
"Sekarang kamu boleh keluar."
"Baik, Pak."
Tio melangkah keluar.
"Tio!"
"Iya, Pak."
"Kamu selesaikan dengan baik. Sekarang saya mau pergi menjemput istri saya. Bisa jadi saya tidak kembali ke kantor."
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Jika ada apa-apa langsung hubungi saya, ya."