Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 99


__ADS_3

Tawanya mengudara dengan lelucon yang dibuat Mikayla. Hari ini adalah hari panjang yang ia lalui bersama kedua sahabatnya setlah lama tak bertemu.


Dering ponsel yang ia letakkan sembarangan diatas meja kantin seketika menghentikan tawanya. Senyumnya mengembang setelah netranya menangkap nama kontak yang menghubunginya.


“Sebentar aku angkat telepon Kak Reyhan dulu.”


Ia menyingkir sedikit dari meja kantin. Mencari tempat yang nampak agak sepi. Menerima telepon dari Reyhan.


“Wa’alaikumussalam, Sayang. Sebentar lagi pekerjaanku selesai. Tapi, aku sedang bersama Mikayla dan Finza di kantin. Anakmu meminta jatah lagi. Padahal, dirumah sudah ku berikan asupan bergizi yang banyak.”


“...”


“Iya, Sayang. Tapi, sepertinya kakak tidak baik-baik saja. Apakah kakak sedang sakit ?” tanyanya dengan khawatir.


“...”


“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir ? Aku ini istrimu, Kak.”


“...”


“Masalah serius pastinya. Sehingga, kakak seperti itu.”


“...”


“Tentu saja aku akan mendukung suamiku. Dan selalu berdo’a untukmu.”


Telepon terputus.


Ia segera kembali menemui Mikayla dan Finza yang masih setia duduk dengan beberapa hidangan makanan ringan di hadapannya.


“Maaf lama,” ucapnya seraya duduk dibangku semula.


“Tak mengapa. Kami paham pengantin baru. Iya ‘kan, Za ?”


“Betul sekali. Apalagi Nadhira sudah menjadi calon ibu. Pasti manjanya semakin bertambah di usia kehamilan yang masih muda. Sama seperti kakakku.”


Ia terkekeh.


“Tapi, aku tidak bisa paham dan selalu ingin memberontak saat mereka beradu adegan romantis di hadapanku.”


Kali ini, tawanya pecah dan mengudara hingga menyita seisi kantin. Namun, seperti biasa. Ia selalu tak mempedulikan tatapan orang.


“Sudah sering ku katakan padamu. Biar kamu tak terbawa perasaan. Cepatlah menikah.”


“Mau saja cepat. Tapi, Abangmu belum juga datang mengkhitbahku hingga saat ini,” ucap Mikayla tanpa sadar.


“Hah ?”


Ia dan Finza terbelalak.


“Jadi Abang benar-benar mempunyai hubungan spesial denganmu ?”

__ADS_1


Pertanyaannya sontak membuat Mikayla gelagapan. Menjadi salah tingkah.


“Mmmm.... Maksudku.. Tidak. Tidak.”


“Kamu jangan mengelak lagi, Kay. Aku jua pernah mendengar Abang akan menikahimu.”


“Benarkah ?” tanya Finza tak kalah kaget.


“Iya. Beberapa hari yang lalu. Dan suamiku saksinya.”


“Wah... jadi sebentar lagi Kayla akan menyusul Nadhira.”


Mikayla tertunduk malu.


“Lihatlah! Pipi calon kakak iparku bersemu merah,” godanya.


Ia tertawa terbahak diikuti Finza. Ia senang menggoda Mikayla yang tengah malu-malu.


“Hei!”


Suara berat seseorang yang menyapa dari belakang menghentikan seketika tawa lebarnya. Behitu pula dengan Finza. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati lelaki bertubuh tegap dengan kemeja kotak-kotak yang terlipat hingga ke siku tengah tersenyum manis padanya.


“Kak Faris, duduklah!’ ucap Finza dengan lembut untuk mempersilahkan lelaki yang dipanggil Kak Faris itu.


“Aku mencarimu sejak tadi, Nadhira. Ternyata aku menemukanmu tanpa sengaja disini,” celetuk Faris setelah berhasil mendaratkan tubuhnya dengan sempurna di kursi yang berseberangan.


Alisnya tertaut menjadi satu. “Mencariku ? Untuk apa, Kak ?”


“Apakah Kak Faris tahu beliau mencariku atas maksud apa ?”


“Tidak! Aku jua tak tahu. Tapi, beliau memintaku menemuinya juga.”


Ia mengangguk. “Aku akan menghabiskan makananku terlebih dulu. Setelah itu barulah aku menemui Pak Dion.”


“Kamu bisa menemui Pak Dion bersamaku.”


Lagi-lagi ia hanya menganggukkan kepala.


