Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 67


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


Suara berat seseorang dari balik pintu ruangan yang ditempati Reyhan berhasil menyita perhatiannya. Ia menoleh sedikit ke arah pintu dan menemukan lelaki seumuran Reyhan melangkah mendekatinya.


"Abang ?" panggilnya dengan berkaca-kaca.


Ia melepas genggamannya ditangan Reyhan yang sudah tertidur pulas selepas meminum obat yang sudah diberikan Dokter Dharma. Kemudian, menghambur memeluk Bara dengan erat. Menenggelamkan wajahnya dan mulai terisak.


"Maaf Abang baru bisa mengunjungimu dan Reyhan sekarang. Abang baru saja pulang dari luar daerah. Kamu juga tak memberi kabar pada Abang tentang kondisi Reyhan."


"Adik belum sempat menghubungi siapapun," ucapnya dalam isak yang mulai terdengar.


"Bagaimana kondisi Reyhan sekarang ?"


Ia melepas pelukannya dan menatap tubuh yang terbaring lemah dengan selang infus yang menjerat tangan kanannya. Juga selang oksigen yang belum bisa ditanggalkan untuk membantu pernapasannya.


"Seperti yang Abang lihat sekarang." Ia tersenyum miris.


"Lemah dan tak berdaya. Seperti bukan Reyhanku selama ini."


Tatapannya yang sendu dengan air mata yang masih mengalir beralih pada Bara. "Abang, adik harus bagaimana ?"


"Sabar, ya, Dik. Abang yakin Reyhan mampu melewati semuanya. Selama Abang mengenal Reyhan. Ia adalah lelaki kuat."


"Tapi, adik yang tidak kuat melihatnya kesakitan."


"Sejak kapan Reyhan seperti ini lagi ?"


"Sejak kemarin. Sepulang dari pekerjaannya diluar."


"Sudah kamu temui dokter, Dik ?"


"Sudah, Bang. Adik berbicara banyak dengannya."


Ia menceritakan segala rentetan pembicaraannya dengan Dokter Dharma mengenai kondisi Reyhan.


"Bagaimana dengan Reyhan ?"


"Papa dan Mama sudah membujuknya. Tapi, dia masih bersikukuh dengan keputusannya yang tak menginginkan operasi."


Bara tertawa kecil. "Sudah ku duga Reyhan tak akan menerima tawaran seperti itu. Dari dulu pun dia memang tak pernah mau untuk di operasi."


"Adik sudah membujuknya kembali. Dan Kak Reyhan mau dioperasi. Tapi, hanya menunggu dalam dua minggu. Jika tidak bisa dilaksanakan, ia tak ingin lagi."


"Kamu pikir secepat itu mencari donor, Dik ? Tidak! Itu hanya alasan Reyhan yang tak ingin dioperasi. Makanya dia meminta waktu sesingkat itu."


Ia terbelalak. Ia tak sempat berpikir sejauh Bara.


"Bagaimana bisa aku tak berpikir seperti itu ?" cicitnya dalam hati.


"Kamu lupa, Dik ? Reyhan bukan orang bodoh yang dalam berpikir hal itu. Ia sudah tahu pasti tentang hal seputar penyakitnya."


"Iya, Bang. Adik tidak sampai berpikir sejauh itu."

__ADS_1


Ia berjalan menuju sofa dan mendaratkan tubuhnya yang mulai terasa pegal-pegal. Menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.


"Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, Dik. Ingat pula kamu memiliki penyakit yang kapan saja siap menyerangmu. Jika itu terjadi. Siapa yang akan menjaga Reyhan ?"


"Aleea ?"


Suara panggilan Reyhan yang terdengar seperti berbisik membuatnya terlonjak. Sontak saja ia berlari menuju tempat tidur Reyhan dan disusul Bara.


"Al ?" panggil Reyhan lagi.


"Iya, Sayang. Kenapa ?" Tangannya menggenggam tangan Reyhan yang masih lemah.


"Jangan pergi."


"Tidak. Aku tidak pergi. Aku hanya duduk disofa."


Reyhan hanya mengangguk. Matanya masih sama seperti sebelumnya. Masih setia terkatup rapat.


"Al jangan pergi." Bibir pucatnya bergerak pelan melafalkan kalimat yang sama berulang lagi.


"Kak, ada Abang disini. Kakak tidak ingin bertemu dengannya ?" tanyanya pelan pada Reyhan.


Ia menatap kelopak mata Reyhan terbuka perlahan. Mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang diterima retina. Reyhan menilisik jengkal ruangan putih yang ditempati.


"Sejak kapan kita disini, Al ?"


Ia menatap bingung suaminya. Jelas saja sejak kemarin mereka sudah berada digedung dengan khas warna putih itu. Kenapa Reyhan bisa melupakan itu.


"Kakak lupa ? Sejak kemarin kita disini."


"Lekaslah sembuh. Maka dengan cepat kakak bisa pulang."


Ia menatap Bara sedih. Dengan tatapan pula Bara menguatkan adik satu-satunya itu.


