
“Sayang, bangun. Kamu lupa hari ini aku akan ke kantor ?” Reyhan membangunkan istrinya dengan lembut. Ia menyingkirkan rambut Nadhira yang menutup separuh wajahnya.
Dengan gemas Reyhan menyentuh pipi Nadhira yang sudah mulai terlihat gemuk dengan telunjuknya. Mengganggunya agar segera bangun.
“Kak, jangan mengganggu tidurku.”
“Bangun, Sayang. Kamu tidak ingin mengurus keperluanku pagi ini ?”
“Sebentar lagi,” ucapnya dan menarik tubuh suaminya hingga terbaring disampingnya dan memeluknya erat.
“Al, aku hari ini mau ke kantor, Sayang. Jika kamu seperti ini aku bisa telat.”
“Tidak mau menerima morning kiss dariku, Sayang ?” Ia menggoda Reyhan dengan menatap lekat mata suaminya.
“Aku yang sudah lebih dulu memberikan morning kiss untukmu, Aleea,” Reyhan balik menatapnya lekat.
Ia mendorong tubuh Reyhan menjauh darinya. “Ah... kakak curang padaku.”
“Bukankah kamu yang lebih dulu bermain curang denganku ? Jadi, kamu harus siap menerima pembalasanku kapan saja.”
“Baiklah, aku mengaku kalah kali ini.” Ia bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri terlebih dulu sebelum ia menyiapkan segala keperluan suaminya.
_____
Ia merapikan dasi suaminya sebelum berangkat ke kantor. Menyisir rapi rambut Reyhan yang belum sepenuhnya mengering.
“Sayang, mau aku bawakan makan siang ke kantor nanti ? supaya kakak tidak perlu repot makan siang diluar.”
“Boleh, Sayang. Dan nanti kamu yang akan menemaniku makan siang.”
“Untukmu akan ku lakukan apapun.”
“Sudah pandai merayu kamu, ya.” Reyhan menyentil hidung istrinya.
Ia terkekeh. “Mau aku buatkan makanan apa untukmu ?”
“Apa saja. Asal buatan istri tercintaku.”
“Sayaaang.” Ia tersipu dan menenggelamkan wajahnya di dada Reyhan.
“Oh iya, Sayang. Aku lupa memberitahumu. Kemarin Kenzo titip salam untukmu.”
“Benarkah ?”
“Iya. Dia bilang bahwa dia menyukaimu. Karena, kamu cantik, baik dan manis.”
Ia tertawa mendengar penuturan suaminya.
“Rupanya sekarang aku sudah punya saingan, ya, Al. Anak kecil pula.”
“Sayang jangan berkata seperti itu.”
“Aku hanya bercanda. Kamu mau nanti aku ajak bertemu Kenzo lagi ? Sekalian aku akan memperkenalkanmu pada Mbak Shalu.”
“Iya, Sayang.”
Reyhan membelai rambut panjang istrinya yang terikat sembarang. “Aku berangkat, ya. Kamu baik-baik dirumah. Jika ada apa-apa. Telpon aku.”
Ia mengangguk. “Jangan terlalu memforsir diri bekerja. Jangan sampai kakak kelelahan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu.”
__ADS_1
“Iya, Sayangku. Kamu jangan khawatir, ya.”
Ia tersenyum dan mengambil tas kerja suaminya. Mengantarkan Reyhan hingga di depan pintu.
“Sayang, aku berangkat.”
“Hati-hati dijalan.”
“Assalamu’alaikum, istriku.”
“Wa’alaikumussalam, suamiku.” Ia mengamit tangan kanan Reyhan dan menciumnya yang dibalas dengan mencium keningnya oleh Reyhan.
Ia menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dan tenggelam dibalik pintu mobil. Matanya kembali menatap mobil yang ditumpangi Reyhan.
_____
Tatapannya menyapu ruang tamu mencari seseorang yang biasanya sedang duduk santai disana. Kali ini, ia tak menemukan sesosok perempuan yang tak lama ini menjadi orang tuanya. Mama.
Ia beralih mencari keberadaan Mama didapur. Namun, yang ia temukan hanya seorang asisten rumah tangga dengan daster rumahannya seperti biasa.
“Bi, Mama dimana, ya ? Nadhira cari-cari tapi tidak ada.”
“Di ruang tamu atau ruang keluarga, Non. Biasanya Ibu bersantai disana jam segini.”
“Tidak ada, Bi. Baru saja Nadhira mencari Mama disana.”
Ia melihat sang asisten rumah tangga tengah berpikir. “Oh di taman belakang, Non.”
“Oh begitu. Baiklah, Bi. Terimakasih.”’
“Iya, Non. Sama-sama.”
Dengan pasti ia mendekati Mama. “Ma ?” panggilnya.
“Eh Nadhira. Kenapa, Nak ?”