_____


“Ku pikir ada masalah serius tentang tugasku sehungga kau dipanggil oleh Pak Dion,” ucapnya membuka keheningan saat ia melewati koridor kampus bersama Faris.


“Kita berpikir hal yang sama, Ra.”


Ia menghentikan langkahnya saat terasa getaran timbul dari tas jinjingnya. Dengan segera ia merogoh tasnya mengambil benda pipih yang menimbulkan getaran itu. Melihat ada pesan singkat dari suaminya.


“Suamiku sudah menungguku di parkiran, Kak. Aku harus segera menemuinya.”


“Oh iya,” balas Faris dengan wajah datar.


Ia melangkah dengan tergesa-gesa. Faris yang melihatnya seperti itu lantas khawatir karena ia sedang mengandung. Tanpa sepengetahuannya, Faris mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Senyumnya mengembang saat melihat lelaki yang sangat dikenalinya sudah berdiri didepan mobil dengan tangan yang sibuk memegang ponsel. Ia segera melangkah cepat. Namun, ia tersandung hingga hampir terjatuh jika saja tak ada tangan Faris dengan cepat menahan tubuh kecilnya. Wajahnya dengan Faris begitu dekat.


“Aleeana!” teriak Reyhan dengan murka melihat adegan yang tanpa sengaja itu.


Ia segera berdiri tegak dan menatap netra Reyhan yang menyala. Ada kilatan amarah yang terpancar disana.


“Ini tidak seperti yang kakak lihat. Aku bisa menjelaskan semuanya,” ucapnya dengan suara bergetar karena takut pada Reyhan.


Reyhan menarik tangannya dengan keras hingga ia hampir terjungkal.


“Kak, tanganku sakit,” keluhnya seraya berusaha melepas genggaman Reyhan di pergelangan tangannya.


“Jangan kasar pada perempuan,” nasihat Faris.


“Diam! Ini urusan rumah tangga saya dengan istri saya,” bentaknya.


Masih dengan tangan tercekal kuat ia mengikuti langkah lebar suaminya menuju mobil. Tatapan orang-orang nampak aneh padanya.


“Kak, perutku,” ucapnya memegang perutnya yang terasa keram dengan sebelah tangan yang terbebas dari cekalan Reyhan. Namun, Reyhan sama sekali tak menggubris keluhannya.


Ia dipaksa memasuki mobil dan mendengar pintu mobil ditutup dengan kasar. Tapi, ia tak peduli. Sebab, perutnya semakin terasa sakit.


Ia meringis kesakitan dan menangis. Tak berani lagi mengeluh pada suaminya. Bahkan, menatap wajah Reyhan saja ia tak mampu.


Untuk menyalurkan rasa sakit diperutnya ia hanya bisa menggigit bibir dan mengkeram tas yang ada di pangkuannya. Air matanya mengalir deras. Namun, ia berusaha sekuat yang ia bisa agar isakannya tak terdengar.


Reyhan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota. Dan tak lama ia sampai didepan istana megahnya.


Ia sedikit terlonjak saat pintu mobil tertutup dengan keras dan Reyhan meninggalkannya masuk begitu saja. bersama rasa sakit di perutnya ia turun dan berjalan tertatih memasuki rumah.


“Nadhira ? Kamu kenapa ?” tanya Mama khawatir dan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.


“Perut Nadhira sakit seperti waktu itu, Ma,” jujurnya dengan isakan kuat.


“Bukannya kamu pulang bersama Reyhan, Nak ? Dimana dia ? Kenapa dia membiarkanmu sendirian dalam keadaan kesakitan seperti ini ?”


“Kak Reyhan sepertinya sudah ke kamar. Dia marah pada Nadhira hanya karena salah paham.”


“Salah paham bagaimana maksudmu ? Apakah sesuatu terjadi diantara kalian ?”


“Jadi, begini ceritanya, Ma.”


Ia menceritakan segala rentetan kejadian yang menimbulkan kesalahpahaman besar itu tanpa tertinggal sedikitpun. Jelas saja dengan isak dan ringisan.


“Nadhira harus bagaimana, Ma ? Nadhira taku melihat Kak Reyhan marah-marah seperti itu.”


“Tenang dulu, ya, Nak. Nanti Mama akan bicarakan langsung pada Reyhan. fokuslah dulu pada kandunganmu.” Mama mengelus pundaknya berusaha menenangkan.


Ia menggangukkan kepala pelan.


“Semoga Kak Reyhan bisa mendengarkan Mama,” bisiknya lirih.

__ADS_1


__ADS_2