"Biarkan Abang berbicara sebentar dengan Reyhan. Kamu istirahat saja. Jangan terlalu lelah. Kasihan tubuh kecilmu itu, Dik." Bara sempat terkekeh.


"Abang jangan lagi mengatakan seperti itu padaku. Lihatlah! Kata Kak Reyhan tubuhku sudah mulai gemuk," sanggahnya polos.


Reyhan yang mendengar ucapan polosnya ikut tertawa kecil dalam baringannya. Meski suara tawanya hampir tak terdengar.


"Hei! Kenapa lo ikut tertawa ? Ini urusan adik dan kakak," ucap Bara pura-pura marah.


"Lelucon kalian membuatku tak berdaya untuk menahan tawa."


"Jadi, kakak juga ikut mentertawaiku ?" tanyanya dengan berpura-pura sedih.


"Tidak, Sayang. Kemarilah! Biarkan aku memeluk istri kecilku." Reyhan melambaikan tangannya pelan.


"Sayaaang," ucapnya manja dan memeluk suaminya.


Reyhan terkekeh melihat tingkah kekanakkan istrinya. Begitu pula dengan sifat manjanya.


"Sabar, Bara. Beginilah resiko berhadapan dengan adik dan sahabat yang tak punya rasa belas kasihan pada orang yang belum punya pasangan."

__ADS_1


Tawanya pecah didalam pelukan Reyhan setelah mendengar ucapan Bara.


"Sayang, jangan tertawa seperti itu. Tidak baik," nasehat Reyhan padanya.


Ia melepas pelukannya dan menatap Bara dengan tatapan mengejek. "Itulah sebabnya adik meminta Abang untuk segera menikah. Supaya Abang tidak hanya melihat adegan romantis kami. Tapi, Abang juga akan merasakannya langsung."


Ia kembali menertawakan kakaknya yang masih berdiri dengan tampang kesal. "Abang, menikah itu enak. Sungguh. Iya 'kan, Sayang ?" ucapnya meminta dukungan pada suaminya.


Reyhan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan istrinya.


"Iya, Bar. Setiap pagi ada yang membangunkan dan memperhatikan. Pulang kerja sudah ada seseorang yang menunggu."


"Apa tidak ingin seperti itu ? Sampai kapan harus diurusi Bunda terus ?"


Bara menatapnya kesal dan ia balas dengan senum lebar tanpa dosa.


"Abang cepatlah menikah. Atau memang Abang tidak punya calon istri ?"


Ia menatap bingung kakaknya. "Atau jangan-jangan tidak ada yang menyukai Abang ?"


"Jangan salah, Nadhira Aleeana Prayudha! Banyak perempuan yang mengantri untuk menjadi pasanganku. Hanya saja aku yang menolak."


Reyhan hanya tertawa melihat kelakuan dua kakak beradik di hadapannya itu. Meski sesekali ia mendesis kesakitan. Namun, melihat istrinya kembali ceria membuatnya dengan cepat menepis jauh-jauh rasa sakit yang menyergapnya.


Ia tertawa keras. "Bagaimana adik bisa mempercayai itu jika tidak ada bukti sama sekali, Abangku sayang ?"


"Al, sudah lupa dengan yang aku katakan tadi ? Jangan tertawa seperti itu, Sayang," ucap Reyhan mengingatkannya lagi.


"Maaf," jawabnya.


"Coba kamu pikir, Dik. Perempuan mana yang tak tertarik pada lelaki dengan kadar ketampanannya maksimal seperti Abang ?" ucap Bara melanjutkan pembahasan konyolnya.


"Oh betul. Adik bisa mempercayai itu sekarang. Karena, terlalu tampan. Bahkan Mikayla saja sampai jatuh hati pada Abang. Padahal, Mikayla adalah teman yang selama ini tak pernah tertarik dengan sesuatu yang menyangkut pautkan perihal hati." Ia berbicara panjang lebar tanpa menyadari ucapannya telah membawa nama sahabatnya, Mikayla.


"Mikayla ?" tanya Bara bingung.


Ia bungkam.


"Mikayla sahabatmu itu, Dik ?"


Ia belum bisa menjawab apapun. Bahkan ia merutuki dirinya sendiri yang belum mampu menjaga ucapannya.


"Adik hanya bercanda. Bukankah Abang juga menyukai Mikayla ?" Ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan sedikit menuangkan pertanyaan candaannya.


Merasa tersudutkan oleh adiknya sendiri. Bara dengan cepat membantah. "Tidak! Aku hanya menyukai mata dan senyumnya."


"Ah... Sama saja, Bang."


"Tentu saja beda."


"Sama, Abang!" Ia bersikukuh dengan pendapatnya.


"Terserah kamu saja, gadis kecil!"

__ADS_1


Ia tertawa penuh kemenangan.


Begitu juga dengan Reyhan. Ia ikut tertawa bersamaan dengan keceriaan istrinya.


__ADS_2