“Tidak ada apa-apa, Ma. Mama sedang apa ?”
“Membersihkan tanaman. Sejak kemarin Mama belum sempat merbersihkan dan merapikannya. Begitu pula dengan Reyhan.”
“Kak Reyhan ?”
“Iya. Kamu tidak tahu, Ra ? Dibalik ia yang menggilai pekerjaannya. Ia juga memiliki hobby menanam bunga dan tanaman lainnya. Tanaman disini dialah yang menanamnya. Tapi, sekarang perhatiannya pada tanaman-tanaman ini tersita oleh pekerjaan yang menumpuk dan tentu saja harus membagi perhatian juga pada istri cantiknya,” ucap Mama panjang lebar dengan menghadiahi pujian untuk menantunya diakhir kalimatnya.
“Mama jangan memuji seperti itu.”
“Kamu memang cantik dan manis, Sayang. Semoga Tuhan meridhoi langkah kalian, ya.”
“Aamiin,” ucapnya mengaaminkan do’a Mama.
“Nadhira bantu, ya, Ma.” ia menawarkan diri.
“Jangan. Nanti kamu kotor.”
“Tak mengapa, Ma.”
“Benar ?”
Ia mengangguk pasti dan mulai melakukan pekerjaannya, membersihkan tanaman-tanaman hias yang beraneka rupa dan warna. Dengan ceria dan bahagia ia melakukan itu bersama Mama.
__ADS_1
“Nadhira ?”
“Iya, Ma. Kenapa ?”
“Kamu tidak ada rencana untuk pergi berbulan madu bersama Reyhan ?”
Ia terdiam sejenak.
“Kami belum merencanakan itu, Ma. Kak hanya bilang pada Nadhira untuk segera menyelesaikan study dan setelah itu barulah kami merencanakan liburan.”
Ia menarik napasnya pelan. “Lagipula Kak Reyhan sedang banyak pekerjaan kantor, Ma.”
“Baiklah. Terserah kalian saja.”
“Kamu belum ada tanda-tanda hamil, Ra ? Mama tidak sabar ingin segera menimang cucu pertama,” lanjut Mama dengan wajah bahagianya yang membayangkan cucu pertama segera ia pangku.
Wajahnya berubah sendu saat kejadian kemarin menari di otaknya. Bagaimana ia begitu berharap dan berakhir dengan kecewa.
“Kamu kenapa diam, Nadhira ?”
“Maaf, Ma. Kemarin Nadhira sempat menggunakan testpack.”
“Lalu ?” tanya Mama tak sabar.
“Hasilnya tidak sesuai harapan. Masih negatif. Maafkan Nadhira, Ma.”
Mama tersenyum. Ia tahu bagaimana perasaan menantunya itu. “Tak mengapa, Nak. Mama saja harus menunggu lebih dari satu tahun untuk hamil. Dengan berbagai usaha yang Mama dan Papa lakukan. Akhirnya, di usia dua tahun perjalanan pernikahan, barulah Tuhan memberikan kepercayaan untuk Mama mengemban amanah dengan hamil Reyhan.”
Mama menatapnya lekat. “Jangan sedih, ya, Nak. Kamu harus berusaha lebih. Jangan menyerah.”
“Iya, Ma.”
“Lagipula usia pernikahan kalian baru berjalan bulan kedua ‘kan, Ra ?”
Ia mengangguk.
“Usia yang masih muda. Banyak orang diluaran sana yang sudah usia pernikahannya sangat lama tapi belum juga dikarunia anak. Intinya, kamu jangan psimis saja.”
“Terimakasih, ya, Ma. sudah mengerti keadaan Nadhira.”
“Iya, Sayang. Mama juga tidak bisa memaksamu. Mama tahu bahkan kamu tentu saja jauh lebih menginginkannya daripada Mama. Mama paham betul posisimu.”
Ia terharu mendengar ucapan Mama.
“Jaga kesehatanmu selalu. Begitu pula dengan suamimu.”
“Tentu saja, Ma. Nadhira tidak ingin lagi melihat kondisi Kak Reyhan seperti kemarin. Nadhira pun tak kuat, Ma.”
Mama hanya tersenyum.
“Ma, nanti siang Nadhira akan membawakan makanan untuk Kak Reyhan ke kantor. Maukah Mama mengajari Nadhira membuat makanan kesukaannya Kak Reyhan ?”
“Tentu saja, Sayang. Tapi, sebelum itu kita akan mencari bahannya ke pasar. Kamu mau ?”
“Mau, Ma,” jawabnya girang.
“Tunggu apa lagi ? Ayo kita bersih-bersih dan berganti pakaian. Kemudian, berangkat ke pasar.”
Ia dengan girang menerima ajakan Mama. Meskipun ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di pasar.
__ADS_1